Connect with us

Berawal dari Katering Haji Aceh

Gobon/EPRA

Ekonomi

Berawal dari Katering Haji Aceh

TIGA pekerja terlihat sibuk menata kotak kue berlogo Garuda Indonesia di sebuah ruangan berukuran 3 x 4 meter. Satu per satu kotak tersebut diisi dengan roti, air mineral, pudding, dan tisu. Di ruangan lain, di dapur, dua pekerja sibuk mempersiapkan menu berupa mi dan nasi dengan lauk ikan dan ayam.

Itulah pemandangan yang terlihat di unit produksi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Banda Aceh. Saban hari, unit produksi yang dikelola Jurusan Tata Boga ini mempersiapkan beragam kebutuhan makanan dan snack bagi penerbangan maskapai Garuda Indonesia rute Banda Aceh-Medan dan Banda Aceh-Jakarta.

Ketua Jurusan Tata Boga Herty Satyawidyarti menyebutkan, saban hari SMK Negeri 3 harus mempersiapkan dua macam menu makanan masing-masing sebanyak 150 porsi untuk penerbangan Garuda Indonesia GA 143 dan GA 147 rute Banda Aceh-Jakarta. Dua menu itu berupa makanan dengan lauk daging dan ayam. Tak hanya itu, unit produksi ini juga harus mempersiapkan 85 porsi makanan ringan untuk penerbangan Garuda Indonesia GA 281 rute Banda Aceh-Medan.

Kerjasama SMKN3 dengan Garuda Indonesia berawal dari penyediaan katering untuk Jemaah haji yang berangkat dari Embarkasi Haji Banda Aceh pada 2001. Saat itu, anak perusahaan Garuda Indonesia, PT Aerofood Catering Service, meminta SMKN3 menjadi penyedia kebutuhan makanan dan snack bagi penerbangan haji.

Pemerintah Indonesia meresmikan Embarkasi Haji Banda Aceh pada 2000. Saat itu, jemaah haji asal Aceh bertolak ke Tanah Suci Mekkah melalui Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. Sebelumnya, para tamu Allah dari Aceh selalu diberangkatkan melalui Bandar Udara Polonia, Medan, Sumatera Utara.

Sejak pembukaan Embarkasi Haji itu, Pemerintah Aceh dan Kantor Wilayah Departemen Agama (Depag) menginginkan agar katering jemaah haji juga disediakan oleh Aceh.  “Pihak Pemda Aceh juga menginginkan makanan jemaah haji selama dalam penerbangan Garuda juga dikelola di sini,” ujar Herty.

PT ACS menyambut baik keinginan Departemen Agama dan Pemerintah Daerah Aceh. Mereka melakukan survei terhadap calon mitra. Pada tahun pertama Embarkasi Haji, PT ACS bekerjasama dengan sebuah hotel di Banda Aceh. Namun, pada tahun kedua ACS menginginkan adanya sebuah penyedia katering yang memiliki perlengkapan dapur yang lengkap dan modern. Mereka melakukan survey ke sejumlah tempat, hingga ACS bertemu dengan Jonan dari manajemen Sultan Hotel. Oleh Jonan, ACS dibawa ke SMKN3 Lampineung.

“Pak Jonan, mitra kita yang bawa ACS ke Lampineung,” ujar Herty.

Saat melihat fasilitas dapur milik SMK Negeri 3, pihak ACS terpakau. Mereka langsung menawarkan kerjasama untuk penyediaan makanan bagi penumpang jemaah haji. Keinginan ACS tersebut disambutbaik oleh Kepala Sekolah SMK Negeri 3 saat itu, Cut Trisnawati. Dapur dan perlengkapan SMKN3 merupakan bantuan dari Pemerintah Austria, melalui program Vocational II. Saat itu, Austria mendanai pembangunan kompleks SMK Lampineung.

Mendapat tawaran kerjasama tersebut, para guru SMKN3 ciut. Mereka menyatakan belum mampu memenuhi kebutuhan dan standar yang ditetapkan oleh Garuda Indonesia. Cut Trisnawati terus berupaya meyakinkan para guru untuk menerima tawaran ACS tersebut. Apalagi, ACS mau mendampingi mereka selama proses penyediaan katering haji.

Herty menyebutkan, selain supervisi, ACS juga memberikan pelatihan teknis, sanitasi, dan menempatkan chef berpengalaman di SMK Negeri 3. “Selama dua fase mereka menempatkan chef dalam mengelola makanan haji. Nah, dari situ kita belajar banyak hal mengenai pengelolaan catering profesional,” terangnya.

