Connect with us

Setelah 10 Tahun Terpisah [8/Tamat]

Laporan Khusus

Setelah 10 Tahun Terpisah [8/Tamat]

[vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_column_text]SELASA, 11 November 2014. Sekitar pukul 16:00 Wib, mobil yang membawa Septi, Jamaliah, Zahry, Arif, Raudha, dan Jumadil meninggalkan Meulaboh. Dalam mobil itu terdapat seorang wartawan Korea, yang bersedia membiayai kepulangan mereka. Setelah menempuh perjalanan melelahkan, mereka tiba di desa kelahiran Septi, Kamis dinihari.

“Saat bertemu dengan seorang adik saya yang datang ke rumah, Arif langsung bertanya dimana monyet,” jelas Septi kepada acehkita.com yang mengunjungi mereka di Desa Paringgonan, Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, awal Desember lalu.

Beberapa bulan sebelum tsunami meluluhlantakkan Aceh, saat Hari Raya Idul Fitri 1425 Hijriah, Septi dan keluarganya pulang kampung. Kala itu, di rumah Edi Azhari Rangkuti – adik ketiga Septi – ada seekor monyet.

“Ternyata Arif masih ingat monyet itu padahal sudah 10 tahun lalu. Monyet itu tentu saja sudah lama mati,” kata Edi.

Setelah seminggu keluarga abangnya di Paringgonan, Edi menangkap seekor anak monyet dari hutan dekat kampung. Arif terlihat bahagia bermain dengan monyet. Saat acehkita.com memintanya, Arif berusaha mempertahankannya.

“Tidak boleh. Ini punya Arif,” ujarnya, sambil mendekap monyet kecil yang diikat di samping rumahnya.

Jamaliah menyatakan bahwa salah satu alasan mereka pulang ke Paringgonan karena anak-anak tak mau bersekolah di Meulaboh. Raudha telah didaftarkan di sebuah SMP. Sedangkan, Arif dimasukkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Tapi, mereka hanya bersedia sekolah sebulan. Setelah itu, keduanya tak mau lagi sekolah.

“Tapi begitu tiba di sini, keduanya ingin segera sekolah. Mungkin mereka lihat Jumadil setiap pagi pergi sekolah. Makanya, Senin atau empat hari setelah kami tiba di kampung, keduanya kami mendaftarkan ke SD. Raudha diterima di kelas lima, sementara Arif duduk di kelas tiga,” kata Septi.

Siang itu, Rabu (3 Desember 2014) saat acehkita.com sedang mewawancarai Septi dan Jamaliah, Raudha pulang sekolah, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah barunya. Gadis cilik itu mengumbar senyum saat melangkah ke pintu. Sebelum masuk,  ia memberi salam ke seisi rumah. Usai mencium tangan kedua orangtuanya, ia masuk kamar, mengganti pakaian sekolah: baju putih dipadu rok merah dan jilbab putih.

Raudha kemudian duduk di samping ayah dan ibunya serta Jumadil di ruang keluarga rumah berukuran 6 x 6 meter yang dibangun Septi, dua tahun silam. Hanya ada dua kamar di rumah berdinding papan itu. Lalu, Raudha bercerita pengalamannya di sekolah tentang sulitnya mata pelajaran, gurunya yang baik dan teman-teman barunya.

Rumah itu terletak hanya sepelemparan batu dari lokasi rumah darurat yang dibangun warga Paringgonan ketika keluarga Septi pulang dua bulan setelah tsunami. Hingga kini, bekas pertapakan rumah itu masih tersisa lantai semen yang telah retak dan mulai ditumbuhi semak belukar.

Sekitar 15 menit berselang, Arif yang memakai baju putih dan celana panjang merah dengan tas ranser masih baru di bahu, bersua di pintu. Tanpa memberi salam, dia langsung masuk dan duduk di antara keluarga yang sedang tertawa lepas, mendengar lelucon Jumadil dan Raudha.

Arif Pratama dan Raudhatul Jannah. | Nurdin Hasan/ACEHKITA.COM

Arif Pratama dan Raudhatul Jannah. | Nurdin Hasan/ACEHKITA.COM

Dengan logat agak gagap, remaja yang seharusnya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) bercerita tentang sejumlah anak-anak di sekolahnya yang berkelahi. “Saya leraikan mereka. Saya bilang kepada mereka  berkelahi dosa,” ujarnya.

Septi dan Jamaliah hanya tersenyum mendengar cerita Arif. Lalu, Jamaliah menyuruh Arif mengganti baju sekolah. Arif coba berkilah, tapi tatapan mata Septi dengan masih tersenyum membuatnya segera masuk ke kamar. Sejurus kemudian, Arif keluar dan kembali bergabung dengan orangtua dan kedua adiknya.

Mereka semua duduk di tikar yang digelar di lantai semen, tanpa keramik. Tidak ada kursi tamu di ruang keluarga. Sebuah televisi 20 inci terletak dekat dinding. Di sampingnya, berdiri kulkas semeter. Mereka larut pembicaraan santai.  Raudha dan Arif seolah saling berlomba menceritakan pengalaman di sekolah. Tiba-tiba putra sulung mereka, Zahry pulang. Ia bergabung, duduk di lantai.

