Berburu Cendera Mata Antik di Insadong
Connect with us

Berburu Cendera Mata Antik di Insadong

Travel

Berburu Cendera Mata Antik di Insadong

Menjelajahi mesin waktu kembali ke era 500 tahun silam ketika pejabat kerajaan Joseon mempersiapkan pagi mereka sebelum beraktifitas, lalu kita bergeser beberapa puluh tahun kemudian ketika tempat yang sama penuh dengan barang antik dan kerajinan berharga yang akan dijual pemiliknya kerena terpaksa segera bermigrasi. Berada diantara Jongno dan Bukchon merupakan kediaman orang – orang kelas menengah pada puluhan tahun silam. Nama Insadong sendiri baru tercipta pada tahun 1914 dan menjadi cultural district pertama di Korea Selatan.

Insadong diambil dari In dan Sa awalnya merupakan nama dua departemen dalam pemerintahan dinasti Joseon yaitu Gwan – in-bang dan Dae-sa-dong yang dipisahkan oleh sebuah sungai kecil sebelum akhirnya disebut Insadong puluhan tahun kemudian. Sebutan dong dalam bahasa Korea merunut pada wilayah atau lingkungan.

Daerah seluas 12,7 hektar ini merupakan jalan terbuka untuk melihat beragam kebudayaan antik dan seni di negeri gingseng yang penuh dengan beragam galeri dipinggir jalan termasuk juga kedai buku tua, rumah teh dan kerajinan lainnya. Jalan utamanya menghubungkan ke banyak cabang lorong dan gang yang diisi oleh galeri barang antik nan cantik, restoran tradisional dan lainnya.

Berada dipusat Hanseong sebagai ibukota Joseon dan diapit oleh istana utama Gyeongbokgung, istana Chandokgung dan istana Unhyeongung membuat tempat ini menawarkan gabungan apik antara masa lalu dan kekinian. Pusat kota tua ini tak pernah sepi pengunjung. Bersantai sejenak sambil menikmati teh khas Korea menjadi pilihan yang menyenangkan disini.

Berjalan keluar tak dari pintu exit 6 di Anguk subway station line 3 berwarna orange, kita akan langsung disambut oleh beberapa pedangang dan kedai teh. barang lama dan tradisional namun berharga dipamerkan disisi kiri kanan jalan. Pusat kerajinan ini mulai ramai setelah pukul sepuluh pagi.

Beragam pernak pernik seperti gantungan kunci, kipas lukis, sendal bahkan gantungan penangkap mimpi atau dream cheapter semualnya lengkap di jajalkan. Penjual dengan tersenyum ramah menjajalkan barang dangangan mereka bahkan untuknya sebagian bisa berbahasa Indonesia yang mempermudah jual beli.

“Syukur tempat ini menjadi lokasi dihari hari terakhir liburan kalau tidak semua uang akan lenyap disini,” ujar Dessy tersenyum. “barang-barangnya lucu lucu semua jadi pengen dikoleksi” tambahnya lagi.

Jalan yang memadukan budaya masa lalu dan kemoderenan ini merupakan salah satu kawasan yang wajib dikunjungi bilang anda berkunjung ke negeri gingseng. Tempat ini benar benar mewakili sejarah dan budaya masyarakat dari masa ke masa, peninggalan arsitektur dan pencampurannya menarik untuk diperhatikan.

Kawasan ini dulunya merupakan komplek untuk pedangan dan para birokrat berkediaman serta beberapa diantaranya diperuntuhkan bagi mereka yang telah menyelesaikan tugas istana dengan baik lalu pensiun. Kala agresi militer Jepang terjadi pada masa Joseon, warga yang kaya dan terpandang dipaksa untuk pindah dan menjual barang barang mereka dan lokasi ini pula yang awet hingga sekarang. Kini bangunan peninggalan masa lalu itu sebagian besar disulap menjadi restoran dan pertokoan.

Setelah perang saudara Korea berakhir, daerah ini menjadi fokus menjadi pusat kesenian serta cafe dan menjadi tujuan wisata populer wisatawan asing pada tahun 1960 dengan sebutan Mary Alley kemudian bertambah terkenal selama pelaksanaan Olimpiade Seoul tahun 1988. Pada tahun 2000 renovasi sejumlah bangunan dilakukan namun dengan masifnya protes yang dilakukan maka mosernisasi itu dengan cepat dihentikan.

Ada sekitar 100 gareri disini sehingga bisa dikatakan bahwa inilah yang menjadi denyut nadinya Insadong. Kita dapat melihat beragam seni rupa dari patung hingga kelukisan, yang paling terkenal adalah Hakgojae Gallery yang difungsikan sebagai pusat kesenian dan ada pula Gana Art Center dimana banyak seniman yang menjanjikan dipromosikan karyanya.

Rumah teh adalah pelengkap sempurna bila menjelajah setiap lorong yang ada, berbentuk bangunan tradisional yang nyaman dan tenang dan terkadang tercium wangi aroma yang khas. Halaman kecilnya juga ditata sedemikan rupa membuat kita seakan kembali ke beberapa abad silam. Kedai kedai teh ini sangat populer jadi tak heran kita akan melihat banyak pengunjung dari beragam kolompok usia yang menyerumput minuman mereka sambil berbincang bincang.

Ada beragam teh yang bisa dicoba dan sebagian diantaranya hanya bisa ditemukan di Korea. Seperti Daechu tea yang bahan dasarnya berupa buah jujube yang telah dikeringkan, Gugija tea yang merupakan perpaduan dari goji berry, kurma dan jahe. Buat saya yang menjadi favorit adalah Omija yang merupakan campuran dari madu, kelopak bunga, bubuk kacang hijau dan laiinya ini berwarna merah ringan dan memiliki rasa yang unik seperti namanya yang berarti berry dengan lima rasa jadi ada manis, asam, asin, pahit dan pedas dicampur menjadi satu. Masih banyak varian lainnya yang diburu oleh pencinta teh.