Proses pendampingan yang diberikan ACS berlangsung hingga dua tahun lamanya. Selama masa itu pula, guru jurusan tata boga mendapatkan kesempatan untuk magang langsung pada kantor pusat PT ACS selama sepekan. Baru pada awal 2003, PT ACS perlahan-lahan melepaskan pendampingan mereka. Chef yang biasanya berada di SMK Negeri 3 penuh waktu, kini hanya mengawasi selama tiga hari kerja dalam sepekan.

“Setelah tiga tahun berjalan, baru guru-guru yang kemudian mengontrol dan melibatkan anak-anak dalam katering ini,” ujar Herty.

Meski begitu, SMK Negeri 3 tetap menjaga standar dan kualitas yang ditetapkan Garuda Indonesia. “Walau pun berat, alhamdulillah bisa memenuhi standar Garuda,” kata Herty.

Garuda Indonesia puas dengan kinerja SMK Negeri 3. Karenanya, General Manager Garuda Indonesia mengajak kerjasama ditingkatkan sebagai penyedia makanan (meal) dan snack untuk penerbangan reguler. Namun, mereka harus mengikuti sejumlah persyaratan yang ditetapkan In-flight Service Total Solution (ISTS), perusahaan pengelola makanan Garuda Indonesia. Persyaratan itu berupa harus adanya badan hukum dan manajemen profesional, selain mengikuti proses tender.

Menyambut keinginan Garuda Indonesia, manajemen SMKN3 berembug dengan Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh. Apalagi sebelumnya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit terhadap unit produksi di sekolah tersebut. Hasil audit tidak memuaskan, karena pengelolaan keuangan masih belum memenuhi standar yang ditetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13/2007. Pada Januari 2012, Pemerintah Kota Banda Aceh membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang menaungi tiga sekolah kejuruan, yaitu SMK Negeri 1, SMK Negeri 2, dan SMK Negeri 3.

Setelah BLUD terbentuk, Kepala BLUD Azizah mengajak serta Wakil Walikota Banda Aceh saat itu Illiza Saaduddin Djamal (kini walikota –red.) bersilaturahmi dengan pihak Garuda Indonesia, ISTS, dan PT ACS Medan. “Untuk meyakinkan mereka, Ibu Illiza menyampaikan ke Garuda bahwa SMK 3 bisa bekerjasama bukan hanya penyediaan katering haji saja, tapi siap untuk penerbangan reguler,” kata Azizah saat ditemui Jumat (16/1/2015).

ISTS akhirnya mempersilakan BLUD SMK mengikuti proses tender penyediaan katering untuk penerbangan reguler Garuda Indonesia rute Banda Aceh-Medan-Jakarta. Ada lima perusahaan yang memasukkan penawaran tender ini, di antaranya PT Mandai Prima, Oasis Hotel Banda Aceh. Mandai Prima merupakan perusahaan yang sudah malang melintang dalam bisnis katering penerbangan di Indonesia.

“Terakhir tinggal tiga pihak, yaitu kita, Oasis, dan PT Mandai Prima. Lalu entah kenapa, Oasis mengundurkan diri dan hanya tinggal BLUD dan Mandai Prima,” kenang Azizah.

Bersama Pemerintah Kota Banda Aceh, manajemen BLUD aktif melakukan pendekatan dengan Garuda Indonesia cabang Banda Aceh. “Kita sampaikan kepada mereka, bahwa ini kesempatan dunia usaha dan dunia industri untuk bekerjasama dengan dunia pendidikan,” sebut Azizah.

Walhasil, ISTS menetapkan unit produksi SMK Negeri 3 Banda Aceh sebagai pemenang tender. Pada Mei 2012, untuk pertama kalinya SMK Negeri 3 menjadi penyedia katering penerbangan reguler Garuda Indonesia di Aceh.

Menang tender katering reguler Garuda Indonesia membuat SMK Negeri 3 harus bekerja ekstra keras. Unit produksi mereka harus mengantongi sertifikasi halal yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia atau Majelis Permusyawaratan Ulama dan mematuhi standar kerja dan kualitas yang ditetapkan Garuda Indonesia.

Saban hari, SMK Negeri 3 yang mempekerjakan tujuh orang (lima di antaranya alumni –red.) di unit produksi ini, menyediakan makanan dan snack untuk para penumpang kelas bisnis, ekonomi, pramugari, dan pilot Garuda Indonesia.

Lantas, bagaimana penentuan menu? Garuda Indonesia menetapkan lima siklus menu yang berubah selama enam hari sekali. “Menu grid yang kita kerjakan ini dipesan langsung oleh PT ACS Jakarta,” ujar Herty.

