Berita, Feature

Malam Istimewa untuk Zifana [1]

Oleh: Nurdin Hasan - 15/02/2010 - 11:53 WIB

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Dalam keremangan kelap-kelip lampu warna-warni yang diiringi hentakan keras musik house seperti klub malam atau pub, 40 orang berpakaian adat Aceh melenggak-lenggok dalam dua gelombang, masing-masing 20 orang, di atas pentas.

Mereka mengaku bukan lelaki, apalagi perempuan. Tetapi, pakaian yang mereka kenakan adalah baju adat Aceh yang biasa dipakai perempuan. Merekalah kaum waria Aceh yang sedang memperagakan segenap kemampuannya untuk meraih predikat jadi Duta Waria Aceh 2010. Ke-40 finalis mewakili 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh. Pemenangnya nanti akan ikut ajang ‘Miss’ Waria Indonesia.

OKI TIBA/ACEHKITA.COM

OKI TIBA/ACEHKITA.COM

Menurut seorang panitia dari Putroe Sejati Aceh (PSA) –organisasi tempat bernaung waria di Aceh, ini adalah even pertama digelar di Aceh. Kegiatan yang dibungkus di balik nama “Pemilihan Duta Sosial Budaya Aceh 2010″ digelar di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Cabang Banda Aceh, Sabtu malam.

Tidak terlihat seorang pun pejabat pemerintah yang hadir. Juga tidak terlihat petugas Wilayatul Hisbah (WH) yang memantau kegiatan tersebut. Bisa jadi, personel WH juga melakukan patroli seperti biasa pada malam Minggu kemarin, tetapi mereka luput melongok ke auditorium RRI.

Auditorium disesaki pengunjung, yang sebagian besar dari komunitas minoritas waria. Pengunjung diharuskan membayar tiket Rp 10.000. Seluruh kursi terisi penuh. Ratusan pengunjung rela berdesak-desakan di sisi kiri dan kanan dan bagian belakang ruangan. Ada juga pengunjung terpaksa harus berdiri di balkon lantai dua. Mereka bertahan hingga acara usai menjelang pukul 24:00 WIB.

Gemuruh teriakan, siulan, tawa, dan tepuk tangan kerap menggema saat “putroe-putroe” di atas pentas yang telah dihias layaknya pengantin beraksi dengan gayanya seperti dalam ajang pemilihan putri kecantikan. Tubuh mereka dibuat seolah-olah gemulai kendati tetap terlihat kaku. Apalagi, sebagian mereka harus bersanggul yang menjulang ke langit sesuai pakaian adat tradisional Aceh warna cerah dari daerah yang diwakilinya.

Tiga orang –satu pria dan dua perempuan— jadi dewan juri. Mereka terdiri atas aktivis perempuan, instruktur senam di Banda Aceh dan seorang penyiar radio lokal. Tak ada juri dari komunitas waria. Menurut ketua panitia, Jimmy Saputra, hal itu sengaja dilakukan agar penjurian benar-benar fair.

“Kegiatan ini ada izin MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama, red). Saya sendiri yang datang ke MPU untuk mengurus izin. Saya jelaskan maksud dan tujuannya. Setelah kami jelaskan panjang lebar bahwa kegiatan ini positif, ulama memberikan izin,” kata waria yang oleh rekan-rekannya disapa Timmy Mayubi.

Tapi, klaim Timmy dibantah tegas oleh Ketua MPU Banda Aceh, Teungku Karim Syeikh, yang menyatakan bahwa pihaknya tak pernah memberikan izin terhadap kontes waria. “Jangankan kontes waria, pemilihan putri kecantikan saja tak diberikan izin. Mereka telah mencemarkan nama ulama,” katanya kepada wartawan, Senin.

Dijelaskan bahwa dalam surat pemberitahuan kepada MPU, panitia menyebutkan kegiatan itu adalah penggalangan dana sosial budaya, bukan pemilihan duta waria. Dalam surat itu juga disebutkan beberapa poin seperti digariskan dalam edaran MPU yang akan dipatuhi selama berlangsungnya acara.