“Namun buat penikmat teh hijau maka osulloc tidak boleh dilewatkan” Ujar Tika Rasali. “disini kita bisa menikmati beragam olahan teh hijau, mulai dari cake, selai sampai yang paling harus dicoba adalah es cream yang rasanya yummi” tambahnya lagi.

Osulloc merek teh yang paling banyak di cari di Insadong. Mempunyai olahan teh hijau dengan beragam campuran dan sangat dimiknati sebagai buah tangan juga. harga teh di kedai ini dibandrol mulai 15.000 won perpaket atau sekitar 180.000 ribu tergantung ukurannya tak hanya itu pengunjung dapat memilih sendiri dari dengan mencium aroma yang ditawarkan disetiap tester. Produk mereka khusus didatangkan dan diolah di pulau Jeju. Buat yang bukan pecinta teh jangan khawatir kita juga bisa mencicipi dalam gelas kecil walaupun tanpa membelinya cukup antri dijam jam tertentu pastinya.

“kalau melewati toko ini, aromanya seperti memanggil manggil untuk disinggahi,” ujar Jimin. “walaupun harganya agak mahal namun teh ini memiliki kualitas terbaik” tambahnya lagi.

Tak jauh dari Osulloc terdapat mencolok bernama Ssamzigil yang dibangun pada 2004 yang menjadi pusat perbelanjaan khusus kerajinan. Bangunan unik ini memamerkan beragam barang buatan tangan langsung para seniman. Lantai bawah tanah gedung ini juga menjadi lokasi pembuatan beragam kerajinan. Para pelajar juga terkadang juga datang untuk belajar langsung dengan para seniman. Beberapa waktu yang lalu saya juga mencoba membuat sebuat gantungan kayu ukir disini, walaupun tak seindah yang dijual diluar gedung namun ini pengalam yang menarik.

Ssamzigil menjadi sangat terkenal setelah dipromosikan dalam musik video promosi wisata Seoul yang berjudul Seoul song yang dinyanyikan oleh Super Junior dan Girls Generation (SNSD). Pada klip tersebut diperlihatkan Ryewook dan Donghae personil Super Junior sedang berjalan jalan dan Seoyoong member sedang memilih milih kertas. Anda juga dapat menemukan beberapa foto spot disini karena semua toko di rancang unik, lalu bisa dilantai paling atas yang terbuka atau juga bisa mencoba bergaya menggunakan hanbok karena ada beragam rental yang dapat dipilih.

Dibagian paling ujung jalan terlihat banyak stand kecil yang memamerkan beragam barang, kue tradisional hingga permen gula gula bahkan lapak para peramal. Barang barang yang di jajalkan di pasar ini memang khusus pada Handok (pakaian tradisional Korea), hanji (kertas tradisional), teh, tembikar, lukisan dan kerajinan rakyat laiinnya.

Merasa lapar jangan khawatir disini juga banyak restoran yang menyediakan banyak makanan tradisional, untuk pilihannya setiap restoran akan memampang beragam menu berserta harganya didepan rumah makan mereka dan kita tinggal memilih berdasarkan selera dan kantong tentunya.

Mengambil lokasi yang membentang lebih dari 700 meter antara Anguk dong Rotary hingga ke taman Tapgol. Lokasi disini selama masa kerajaan Joseon mempunyai sebuah lorong yang didominasi oleh Dohwawon atau tempat belajar bagi para pelukis. Bahkan ada beberapa tokoh negarawan terkenal di era berbeda yang berkediaman disini antara lain adalah Lee Yul Gok dan Gwang Jo yang merupakan tokoh konfusianisme istana dan juga Lee Wan, seorang jenderal militer pada masa raja Hyojong. Hingga sekarang hanya sedikit yang berubah dari tempat ini, areanya masih menjadi bagian dari pusat seni.

Ada sekitar 40 persen dari kerajinan diseluruh negeri yang di pertukarkan disini, bahkan beberapa barang merupakan hasil karya pada periode tiga kerajaan masa lalu (57 SM – 668 M) item yang paling populer adalah keramik yang harganya berkisar antara ratusan hingga ribuan dolar USD. Barang lain yang diperdagangkan berupa gerabah, kaligrafi, mabel antik, kerajinan kertas, hanbok, teh hingga ke souvernir lucu namun unik.

Menurut survei yang dilakukan pada tahun 2000 ada sekitar 100.000 ribu pengunjung yang memadati Insadong pada hari minggu. Namun tak hanya itu para pejabat asing juga terlihat menghabis kan sedikit waktu mereka dalam kunjungan kenegaraan disini seperti Ratu Elizabeth II, pangeran dari Spanyol dan Belanda.

Nah jika nyasar dan butuh informasi tentang lokasi bisa juga berkunjung ke infornation center yang biasanya ditandai dengan huruf i yang juga menyediakan informasi dalam bahasa Inggris, Jepang dan China.

Area ini mempunyai hampir 40 persen toko-toko antik diseluruh Korea serta tak kurang dari 90 persen toko – toko alat tulis tradisional, tak hanya itu karena disini juga ada Tongmungwan yang merupakan toko buku tertua di Seoul dan Kyung in Art Gallery yaitu kedai teh yang tetap awet hingga kini. Jangan dilewatkan juga demonstrasi kaligrafi dan pertunjukan tarian tradisional pansori.[] Khiththati

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Travel

To Top