Berita, Warga Menulis
Menembus Batas Informasi Lewat Refleksi 5 Tahun Tsunami
Tanggal 26 Desember 2009 ini, lima tahun peristiwa maha dahsyat, tsunami berlalu. Tragedi terbesar sepanjang 100 tahun sejarah kehidupan manusia nyaris tak bisa dilupakan. Namun, perubahan sosial dan ekonomi ternyata mampu menggerakkan semangat rakyat Aceh untuk bangkit dari musibah ini.
Perubahan besar yang terjadi saat ini nyaris mengikis kesan bahwa peristiwa itu pernah dialami rakyat Aceh. Tak ada yang bisa menyangka, jika kondisi Banda Aceh dan Aceh Besar serta daerah yang terkena tsunami lainnya telah pulih kembali. Reruntuhan berubah wujud menjadi bangunan mewah dan tumbuh di mana-mana.
Bangunan tua yang sebelumnya masih berupa gubuk reot menjela menjadi tempat layak huni. Berbagai fasilitas yang sebelumnya sulit ditemui kini menjamur menghiasi berbagai sudut kota dan desa. Warung waralaba tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Bagi korban lima tahun bagaikan sehari kendati trauma ini perlahan mulai sirna. Namun, siapa sangka bahwa uluran tangan berbagai pihak telah mampu mengembalikan semangat hidup masyarakat Serambi Mekkah menggapai kembali kondisi normal seperti sedia kala.
Berbagai infrastruktur pun dibangun kembali, termasuk sektor komunikasi. Bagaikan terhipnotis, nyaris tak ada pihak mana pun yang tak terpancing untuk turut berkiprah meringankan beban rakyat Aceh. PT Telekomunikasi Indonesia bergerak cepat memulihkan jalur komunikasi untuk memudahkan bantuan korban tsunami saat itu. Vendor milik pemerintah dengan produk Flexi mengambil langkah cepat menyambung jaringan hingga korban bisa berhubungan dengan sanak keluarga, pemerintah bisa koordinasi membantu korban, dan para pekerja kemanusiaan bisa nyaman menjalankan misinya di Aceh. Diakui atau tidak sebuah kontribusi yang luar biasa telah menyulap perubahan sosial di propinsi ujung Sumatera menjadi daerah yang bergerak maju.
Telkom cabang Aceh juga bagian dari musibah memilukan itu. Bahkan Pusat data dan Analisa Tempo (PDAT), 2005, ini memuat kisah seorang karyawati Telkom Banda Aceh, bernama Ita. Wanita selamat setelah tergulung ombak dan terdampar di sebuah gedung bank, sementara suaminya hilang ditelan bencana. Ada lagi kisah lebih mengharukan tentang seorang istri karyawan Telkom yang melahirkan di tengah luluh lantaknya Aceh pada hari paling hitam dalam sejarah negeri ini; sementara anaknya yang lain tewas terhempas gelombang. Bayi yang baru dilahirkan itu beberapa lama sempat “hilang” setelah dititipkan ayahnya kepada seorang mahasiswi. Untunglah sang ayah, setelah beberapa bulan mencari, akhirnya menemukan bayi itu di Kerawang, Jawa Barat.
Bahkan pada saat tsunami melanda kota, beberapa teknisi Telkom Banda Aceh berjuang menyelamatkan aset sementara keluarganya berjuang antar hidup dan mati untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami. Hasilnya Flexi masih bisa dioperasikan sementara semua sarana telekomunikasi lain praktis tak berfungsi. Lalu dalam menangani korban, segera posko-posko didirikan, bantuan dari Medan dikirim, serta konseling bagi korban selamat.
Para teknisi jaringan–yang dikenal dengan Jawara–diberangkatkan dari berbagai kota. Mereka dengan sigap menarik-narik kabel di tengah luluh lantaknya kota, memperbaiki STO (Sentral Telepon Otomat) di antara mayat-mayat membusuk., agar fasilitas vital segera tersambung telepon. Kemudian sampailah pada tahap-tahap memulihkan telekomunikasi setelah fasilitas vital seperti Pendopo Gubernuran, rumah sakit, posko-posko, tersambung telepon.
Adapun empat tahap pemulihan itu adalah pertama membuka isolasi NAD dan sebagian Sumatera Utara dengan mendatangkan telepon satelit Byru dan Pasti. Tahap II: menyediakan telepon setelit dan link satelit VSAT untuk kepentingan public, serta mendatangkan genset dan menghidupkan sentral. Pemulihan tahap III: mengoperasikan kembali STO yang masih dapat dioperasikan serta mengimplementasikan Flexi. Tahap IV: rekonstruksi fasilitas telekomunikasi di NAD, termasuk perbaikan gedung, lokasi kantor dan penempatan alat-alat telekomunikasi yang dipergunakan, yang ditargetkan selesai seluruhnya pada Agustus 2006.
Menurut Direktur Telkom saat itu, Kristiono, tahapan memulihkan telekomunikasi dilakukan dengan cepat, baik rehabilitasi maupun rekonstruksi. Pengadaan dan pendistribusian telepon satelit dan peralatan lain ke daerah-daerah yang terparah dihajar bencana, seperti Calang, Lamno, Meulaboh, dan Pulau Simeuleu, merupakan perjuangan heroik. Mendapatkan helikopter guna mengangkut VSAT dan peralatan lain, tidak mudah.
Bagaimanapun telekomunikasi merupakan sarana vital, yang harus segera dipulihkan guna mendukung evakuasi korban, penyaluran bantuan, dan sebagainya. Kita memang tidak berharap bencana akan terulang, tapi di negeri seribu bencana ini, gempa terus saja terjadi. Namun sayang, kadang pelajaran dari bencana sebelumnya tak sungguh-sungguh diindahkan ketika menangani bencana berikutnya. Masih saja terjadi ketidaksiapan, kesemrawutan penyaluran bantuan dan penanganan korban.
Bahkan pemulihan jaringan telekomunikasi selular di Provinsi NAD tidak sampai setahun. Sembilan bulan pascatsunami dari Telkom dan Telkomsel hampir rampung dikerjakan dengan kemajuan sangat pesat. BTS (Base transceiver station) sebagai patokan cakupan penyebaran (spread spectrum) transmisi, makin meluas dibandingkan sebelum tsunami.
Deputy General Manager PT Telkom NAD, Andang Ashari Sabtu (24/9/05) menyatakan pembangunan BTS Flexi (CDMA/Code Division Multi Access) di Aceh makin meningkat dibandingkan sebelum tsunami. “Saat ini, sudah ada 23 BTS yang menyebar di berbagai daerah terutama kawasan yang dihantam tsunami.
Sebelum tsunami, Telkom NAD hanya memiliki dua BTS, di Sentrum Telkom NAD dan Lambaro Aceh Besar yang tidak bertambah sampai akhir tahun 2004. Namun, hanya dua bulan pascatsunami (27 Februari 2005) Telkom telah berhasil membangun 21 BTS jaringan selular FWA (Fixed Wireless Access) dimasukkan dalam paket recovery telekomunikasi pascatsunami Aceh ARF Community).
Jaringan yang dibangun bentuknya melingkar, mulai dari Kuala Simpang sampai ke Blangpidie akan memudahkan dalam perluasan jaringan Flexi (pembangunan BTS) pada 2006 mendatang. Dia menyatakan, Telkom NAD tidak akan menambah BTS lagi sampai akhir tahun ini. Namun, kapasitas BTS yang dibangun pada pascatsunami lebih kecil dibandingkan dua BTS sebelumnya, masing-masing 4.400 SSF. Sedangkan 21 BTS tersebut memiliki kapasitas 1.400 sampai 2.300 SSF (Satuan Sambungan Flexi).
Andang melanjutkan penetrasi jaringan Flexi akan terus diperbaharui untuk mempercepat akses telekomunikasi seiiring perkembangan teknologi maju sangat pesat. “Kami akan terus memperbaiki berbagai kekurangan yang terjadi di lapangan dengan mencari solusi terbaik melalui teknologi terkini,” katanya. Dia menyebutkan penambahan repeater (penghubung sinyal) juga terus dilakukan untuk memperkuat jaringan seperti di kawasan Jeuram, Nagan Raya.
