Connect with us

Aceh, Keberagaman, dan Keberagamaan

Kolom Fakhrurradzie Gade

Aceh, Keberagaman, dan Keberagamaan

Hingga kini kita masih sering mendengar “ACEH” dibentuk dari huruf awal kata Arab, Cina, Eropah, dan Hindi (Hindia).  Walaupun anekdotal dari segi toponimi, toh banyak di antara kita yang sering menjelaskan ini pada para tamu dari luar Aceh. Bahkan banyak pejabat negeri dengan bangga menyebut nama yang dibentuk dari peradaban-peradaban besar itu saat menyambut tamu dalam acara-acara resmi.

Sebaliknya, bukti dan artifak sejarah tentang kosmopiltnya peradaban Aceh di suatu masa lalu itu bukanlah sesuatu yang anekdotal. Ia sangat nyata dan kuat. Senyata manuskrip kuno yang tertulis pada kertas-kertas dan batu nisan tua. Seunik dan sekokoh mesjid kuno sekaligus benteng Kuta Indrapuri yang atapnya mengandung unsur peradaban Hindu. Semegah dan grand kubah dan menara Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dengan pengaruh Arab dan Moghul, tapi dirancang oleh seorang arsitek non-Muslim berkebangsaan Belanda. Senyata para keturunan Portugis bermata indah di Lamno, Aceh Jaya, dan jejak Anatolia (Ottoman) di Gampong Bitai di Banda Aceh.

Bukti dan artifak itu sangat banyak dan tersebar dimana-mana di seluruh Aceh, terutama di kawasan muara sungai. Kajian ICAIOS terhadap keramik dan batu nisan yang tersingkap Smong (Tsunami) 2004 sepanjang pantai Banda Aceh dan Aceh Besar, di antara dua bukit yang megah dan indah, dari Bukit Ujung  Pancu hingga Bukit Lamreh, keduanya di Aceh Besar, meliputi  seluruh pantai Banda Aceh, menunjukkan bukti-bukti yang tak terbantahkan bagaimana Aceh menjadi salah satu pusat kelindan peradaban dunia yang sangat beragam.

Keragaman itu bahkan masih nyata sampai sekarang di kawasan delta Krueng (Sungai) Aceh, mulai dari jembatan Pante Pirak (Pantai Perak), Peunayong, Kedah, Gampong Pande, hingga Gampong Jawa. Ada gereja cukup tua di ujung jembatan. Masih ada sisa-sisa cukup banyak rumah-toko tua di Peunayong yang dihuni manyoritas “orang Aceh” keturunan Cina sehingga kawasan ini dianggap sebagai “Pecinan” nya Kota Banda Aceh.

Di Gampong Kedah ada kuil Hindu yang didirikan pada 1930, di masa kolonial, tapi masih dipakai hingga kini dengan komunitas Hindi yang hidup di tengah komunitas lainnya, terutama Aceh-Melayu-Islam. Ratusan batu nisan khas dengan kaligrafi unik aneka rupa ada di Gampong Pande dan Gampong Jawa. Batu nisan ini dikenal sebagai “Aceh Stone” (Batu Aceh) di berbagai wilayah Nusantara: dari Patani di selatan Thailand hingga Mindanao di selatan Filipina, dari berbagai tapak kerajaan Islam di Sumatera dan Jawa, hingga di berbagai kepulauan di Maluku sana. Gampong Pande sendiri pastinya berarti Kampung Pandai, kampung yang berisi para pandai, mungkin utamanya “pandai batu” selain “pandai besi” dan “pandai perahu”.

Keramik yang ditemukan oleh tim peneliti ICAIOS di sepanjang garis pantai dari Lampulo, Lamdingin, hingga Lamreh bahkan diduga ada yang berasal dari masa sebelum Kesultanan Islam Aceh. Ada keramik dari Siam, Bengal, Cylon (Sri Lanka), Turki, Hadramaut (Yaman sekarang), selain dari Cina dan kawasan lainnya.

Keberagaman di Aceh
Temuan-temuan ini akan membuat usaha “Mencari Aceh” semakin menarik dan masalah identitas ke-Aceh-an makin nisbi. Sejalan dengan itu, muncul pertanyaan yang menggelitik: bagaimana kita memaknai keberagaman Aceh di masa lalu dan membandingkannya dengan realitas keberagaman Aceh saat ini.

Tentu saja peradaban naik dan turun, jaya dan runtuh silih berganti. Peradaban juga saling mempengaruhi bahkan, di banyak persimpangan sejarah, saling menelikung dan menghancurkan. Ibarat sejarah “ACEH” yang mungkin pernah diwarnai dengan seimbang oleh beragam pengaruh peradaban, hingga menjadi  “Aceh” dimana yang membesar dan paling mepengaruhi adalah Arab yang diwakili huruf kapital “A”. Sementara “ceh” tinggal huruf kecil? Tentu saja ini anekdotal juga.

Tapi realitas keberagaman yang ada di Aceh sayangnya makin sering mengikuti realitas  keberagaman ala Indonesia sejak Aceh bergabung pasca-proklamasi 1945. Di masa-masa awal kemerdekaan, para pendiri bangsa demikian menghargai keberagaman. Tergantung versi yang Anda baca, tapi saya juga percaya dengan versi yang menunjukkan kebesaran pemimpin bangsa beragama Islam yang rela menghapus “sesuai dengan Syariat Islam bagi pemeluknya” dari Piagam Jakarta.

