Google+

Berita

Depag Bantah Larang Atraksi Barongsai

Oleh: Salman Mardira - 19/12/2009 - 19:06 WIB

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Depertemen Agama (Depag) Aceh membantah mengeluarkan larangan atraksi barongsai, yang hendak digelar komunitas Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa, dalam memperingati lima tahun tsunami.

“Kami tidak pernah melarang atraksi barongsai,” kata Juniazi, Humas Kanwil Depag Aceh kepada acehkita.com, Sabtu (19/12).

kaskus.us

kaskus.us

Juniazi menegaskan, pihaknya tak pernah menerima permohonan izin untuk pagelaran seni barongsai oleh kaum minoritas itu. “Yang ada mereka hanya konsultasi dengan kita, tentang peringatan lima tahun tsunami yang akan mereka lakukan,” sebutnya.

Saat beraudiensi dengan Depag, kata Juniazi, mereka membahas isi proposal peringatan lima tahun tsunami yang mereka ajukan ke Depag. Di proposal itu, selain ritual Budha, juga tertera rencana pegelaran atraksi barongsai.

“Nah,kita hanya menyarankan agar barongsai itu lebih baik ngak ditampilkan, karena bisa menimbulkan kesan yang tidak baik bagi agama lain, khususnya umat Islam. Kan mayoritas masyarakat Aceh beragama islam,” jelas Juniazi.

“Apalagi peringatan 5 tahun tsunami yang mereka lakukan atas nama umat Budha, bukan warga Tionghoa. Dan mereka memaklumi itu, bukan kami melarang.”

Menurut Juniazi, pihaknya sangat mendukung segala ritual ibadah dilakukan umat dari lima agama yang ada di Indonesia dan tak pernah melarangnya.

Menyarankan agar barongsai tak ditampilkan, menurut dia, bukan berarti pihaknya membatasi kebebasan beribadah umat Budha, tapi hanya untuk kemaslahatan.

“Pada peringatan lima tahun tsunami besok, kita juga memberi kebebasan mereka,” ujarnya.

Pihak Depag Aceh sendiri, kata Juniazi, juga akan hadir pada acara yang dipusatkan di Ulee Lheue.

Sebelumnya diberitakan, komunitas Thionghoa di Aceh mengaku kecewa dengan Depag karena tak mengizinkan menampilkan barongsai, pada ritual memperingati lima tahun tsunami besok. []

-----

Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com


Share on Tumblr

Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL
  • Hasan Chandra

    Walaupun agak terlambat mengomentari rublik ini,saya pikir kita tidak perlu berpolemik terlalu jauh yang pada akhirnya akan memecah belah bangsa ini. BARONGSAI adalah milik seni budaya Tionghoa turun temurun yang tidak ada kaitannya dengan agama ( bukankah org Tionghoa sendiri banyak yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu dan kongfucu),yang pada umumnya ditampilkan pada perayaan atau upacara ritual hari2 besar menurut kalender Tionghoa. Jadi pertanyaannya adalah: Tsunami yang menelan korban ribuan manusia di Aceh lima tahun yang lalu itu mau dikatagorikan sebagai: “Memperingati” atau “Merayakan” ?. kalau dianggap sebagai “memperingati” bukankah cukup dengan cara berdoa menurut Agama masing2 saja. Lain halnya kalau dianggap “Merayakan” selain Barongsai mungkin perlu dipikirkan untuk menampilkan seni budaya suku Aceh, Padang, Jawa, Batak dan lainnya.

  • HambaAllaah

    Sdr2 di Depag tidak perlu ragu, setiap kita hidup di bumi Allaah dan bertanggung jawab kepada Allaah. Indonesia dan seluruh dunia yang beraneka ragam inipun menumpang di bumi alam semesta milik Allaah.
    Termasuk Menag, Presiden dan siapapun juga tidak ada apa2nya di depan Allaah, bahkan semua kita lemah lemah tak berdaya sedikitpun didepan Allaah.

    Prosedur dalam mengambil kebijakan sangat2 mudah, apapun yg sesuai tuntunan Allaah maka silakan laksanakan, yang bertentangan maka tinggalkan. Apapun kata manusia!.

    Diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuliskan surat kepada Mu’awiyah. Isinya sebagai berikut.
    “Salam untukmu. Amma Ba’du. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Barangsiapa mencari ridha Allah dengan membuat manusia murka, maka Allah akan bereskan urusannya dengan sesama manusia. Tetapi barangsiapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka maka Allah akan serahkan orang tersebut kepada manusia‘ Wassalamu ‘alaika. (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shahihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

  • Rara

    Sangat prihatin dgn Depag Aceh. Sepatutnya pemerintah tak membiarkan ini terjadi. Aceh adalah milik selurah bangsa Indonesia, bukan khusus yg beragama Islam saja. Bila dibiarkan hal ini akan berkembang menjadi disintegrasi bangsa.

  • Arbania

    Depag itu berarti departemen yang mengurusi agama, dan berdasrkan kepres 65 agama yang diterima itu adalah 5 agama besar yangkemudian di revisi tahun 99 dan selebihya masuk kategori aliran kepercayaan. artinya DEPAG seharusnya mengurus semua agama dan aliran, hak setiap agama. Tidak boleh pilih kasih. SEMOGA DEPAG SEGERA MENGINGAT HAL INI. DAMAI

  • sukmawati

    Sangat memprihatinkan.kelak akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Pemerintah khususnya DEPAG tidak boleh membiarkan ini terjdi. Aceh bukan hanya milik mereka yang beragama Islam saja.Tapi milik seluruh bangsa.Pak PRESIDEN tolong BERI PERHATIAN KHUSUS untuk hal ini.Sebelum terlambat.

  • yuda

    Sangat tidak bijak sebagai pejabat Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita masih punya mindset “mayoritas vs minoritas” saya usul belajarlah dari sejarah bangsa kita,.. Kebesaran dan kejayaan bangsa ini terjadi justru pd saat kita mampu mengembangkan sikap apresiasi terhadap setiap warga bangsa dengan segala bentuk latar belakangnya,. Janganlah terlalu berpikir sempit spt ini,. Salam

  • M.J.Thamrin

    Ass Wr Wb,
    Saya begitu heran dgn masyarakat Islam sekarang ini. Begitu tipis kah keimanan kita, sehingga kita takut iman kita luntur, hanya dgn menonton barongsai?

  • Mang Surya

    Bapak Menteri Agama tolong tindak pejabat anda yg tidak mengerti sama sekali tentang Indonesia, di Indonesia sebagaimana dikatakan Ir. Soekarno tidak ada minoritas dan mayoritas. Jika pendapat ini(mayoritas dan minoritas) dibiarkan merupakan preseden buruk bagi bangsa Indonesia dimata dunia, sebagaimana yg sering dikatakan oleb Bapak SBY bahwa kebebasan beragama dan hak-hak sipil di Indonesia selalu dilindungi oleh negara. dengan pernyataan Petugas DepAg ini sepertinya apa yg dikatakan SBY di forum dunia tidak diterjemahkan dilapangan.
    Pak Menteri tolong segera bertindak!

  • agus

    ada satu hal yg hrs dipahami bhw peringatan tsunami berbeda konteks dan psikologisnya dgn perayaan spt perayaan hari proklamasi, dll. tentu siapapun (termasuk depag) tidak akan melarang atraksi barongsai saat 17 agustusan sebagaimana berdoa dlm berbagai bentuk dr berbagai agama dan kepercayaan tidak dilarang dlm peringatan tsunami di aceh. adalah tidak tepat andaikata atraksi barongsai yg pasti akan dipenuhi hiruk-pikuk pemain dan penonton dgn tepuk tangan dan sorak sorainya ditampilkan di saat masyarakat aceh sdg berdoa dan berkabung atas musibah trbesar dlm sejarah yg menimpa diri dan saudara2nya lima thn lalu.
    kami sdh sgt byk belajar dr kejadian itu dan berharap tidak terulang kepada siapa dan dimanapun. jd, mengertilah…

  • http://www.anandkrishna.org Anand Krishna

    Humas Depag Aceh TIDAK MENJELASKAN apa maksudnya atau instansi yang diwakilinya dengan pernyataannya berikut:

    1. “barongsai itu lebih baik ngak ditampilkan, karena bisa menimbulkan kesan yang tidak baik bagi agama lain, khususnya umat Islam. Kan mayoritas masyarakat Aceh beragama islam,” BESOK-BESOK MENTERI AGAMA BISA MENGATAKAN HAL YANG SAMA, KARENA ALASAN YANG SAMA PULA, “Kan mayoritas masyarakat Indonesia beragama islam.”

