Berita, Teknologi

180 Naskah Kuno akan Digitalisasi

Oleh: Salman Mardira - 17/01/2010 - 01:57 WIB

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Pusat Kajian Pendidikan Masayarakat (FKPM) Aceh akan mendigitalisasi 180 lebih naskah kuno yang kini dikoleksi oleh Tarmizi A Hamid (40), warga Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh.

“Naskah ini nantinya akan digitalisasi agar mudah dilihat dan dibaca oleh masyarakat,” kata Ketua PKPM Aceh, Rusydi Ali Muhammad, Sabtu (16/1).

Pernyataan itu disampaikan Rusydi saat pihaknya bertandang ke rumah Tarmizi, di komplek BIP Ie Masen Kaye Adang, untuk membersihkan dan merapikan (renotasi) kembali semua naskah kuno koleksi pribadinya.

Naskah kuno itu merupakan karya sejumlah ulama-ulama termasyhur pada abad 16 dan 18 masehi. Buah pikir sang penulis, seputar hukum Islam, resep pengobatan kuno dan ilmu bumi, ditulis dalam tiga bahasa, yakni Aceh Jawo, Melayu dan Arab. Naskah itu umumnya dibeli Tarmizi dari warga di Aceh maupun Riau.

Tarmizi mulai gemar mengoleksi naskah kuno sejak 1995. Ia rela merogoh kocek hingga belasan juta rupiah, untuk membeli naskah-naskah kuno. Malah, sebagian besar naskah kuno yang ia miliki sekarang, dibeli dengan harga jutaan rupiah.

Tarmizi mengaku terpanggil untuk mengoleksi barang kuno, agar tidak hilang begitu saja. Sang kolektor ingin, generasi selanjutnya nanti bisa melihat dan juga mempelajari buah pikir orang terdahuli.

Naskah itu kini mulai berdebu, malah ada yang sudah rusak. Karena itu, tim PKPM merenotasinya dengan alat khusus didatangkan dari Jepang.

“Restorasi naskah kuno seperti ini mulai kita lakukan sejak dua tahun ini, baik milik warga ataupun milik Pemerintah,” kata Rusydi.

Ini dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan naskah-naskah kuno dari kepunahan.

Menurutnya, naskah-naskah kuno karya orang Aceh terdahulu masih banyak tercecer di luar negeri, seperti Belanda, Malaysia dan Brunai Darussalam.

Untuk memulangkannya ke Aceh, kata Rusydi, sangat sulit, karena tak dijual lagi. Agar bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh rakyat Aceh, pihaknya berniat akan mendigitalisasi naskah-naskah tersebut.

Namun, Rusydi tak menyebutkan kapan digitalisasi itu akan dilakukan.[]

------
Sent from

It's time for a better tablet!

Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com



Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. muna - January 17th, 2010 - 03:17

    Wow, ini pekerjaan luar biasa.bagus dan sokong yg satu ini. Teruskan, ada sebuah nilai yg tak dapat dinilai dgn uang.

  2. hack22 - January 17th, 2010 - 10:55

    itu sangat bagus dilakukan. sebaik’a benar2 terealisasi. jangan ngemeng doank.

    lee mareit daripada keureja

  3. sufriyani - January 17th, 2010 - 21:33

    ini tindakan briliyan, bukankah kita sudah banyak kehilangan aset sejarah yang tersapu bersama tsunami, dan jangan sampai ini hilang tersapu oleh jaman Bravo

  4. Asoe Syuruga - January 17th, 2010 - 23:57

    Bagus sekali ini. Banyak sekali sejarah Aceh yang telah hilang begitu saja. Salut saya sama Teungku Tarmizi.

    “…ditulis dalam tiga bahasa, yakni Aceh Jawo,..” Aceh Jawoe, atau Jawi dalam bahasa Malaysia, bukan “Jawo”.

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar


 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.