Connect with us

Apa Karya, Paku yang Ditancap ke Balok

Suparta/ACEHKITA.COM

Feature

Apa Karya, Paku yang Ditancap ke Balok

Zakaria Saman adalah magnet. Ia mampu menarik perhatian orang tanpa memaksa. Di mana saja, dalam momen apa pun, orang-orang tergerak dekat dengannya, seperti ponakan yang ingin selalu bersama pamannya.

Di Pilkada 2017, mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu menjadi salah satu kandidat calon gubernur Aceh, berpasangan dengan T Alaidinsyah. Ia akan melawan teman seperjuangan di masa konflik seperti Zaini Abdullah, Muzakir Manaf atau Irwandi Yusuf.

Apa Karya, demikian sosok murah senyum itu disapa, menyimpan banyak kisah heroik di masa silam. Ia masuk dalam daftar orang paling dicari tentara Indonesia, namun jejaknya sama sekali tak terendus. Bahkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pun tak terdapat gambar wajahnya, beda dengan tokoh GAM lainnya.

Bagaimana Zakaria Saman dipanggil Apa? Ceritanya bermula saat dirinya bergerilya di hutan Pidie. Ketika itu ada beberapa pasukan GAM dari Kecamatan Keumala yang menjadi pengawalnya. Salah seorang di antara anggota pasukan pengawal itu rupanya keponakannya sendiri. Sang ponakan sering memanggil Apa untuk Zakaria Saman, kemudian mulai diikuti anggota yang lain.

Panggilan Apa begitu melekat padanya. Bagaikan paku yang sudah ditancapkan dalam balok, panggilan Apa tak lekang dari dirinya. Bahkan, sebutan Apa tenar hingga kini.

Semenjak itu, sebagian anggota GAM mulai memanggilnya Apa. Hal ini juga dikuatkan sebagai penghormatan untuk dirinya yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Apa merupakan panggilan di Aceh untuk seorang paman.

Sebelumnya, Zakaria Saman memiliki nama sandi Karim Bangkok. Sebutan ini diterimanya karena dia berdomisili di Bangkok, Thailand. Selain itu, ia juga dipanggil King Cut alias Raja Ubit. Bersebab ia berpostur tubuh gempal dan pendek.

***

Tahun 2003, Zakaria Saman ikut serta mewakili GAM dalam Tokyo Meeting, 17 Mei 2003 di Jepang. Pertemuan yang difasilitasi Uni Eropa, World Bank dan USA itu tidak membuahkan hasil. Kedua belah-pihak  gagal menyelamatkan Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) atau perjanjian penghentian permusuhan yang sebelumnya disepakati di Jenewa, 9 Desember 2002. Setelah Tokyo Meeting gagal, Pemerintah Indonesia kemudian mengumumkan pemberlakuan Darurat Militer pada 19 Mei 2003.

Dari Tokyo, Zakaria Saman memilih langsung pulang ke Thailand, tempat ia menetap dan mengatur strategi pertahanan GAM. Setiba di bandara Thailand, sebuah saluran televisi Thailand menayangkan peristiwa gagalnya proses perundingan damai GAM-RI.

Keberadaan Zakaria Saman di Thailand diketahui oleh Perdana Menteri Thailand saat itu. Ia pun mengeluarkan maklumat “khun Saman chap jingle (tangkap Saman, hidup atau mati).” Rupanya, Pemerintah Indonesia berhasil membujuk Thailand untuk bekerja-sama menangkap petinggi GAM di sana. “Bahkan, Kapolri saat itu membayar Rp17 miliar untuk harga kepala saya. Hidup atau pun mati,” kata Apa Karya.

Zakaria Saman yang masih berada di dalam kawasan bandara ikut menyimak tayangan televisi tersebut dengan terus berjalan keluar sambil tersenyum. Tak lama kemudian datang dua perwira polisi Thailand menjumpai Zakaria Saman. “Polisi itu bilang saya sudah menjadi incaran di Thailand,” kenangnya. Setelah berbicara dalam durasi beberapa menit dengan polisi, Zakaria Saman melanjutkan berjalan di kerumunan khalayak ramai dan semua mata tertuju melihat dirinya.

“Saya mendengar ada yang berbisik, target pencarian yang disiarkan televisi, ini orangnya,” cerita Zakaria Saman. Setiba di kediamannya, masih dalam wilayah Bangkok, datang dua sahabat yang juga perwira tinggi di kerajaan Thailand bertamu ke sana. Keduanya memberi nasehat dan saran kepada Zakaria Saman agar sementara waktu keluar dari Thailand. Sepulang dua perwira itu, Zakaria Saman segera menghubungi Malik Mahmud dan Zaini Abdullah.

Meuntro lon meujak woe u Aceh. Inoe hanjeut le lon duek karena keadaan meusupet that ka di sinoe. Dari pada ulon mate di nanggroe gop bah geut mate sajan bangsa droe (Menteri, saya mau pulang ke Aceh. Di sini tidak nyaman lagi saya menetap. Dari pada saya mati di negeri orang, lebih baik saya mati bersama bangsa Aceh),” ujar Zakaria Saman kepada Malik Mahmud lewat saluran telepon.

“Meunyo gata ka tawoe kiban dikamoe hana lee ngon(Kalau kamu pulang, bagaimana dengan kami, kami tidak ada lagi teman),” jawab Malik Mahmud.

