Connect with us

Karena Indonesia Berbeda dengan Eropa

Travel

Karena Indonesia Berbeda dengan Eropa

SETELAH sebulan berlanglang buana keliling jantung Eropa, beberapa hari ini berkesempatan mengelilingi jantung pulau Jawa.

Rihlah diawali dengan undangan yang datang untuk mengisi sebuah seminar di Bogor, undangan dari Impartial Mediator Network, sebuah lembaga yang membantu memediasi berbagai konflik, terutama konflik tanah dan hutan di Indonesia. Kawan-kawan negosiator IMN berkeinginan mendengar pengalaman tentang perundingan Aceh sehingga menghasilkan perdamaian, dengan harapan akan ada pelajaran yang dipetik dari pengalaman damai Aceh.

Sesampai di Jakarta, mendarat di bandara baru untuk pertama sekali. Dari landasan pacu ke terminal hanya beberapa menit saja. Bandara sangat besar, dinamakan T3 Ultimate. Gagah gedungnya, seperti namanya. Namun, ketika lewat dari belalai gajah, terasa seperti pemakaian bandara dipaksakan sebelum masanya. Langit-langit masih belum rapi, aluminium terkuak di sana-sini. Kamar mandi masih belum keluar air untuk cuci tangan, sehingga ada seorang turis yang telah memakai sabun di tangannya menjadi kebingungan. Terpaksa dia mencuci di urinoir.

Ruang-ruang luas di bandara, belum dimanfaatkan. Tempat ambil barang, bagus, cepat dan nyaman, dengan troli yang banyak tersedia. Lobi depan belum selesai semua, masih ada sebagian yang dikerjakan keramiknya.

Tempat taksi juga belum banyak membantu mengurangi antrean panjang.

Dari T3 Ultimate, kami ke Bogor dengan travel. Nyaman dan harga terjangkau.

IMG-20160903-WA0005

Setelah acara di Bogor, sekitar pukul 13.00, seorang kawan datang untuk menjemput. Dari Bogor kami langsung ke Kuningan melalui Cikampek dan tol baru Cipali. Jalan lurus, bagus, namun miskin tanda dan rambu. Tidak sebanyak di negara-negara lain untuk mengingatkan penumpang agar waspada dan menjaga keselamatan mereka.IMG-20160903-WA0001

Sesampai di Kuningan, langsung mencoba kuliner di sana, sate kambing Ulah Lali. Satenya lembut, bumbunya campuran kacang dengan kecap. Rasanya enak dan gurih. Setelah itu menjemput kawan lain yang akan membawa kendaraan ke Gontor. Kami berangkat dengan darat menuju almater, untuk acara silaturrahmi alumni yang akan berlangsung hari Sabtu ini.

Keluar Kuningan, kami kembali ke tol, ke arah timur sampai ke Brebes. Kemudian jalan biasa menyusuri Brebes, Pekalongan dan Batang. Jalanan banyak gelombangnya, karena banyak dilalui oleh truk dan kendaraan berat. Bus-bus malam berpacu seperti dikejar hantu. Beberapa kali, kendaraan lain khususnya motor, hampir dicium oleh bus-bus itu.

Dekat Semarang, masuk tol lagi, melewati kota dan Ungaran sampai ke Bawen arah Salatiga. Karena telah lepas senja, malam agak gelap. Namun ketika sekali-kali kami buka jendela, tercium udara yang bersih, dan kabut yang menutupi pepohonan. Pemandangan pasti indah di siang hari. Sayang kami tidak bisa menikmati.

Sekitar pukul 11 malam, kami tiba di Solo.

Setelah sempat singgah di toilet stasiun Solo Balapan untuk buang air, kami mencari angkringan soto. Di jalan protokol, kami singgah di soto Wengi. Perut langsung penuh dengan semangkuk soto plus 9 potong tempe yang digoreng tipis. Alhamdulillah. Kami kemudian merebahkan diri di hotel Pose In, dengan kamar seharga 250.000. Kamar lebih bagus dari hotel di tempat kita dengan harga yang sama.

IMG-20160903-WA0004Pagi-pagi selepas shubuh, kawan seperjalanan menjenguk anaknya yang sedang sekolah di pesantren alquran di Solo, kami kemudian melanjutkan perjalanan, menuju Wonogiri, kemudian Ponorogo.