Namun ketika para elit di Jakarta makin sektarian, elit Aceh masa kini yang memang sering berpatron ke elit di Jakarta, juga ikut-ikutan menjadi sektarian. Sayangnya media, apalagi media mainstream, memang lebih suka memberitakan perilaku elit. Padahal masyarakat umum di Aceh dan di bagian lain Indonesia masih hidup dengan damai dalam keberagaman. Beragam etnis dan agama masih ada dan hidup di Aceh yang manyoritas Islam dan Melayu.

Ironisnya, para elit sangat tahu apa yang paling mudah dimainkan untuk mempengaruhi rakyat kebanyakan seperti kita ini. Keberagaman dicampuradukkan bahkan diadu secara diametral dengan keberagamaan. Kedua kata ini, “keberagaman” dan “keberagamaan” memang hanya dibedakan oleh sebuah huruf “a” saja.

Keberagamaan di Aceh
Adakah hubungan antara “keberagaman” dengan “keber-agama-an”? Keduanya memang berbeda karena berasal dari dua kata dasar yang berbeda: “ragam” dan “agama”. Namun keduanya tidak bisa dipisahkan. Keduanya justru saling menghidupkan. Karena itu, jika salah satu ditiadakan, maka yang lainnya juga tiada.

Pernahkah kita berpikir bahwa “agama” hanya ada dan diperlukan karena adanya keberagaman? Karena kalau tidak ada keberagaman, lantas untuk apa agama? Apa yang akan dikerjakan para agamawan jika semua orang di seluruh wilayah kuasa agamawan itu percaya dan mempraktekkan agama yang sama dengan ritual yang juga persis sama? Mungkin sang agawan akan gila sendiri dengan kekuasaannya yang mutlak. Padahal kekuasaan mutlak itu hanya milik Tuhan.

Para agamawan selama ini menjadi agamawan karena adanya keberagaman. Ada ulama bagi Muslim, pendeta dan pastor untuk kaum Kristiani, biksu untuk para Budis, dan seterusnya.  Di kalangan ulama dalam Islam sendiri, walaupun dalam “satu agama”, ada keragaman yang membuat ulama sunni punya pekerjaan seperti halnya ulama syiah, yakni memastikan agar ummatnya mengikuti ajaran para ulama tersebut agar “tidak tersesat”.

Di kalangan sunni pun kemudian ada pekerjaan bagi masing-masing ulama sesuai mahzab. Kita yang pengikut Mahzab Syafi’ie selalu ingin memastikan bahwa ajaran mahzab ini diprakatekkan secara murni. Demikian juga keberagaman karena organisasi agama seperti NU dan Muhammadyah yang masing-masing mengklaim juga bagian dari ahlussunnah wal jamaah yang bermahzab syafi’ieyah.

Belum lagi jika unsur tarikat menjadi penyumbang keberagaman juga.  Apakah cara kita berzikir, cara mengingat Allah pun harus diseragamkan?

Alhamdulillah, Ramadhan kali ini dimulai bersamaan oleh Muslim dari berbagai organisasi keagamaan. Tidak ada awal Ramadhan yang berbeda antara kalangan NU, Muhammadyah, dan Pemerintah. Sehingga kita tidak perlu ribut atau merasa canggung sesama Muslim karenanya seperti beberapa kali terjadi.

Lagipula, kenapa ketika ada perbedaan awal Ramadhan yang cuma 1 hari antara NU dan Muhammadyah seringkali jadi heboh, sementara berulang kali saudara kita dari tarikat yang berbeda bisa memulai Ramadhan dengan perbedaan hingga 2-3 hari tapi kita dan masyarakat sekitarnya tenang-tenang saja? Tahun ini pengikut tarikat Syattariah di wilayah pesisir Barat Aceh, misalnya, memulai Ramadhan di hari Kamis, dua hari lebih awal bukan?

Keberagaman adalah sunatullah. Keberagaman adalah kehendak Tuhan. Dan agar manusia bisa hidup dengan damai dan indah dalam keberagaman, Tuhan mengirimkan agama lewat para Nabi dam Rasul-Nya.

Alhamdulillah, suasana shalat Isya dan Tarawih di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, sangat syahdu dan menyejukkan. Hadirnya sang hafiz, Syeikh Abdurrahman, dari Mesir, menambah kesejukan itu. Sang Hafiz menganjurkan jamaah untuk berlomba-lomba dalam ibadah, termasuk “menambah” jumlah rakaat tarawih tanpa harus memperdebatkan mana yang lebih utama antara yang “delapan” atau “duapuluh”.

Pelebaran ruang shalat dengan adanya halaman bermarmer yang luas juga membuat batas-batas kaku shaf laki-laki dan perempuan tidak begitu kentara. Layaknya di Masjidil Haram, perempuan dan laki-laki bisa sejajar shafnya namun tetap terpisah. Muslim dan muslimah bisa beribadah dengan lebih nyaman dan khusyu’ bersama keluarga. Setelah tarawih, tak lupa berfoto selfie atau groupie. 

Kalau pun “ACEH” telah menjadi “Aceh”, besarnya pengaruh “A” tidak bisa meniadakan “ceh”. Karena kalaupun pengaruh “A” menjadi begitu besar bahkan mutlak, “Aceh” hanya bisa menjadi “Aceh” saat “A” yang, katakanlah, dominan bergabung dengan “ceh” yang minoritas. Kalau tidak Aceh hanya akan tinggal “A” bukan?

*Saiful Mahdi, Ph.D adalah Peneliti di PPISB Unsyiah dan ICAIOS.Isi tulisan adalah pandangan pribadi. Email: saiful.mahdi@acehresearch.org

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Jak Meudagang - ACEHKITA.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

To Top