Dari 40 orang akhirnya dipilih 15 finalis. Kemudian, untuk terpilih menjadi enam besar, mereka harus menjawab pertanyaan yang telah disiapkan dewan juri. Pertanyaan berkisar mulai dari masalah korupsi, kehidupan sehari-hari waria hingga soal penerapan syariat Islam di Aceh.

Ada finalis yang jawabannya tak nyambung dengan pertanyaan seperti jawaban Alin, 23, mewakili Kota Lhokseumawe. Ditanya pendapatnya mengenai anggota Wilayatul Hisbah (WH) yang melanggar syariat, Alin dengan gaya dibuat seanggun mungkin menjawab, “Saya akan patuhi syariat Islam karena tinggal di Aceh.”

Lain lagi dengan Carla, 20, wakil dari Aceh Besar, saat ditanya kaitan antara kemiskinan dan korupsi. Dengan enteng, ia menjawab, “Kalau kemiskinan tidak diterapkan, maka korupsi tak jalan.”

Kontan saja, pengunjung terbahak mendengar jawaban ‘ngawur’ itu. Tapi, Carla berusaha tetap tampil anggun di pentas dan tidak risih ditertawakan. Ia malah berjalan ke sisi panggung sambil melenggang layaknya kontestan putri kecantikan sambil terus melambaikan tangannya.

Selain itu, ada juga peserta yang kaku dan tidak bisa berbicara sama sekali ketika diajukan pertanyaan. Tapi, kebanyakan dari 15 “putroe” menjawab dengan baik, sehingga mendapat applause pengunjung, terutama saat menjawab masalah keberadaan waria, pemberlakuan syariat Islam dan qanun jinayat yang menimbulkan kontroversial di Aceh.

Joy, 19, dari Aceh Tengah dengan lantang berujar, penerapan syariat Islam di Aceh “belum sesuai dengan keinginan masyarakat karena banyak orang Aceh masih melanggar syariat, terutama pada bulan puasa tidak berpuasa atau masih terjadinya perzinaan.” (bersambung) []

Baca Juga:
Malam Istimewa untuk Zifana [2]

------
Sent from

It's time for a better tablet!

Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com



Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 39 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. geblek - February 15th, 2010 - 12:07

    hahhahhahahhaha…waduuuuuuuuuuuuuuuuuh…hahahhaha..asli..asli gila…ampuuun dech…’lelucon sedang berlangsung di ACEH’

  2. geblek - February 15th, 2010 - 12:07

    ‘TUHAN”..sedang di jadikan bahan lelucon di ACEH

  3. kapluk - February 15th, 2010 - 12:30

    Daripada Abu Sa’id Al-Khudri ra. berkata, Bahawasanya Rasulullah saw. bersabda, “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nashrani yang kau maksudkan?” Nabi saw. menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”. – H.R. Muslim

  4. ACEHKITA.COM : Aceh News Agency » Malam Istimewa untuk Zifana [2] - February 15th, 2010 - 12:49

    [...] Malam Istimewa untuk Zifana [1] [...]

  5. kapluk - February 15th, 2010 - 13:23

    Nabi Muhammad bersabda, maksudnya: “Perkara yang paling aku takuti menimpa ke atasmu adalah perbuatan kaum Luth. Dilaknati mereka yang melakukan perbuatan seumpama kaum Luth.” (Hadis riwayat Ibn Majah, at-Tirmidzi dan al-Hakim)

  6. hana abeh pike - February 15th, 2010 - 16:26

    =))
    yue jak sikula ilee beu beutoi,peu jak ikot kontes2 hana meupeu cap…
    la ilaha illa Allah…

  7. acara norak!! - February 15th, 2010 - 16:49

    Masya Allah. anak-anak siapa ni yang tersesat?? mana orang tuanya?? hai, ureueng tuha neu ngieng aneuk droe neuh!!