Jalanan di Wonogiri berliku dan banyak tanjakan. Jalan cukup sempit, tetapi tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Perjalanan cukup santai sambil kami memandang persawahan dan hutan-hutan jati di sepanjang jalan.

Kami memasuki perbatasan Ponorogo setelah tiga jam dari Solo. Masuk kota, langsung kami menuju kedai sate H. Tukri Sobikun, sebuah kedai yang terkenal dan sering dikunjungi petinggi negeri. Kami berencana makan nasi pecal, tetapi kebetulan ada rekan dari Malaysia menunggu di sana. Satu porsi sate, 10 tusuk dan hanya ada sate ayam. Makan dengan lontong, dan bumbunya bumbu kacang. Cukup enak, tetapi tidak seenak sate Matang Geulumpang Dua.

Setelah makan sate, kami menyusuri jalananan kota Ponorogo menuju Gontor. Sampai di desa Jabung, kami berhenti lagi, minum es dawet. Seperti ritual saja, setiap alumni Gontor, asal mengunjungi pondok, pasti akan berhenti untuk menikmati secawan es dawet. Semacam cendol, dengan tape ketan, ada air kapur yang dicampur. Satu cawan hanya 3 ribu rupiah.

Setelah itu kami melanjutkan ke Gontor, langsung menuju belakang Pondok, dekat bangunan yang bernama Satelit. Satelit adalah bangunan Pondok yang paling selatan, ada bangunan kelas-kelas, sebuah mesjid dan komplek pekuburan keluarga Pondok berbatasan dengan sungai Malo yang mengalir di belakang Pondok.

Dinamakan satelit, mungkin dulu terletak paling terasing di sudut Pondok.

Kami ke rumah seorang kawan asal setempat. Rumah kawan itu jadi base camp kami, para alumni Gontor tamatan tahun 1992, dikenal dengan alumni Country 692. Memang bagi alumni Gontor, ikatan angkatan cukup kuat, persaudaraan tetap terjaga sepanjang usia. Kami tamat Gontor tahun 1992, lebih dari 24 tahun yang lalu. Namun ketika bertemu, kami seperti baru berpisah minggu yang lalu. Segera bercerita nostalgia, dan saling bercengkerama tentang masa lalu.

Besoknya, hari Sabtu (03/09/2016), akan ada pertemuan akbar seluruh alumni Gontor. Ratusan mobil dengan plat berbagai daerah, ribuan alumni tua dan muda berkeliaran di dalam Pondok dan di luarnya. Sungguh, terasa, Gontor itu bagai ibu bagi semua santri dan alumninya.

Setelah bersilaturrahmi, lepas ashar kami beristirahat. Lepas magrib, makan nasi bungkus bersama-sama di base camp. Kemudian kami rapat dengan beberapa agenda.

Selepas itu, kami keluar ke Ponorogo, mencari nasi pecal yang tertunda kami makan di siang hari. Kami makan berempat, dengan teh panas, nasi pecal dengan tempe. Luar biasa, memang Ponorogo terkenal dengan nasi pecalnya. Tiba waktu bayar, sempat kaget, hanya 24 ribu untuk empat piring, plus empat minuman dan ditambah seekor lele goreng. Kalau di tempat lain, mungkin 24 ribu itu, untuk satu orang saja. Di sini, makanan cukup murah, sesuai dengan pendapatan masyarakatnya.

Lepas makan pecal, kembali ke Gontor melalui sebuah kampung bernama Balong, konon si sana ada kopi enak. Kami minum kopi di perempatan Balong, hmm, kopinya enak dan cukup gurih, namun masih kalah dengan kopi Aceh, apalagi Arabica Gayo.

Sungguh, Arabica Gayo menjadi tali pengikat dengan kampung halaman ketika kita berada di perantauan.

Perjalanan antara Eropa dan Indonesia ini sungguh jauh beda, dalam segala hal –terutama pelayanan publik dan kesadaran warganya. Karena Indonesia dan Eropa memang berbeda. []

MUNAWAR LIZA ZAINAL, alumni Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Berdomisili di Aceh Besar.

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Travel

To Top