Berita, Feature

Antara Aceh dan Batik

Oleh: Teks: Riza Nasser/Foto: Ucok Parta - 06/02/2010 - 23:23 WIB

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Jemari lentik mereka mengukir hamparan kain sepanjang tiga meter, membentuk pola sedap di mata. Canting berisi lilin sesekali ditiup, memudahkan proses goresan. Bermodal pelatihan tiga bulanan, wanita Aceh kini mahir membatik.

Mencetak Motif Batik

Mencetak Motif Batik

Kerajinan tanah Jawa itu, merambah bumi Iskandar Muda. Pengagasnya Darliza, istri mantan Gubernur Aceh Mustafa Abubakar. Tiga tahun sudah batik Aceh membahana. Batik Aceh punya khas tersendiri: berpola jarang-jarang.

Mewarnai Kain

Mewarnai Kain

“Kalau batik Jawa motifnya lebih padat, batik Aceh itu prosesnya dicetak dan polanya diambil dari ukiran-ukiran Aceh dari seluruh kabupaten. Bahan baku dari kain sampai dengan cetakannya dibuat di Jawa,” kata Aulia, koordinator Kelompok Batik Aceh.

Mengukir Motif Khas Aceh

Mengukir Motif Khas Aceh

Tidak mudah untuk menghasilkan batik Aceh yang sempurna. Beberapa tahap dilakukan, mulai dari mencapnya, mewarnai kain, menutup ukiran pola atau nembok, serta merebusnya dengan campuran air raksa dan lilin.

“Satu kain ukuran dua meter setengah itu selesainya bisa sampai satu hari setengah,” sebut Aulia.

Menjemur Batik

Menjemur Batik

Sebulan, Rumah Batik milik Dewan kerajinan Nasioanal (Dekranas) Aceh yang berada di kawasan Meunasah Manyang Aceh Besar, ini hanya mampu menghasilkan dua ratus helai batik. Jika ada pesanan jumlahnya bisa bertambah.

“200 lembar kita stok tiap bulan, kalau ada pesanan dari instansi pemerintah sampai 300 lembar sebulan,” ungkapnya.

Batik Siap Dipasarkan

Batik Siap Dipasarkan

Untuk menghasilkan batik yang cepat, tentu saja memerlukan tambahan pekerja. Ada sekitar dua puluhan wanita yang dipekerjakan untuk memproses batik Aceh ini. Mereka dibayar borongan. “Mereka dapat delapan ribu rupiah perhari dan per-warna, gajiannya bisa dua minggu sekali,” kata dia.

Harga batik Aceh juga cukup lumayan. Untuk kain berjenis TBM, harganya sampai Rp 1,1 juta. Sementara Sutra harganya 800 ribu rupiah. Yang paling murah cuma 300 ribu rupiah, untuk kain berjenis katun.

Sayang, pemasaran Batik Aceh masih belum sempurna. Hanya ada empat galeri Batik Aceh yang tersedia: Bandara Sultan Iskandar Muda, Hermes Palace Hotel, stan Dekranas di Taman Ratu Safiatuddin dan rumah Batik Aceh ini. “Kebanyakan yang mesan dari instansi pemerintah, kalau masyarakat umum masih sangat kurang,” ujarnya.

Batik memang kini tak lagi diklaim milik masyarakat Jawa. Malah, Batik telah menjadi warisan nusantara yang telah dikenal di manca negara. Tapi, akankah batik Aceh bisa merambah pasar dunia? []

------
Sent from

It's time for a better tablet!

Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com



Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. hahan - February 7th, 2010 - 00:08

    coba dileh

  2. ARDI - February 7th, 2010 - 22:23

    Riza, ide menuliskan batik aceh ini menarik. Tapi kok terasa kering ya.

  3. Khazanah Batik Indonesia – Another Sound of Music - March 30th, 2011 - 09:56

    [...] Batik Aceh [...]

  4. Sandang Indonesia » Blog Archive » Batik Aceh - August 21st, 2011 - 07:29

    [...] http://www.acehkita.com/ [...]

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar


 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.