  8. Aneuk Nanggroe - February 15th, 2010 - 18:37

    Ka betoi yang dipubuet le awak nyan…(yang tanggung dosa kon para panitia, dewan juri dan “putroe-putroe” nyan). sigoe teuk TITEK.
    dari pada pejabat dijak mesum di lua Aceh…PAKON HANA SO KECAM…..(How para wartawan, pakon hana neu foto pejabat aceh yang cuem, oum (peluk) dan euh ngon lonte di Medan dan kota besar laen, Peu kamera awak droen reloh menyo diteubit di luar Aceh??? ka palo, hooo teuh idealis dan seimbang, bek yang leumoh mantong neu tuleh, awak yang lee peng nyan pih neu sorot)…
    mantong na sikula awak “putroe” nya di peuget acara di negeri Syariat dari pada awak pejabat peu deuh Syariat Aceh di likee lonte…..

  9. waria insaf - February 15th, 2010 - 20:41

    Wahai saudaraku waria, segera lah kalian bertaubat sebelum azab menimpa, sesungguh nya azab Allah itu sangat pedih sekali. Bertobatlah seperti diriku, temui para ulama dan mohon ampun kpd Allah krn Allah maha pengampun, sayangilah keluarga dan jgn tambah aib serta cemoohan utk mereka.

  10. ayawa koeh taku ureueng - February 15th, 2010 - 20:44

    Ha…ha…ha…Acehku sayang Acehku malang, gara2 kontes waria, martabat dan marwah Aceh hilang. Ho ka para ulama tengku asoe nanggroe, munyo masalah nyoe neu peu iem maka bala akan troek teuka.

  11. Mumang ulee - February 15th, 2010 - 20:50

    Han ek ta khem le, cukop lucu kejadian di aceh jinoe. Ha….ha…ha…adat,agama ngon budaya di aceh ka digiloe giloe, ulama ka di pungeuet le bencong. Paloe tat hai lage nyoe… nyan munyoe na bala singoh teuka u aceh, ka neu tuhoe laju soe yg harus ta peu salah.

  12. Tgk Raja - February 15th, 2010 - 22:57

    Ok, kali ini sy kehabisan kata2….

  13. Tgk Agam palsu - February 16th, 2010 - 00:07

    he he..he
    ada ada saja di Aceh, benar2 beda,

  14. Aisyah sholeha - February 16th, 2010 - 10:26

    Adaaa ja.. Syariat jd lelucon.. Emang nya siapa yg menurunkan syariat dr langit ke7?

  15. PeCinta Aceh - February 16th, 2010 - 12:25

    njan keun ubat jih ngeun pucok u ta ngak sigee ateuh rung waria puleh aju penyaket bek biasa nah peuget2 lageenjan, luwat teuh … teungeuh na sariat berjalan citna awak kacoe …

  16. Toni - February 16th, 2010 - 14:11

    Media Aceh Kita sama sekali tidak punya sensitivitas didalam menuliskan berita ini, ini contoh dan bukti nyata diskriminasi terhadap waria bahkan dilakukan oleh Media. Pemberitaan model ini kembali menempatkan Waria pada posisi yang rendah, ada banyak sekali hal positif yang bisa anda beritakan, tetapi sama sekali tidak diberitakan misalnya: teman-teman waria berkunjung ke Panti Asuhan dan menyantuni anak yatim. Rendahnya pengetahuan dan kapasitas waria yang terefleksi dari jawaban-jawaban mereka merupakan bukti nyata bahwa akses mereka kepada pendidikan dan kepada informasi tidaklah segampang masyarakat lainnya, yang membuat saya heran adalah penulis berita ini memberitakan hal tersebut seolah-olah itu lucu. Sungguh miris jika media alternatif yang selama ini menjadi harapan untuk membangun opini publik selain media mainstream tetapi mindsetnya seperti ini.

    Saya berharap AcehKita dapat mempertimbangkan untuk merevisi bunyi berita ini, dan menunjukkan netralitasnya sebagai media, terima kasih.

  17. ana khunsa - February 16th, 2010 - 14:53

    Mantap, penelusuran dan reportase yang dahsyat, saya suka itu

  18. ayawa koeh taku ureueng. - February 16th, 2010 - 16:51

    Hai..hai…aih…aih…malam istimewa bagi zifanna, malam kehancuran budaya aceh.

  19. M. Armiyadi Signori - February 16th, 2010 - 23:29

    Dasyat men, ini benar – benar dasyat….!

  20. varizia - February 17th, 2010 - 07:52

    ALLAHU AKBAR..!!! aceh dalam masa RED ALERT..!!

  21. Toni - February 17th, 2010 - 12:55

    Hai Kapluk,

    Saya juga tentu saja tidak mau meudawa dengan anda, dan saya rasa kita disini sedang berdiskusi. Lagi-lagi saya merasa useless berdiskusi dengan orang seperti anda yang bahkan tidak berani menuliskan nama disini, tapi malah menyamar :)

    Lagi-lagi, anda cuma jago kutip ayat entah apa maksudnya :) kalau cuma mau pamer hafalan saya kira ini bukan forum yang tepat.

  22. kapluk - February 17th, 2010 - 16:18

    bit bit toni nyo, han abeh abeh dimeudawa. toni gak ada kerjaan 24 jam online di depan com buat balas komentar orang….ck ck ck

  23. Aceh Kita - February 17th, 2010 - 23:06

    Salam,

    Toni yang baik, acehkita.com tidak memposisikan waria sebagai pihak yang rendah. Dengan pemberitaan ini, kita berharap bahwa ada nilai positif yang bisa diambil pembaca. Misalnya, kita juga menyinggung soal waria yang ingin memperkenalkan dan menjunjung tinggi budaya Aceh, selain sekilas menyatakan bahwa ada juga bakti sosial yang dilakukan. Masalahnya, selama ini waria terkesan tertutup kepada media. Saat aksi penggalangan dana, tak ada media yang diberitahukan, sehingga luput dari pemberitaan. Atau ada di acara itu tapi kami luput? Mohon dikoreksi. Pada intinya, kita ingin memberikan porsi yang sama untuk semua pihak dalam pemberitaan kita, tanpa ada maksud untuk mendiskriminasikan.

    Demikian. Kami menyampaikan terimakasih kepada Toni dan pembaca acehkita.com lain yang telah berdiskusi soal ini dengan penuh nilai-nilai positif untuk kemajuan daerah kita ini: Aceh.

    Salam,
    Redaksi ACEHKITA.COM

  24. Toyo - February 18th, 2010 - 15:29

    Saya heran, kenapa kebencian thp waria jauh lebih benci terhadap orang-orang non muslim? Padahal saya sebagai seorang muslim selalu didoktrin bahwa dosa besar apabila menjadi murtad dan kafir. Pokoknya masuk neraka kalau kafir dan murtad (orang yang meyekutukan atau berpaling dari Allah SWT). Setahu saya waria itu orang Aceh dan muslim. Ini juga bisa membuktikan bahwa waria itu ada dimana-mana, mau diaceh, usa sampai di mekkah sana juga ada waria.

    Tapi kenapa waria lebih hina dan tidak punya tempat dibandingkan dengan orang dipikir kafir dan murtad (non muslim). Orang2 yg katanya Kafir dan Murtad itu kenapa kita masih bisa hidup berdampingan di Aceh?

    Walau ada banyak masalah. Tapi saya pikir kalau misalnya acara itu dilaksanakan oleh orang yg katanya kafir itu, pasti kita tdk begitu reaktif atau bahkan malah mendukung.

    Mengapa itu bisa terjadi ya? ada masalah apa dgan pemahaman kita? apakah karena kesadaran menghargai perbedaan agama dan suku sudah mulai tumbuh? tapi belum untuk homoseksual dan waria?

    Kalau mau bicara dosa dalam konteks pemahaman mainstrem..Orang non Muslim jauh berdosa kan dibandingkan dengan waria yang muslim? Tanpa bermaksud saya komplain untuk hidup dalam keberagaman agama dan suku. Saya hanya memberikan contoh real. Dan memang kita mestinya hidup saling menghargai satu sama lain.