Peningkatan kualitas Flexi, butuh investasi besar, terutama dari sisi transmisi. Sebuah sumber menyebutkan, sedikitnya menghabiskan dana lebih dari Rp 2 milyar untuk membangun 1 BTS. Selain itu, ungkapnya, BTS Sentrum Telkom NAD berhasil meraih predikat terbaik kelima di Sumatera atas maksimalnya penggunaan BTS oleh pelanggan sesudah Medan, Riau, Palembang dan Lampung. “Hal ini membuktikan, animo masyarakat untuk memanfaatkan Flexi di Banda Aceh semakin tinggi,” kata Andang.
Telkom sejak dalam beberapa bulan terakhir sampai akhir tahun ini terus meluncurkan program ‘bombardir bonus’ berupa bonus dalam setiap pengisian pulsa. Pulsa Rp 50.000 bertambah 10 persen, Rp 100.000 bertambah 20 persen dan Rp 150.000 berambah 35 persen. Andang menyatakan seluruh karyawan PT Telkom juga telah ditunjuk sebagai penjual voucher elektronik. Sementara itu, PT Telkomsel juga tak kalah seriusnya dalam membangun jaringan selular GSM (Global System for Mobile Communication). Sampai September 2005 telah memiliki 105 BTS atau lebih banyak dibandingkan sebelum tsunami.
Manajer Grapari Telkomsel NAD, Asnam mengakui pihaknya harus bekerja keras untuk membangun kembali sejumlah BTS yang hancur dihantam gempa kuat dan tsunami, 26 Desember 2004 lalu, terutama MSC di Sentrum Telkom NAD. Jaringan Telkomsel sempat terhenti total dalam dua pekan pertama pascatsunami. Pada dua pekan pertama tsunami, masuk dalam kategori darurat karena hanya sekitar 30-40 persen yang dapat digunakan dan sangat terbatas jaringan trasmisinya. Apalagi, sentralnya di Telkom NAD hancur dihantam gempa kuat dan butuh beberapa pekan untuk memperbaikinya.
Link antartransmisi segera dibenahi kembali karena kapasitas jaringan sudah melebihi daya pakai. Hal ini dapat dibuktikan dengan hanya sekitar 42 persen yang digunakan dari total kapasitas jaringan Telkomsel.
Saat ini telah perkembangan dunia telekomunikasi di Aceh berlangsung pesat. Berbagai vendor dan provider muncul menjalankan bisnis telekomunikasi di Tanah Rencong. Kendati belum tergolong kota besar, kemajuan Banda Aceh mulai diperhitungkan para pelaku bisnis. Paling tidak hikmah tsunami telah membuka mata banyak orang di luar Aceh untuk meraup lucky sekaligus melayani konsumen sebagai salah satu misi penyedia jasa di dunia bisnis telekomunikasi. Lima tahun tsunami, saatnya berbagi sesama. []
*) Penulis adalah Jufrizal reporter Aceh TV di Banda Aceh

















Hello …
Aku Chili dan pengetahuan internet melalui hidup orang muda di Indonesia, baik, di sini, di negara saya juga menderita dari gempa bumi dan tsunami, banyak orang masih menderita di Chile selatan, untuk saat ini adalah dingin dan mereka kehilangan rumah mereka, tetapi juga di Aceh mulai menaikkan kota dengan usaha besar dan serikat buruh.
Nah, berbicara dengan anak muda ini bercerita bahwa kakaknya dan paman telah menghilang pada tahun 2006 di maremoro Aceh, komunikasi saya dengan pemuda ini adalah miskin, karena saya tidak berbicara apa pun dalam bahasa Inggris dan Indonesia dan tidak menggunakan traducctor sehingga kita dapat berkomunikasi.
Saya yakin, telah mengatakan kepada saya bahwa tidak ada daftar resmi orang hilang dan orang-orang menemukannya
mati. Anda telah secara kebetulan cara untuk mendapatkan daftar orang hilang atau ditemukan ….?
Dari hatiku aku berterima kasih jika kami dapat membantu.