Connect with us

4 M: Merajuk, Mengancam, Makan dan Minum

Kolom

4 M: Merajuk, Mengancam, Makan dan Minum

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyentil kelakuan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang disebut seperti anak taman kanak-kanak (TK). Kelakar Presiden Indonesia ke-4 itu menimbulkan reaksi amarah para anggota dewan. Yang namanya Gus Dur, malah dengan santai bercanda lagi, katanya kemarin seperti anak TK, sekarang “playgroup”. Candaan tersebut bikin anggota parlemen sakit hati, dan diduga salah satu faktor penyebab Gus Dur dilengserkan.

Salah seorang putra saya saat ini sedang menempuh pendidikan di “taman” paling asyik itu. Dia dan kawan-kawannya sering bernyanyi “taman yang paling indah hanya taman kami, taman yang paling indah hanya taman kanak-kanak.” Walaupun punya hobi bermain, loncat sana-sini, tak jarang saya mengajaknya untuk sekadar ngopi di warung kopi Cek Pan. Hari itu saya pilih kopi, sementara saya pesankan dia telur setengah matang kesukaannya.

Namanya juga anak-anak, saya harus memaklumi ia punya sifat suka merajuk. Biasanya sifat ini muncul dan terlihat jelas ketika keinginannya tidak terpenuhi. Mimik wajah lucu khas anak-anak yang biasa lucu terlihat bersungut-sungut dan kecut. Walau demikian, saya tetap menganggapnya lucu, namanya juga anak-anak. Hari ini anak saya sedang mengambek karena saya menolak membelikannya permen.

Alasannya sederhana, akibat sering makan permen atau makanan berkadar gula tinggi lainnya ia harus sering berhadapan dengan dokter gigi. Saya rasa mayoritas anak-anak seusianya juga seperti itu. Dan ini mengingatkan saya saat masih juga punya “hobi” bolak-balik ke dokter gigi.

Cek Pan sambil mengantar telur setengah matang pesanan kami, melihat anak saya berwajah tidak ceria, langsung menawarkan salah satu kue, “Ini ada timphan, aneuk muda. Mangat that nyoe. Maknyus.

Putra saya hanya menoleh sejenak, lalu terdiam lagi sambil memperhatikan jemarinya, terkesan gengsi menyentuh timphan asoekaya dan telur ayam kampung kesukaannya.

Menyaksikan fenomena merajuk si kecil, Cek Pan tanya ke saya.

“Pakon aneuk agam?”

“Biasalah, minta bon-bon. Saya gak kasih. Dia merajuk dan mengancam tidak mau makan telur setengah matang kesukannya.”

Cek Pan tersenyum.

“Namanya juga anak-anak, biasa nyan. Tapi yang lucu itu kalo orang tua yang merajuk apalagi main ancam-mengancam.”

“Di berita makin sering kita lihat anggota parlemen atau pejabat yang terkena “virus” merajuk. Gara-gara nafsunya melanggengkan kuasa tak terwujud mereka mulai mengambek. Ntah apa-apa pulak. Hana meupeu cap.

Beberapa hari ini saya memang sempat mengikuti berita-berita tentang mutasi para pejabat di lingkungan pemerintah Aceh dan silang-sengketa pilkada, Gubernur Aceh yang dilaporkan Mahkamah Konstitusi.

“Sepertinya sudah menjadi hal yang lazim di Aceh, kalo pejabat tidak tersalurkan hasratnya meneruskan kuasa, maka merajuk dan mengancam menjadi jalan keluar.”

“Ya, sama lagee aneuk miet. Kayak anak TK.”

Cek Pan melirik ke arah putra saya yang masih dalam posisi merajuk. Karena agak diacuhkan sedari tadi, si kecil terlihat mulai gelisah dan mencoba mencari perhatian.

“Apa mungkin hobi ancam-mengancam ini para pejabat negara ini disebabkan oleh warisan konflik bersenjata masa lalu?. Sikit-sikit maen ancam, mau mundurlah, ini lah, itu lah…”

Saya sendiri sangat senang jika orang yang mengancam mundur itu untuk merealisasikan ancamannya. Karena beberapa tahun mereka berkuasa nasib bangsa ini jalan di tempat, malah boleh dibilang mengalami kemunduran.

“Kalo mau mundur, ya mundur aja. Emangnya berani. Satu orang mundur, akan ada ratusan orang yang siap untuk menggantinya. Cie menyoe na beuhee.”

Kalau mau mengingat beberapa kasus lain, sejak lama pola gertak sambal ala politisi ini sudah sangat sering dipertontonkan di hadapan publik melalui media massa. Jalur ini biasanya ditempuh di saat frustasi melanda atau galau mendera. Atau, celakanya hanya sesumbar tanpa makna agar terkesan masih berwibawa. Walaupun mampu menjadi diskusi publik, nama saya yakin masyarakat kita mulai lebih cerdas. Publik masih punya catatan-catatan mereka, kita tahu apa yang pernah diperbuatnya.

“Makanya, kita di warkop ini tak perlu secara serius menanggapinya. Tak ada salahnya fenomena ini kita sikapi secara jenaka.”

Cek Pan menyelutuk dan sesumbar.

“Apalagi kita kalo udah bawa-bawa istilah lex specialis, lex superior, dan lain-lain, jadi bingung saya. Padahal yang saya tau kalo mau kopi spesial ya…cuma di warkoplah.”

Sementara itu, putra saya di samping mulai makin gelisah. Mungkin ia mulai terasa lapar, namun masih cukup gengsi untuk menyentuh kue-kue dan telur setengah matang yang sudah terhidang. Sepertinya gelombang merajuknya mulai reda. Ia mencoba membuka percakapan dengan saya dengan bertanya.

“Yah, Ayah tau siapa nama musuh Superman yang paling lama?”

“Gak tau, Nak. Siapa emangnya?”

“Namanya, Lex Luthor. Orangnya botak, gundul,” jawab anak saya seolah-olah tak ada lagi masalah dengan permen yang tidak saya belikan. Ia sudah lupa karena ada sajian spesial sedari tadi menanti disentuh.

Saya senang melihat ia mulai berteka-teki. Saya tau dia pasti ada mau. Saat saya persilakan lagi untuk menyantap hidangan di depan kami, tanpa ragu-ragu ia meraih gelas kecil berisi telur setengah matang, sambil tak lupa menyentuh sepotong kue timphan srikaya. Itulah asiknya anak-anak, tak butuh waktu lama untuk berhenti merajuk dan kembali ceria.

Cek Pan lantas menasehati saya.

Bro, jangan khawatir. Selama warkop di Aceh masih buka, kejadian-kejadian seperti merajuk, dan mengancam semua biasanya akan berakhir dengan makan-makan. Tak lupa minum-minum juga. Karena kalo abis makan gak minum bisa keselek nanti.”

“Wkakakakakaka…”

Kami tertawa, sambil melihat putra saya yang telah menghabiskan kue dan secangkir telur ayam setengah masak.

*Banda Aceh, 18 Maret 2017

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom

To Top