Keceriaan Raudha hari itu sangat berbeda dengan kesaksian Tuti Erlinda yang pernah menjadi gurunya saat duduk di kelas dua MIN Pawoh Padang. Kepada acehkita.com yang menemuinya di sekolah, akhir Oktober lalu, Tuti mengaku sempat beberapa kali menggali informasi latar belakang Weniati.

“Anaknya sangat pendiam. Kalau ditanya, dia lebih banyak tidak memberikan jawaban. Kalaupun ada suara keluar dari mulutnya, suaranya sangat kecil dan

sering tak terdengar,” ujar Tuti.

Perubahan sikap Raudha berbeda jauh dengan saat dia dibawa keluarganya ke Banda Aceh, awal Agustus lalu, setelah mereka menemukan putrinya. Ditanya wartawan tentang pengalaman hidupnya selama 10 tahun terakhir waktu itu, Raudha hanya menjawab satu kata, lalu diam.

“Sekarang Arif dan Raudha bagai raja dan ratu di rumah ini. Keduanya paling banyak ngomong. Saya sangat senang akhirnya kami berkumpul lagi,” tutur Zahry.

Jamaliah bangkit dari duduk, melangkah ke dapur, beralaskan tanah. Tanpa diminta, Raudha ikut ibunya. Ibu dan putrinya sibuk di dapur. Usai memasak, Jamaliah dan Raudha membawa nasi dan telur goreng ke ruang keluarga. Mereka santap siang. Menunya telur mata sapi dan sayur bening.

***

Keluarga Septi Rangkuti. | Nurdin Hasan/ACEHKITA.COM

Keluarga Septi Rangkuti. | Nurdin Hasan/ACEHKITA.COM

Bagaimana Septi dan Jamaliah menyikapi klaim Mustamir yang menyebutkan Raudha bukan anak tsunami? Pasangan suami itu terlihat sangat menyayangi keempat anaknya, dengan sepenuh hari. Mereka sangat yakin gadis cilik itu adalah putri mereka yang terpisah saat tsunami meluluhlantakkan Meulaboh.

Sebelum memutuskan pulang ke Paringgonan, mereka lebih dulu melaporkan ke Mapolres Aceh Barat. Dengan begitu kalau ada persoalan di kemudian hari, mereka siap datang ke Meulaboh.

“Waktu pertama kali menemukan Raudha, kami juga lapor ke polisi. Buktinya ini surat dari polisi Aceh Barat. Waktu menemukan Arif, kami juga melapor ke Polres Payakumbuh,” tutur Jamaliah seraya memperlihatkan kedua lembar surat dari kepolisian.

Septi menambahkan, alasan mereka tak melakukan tes DNA saat membawa Raudha dari Sarwani karena tak punya uang. Apalagi polisi menyatakan tes DNA baru bisa dilakukan bila ada komplain dari keluarga lain. Namun hingga mereka pulang ke Paringgonan, tidak ada satupun keluarga di Aceh yang mempersoalkannya.

“Sekarang pun kami siap untuk tes DNA bila yang komplain seperti dikatakan polisi. Kalau tak ada komplain, untuk apa tes DNA karena kami berdua sangat yakin Raudha adalah anak kami yang hilang waktu tsunami,” ujar Jamaliah.

Septi curiga Mustamir tak berani datang menjumpai keluarganya saat mereka tinggal selama tiga bulan lebih di Meulaboh karena mereka telah menemukan Arif, yang diyakini mengalami penyiksaan. Di bagian kepala dan kakinya ada bekas luka. Menurut Arif, luka di kepalanya karena “disiram air panas oleh mami.” Tapi, tak jelas siapa yang melakukannya.

Saat dikonfirmasi, Mustamir mengaku tak pernah kenal Arif. Mustamir tetap bersikeras Weniati, yang kini telah berubah nama menjadi Raudhatul Jannah, anak sepupunya.

“Nenek Weni pernah datang ke rumah orang tua saya. Nenek bilang, ‘tega kali si Mustamir menjual Weni. Seharusnya, kalau dia tak mau merawatnya lagi, diantar kemari’,” ujar Darman. “Sekarang, abang saya tidak berani lagi pulang ke Ujung Sialit.”

Septi dan Jamaliah tampaknya tak terlalu menghiraukan klaim Mustamir dan Darman. Yang mereka lakukan saat ini adalah memberi kasih sayang kepada keempat anaknya, terutama Raudha dan Arif yang membutuhkan perhatian lebih.

Setelah makan siang, Arif bergegas keluar rumah. Bersama beberapa kawan barunya, dia hendak mencari durian jatuh di kebun seputaran desa. “Itulah Arif. Dari dulu tak pernah betah di rumah. Dia juga banyak kawan waktu kami tinggal di Meulaboh sebelum tsunami,” jelas Jamaliah.

Menjelang petang, Septi, Jamaliah dan ketiga anaknya pergi ke air terjun dari pegunungan di ujung desa. Setiba di situ, ternyata Arif telah lebih dulu mandi. Tanpa menunggu persetujuan dari kedua orang tuanya, Raudha dan Jumadil segera turun ke kolam, bergabung dengan Arif. Septi, Jamaliah dan Zahry memperhatikan keceriaan mereka, sambil tersenyum bahagia. [TAMAT]

NURDIN HASAN (@nh_nh_)[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top