Connect with us

Bencana Amnesia

KOLOM KUPI SANGER

Bencana Amnesia

Secangkir kopi yang disajikan Cek Pan sedari tadi belum saya sentuh. Lebih seperempat jam berlalu, kopi hitam itu mulai kehilangan panasnya. Pemilik warkop itu lalu menghampiri saya yang sedang serius membaca koran, ia penasaran mengapa kopi buatannya tidak menarik minat saya pagi ini.

Mendapatinya duduk penasaran di hadapan, lalu saya lipat koran, meletakkannya di atas meja, lalu bertanya, “Bagaimana cara menyembuhkan amnesia? Apa obat sakit hilang ingatan?”

Sepertinya, Cek Pan tidak siap dengan pertanyaan tentang cara menghilangkan lupa. Ia malah balik tanya.

Peu droe ka keunong amnesia nyan?”

Sambil memperlihatkan berita di koran tentang bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tenggara beberapa hari lalu. Tepatnya 11 April 2017, air bah dan lumpur yang membawa potongan kayu-kayu gelondongan dari hutan menjadikan banjir bandang memiliki daya hancur sangat kuat. Dua belas desa di tiga kecamatan yang dilalui air pekat itu merusak ratusan tempat tinggal, sarana ibadah, dan merenggut dua nyawa. Kayu-kayu gelondongan yang ikut menyapu permukiman penduduk desa adalah bukti masih maraknya penebangan hutan liar secara masif.

“Masalahnya bencana banjir bandang itu bukan terjadi sekali, kejadian seperti ini sudah terjadi berulang kali, dengan pola yang sama. Terjadinya juga di daerah-daerah pelosok desa.”

Pada 2005 di Aceh Tenggara, seperti tahun ini, banjir bandang besar tercatat pernah terjadi di bulan yang sama, tepatnya 26 April 2005. Polanya juga sama, yaitu air besar yang datang tiba-tiba tanpa diundang membawa sampah, batu, gelondongan kayu meratakan ratusan rumah, merusak mata pencaharian, dan menimbulkan korban jiwa. Warga desa yang selamat dari banjir itu sempat bercerita mereka tidak siap dengan banjir yang datang pada malam hari itu. Walaupun beberapa saat sebelum kejadian sempat terdengar suara gemuruh dari wilayah pegunungan dekat pemukiman penduduk.

Lalu, pada tahun yang sama, Oktober 2005, ribuan warga dari kabupaten ini juga harus mengungsi karena bencana yang sama. Ratusan rumah hancur, bangunan dan fasilitas publik rusak parah, akses jalan darat yang menghubungkan antar-kabupaten terputus. Korban yang ditimbulkan juga tetap sama, yaitu warga desa.

Kita bukan hanya bercerita tentang banjir bandang Aceh Tenggara. Daerah lain di pelosok desa yang dekat dekat wilayah pegunungan adalah daerah-daerah langganan diamuk banjir bandang.

“Bukan hanya di perdesaan Aceh Tenggara, kabupaten-kabupaten seperti Pidie, Aceh Timur dan Aceh Tengah dan beberapa kabupaten lain juga tak luput dari banjir bandang. Kita masih ingat bagaimana peristiwa di Lokop, Tangse hingga Bintang.”

Teuma, so chit nyang saket amnesia nyan.”

Warga yang tinggal di daerah berpotensi banjir bandang sebenarnya sudah paham akan risiko yang akan mereka hadapi. Mereka tahu betul bencana ini juga pernah terjadi sejak tahun 80-an. Namun, pemerintah daerah yang seharusnya mengambil peranan vital dalam mitigasi bencana sering abai, pura-pura lupa, atau memang sedang mengalami kondisi gangguan daya ingat yang sering disebut dengan amnesia.

Dalam literatur disebutkan bahwa amnesia atau suatu kondisi karena adanya ganggguan daya ingat dapat disebabkan seperti kerusakan otak, penggunaan obat-obatan, atau karena penyakit. Atau juga dapat dikarenakan oleh gangguan yang bersifat psikologis.

Menyoe meunan, perlu kita ketahui pemerintah daerah kita termasuk dalam golongan amnesia yang mana?”

Padahal tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004 lalu sempat sejenak menyentak pemahaman kita masyarakat dan pemerintah tentang bencana. Bukan hanya Aceh, tapi Indonesia dan dunia internasional juga sadar betapa rentannya masyarakat oleh bencana alam, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, hingga gunung api. Seharusnya musibah tsunami Aceh mampu membangun kesadaran kolektif pemerintah daerah, termasuk kita sebagai warga, dalam menghadapi wilayah-wilayah yang berpotensi bencana.

“Tapi, bencana seperti banjir bandang itu kan sudah jelas sebabnya?”

Pertanyaan Cek Pan ini menarik, karena memang boleh dibilang banjir bandang punya karakteristik yang khas. Aktivis yang bergerak di bidang lingkungan hidup sering memperingatkan gejala-gejala pendukung banjir bandang seperti tingkat curah hujan yang tinggi, serta bahayanya pembukaan lahan hutan dan yang paling parah adalah maraknya praktik penebangan hutan secara liar, atau illegal logging. Kayu-kayu hutan berbentuk gelondongan yang ditebang dari pegunungan sering terbawa arus banjir, menjadi faktor yang menjadikan banjir bandang menjadi sangat menghancurkan.

“Menghadapi penebang hutan liar ini, warga kampung sebenarnya sudah berusaha sekuat tenaga, secara swadaya.”

Inisiasi masyarakat dalam melindungi hutan dari praktik-praktik penebangan hutan sebenarnya sudah sering dilakukan. Bersama institusi lokal, warga kampung juga pernah melawan praktik ini dengan melakukan razia dan mengusir para pelakunya. Cara “adat” ini terpaksa ditempuh tatkala laporan dan pengaduan yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah setempat, institusi berwenang, atau penegak hukum tidak pernah ditindak secara serius. Laporan-laporan itu tersimpan rapi di laci kantor mereka.

Apa daya, perlawanan ala warga itu tidak mampu membendung laju perusakan hutan yang menggunakan alat-alat berat milik koorporasi yang dibekingi oknum aparat. Terkadang toke-toke pemilik mesin-mesin canggih perusak hutan itu juga cukup lihai dengan memanfaatkan warga yang menganggur untuk memuluskan aksi mereka. Warga tak ada pilihan lain, mereka butuh duit untuk kebutuhan sehari-hari, walau tanpa sadar ikut berkontribusi menghancurkan hutan yang menjadi sumber kehidupan warga kampungnya.

Meunyo neunan, jadi pemerintah daerah harus sadar, jangan sampai lupa atau pura-pura lupa, bahwa bencana yang terjadi selama ini sudah dapat diprediksi dan dapat pula dicegah.”

“Sepakat Cek Pan. Sebenarnya saat kita atau pemerintah daerah lupa tentang bencana atau penyebabnya, sebenarnya kita juga sedang dirundung bencana, bencana amnesia namanya.”

Akhirnya, saya teringat ucapan salah seorang teman arsitek, Yu Sing, yang membantah paradigma bahwa Indonesia adalah negara bencana. Menurutnya, Indonesia bukanlah negara bencana, karena selama ini yang menjadi sumber bencana adalah manusia itu sendiri.[]

Fahmi Yunus adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, peneliti pada ICAIOS dan CENTRIEFP, Banda Aceh. E-mail: fahmiyunus@gmail.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top