Berita

Ke Kamboja untuk Belajar, kata YLI

Oleh: Yaslia - 26/11/2009 - 00:52 WIB

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Yayasan Leuser Internasional membela diri atas niat mereka membawa sejumlah anggota parlemen dan pejabat Aceh ke Kamboja menggunakan dana program pemeliharaan hutan atau Aceh Forest and Environment Project (AFEP). YLI berkilah, kunjungan ke Kamboja untuk belajar.

“Semata-mata untuk belajar,” kata kata Communication Officer Yayasan Leuser International (YLI), Chik Rini, Rabu (25/11).

Seperti diberitakan situs ini kemarin, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menentang keras rencana YLI tersebut. Menurut Walhi, seharusnya dana AFEP benar-benar digunakan untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan ekositem Leuser dan Ulu Masen.

Menurut Rini, rencana membawa sejumlah pejabat pemerintah Aceh dan anggota dewan bukanlah proyek jalan-jalan. Kerena sebelumnya rencana itu sudah diprogramkan dan disetujui oleh pemerintah Aceh dan penyandang dana, World Bank.

”Kalau dibilang jalan-jalan agak lucu, sebatas belajar. Tidak mungkin lah jalan-jalan ke negeri perang,” ujar Rini.

Kamboja dipilih karena berhasil mengelola hutan berbasis masyarakat. []


Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 7 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. agam - November 26th, 2009 - 01:24

    Tentu belajar. Tapi belajar bagaimana cara cepat menghabiskan uang dengan menjustifikasi kepentingan rakyat. Anggotan Dewan paham betul dengan hal ini, YLI kesannya pengen belajar juga.
    Padahal, masih cukup banyak yg bisa dikerjakan di Aceh dengan dana AFEP itu. Hutan di Aceh masih banyak yg dirambah, lingkungan masih banyak yg rusak, apakah dengan segitu banyak uang tidak bisa mencegah hal ini..???
    Kenapa mesti harus menghabiskan untuk jalan2, apakah sudah muak menikmati gemilangnya rupiah proyek itu di Aceh..????
    Aceh negeri malang, selalu dijual oleh orang pintar, kemudian uangnya dinikmati sepihak. Banyaklah rumah2 dan mobil2 mewah beredar di Aceh, milik mereka yg terlanjur menyemat dirinya aktivis.

  2. erwin - November 26th, 2009 - 11:16

    mungken termasok droe neuh tgk Agam…sebab droe bagian dari aceh sit,uroe njoe bandum bansa aceh saban perangoe saban peunyanket.

  3. ndr - November 26th, 2009 - 15:15

    Belajar?..kenapa gak dibalik aja..biar dana nya bisa di hemat. Undang saja 1 atau 2 orang dari kamboja yang punya keahlian mengelola hutan berbasis masyarakat disana,,terus share saja ke orang2 di sini..kiban..dana hemat, ilmu dapat..

  4. nasrullah dahlawy - November 27th, 2009 - 06:35

    Hutan Aceh memang sedang mengalami kerusakan berat dan keberhasilan kamboja boleh menjadi acuan untuk mengelola hutan di Aceh. Ini upaya yang sangat baik untuk direalisir.

  5. Raju - November 27th, 2009 - 15:34

    Brat ka pungoe,.

  6. ureng aceh - November 27th, 2009 - 15:50

    ureung aceh le yg sama pikiran untuk pemaju nanggroe tapih kalou proyek 10 milyar ,buat lima saja ,setengah masuk dalam kantong ,kalou begitu mas aceh seratus tahun kedepan tidak boleh maju seperti america serikat

  7. alfi - November 29th, 2009 - 12:49

    alaaa..negara perang ato ngak tetap ja hawa jak2, pa ngomng besar kali. belajar..???bisa pa pejabat tu, sma ja ngak tamat, ijazah ja di beli. gaya belajar…english cohh

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar


 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.