Berita

Gubernur Ganti Khatib Idul Fitri Secara Mendadak

Oleh: Halim Mubary - 10/09/2010 - 12:24 WIB

BIREUEN | ACEHKITA.COM – Pergantian khatib salat Idul Fitri 1431 H dari Tgk H Hasanoel Bashry kepada Prof Dr H Alyasa Abubakar dilakukan secara mendadak. Pergantian ini memantik sejumlah komentar dari kalangan santri dan warga. Pasalnya pergantian tersebut dianggap ada unsur politik yang melatarbelakanginya.

Sebelumnya, pada  8 Juni 2010, Tgk Hasanoel Basri, Pimpinan Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga menerima faks dari Biro Keistimewaan Aceh berupa surat permintaan kesediaan Abu Mudi, sebutan  Tgk. H. Hasanoel Bashry, untuk menjadi khatib pada Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Surat itu ditandatangani Sekda Aceh Husni Bahri TOB,  atas nama Gubernur Aceh bernomor  003.2/49327.

Menurut salah seorang guru dayah Mudi Mesjid Raya,  beliau diminta untuk mengirim draf khutbah paling lambat tiga minggu sebelum hari H. “Draf tersebut sudah dikirim pada minggu pertama Ramadhan. Namun, pada 8 September 2010,  Abu  Mudi diberitahu oleh pihak Biro Keistimewaan Aceh, bahwa atas perintah Gubernur Aceh, khutbah Idul Fitri diganti oleh Prof. Alyasa Abubakar. Pergantian tersebut menurut pihak Biro Keistimewaan Aceh, atas instruksi Gubernur,” kata orang terdekat Tgk Hasanoel Basri yang tak ingin disebutkan namanya.

Tgk H Hasanoel Bashry sendiri  menanggapi hal itu dengan sikap biasa-biasa saja. Menurut Abu Mudi,  menerima permintaan menjadi khatib Idul Fitri sebagaimana tersebut dalam surat Sekdaprov Aceh. “Hanya dengan niat untuk memberikan ceramah/khutbah dalam rangka penyampaian syiar Islam dan syiar hari raya secara khusus. Tidak masalah dengan pembatalan tersebut,” kata Tgk Hasanoel Basri kepada acehkita.com.

Tgk Hasanoel Bashry melihat pergantian dirinya menjadi khatib mungkin ada implikasinya dari konflik-konflik kekuasaan yang sedang terjadi di Aceh. “Saya sendiri sama sekali tidak mau masuk dan terlibat dalam wilayah itu. Harapan saya ke depan, tolong konflik itu jangan di bawa ke wilayah agama (khutbah hari raya). Sungguh tidak beretika kalau konflik kekuasaan dibawa ke wilayah ritual ibadah,” ingat Abu Mudi. []

------
Sent from

It's time for a better tablet!

Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com



Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. Tgk. Abdullah jambi - September 21st, 2010 - 23:37

    Mungkin gubernur takut di keritik oleh abu mudi sebab syari’at islam hamir berjalan di tempat apalagi korupsi di aceh masih di manjakan oleh penegak hukum, terbukti dengan banyaknya koruptor yang di bebaskan

  2. jalaloes - September 25th, 2010 - 21:27

    Pak Gubernur.gunakanlah mekanisme yg arif,.berikan penghargaan yg selayaknya kpd ulama,umara dan ulama harus saling mendukung dlm membangun aceh ini kedepan unt lbh baik…..

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar


 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.