Connect with us

Aung Sang Suu Kyi, “The Lady”, Nobel dan Rohingya

Salah satu adegan Michelle Yeoh yang memerankan Aung Sang Suu Kyi dalam film "The Lady." [FOTO-whatsontv.co.uk]

Kolom

Aung Sang Suu Kyi, “The Lady”, Nobel dan Rohingya

Saya kembali menonton film ini setelah berkali-kali menontonnya. Saya sangat suka bagian ketika “The Lady” (Aung Sang Suu Kyi) dengan gagah dan berani berjalan melewati puluhan senjata tentara yang menghadangnya untuk memimpin rapat umum perlawanan yang digerakkannya.

Tentara junta militer Burma berteriak dan memerintahkan Suu Kyi untuk berhenti berjalan atau ditembak. Ketika laras senjata sudah sangat dekat dengannya, Suu Kyi tetap berjalan, di rambutnya terselip sebuah bunga berwarna putih, di lehernya terkalung bunga kuning dan putih, dia terus saja berjalan dan melewati barikade tentara yang tidak berani menembaknya.

Dia juga melihat sendiri dan merasakan bagaimana kekejaman tentara Burma saat menembaki demonstrasi mahasiswa secara membabi buta bahkan sampai ke dalam rumah sakit. Suu Kyi sedang di rumah sakit saat itu, karena sedang menemani ibunya yang dirawat. Apa yang dilihatnya di rumah sakit itu kemudian menggerakkan perlawanannya untuk menumbangkan junta militer Burma.

“The Lady” adalah putra seorang Jenderal (Aung San), pahlawan Burma yang ditembak mari karena perjuangannya membebaskan Burma dari kolonialisme. Ketika kecil, Jenderal Aung Sang bercerita kepada Suu Kyi bahwa Burma adalah negeri kaya, Burma adalah sebuah negeri damai sampai penjajah datang dan merampas kedamaian Burma.

Nobel Perdamaian yang didapat Suu Kyi, bukanlah sesuatu yang mudah, puluhan tahun menjadi tahanan rumah, terpisah dari keluarga bahkan ketika suaminya meninggal karena kanker prostat diapun tidak sempat melihatnya. Ini semua adalah konsekuensi perjuangan dan itu disadari dengan sadar oleh setiap pejuang.

Saat itu, Nobel begitu berharga bagi Suu Kyi, sangat berharga bagi perjuangan demokrasi yang sedang dilakukan manusia-manusia yang ingin membebaskan diri dari penindasan di Burma. Ketika nama Suu Kyi masuk dalam nominasi, suaminya berjuang mati-matian meyakinkan komite nobel akan pentingnya nobel bagi harga martabat manusia di Burma yang tengah dibela Suu Kyi. “The Lady” pun mendapat nobel tanpa dihadirinya.

Kini, kita dengan mudah meminta nobel itu dicabut dari Suu Kyi, ketika banyak yang terenggut darinya. Saat ini, tanpa kita meminta nobel itu dicabut pun, “The Lady” sedang terhukum sendiri sekalipun dia berkuasa. Dia sedang terhukum pada sakitnya pilihan-pilihan, memenangkan kapitalisme demi negaranya dengan mengusir dan memusnahkan Rohingya atau menjaga martabat manusia dan melupakan negaranya, negara yang dengan susah payah didirikan, karena bicara negara adalah bicara bagaimana mengisi negara.

“Arab Saudi adalah negara yang didirikan dalam satu malam. Soviet adalah negara yang didirikan dalam waktu 10 hari,” kata Sukarno dalam sidang BPUPKI. “Yang penting adalah merdeka dulu, baru kemudian diisi dengan apa.”

“The Lady”, benar-benar tersakiti saat ini, milyaran caci maki menempel di dinding memori dan imajinasinya. Sebagai “anak kandung” demokrasi, Suu Kyi benar-benar tahu dan mengimani bahwa dimanapun, sampai kapanpun dan atas nama apapun, manusia tidak boleh dibunuh, dibantai, dihabisi, disiksa dan direndahkan martabatnya.

Bayangkan betapa sakitnya itu, bermain di otak dan hati, yang secara mendalam hanya bisa dikupas dengan psikoanalisanya “Jacques Lacan”. Suu Kyi bukanlah sebuah ketunggalan mutlak keputusan, dia ada dil ingkaran-lingkaran yang memberikannya pilihan-pilihan atas nama negara dan masa depan negara.

Kisah Rohingya bukanlah kisah bahwa mereka Muslim lalu mereka dibantai, tapi karena minyak mereka dibantai. Minyak dan segala kekayaan alam tidak mengenal agama, siapapun akan dibunuh.

Teriak saja bahwa manusia tidak boleh dibunuh atas nama apapun, sehingga kita tahu bahwa siapapun yang membunuh manusia adalah musuh. Mengapa kita selalu tampil sebagai manusia-manusia latah yang selalu membajak agama lalu menghadirkan perang lain, perang agama dan segregasi manusia berdasarkan agama, pahamilah geo-politik, sejarah. Teriak saja bahwa siapapun manusia tidak boleh dibunuh, maka kita telah menyatukan manusia untuk melawan siapapapun yang membunuh manusia.

Rohingya adalah cerita derita manusia akhir zaman, tak ada yang membenarkan pembunuhan manusia. Semua sejarah manusia punya kisah kelam pembantaian manusia, termasuk di tempat kita sendiri.

Karena itu, yang teramat penting adalah bagaimana manusia bisa dipahami, sehingga tahu bagaimana memperlakukan manusia. Negara, sejatinya adalah imaji dan manusia adalah hakiki.

“Bernegara dan bermanusialah”. Untuk apa “bernegara, tetapi tidak bermanusia”. Atau dalam segala kelatahan kita saat ini, “beragama dan bermanusialah” untuk apa “beragama, tapi tidak berperikemanusiaan”.[]

T. Muhammad Jafar Sulaiman M.A adalah Pemikir Muda, Peminat Kajian Filsafat dan Keagamaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom

To Top