Connect with us

Bagaimana Rasanya Bernafas dalam Kabut Asap?

Laporan Khusus

Bagaimana Rasanya Bernafas dalam Kabut Asap?

PERTAMA kali masuk daerah berkabut asap, reaksinya merasa sesak. Mungkin ini baru psikologis, karena secara visual, kita seperti berada di ruangan tertutup akibat jarak pandang terbatas.

Namun karena kita tahu bahwa asap ini mengandung partikel berbahaya (polutan) –dan bukan uap air seperti kabut pegunungan– kita akan cenderung tidak menarik nafas dalam-dalam.

Ini membuat nafas jadi pendek. Makin pekat dan makin sadar sedang menghirup polutan, kita makin merapatkan masker atau penutup hidung.

Akibatnya, efek sesaknya makin terasa. Tapi serba salah.

Karena nafasnya pendek-pendek, kita menjadi cepat lelah. Apalagi yang beraktivitas di luar ruangan. Karena “menghemat nafas” dan mungkin memengaruhi aliran oksigen ke otak, sehingga kita juga merasa pusing.

Ada juga rasa panik, dan ini lebih dramatis.

Pernah berada di dapur tradisional dengan tungku penuh asap? Atau berada di dekat pembakaran sampah? Atau mencium (maaf) kentut busuk di ruangan tertutup? Atau bau bangkai?

Dalam situasi seperti itu, kita cenderung menahan nafas, tapi tahu ada solusi atau jalan keluar dengan berlari atau pindah ke tempat lain. Di tempat baru itu, nafas dibuang dan udara segar dihirup dalam-dalam.
Nah, di dalam kabut asap, bagian yang bikin panik adalah: Anda kadang spontan menahan nafas, tapi tidak tahu harus berlari ke mana.

Itu saya alami saat di atas motor atau perahu. Terbawa ilusi, bahwa bila memacu motor lebih kencang, barangkali di balik kabut yang pekat itu ada udara terbuka yang segar dan sejuk untuk paru-paru.

Tapi menyadari bahwa sepanjang 600 kilometer pun Anda tak akan menemukan “ruang terbuka” dan langit biru itu, maka rasanya seperti terkurung di dalam lift yang macet.

Saat inilah timbul panik. Makin panik, nafas makin pendek dan memburu. Makin pendek nafas, makin sesak dan pusing.

Uniknya, berada di dalam ruangan tertutup justru bikin lebih tenang. Karena Anda dibatasi jarak pandang dan tidak sibuk memikirkan ke mana lagi hendak pergi mencari udara segar.

Cara lain yang terpaksa saya lakukan adalah melepas masker sekalian dan menghirup kabut asap itu dalam-dalam. Satu dua tarikan nafas, sedikit membantu dan membuat lega. Setelah itu, pakai masker lagi.

Tapi dalam kondisi kabut berwarna kuning seperti Palangkaraya atau Sampit, asapnya berbau dan menarik nafas dalam-dalam, jelas bukan pilihan.

Setiap orang barangkali mengalami hal berbeda. Terutama mereka yang tinggal dan bernafas selamanya di tempat itu. Bukan yang hanya melintas dua pekan seperti saya. []

DANDHY | SUPARTA | EKSPEDISI INDONESIA BIRU

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top