Google+

Berita

Aceh Miliki Industri Garam Beryodium

Oleh: REL - 29/08/2012 - 14:49 WIB

BIREUEN | ACEHKITA.COM – Provinsi Aceh telah memiliki dua pabrik garam beryodium di Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya, yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan garam untuk daerah ujung barat Indonesia itu. Industri ini masing-masing mampu memproduksi tiga ton garam beryodium sehari.

Industri garam beryodium yang dibangun di Gampong Alue Bie, Kecamatan Jangka diresmikan pengoperasiannya oleh Bupati Bireuen, Ruslan HM. Daud, Rabu (29/8). Pabrik serupa yang dibangun di Gampong Lancang, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, juga siap berproduksi garam beryodium.

Kedua pabrik garam beryodium itu dibangun Aceh Development Fund (ADF) dan mitranya: Fakultas Teknik Unsyiah, An-Nisaa’ Centre, dan Perkumpulan BIMA melalui Program Teknologi Ramah Lingkungan untuk Industri Proses Perikanan (Terapan). Dananya berasal dari hibah Multi Donor Fund (MDF) melalui Proyek Fasilitas Pembiayaan Pembangunan Ekonomi (EDFF) Aceh.

Faisal Hadi, Manager Program Terapan, menyatakan, industri yang dibangun itu akan mengolah kembali garam tradisional yang diproduksi petani garam di Jangka dan Pidie Jaya menjadi garam beryodium sehingga diharapkan bisa menembus pasar modern. Garam yang dihasilkan petani garam dibeli pabrik untuk diolah kembali menjadi garam beryodium dengan kualitas sesuai SNI.

“Dulu ada pabrik garam beryodium di Langsa, tapi sudah tutup. Jadi industri yang dibangun ini merupakan satu-satunya pabrik garam beryodium di Aceh. Selama ini memang ada home industri garam beryodium di Aceh, tapi bukan dalam skala besar seperti yang dibangun melalui Program Terapan,” katanya.

Selain membangun konstruksi fisik industri, pelaksana Program Terapan juga memberikan berbagai fasilitas penunjang administrasi kantor, mobil pick up untuk operasional pengangkutan garam dan sejumlah pelatihan kepada para pengurus koperasi yang menjadi pengelola industri. Dengan begitu, pengurus koperasi mampu mengelola industri sampai terus berkembang.

Pelaksana Terapan juga sudah membentuk satu koperasi yang anggota terdiri dari para petani garam di Jangka. Jumlah anggota Koperasi Rahmat Kamoe Meusira hingga kini sudah mencapai 125 orang, terdiri dari 101 perempuan dan 24 laki-laki. Koperasi petani garam juga dibentuk untuk mengelola pabrik di Pidie Jaya.

“Tantangan kita ke depan ialah menjalankan bisnis industri yang kita bangun ini sehingga akan terus berkembang dan maju. Ini harus menjadi perhatian bersama sehingga pembangunan industri ini tidak mubazir dan sia-sia,” kata Faisal seraya menambahkan bahwa pihaknya siap melakukan pendampingan berkelanjutan sambil industri garam beryodium benar-benar mandiri kendati Program Terapan berakhir pada 31 Agustus 2012.

Ketua Koperasi Rahmat Kamoe Meusira, Islamiyah, mengharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk terus memberikan pendampingan bagi mereka karena koperasi itu masih baru dan kurang pengalaman. Koperasi ini baru dibentuk beberapa bulan lalu atas fasilitasi pelaksana Program Terapan dan dinas terkait dari Pemerintah Kabupaten Bireuen.

“Kami harapkan adanya upaya semua pihak untuk memajukan koperasi kami sehingga kami bisa mengembangkan unit-unit usaha lainnya,” katanya seraya berharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk membuat regulasi agar masyarakat mau membeli garam beryodium produksi industri tersebut.

“Kami sangat mengharapkan kepada warga Aceh, khususnya Bireuen, supaya menggunakan garam beryodium produksi lokal dan meninggalkan garam dari luar daerah. Dengan demikian kita bisa memajukan industri di Aceh ini,” kata Islamiyah, yang langsung mendapat applause hadirin dan tamu undangan.

Sementara itu, Bupati Bireuen Ruslan HM Daud dalam sambutannya berjanji terus memperhatikan industri garam beryodium yang telah dibangun melalui Program Terapan sehingga pabrik itu bisa berkembang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat petani garam di Jangka.

Ia mengharapkan garam yang diproduksi dari pabrik tersebut bisa menguasai pasar lokal di Aceh, khususnya Bireuen. “Bila perlu, dengan kapasitas tiga ton perhari, produk garam Jangka ini bisa menembus pasar nasional atau bahkan internasional,” katanya.

Ruslan juga mengimbau seluruh masyarakat Aceh untuk mau menggunakan garam yang dihasilkan dari industri garam beryodium yang dibangun melalui Program Terapan. Selain itu kepada masyarakat Bireuen diharapkan memberi dukungan penuh terhadap kemajuan industri yang telah dibangun tersebut.

-----

Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com


Share on Tumblr

Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL