Berita, Feature

Kisah Pilu Ramli

Oleh: Arman Konadi - 28/01/2010 - 16:09 WIB

“Tolong saya sudah empat tahun terbaring di sini.” Suara Ramli Ahmad serak, tertahan. “Saya tidak sanggup lagi.”

Ramli bak orang yang berputus asa. Empat tahun terakhir ini, Ramli hanya terbaring di ranjang di dalam gubuk yang didirikan di kompleks terminal Keudah, Banda Aceh. Pria berusia 65 tahun itu merupakan warga Desa Pante Labu, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. Ia “terdampar” di Banda Aceh karena berusaha menyelamatkan diri dari kekerasan yang mengintainya pada masa konflik merajai Aceh.

Petaka itu datang ketika aparat keamanan menuduhnya sebagai mata-mata Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Empat kali saya ditahan di pos keamanan karena dituduh mata-mata GAM. Padahal saya hanya sipil biasa…,” kata Ramli kepada acehkita.com, Rabu (28/1). Batuk membuat ia menghentikan sementara kata-katanya.

Sesekali ayah Ramadhan (4) dan Fina Maulana (6 bulan) ini meraih timba hitam di bawah tempat tidur untuk meludah. “Asal batuk keluar darah, dada sakit sekali,” keluhnya memperlihatkan isi timba bercambur darah.

Meski letus senjata tak lagi mendesing di Aceh, namun konflik masih menyisakan pilu bagi Ramli. Kekerasan fisik membuat pria beristri Mutia (34), itu harus rela menghabiskan hari-harinya terbaring di tempat tidur. Tak banyak yang dapat dilakukannya kini.

Tempat yang dijadikannya rumah pun hanya sebuah ruko terlantar yang ditinggal pemiliknya. Bangunan berukuran 4×7 meter itu lebih pantas disebut gudang. Karena selain sebagai rumah, istri Ramli juga menjadikannya sebagai tempat menyimpan barang rongsokan untuk dijual kiloan. Kemiskinan menjadikan Meutia harus bekerja keras.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Ramli hanya bertumpu pada istrinya dari penghasilan sebagai tukang cuci pakaian. Terkadang juga harus mengumpul barang bekas.

Ia tak lagi menjadi sebagai tulang punggung keluarga karena telah cacat permanen. Tubuhnya pun tinggal kulit pembalut tulang. “Ini susah digerakkan karena sering dipukul,” ujar Ramli memperlihatkan lututnya yang tak normal karena bengkak.

Penghasilan istrinya yang pas-pasan mengalahkan semangat Ramli untuk dapat pulih kembali. Kartu Jamkesmas penopang mahalnya pengobatan pun tak dikantonginya. “Sudah saya urus tapi kata Geuchik saya tidak dapat,” kenangnya sambil memperlihatkan KTP Merah Putih yang tidak berlaku lagi.

[KTP Merah Putih merupakan kebijakan Penguasa Darurat Militer Daerah Mayjen TNI Endang Suwarya untuk memisahkan masyarakat biasa dengan anggota GAM. Tak memiliki KTP Merah Putih, itu artinya harus berhadapan dengan polisi dan militer.]

Meski menetap di Banda Aceh sejak 2005 silam, Ramli masih bertatus warga Aceh Timur. Ia sempat kembali ke tanah kelahirannya untuk mengurus kartu Jamkesmas meski itupun sia-sia.

Kini Ramli hanya bisa pasrah menanti uluran tangan dermawan untuk mengurangi deritanya. Jangankan berobat, sekilo beraspun terkadang harus mengutang.

Meski penyakit yang diderita kian parah Ramli hanya mampu menahan rasa sakit di pembaringannya. Tak ada pengobatan maupun dokter yang merawat.

“Saya berharap ada NGO yang mau membantu pengobatan. Karena dari pemerintah sulit mendapatkannya,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Ramli juga harus siap angkat kaki dari toko tempatnya berteduh jika sewaktu-waktu pemilik toko memintannya pindah. “Gak tau lah harus ke mana jika disuruh pindah,” keluhnya pasrah. []


Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 9 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. Muhammad Yusuf - January 28th, 2010 - 19:53

    Kepada saudara2 kita yang telah mengecapi hasil dari perdamaian ,janganlah selalu memandang ke langit,igatlah akan bumi yang kita duduki.

  2. Aulia - January 29th, 2010 - 01:15

    jika ditelusuri msih banyak Ramli2 lain di Aceh yang mengalami hal yang sama, pemimpin yang baik harus bisa melihat rakyatnya :)

  3. caca - January 29th, 2010 - 07:36

    jadi jamkesmas itu sebenarnya untuk syapa!!????

  4. ramli - January 29th, 2010 - 10:36

    Jamkesmas ternyata hanay berlaku ..bg siapa yang sawer lebih byk. pak Ramli sabar ya .. kita doakan saya supaya mereka yang mengurus Jamkesmas itu dalam lindungan setan yang terkutuk

  5. aneukpaleh - January 29th, 2010 - 13:37

    kl dulu masa perang ada orng kata nanggroe nyoe ata tanyoe,tpi dia org kata sekarang naggroe nyoe ata kamoe,mana janji2 dulu yg mati bersama apakah semua dah lupa dgn siksaan dunia yg askar indon bagi pd kita hanya karna dah ada yg hidup dlm kemewahan dgn mobil mewah rumah besar hingga tak nampak lagi org2 yg ikut sama dgn kita dulu biar pun dia tak penah pegang senjata.
    renungkan lah senua dunia ini hanya semantara
    sumbanglah sedikit harta tuk kita di alm sana.

  6. aneuk senapan IT - February 2nd, 2010 - 18:11

    beutoe hai rakan, ureung biasa memang hana mat senjata tp menyoe hana geupesom markas2 watee prang. paleng sibuleun sagai laskar pejuang nyan. pakriban tapeugot nyan sang cit ka hukum donya “kamoe pereulee kamoe peulara, menyoe hana pereulee ke awak droe jak lop u alam baka”
    lagee kacang tuwoe ke kulet.
    ta meudoa mantong beu teubuka hate awak gobnyan nyang ka jeut ke peujabat ngon moto mewah…
    amin

  7. aneuk senapan IT - February 2nd, 2010 - 18:15

    takalon ex tsunami hana rumoh lom seudeh hate teuh, ta kalon mantan peujuang sidroe meurumpok peut boh rumoh bantuan. soe na burani lakee saboh.. jok keu tgk ramli. ??

  8. ahmad - February 3rd, 2010 - 05:24

    Kasihan Pak Ramli,bantuan utk aceh tidak kurang,namun ternyata didepan mata di ibu kota aceh masih ada seorang Ramli yg sengsara,mana itu teman2 yg katanya mau menghilangkan kemiskinan,jangan lupa dgn janji-janji dulu kawan.

  9. herry - March 5th, 2010 - 20:35

    sya bermohon kpd gubernur aceh tlng di bantu pak ramli yng hanya bisa menahan kesakitan di ats tmpt tdr dan juga di beri tmpt tinggal yng layak dan kpd NGO tlng jga di bantu

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar

 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.