    Hidup Waria Aceh, tunjukkan bahwa anda adalah manusia yang sama dengan orang lain. Kalau soal surga nereka tidak ada satu orangpun yg berhak mengklaim orang lain masuk nereka dan berdosa.

    Salam

    Toyo

  25. Toyo - February 18th, 2010 - 15:38

    Saya baca tulisan dari Aceh Kita ini, jujur saya kasihan sekali dan prihatin dengan kualitas wartawan Aceh kita ini. Mungkin baiknya belajar banyak bagaimana memilih kata-kata yang benar-benar menggunakan persfektif korban. Setahu saya ada banyak pelatihan2 jurnalis yang menggunakan perspektif HAM. Baik di Jakarta maupun International. Kalau butuh infonya nanti saya akan beritahu agar kedepannya tulisannya dapat lebih baik. Dan media Aceh kita akan dapat diacungkan jempol pada tingkat nasional maupun international. Saya pikir Aceh kita juga ingin menjadi media yang bisa diakui sebagai media yang berkualitas. Tunjukkan bahwa media Aceh berkualitas dan dapat bersaing ditingkat international. Untuk dapat sampai kesana seperti pemahaman HAM harus menjadi dasar dalam penulisannya. Dan berita ini masih jauh dari itu..
    Mungkin saya saya atau subjektif, tapi mungkin bisa ditanya kepada wartawan2 senior di Indonesia ataupun International yang diakui kualitas tulisannya. bagaimana menurut wartaman itu kualitas berita ini. Saya pikir Aceh kita pasti punya banyak jaringan media, misalnya di Kompas, CCN, Tempo dan Time misalnya.

    Saya pribadi berharap sekali Aceh kita akan semakin baik dan berkualitas tulisannya kedepannya.

  26. Toni - February 18th, 2010 - 17:40

    Dear Redaksi Aceh kita,

    Terima kasih atas respon anda, akan tetapi menurut saya, orang yang punya sensitivitas dan konsen untuk isu ini dengan mudah bisa melihat bahwa pemberitaan anda diatas sangat bias dan tendesius.

    Acara pemilihan malam itu dimulai dengan pemutaran slide foto-foto kegiatan kawan-kawan waria di Panti Asuhan, saya heran kenapa ini bisa luput? asumsi saya ya itu tadi, karena yang ingin ditampilkan adalah sisi negatif atau kelemahan kawan-kawan waria, misalnya apa pentingnya anda memberitakan jawaban yang tidak nyambung? make up tebal, dan lain-lain?, banyak kok jawaban kawan-kawan waria yang bagis-bagus, tapi tidak muncul dalam pemberitaan ini?

    Namun demikian saya pribadi tetap berterima kasih dan mengapresiasi kawan-kawan Aceh kita yang telah meliput. Satu hal yang jelas terbukti bagi saya adalah,diskriminasi untuk kelompok minoritas itu nyata dan bisa dilakukan siapa saja, termasuk media.

    Salam

  27. Agam - February 19th, 2010 - 05:14

    Semoga suatu hari nanti kawan2 perjuang “legalize pornography dan pelacuran” juga tidak didescriminasi oleh Acehkita. Karena mereka juga akan menjadi kelompok minoritas seperti mbah Toni sebutkan.

  28. Toni - February 19th, 2010 - 17:46

    Agam: Oh ya dong, media kan harus netral dan tidak mendiskriminasi, pintar juga anda KADANG-KADANG :)

  29. aneuk - February 20th, 2010 - 13:53

    kali ini saya setuju dengan mbak toni..
    semoga pelacuran dan waria warian yang minoritas biar di legal kan di bumi aceh…

    BTW
    “Acara pemilihan malam itu dimulai dengan pemutaran slide foto-foto kegiatan kawan-kawan waria di Panti Asuhan, saya heran kenapa ini bisa luput?”
    jangan2 mbak toni ini ketua panitia nya ya…