    HARAP MENGINGAT KEMBALI JANJI FOUNDING FATHERS KITA, Bung Karno secara tegas dan jelas mengatakan bila Indonesia adalah untuk SEMUA, tidak ada minoritas dan mayoritas disini.

    2. “menurut dia, bukan berarti pihaknya membatasi kebebasan beribadah umat Budha, tapi hanya untuk kemaslahatan” MOHON PENJELASAN BELIAU KEPADA SELURUH RAKYAT INDONESIA APA YANG BELIAU MAKSUD DENGAN ISTILAJ “KEMASLAHATAN”.

    Preseden yang buruk sekali, Humas dan Depag Aceh mesti DITEGUR OLEH ATASAN MEREKA, YAKNI MENTERI AGAMA, DAN BILA TIDAK MAKA SESUNGGUHNYA BAPAK PRESIDEN YANG BERTANGGUNG JAWAB, KARENA PARA MENTERI HANYALAH PEMBANTU PRESIDEN.

    HAL INI sudah pasti Mengecewakan Bapak Presiden yang pada setiap forum internasional selalu mengatakan bila di Indonesia kebebasan beragama dan hak-hak sipil warga negara selalu dilindungi oleh negara.

    Salam Indonesia, Aceh!

  • boy

    salam super…..
    LIKE’T NIZAM post!
    @saudara Z SABILA:
    (sprtinya harus di post lagi dech…)
    BAGUS tuk Depag Aceh.
    sebuah keputusan yg baik, kalau memang keturunan tionghoa mau menggelar barongsai, sebaiknya di tempat ibadahnya saja, toh jika menurut keyakinan mereka dapat menenangkan saudara – saudaranya akan sampaiLAH keinginan itu…. yang penting niat..
    kalau besok ada barongsai, akan ada budaya – budaya lainnya yang menunggu giliran.. contohnya: larung saji ke aut/sungai, gunungan, keliling sapi putih, tenggelmkan kambing hidup – hidup dalam lumpur,, DAN masih banyak budaya yang lainnya, semuanya dengan dalih keselamatan.
    Orang – orang yang dapat menilai benar dan salah, dengan baik dan benar akan membawa kedamaian di dunia ini.

    peduli setan gak bakalan maju! kalau maju tuk kehancuran!

    biarpun pehamahaman keislaman SABILA yang TIDAK payah, dan TIDAK pas-pasan. akan percuma kalau dasar dari itu tidak ada.

    Orang – orang yang dapat menilai benar dan salah, dengan baik dan benar akan membawa kedamaian di dunia ini.

    *lon nah ureung Aceh,, yang di post oleh sabila gag banget dech….

  • Rules

    Aceh sudah tidak menjadi tuan tanah bagi siapa-siapa lagi. Ingat saat tsunami? Ketika orang-orang Aceh berpangku tangan, diam saja dan malah minta uang sementara yang menolong malah orang-orang non-aceh dan bahkan non-muslim. Bahkan orang-orang asing.

    Belajarlah memiliki rasa terima kasih. Aceh ini bisa jadi seperti sekarang bukan karena orang-orang Aceh sendiri, namun karena pendatang-pendatang yang kalian hisap habis. Dari perajaman, sharia…makin lama Aceh makin merasa spesial. Kalian TIDAK spesial. Kalian hanya warga negara seperti orang-orang Indonesia lainnya. Tanpa kami di luar aceh, daerah kalian sudah membusuk karena tsunami. Camkan itu. Apakah perlu orang aceh didisiplinkan oleh Jakarta lagi?