“Dilon tetap lon woe u nanggroe peu mantong kejadian. Doa bak ureung droeneuh (Saya tetap pulang ke Aceh, walau pun apa yang terjadi. Saya cuma harap doa),” kata Zakaria Saman yang kemudian langsung mematikan telepon.

Tidak lama berlalu, Zakaria Saman menelepon Zaini Abdullah.

“Assalamu’alaikum Doto,” ucap Zakaria Saman membuka percakapan telepon dengan Zaini Abdullah.

“Wa’alaikumsalam, pakiban Zakaria peuna(Bagaimana Zakaria, ada apa),” jawab Zaini Abdullah.

“Doto, dilon han kumah duek le di Thailand. Karena pemerintah di sinoe ka dimita-mita loen. Bah loen woe u Aceh mantong, sideh sapat dengan bangsa(Doto, saya tidak sanggup lagi tinggal di Thailand. Karena pemerintah di sini sudah mencari-cari saya. Biarlah saya pulang ke Aceh saja, di sana bersama bangsa),” ujar Zakaria Saman dengan raut muka sedih.

“Meunye gata ka tawoe pakiban lon, kamoe hana le ngon (Kalau kamu pulang, bagaimana dengan saya. Kami tidak ada lagi teman),” balas Zaini. Di balik telepon, Zaini terdengar terisak tangis.

“Ilon tetap lon woe. Neu kalon jeh pat bangsa teungoh meukubang darah bak dipeutheun buet nyoe (Saya tetap pulang. Coba lihat bangsa tengah bertumbah darah untuk mempertahankan perjuangan ini).”

“Doa bak kamoe Zakaria meutuah. Watee gata keuneuk berangkat ta telepon kamoe siat (Doa dari kami Zakaria. Waktu kamu hendak berangkat, telepon kami sebentar),” minta Zaini.

Ketika berada dalam kapal, sebelum berangkat, Zakaria menunaikan permintaan Zaini Abdullah untuk menghubungi dirinya.

“Doto lon ka lon beurangkat (Doto, saya sudah berangkat),” kata Zakaria Saman.

“Hana le kamoe nyoe nyeu hana gata (Tidak ada lagi kami ini jika tanpa kamu),” ujar Zaini sambil tersedu.

“Neumeu doa bek neujak kliiik bak HP (Doakan saja, jangan menangis di HP),” jawab Zakaria.

Tanpa berkata lagi Zakaria Saman mematikan handphone-nya. Lalu ia menceburkannya ke dalam laut. Sementara handphone-nya yang satu lagi sudah ia titip pada teman di Thailand. Zakaria saman berpesan kepada temannya itu, jika ada orang telepon silakan angkat, namun ia melarang temannya berbicara. “Di saat intelijen melacak posisi saya, saya dikira masih berada di Thailand,” cerita Zakaria Saman.

****

Di atas kapal laut yang akan membawanya ke Aceh, Apa Karya terkenang akan naluri perjuangan yang diajarkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, “hidup sekali mati pun sekali.” Selaku Menteri Pertahanan yang memimpin pasukan GAM bergerilya, dia sudah sepatutnya bersama pasukan, berkubang darah dengan mereka.

Kapalnya makin jauh meninggalkan daratan Thailand. Lama terombang-ambing gelombang laut, ia pun berlabuh di daratan Aceh. Persisnya di kawasan Peureulak, Aceh Utara. Zakaria Saman dijemput oleh Ishak Daud dan Muslem Hasballah. Ia segera diungsikan ke wilayah aman oleh Ishak Daud. Ishak Daud menghubungi Zaini Abdullah mengabarkan perihal telah tibanya Zakaria Saman ke daratan Aceh. Zakaria Saman bertahan beberapa hari di Peureulak sebelum bergerilya di hutan Pidie.

Suatu hari, Zakaria Saman keluar bersama beberapa pasukan pengawalnya guna membeli kopi dan kue di warung masih dalam kawasan Peureulak. Penjual warung itu tersenyum sembari menanyakan kabar Menteri Pertahanan GAM itu. Ia mengenal sosok Zakaria Saman.

Besoknya, sehari setelah keluar membeli kopi di warung, Zakaria Saman bergerak dari Alue Bu menuju kawasan pegunungan Rawa-rawa. Ternyata pergerakannya bersama pasukan GAM lainnya diendus oleh pihak TNI. Kemudian rombongan yang dikomandoi Muslem Hasballah dan Sofyan Dawood Panglima GAM wilayah Pase sekaligus Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka dihadang TNI.

Saat penghadangan, kontak tembak pun tak terelakkan antara GAM dan TNI. Semua pasukan GAM menyelamatkan diri dengan bergerak mundur. Saat itu hanya Muslem Hasballah dan empat anggotanyalah yang berani bertahan di sisi Menteri Pertahanan GAM Zakaria Saman.

“Yan Dawood lebih dulu mundur untuk menyelamatkan diri,” kenang Zakaria Saman.

Kini, sosok bertubuh kecil itu menjajal keberuntungannya di Pilkada 2017, dan ingin ‘sapat dengan bangsa’ seperti niatnya saat memutuskan minggat dari Thailand. Ia ingin namanya dikenang oleh rakyat Aceh agar tak lekang oleh waktu. Seperti paku yang ditancapkan ke balok. []

HABIL RAZALI (@habilkeumala)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Feature

To Top