ACEH: Apalah Arti Sebuah Nama! – ACEHKITA.COM
Berita

ACEH: Apalah Arti Sebuah Nama!

TULISAN kali ini yang akan atau sedang anda baca merupakan sebuah rekapan sederhana dari segelintir orang Aceh yang fakta sebenarnya bahwa mereka-mereka tersebut adalah murni orang Aceh sendiri yang tahu dan mengerti dengan ke-Aceh-annya.

Rekapan yang saya coba iktisarkan dalam tulisan pendek ini, diharapkan bisa membawa sebuah pandangan dengan persepektif yang berbeda, sehingga konon apa yang kita perbicarakan tidak hanya ‘panas’ ditelinga sendiri, melainkan juga bisa ikut dimengerti dan dirasakan oleh berbagai kalangan yang lazimnya mereka adalah orang Aceh sendiri, kalau bukan kita yang peduli dengan daerah kita siapa lagi.

Sebuah fenomena yang beberapa bulan lalu terlempar ke publik, Aceh kembali diperdebatkan dengan inisial diri atau lebih dikenal dengan sebuah nama, saya juga berharap judul “Apalah arti sebuah nama” dengan mengambil perkataan Shakespeare, setidaknya bisa mengibaratkan dan juga mewakili dari apa yang disampaikan oleh segelintir umat di dunia maya yang insyaAllah mereka masih peduli dengan bangsanya sendiri yaitu Aceh.

Merunut kembali dari sebuah diskusi yang dibuka oleh pengelola grup disitus jejaring sosial (Facebook/Basa Aceh Basa Geutanyoe-BABG) tersebut dengan mengangkat topik bahwa nama Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) telah resmi diganti menjadi Aceh kembali. Tidak hayal juga bila dari sekian ribu penggemar halaman tersebut masih ada yang bertanya-tanya tentang kebenaran dari perihal pergantian kembali nama Aceh, yang sebelumnya sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dengan nama NAD.

Bahkan, mereka (penggemar BABG, -pen) masih mencari sumber yang sebenarnya dari berita tersebut. Memang patut diakui bahwa sepengetahuan penulis tidak ada berita resmi yang mengetengahkan tentang isu tersebut, sehingga kabar yang terdengar hanya dari mulut ke mulut dan juga dari fakta dilapangan, dimana pemerintah Aceh sudah resmi menggantikan nama NAD diberbagai instansi pemerintahan dengan Aceh seperti contoh dikop surat dan administratif lainnya.

Kembali ke cerita semula, dimana dalam sebuah tebar pendapat diantara sesama warga Aceh di halaman tersebut cukup serius dari berbagai paparan yang disungguhkan oleh masing-masing orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Bahkan, perkataan sinis dan sedikit melantur juga ikut terjebak dalam diskusi tersebut, jadi bagi pembaca memang membutuhkan ketelitian dalam menanggapi setiap pendapat yang dilemparkan dan itu semua memang bukan tidak beralasan, sekecil apa pun kritik dan saran serta informasi yang disampaikan oleh orang lain bagi kita wajib untuk menghargainya sesuai dengan kultur orang Aceh sendiri bisa berlaku berlapang dada dalam hal musyawarah dan mufakat.

Dapat dimaklumi juga bahwa perbedaan pendapat dalam diskusi tersebut dengan perpaduan bahasa Aceh memang daya tarik untuk diikuti, selain itu juga Syariat Islam (SI) yang diterapkan di Aceh juga menjadi bagian penting yang dipandang masih banyak kekurangan yang belum bisa berjalan sebagaimana mestinya serta tidak kurang dari kontaminasi hukum Indonesia. Itulah salah satu bentuk argumentasi yang juga menyedot perhatian dari rekan-rekan lainnya, dan pesan yang kian melekat kepada pemerintah Aceh juga jangan terlalu menjadi bagian yang hibbuddunya.

Cerita yang tidak kalah serunya adalah jika Aceh ditamsilkan seperti nama sebuah produk, dimana disisi lain Aceh menjadi sebuah jati diri dari bangsa yang pernah masyur layaknya di jaman kerajaan dulu. Belum lagi jika dikaitkan dengan Aceh Lhee Sagoe yang dulu telah terpatri sejak jaman kesultanan Aceh saat awal-awal masuknya pengaruh peninggalan jaman Hindu-Budha. Sungguh Aceh bila dilukiskan dengan cara yang detail, ibaratnya menjadi 1001 kisah yang tidak pernah selesai untuk dipelajari oleh berbagai bangsa di dunia.

Melihat kembali pada masa dimana Aceh memproklamirkan diri menjadi sebuah negara kerajaan pada pada tanggal 20 Februari 1511 Masehi bertepatan 21 Dzulqaidah 916 Hijriyah menjadi sebuah Kerajaan Aceh Raya Darussalam yang dikenal dengan azas negara Qanun Meukuta Alam al-Asyi (berdasarkan Al Qur’an dan Hadist) tentu tidak lepas dari penguasaan Aceh terhadap berbagai kawasan yang ada di Asia Tenggara. Namun, disatu sisi juga tidak lepas bahwa kekuataan Aceh pada masa tersebut adalah hasil dari berbagai dukungan dari mukim-mukim yang terbagi dalam kesatuan kerajaan.