Meski pemilihan menu berdasarkan orderan PT ACS, SMK Negeri 3 diharuskan mempresentasikan pengolahan menu-menu tersebut kepada PT ACS. “Setelah mereka setujui baru kita jalan. Perubahan menu dilakukan selama tiga bulan sekali,” kata Herty.

SMK Negeri 3 berupaya keras untuk menjaga kualitas dan standar yang ditetapkan Garuda Indonesia. Apalagi, secara reguler Garuda Indonesia melakukan audit terhadap kualitas makanan. “Kalau ada masalah, mereka langsung turun. Misalnya dari segi rasa, mereka audit semuanya. Mulai dari kebersihan, produk, hingga fasilitas yang kita punya,” ujarnya.

Soal fasilitas, SMK Negeri 3 mengaku belum memiliki fasilitas yang memadai untuk menunjang unit produksi katering ini. Misalnya, mereka belum memiliki mobil Ebro yang hidrolik untuk mengangkut katering hingga ke dalam badan pesawat, selain peralatan dapur standar internasional.

“Saya menjanjikan kita memiliki mobil ebro ini tahun 2014, tapi karena saya salah tentukan harga, makanya baru tahun ini pemerintah membentuk tim pengadaan barang dan jasa. Insya Allah, tahun depan kita sudah memiliki mobil ebro,” kata Azizah.

Mengelola unit produksi bukan pekerjaan mudah. Hal itu diakui Azizah dan Herty. Tantangan paling berat yang dihadapi adalah budaya kerja santai yang masih terbawa di kalangan para pekerja. Akibatnya, SMK Negeri 3 beberapa kali mendapat teguran dari manajemen Garuda Indonesia, karena katering terlambat diantar. Keterlambatan ini sering terjadi pada penerbangan Garuda pukul 07.05 WIB.

Azizah dan Herty berulang kali mewanti-wanti para pekerja unit produksi untuk bekerja disiplin. “Tapi telat juga. Kita dipanggil Garuda nanyakan komitmen para pekerja, jangan gara-gara katering penerbangan terlambat,” sebut Azizah.

Ke depan, manajemen unit produksi SMK Negeri 3 tidak akan menolerir kesalahan dan kelalaian para pekerja. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi ketidakpuasan dari pelanggan dan mitra. “Kita tidak akan tolerir lagi. Kalau ada kesalahan serupa, akan kita potong gaji mereka,” imbuh Azizah. “Kita tidak ingin nama baik dan kepercayaan tercemar gara-gara kesalahan seperti ini.”

Selain itu, manajemen unit produksi juga menemui tantangan dari kalangan internal dan eksternal. Di ranah internal, tantangan itu berupa adanya para guru yang beranggapan bahwa keuntungan yang diperoleh unit produksi –dengan adanya BLUD—akan lari ke kas daerah. Padahal, keuntungan tersebut dikelola langsung oleh BLUD untuk kepentingan tiga SMK tersebut. Kegiatan unit produksi meremajakan dan merawat fasilitas yang dimiliki sekolah. “Fasilitas itu tidak terbengkalai dan terawat,”ujar Herty, kepala jurusan Tata Boga.

Selain itu, unit produksi yang dikelola dengan manajemen profesional juga digunakan sebagai tempat praktik kerja industri (prakerin) siswa. “Kalau di luar tidak bisa menampung semuanya, kita di sini ada tempat prakerin yang siap menampung. Dan ini kualitasnya tidak kalah dibandingkan prakerin di luar sekolah,” tambah Azizah.

Apalagi, Unit Produksi Tata Boga SMK Negeri 3 juga sering melayani katering untuk penerbangan yang transit di Banda Aceh, seperti Qatar Airline dan pesawat kepresidenan yang membawa Wakil Presiden Jusuf Kalla akhir Desember 2014 lalu. Garuda juga mengajak SMK Negeri 3 untuk menjadi penyedia makanan untuk penerbangan Sabang-Medan. “Tapi kita tidak berani, karena terlalu jauh dengan tempat kita,” sebut Azizah.

Juliana, Wakil Kepala SMK Negeri 3 Banda Aceh, berharap sekolah yang berada di kawasan Lhoong Raya itu bisa menghasilkan tenaga terampil yang siap bersaing di dunia usaha, terutama ketika Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia Tenggara (MEA) pada 2015 ini. []

FAKHRURRADZIE GADE (@efmg). Tulisan ini sudah dipublikasikan di e-book EPRA.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ekonomi

To Top