  30. Toni - February 20th, 2010 - 22:48

    Jeung Aneuk:ihhhh kok ngeh kanwaaaaa mak’e :P
    Aminnnnnnnn semoga segera dilegalkan :P

  31. bagus - February 24th, 2010 - 16:39

    SAYA SETUJU DENGAN TONY….
    ACEH KITA MAKIN LAKU AJA NIE SEBELUMNYA…….????? GAK TAU DEH

  32. bagus - February 24th, 2010 - 16:40

    GAK USAH DI AJAK LAGI KERJA SAMANYA

  33. ayawa koeh taku ureueng - February 27th, 2010 - 21:12

    Bek meudakwa le, si Toni cuma cari sensasi saja kok…..! Dan dia tdk akan berhasil mengerjakan PR nya di Aceh ini, selama Aceh masih beragama Islam, lakukan sepuasmu Toni, nanti kelak kau akan memetik apa yg kau perbuat. ormas Islam tdk akan tinggal diam.

  34. aceh tulen - February 28th, 2010 - 14:56

    wahai para pendukung waria dan pornografi lainnya, jika anda islam janganlah membenarkan sesuatu yang salah, jangan jadi pahlawan kesiangan, aceh tak perlu itu, munculnya waria adalah tanda2 kiamat, jangan bersembunyi di belakang HAM, semua itu palsu, kalo anda masih tetap begitu azab allah SWT akan menyertaimu,,trims,,peace all,,,

  35. Ardyca Sungai Way - March 6th, 2010 - 00:48

    Kreuh that buet lagoe di Atjeh.. ka di mulai buka discotix sang loem…
    Neu puduek Acara Tilawatul-Qur’an sigaoe hai Tgk Atjeh….
    nyak machu di atjeh bacut..

  36. ayawa koeh taku ureueng - March 30th, 2010 - 12:54

    Di Jawa Timur, Gay dan Lesbi sdh di usir dan skrg mereka mau mengacaukan Aceh, jangan mimpi dong.

  37. mukhlis / putra aceh - April 8th, 2010 - 16:59

    maju terus acehkita, lebik baik dan populer…

  38. BLADE - September 26th, 2010 - 14:05

    Bung Toyo …
    sebaiknya anda juga harus belajar untuk memperbaiki gaya tulisan anda.
    Kita hidup di Negara Indonesia yg merupakan Negara dengan keaneka ragaman suku dan budaya, termasuk agama.
    Tetapi anda menyentuh hal tersebut dengan menuliskan kata2 “NON MUSLIM”.
    Walau saya tau arah pembicaraan anda tidak menuju kesana karena tulisan anda di awalnya sudah sangat jelas sekali menyiratkan maksud2 yg ingin anda sampaikan.

    For all …

    Persoalan mengenai Fenomena Waria di Indonesia bukan terjadi baru2 ini saja, termasuk di Aceh.
    Tetapi kita masyarakat Indonesia selalu berpura2 tidak melihat dan seakan2 tidak mau tau dengan keadaan disekitar kita.

    Tidak ada seorangpun yg mau dilahirkan menjadi seorang waria…!!!
    tetapi jalan hidup dan suratan tiap2 orang sangat berbeda.

    Mungkin pada saat ini kita dilahirkan normal, tdk seperti saudara2 kita itu …
    tp apabila salah satu dari anak cucu kita terlahir menjadi waria … apa mau kita bunuh mereka??

    Kadang2 kita harus memiliki kerangka berfikir yg berbeda …
    jgn melihat dr satu “kaca mata” saja …
    kaca mata ke-egoisan dan ke-sombongan diri kita sendiri.

    Sehausnya kita bisa lebih saling merangkul …
    supaya Indonesia bisa semakin maju …
    bukan malah menghujat, menghina bahkan mengutuki “saudara2″ kita sendiri.

  39. Junaidy - October 14th, 2010 - 08:21

    Peu ka di prak nyan meunyo han tajak beut peu taceuramah gob by ady peudwa@

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar


 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.