  • muna

    Aceh Dan Cina tidak sama tuanya.Orang Aceh adalah Orang tempatan , sedang Cina adalah pendatang. Namun, dalam hal berdampinga atau kebebasan beragama oke oke saja, sejauh tidak menyimpang dari ke acehan nya Aceh.(PEJAMKAN ITU)

  • Z Sabila

    Saudara Boy, memang betul Aceh bukan singkatan dari Arab, China, Eropa, dan Hindia. Tapi tahukah Anda, banyak orang Aceh yang memuja-muja bahwa nenek moyang mereka berasal dari empat suku bangsa di dunia itu. Kalau mau melihat keempat suku bangsa itu hidup berdampingan, maka datanglah ke Aceh.

    Yang ingin disampaikan oleh orang2 tua dulu adalah, Aceh merupakan sebuah bangsa yang kosmopolit. Bangsa yang menghargai bangsa lain, bangsa yang menghargai keberagaman, bangsa yang menghargai budaya bangsa lain, bangsa yang menghargai agama dan kepercayaan bangsa lain, bangsa yang menghormati bangsa lain, seperti Aceh mau dihormati oleh bangsa lain juga. Ia adalah bangsa yang ingin bersanding sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini, tanpa ada perbedaan ras, agama, dan turunan. Itu saja.

    Kita telah mengerdilkan Aceh, dengan pehamahaman keislaman yang payah, dan pas-pasan.

  • http://www.ptr_1210.com Niezam

    Yg ken2 piasn..so u sngkat aceh lgeenyan btoi2 hna toe sjarah.. gd boy… cna mang na awy kn hna mnghormti hak ureung yg brgama laen tpi hna ubh lgee tmu mnghrmati tuan bk cok cntoh ngara mju mnteng..gob na dmi agma tem meu hbeh..ngieng yhudi kban di kuasai tmur tngah na pat brkutiek muslem jnoe…lon hna stju ngn sgla ritual ke agmaan di aceh bragma ssuka hti anda krn tu hk kbbsan anda tpi jgn lupa anda adlh tmu kmi dn kmi tuan tnh bge anda…

  • apa maun

    Peng na? ci jok peng, pasti bereh.
    Sang ka bereh that awak kanto agama, lheu that ek minyeuk dum.

  • boy

    salam super..
    perlu di garis bawahi nama ACEH bukan berasal dari singkatan tersebut di atas. itu hanyalah sebuah deskripsi umum masyarakat.
    itu saja.
    salam super.

  • ardi

    aneh depag ini. khususnya kalimat ini:tidak melarang,tapi menyarankan tidak ditampilkan. Penghalusan bahasa? saya kira iya.

    Jika alasannya karena Aceh mayoritas muslim, lalu apakah yang minoritas harus dilarang-larang. Lagi pula, atraksi barangsai bukanlah ritual agama Budha, tapi bagian dari budaya/adat. kurang lebih seperti acara peusijuek di Aceh atau sejenis tarian ritual lainnya.

    Kapannya kita bisa lebih dewasa tanpa memaksakan kehendak kepada yang minoritas???

    tampaknya dominasi mayoritas atas kaum minoritas masih akan menempuh jalan panjang di Aceh.

  • Z Sabila

    Saya sangat menyesalkan tindakan Departemen Agama. Seharusnya, di Aceh perlu ada keberagaman: Aceh dan Cina sama tuanya mendiami bumi Aceh ini… Karena, jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam didirikan pada abad 16, di Kerajaan Pasai telah ada yang namanya Kampung China.

    Dulu, Aceh dan China juga menjalin hubungan dagang dan budaya yang erat. Jadi, kenapa sekarang musti dikerdilkan…

    Lonceng Cakradonya masih bertengger di depan Museum Aceh. Ini pertanda bahwa Aceh dan China adalah dua bangsa yang sejajar, yang punya hubungan gemilang di masa lampau.

    Orang Aceh juga ada yang bermata sipit. Ini membuktikan bahwa Aceh terdiri atas bangsa-bangsa: Arab, China, Eropa, dan Hindia.

    Kalau kebebasan China tidak diperbolehkan di Aceh, berarti baiknya huruf “C” di kata ACEH dihilangkan saja..

    Biarkan ACEH hanya menjadi AEH…..