Dalam artian kita bisa saja mengklaim bahwa satu wilayah sangat berpengaruh di Aceh, tentu itu bukan cara yang begitu baik untuk membuat kekuatan Aceh bisa dikenal sampai ke dunia luar, apapun yang terjadi dengan nama Aceh saat ini menjadi bukti bahwa Aceh masih tetap berdiri dan tidak terhapus dari sejarah terdahulu.

Sedikit menyinggung dengan ikhwal kekuasaan Aceh saat ini harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan dengan murni atas segala perbuatan dan tindakan sehingga kepandaian kaum dijaman modern seperti yang kita rasakan sekarang tidak serta merta hanya bisa mengkritisi, melainkan juga mampu membuktikan kepada anak cucu nantinay yang akan kita tinggalkan masih bisa merekam akan warisan leluhur (keuneubah endatu).

Akhirnya, dari semua paparan yang telah penulis sampaikan di atas, maka dapat penulis sebutkan juga bahwa semua perbedaan yang hadir dari ‘segelintir’ orang dalam diskusi tersebut tentu sangat besar kemungkinan tidak mewakili dari semua warga Aceh dengan berbagai kultur dan etnis, namun perkenankanlah saya untuk mengutip tulisan dari G. Schlegel dalam bukunya Geographical Notes yang ditulis kembali oleh H. Mohammad Said dalam bukunya “Aceh Sepanjang Abad” Jilid I tentang tempat dan tulisan Aceh itu dalam bahasa Inggris yakni sebagai berikut:

“10, … O Shan. Mr. Takakusu was different in identifying I-Tsing’s Oshen which he reads O-shan, with Atchin on Sumatera. But it is quite right.

The old sound of O was at, the character shan pronounced sien in Amoy and shin in Canton, so tha we get … Atsien or Atshin, which exactly represents the old Persian transcription Atjin, so that corruption of Atjeh … to Atjin, must be very old date.

We remark, howeve, that the character tsi is pronunced chin in the name of the 5th son of Kublai Khan, the viceroy of Yunnan… Ho-ki-tsi = Cogasin, so that Atjeh represents Aceh as well as Atjin”.

[Terjemahannya: “10. O-Shan … Mr Takakusu telah setengah-setengah hati untuk mengatakan bahwa tulisan I-Tsing Oshen, yang dibacanya O-Shan itu, adalah Aceh di Sumatera. Tapi itu sudah benar. Bunyi kuno O adalah at, aksara shen dibaca sien dalam bahasa Amoy dan shin dalam bahasa Kanton, sehingga Atsin atau Atshin, yang sebenarnya merupakan transkripsi lama Parsi tentang Atjin, maka korupsi sebutan Atjeh menjadi Atjin itu sebenarnya sudah lama terjadi. Kita perlu mencatat bahwa huruf … tsi, diucapkan chin, atas nama putera kelima Kublai Khan, penguasa Yunnan … Ho-ki-tsi = Gagacin, sehingga tulisan Acheh itu dimaksudkan Aceh dan Acin”].

Cerita di atas tersebut merujuk sekitar tahun 675 M, dimana I-Tsing seorang biksu Tiongkok, yang melakukan kunjungan ke India melalui Laut Cina Selatan, Selat Malaka dan Samudera India, telah membuat catatan perjalanannya, antara lain yang cukup jelas adalah laporan pandangan matanya mengenai Sriwijaya Jambi (Melayu). Dia juga ikut mencatat juga tempat persinggahan lainnya di O-Shan atau Oshen.

Semoga ini semua bisa menjadi ilmu baru dari sekian banyak bukti sejarah yang jauh tersebar di luar sana, sehingga keberagaman kita dalam berbagai pilihan bisa membuat Aceh makmur dan kembali jaya seperti jaman para endatu. Kepada semua syedara-syedara yang telah berkenan berdiskusi di BABG juga penulis ucapkan terima kasih banyak, dan apa yang kita dapat hari ini mejadi warisan terindah untuk suatu saat nantinya bagi Aceh Lon Sayang.Wallahu’alam. []

Aulia Fitri, mahasiswa Universitas Indonesia. Pegiat Komunitas Blogger Aceh (http://acehblogger.org), dan pemilik blog http://aulia87.wordpress.com.

7 Comments

ACEHKITA.COM diluncurkan pertama kali secara resmi pada tanggal 19 Juli 2003, di Jakarta, dengan semangat; mewartakan dengan nurani. Hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan Pemerintah Indonesia yang memberlakukan status Darurat Militer di Aceh, pada 19 Mei 2003.

Copyright © 2015 ACEHKITA.COM. All Rights Reserved

To Top