Berita, Feature
Menyingkap Nostalgia Perang
PERTEMPURAN antara pasukan Brimob dengan kelompok bersenjata yang diduga teroris di hutan Bayu, Lamkabeu, Seulimum, Kamis (4/3), cukup membuat Bit Ali tenggelam ke suatu masa; saat Aceh masih konflik.
“Saya kembali harus tidur dilantai lagi sampai pagi,” kata warga Bayu ini kepada acehkita.com, Jumat (5/3).
Trauma..? “Sudah pasti,” ujar lelaki gaek berkulit gelap ini.
Perang terjadi sejak Rabu malam lalu hingga Kamis sore. Lokasinya, kata pria berusia 75 tahun itu, hanya terpaut sekitar dua puluh meter dari rumahnya yang berbatasan dengan hutan.
Kediaman Ali cukup sederhana; panggung kecil, berdinding papan. Di belakangnya dapur, berlantai tanah. Saat rentetan tembakan meletup, untuk menghindar diterjang peluru, di sanalah ia tiarap bersama seorang isteri dan empat anaknya.
“Saya hanya menyebut nama Allah,” kata Ali.
Ini bukan tak asing bagi Ali. Tujuh tahun silam, saat Aceh berstatus Darurat Militer, ia kerap melakukannya. Kala itu, perang antara TNI dan GAM sering meletus di sana, khusunya malam hari. “Rumah saya tidak ada beton, satu-satunya cara harus tiarap di lantai,” tutur Ali.
Dulu, setiap perang meletus, Aparat kerap bertindak kasar terhadap warga. Ali punya kenangan buruk dengan pasukan pemerintah sekitar 2003.
Kisah bermula saat baru terjadi kontak senjata. Aparat yang menyisir kawasan itu menginterogasinya tentang keberadaan GAM. “Karena saya tidak tau apa-apa, saya bilang tidak tau.”
Sial. Aparat tak percaya. Dia babak-belur dipukul. “Satu Minggu saya tidak bisa ke mana-mana. Saya berobat sendiri dengan obat-obatan kampung,” ujarnya.
Otomatis, Ali yang seorang buruh tani hanya bisa mengharap belas kasihan seorang kerabatnya yang rutin memberinya uang untuk menghidupi keluarganya. “Saat itu saya sampe beberapa bulan ngak bisa ke kebun dan cari rotan.”
Sejak itu, ia begitu trauma kalau mendengar letupan senjata dan melihat aparat kemanan.
***
Angin surga dari Helsinki, Finlandia menerpa Aceh, 15 Agustus 2005. Perdamaian antara dua seteru selama 30 tahun, ikut membawa berkah bagi Ali. Ia semakin bebas beraktivitas, tak lagi mendengar desingan peluru juga lalu-lalang aparat bersenjata di desanya.
Kenangan buruk masa kelam, pelan-pelan dilupakan Ali. Hari-hari ia hanya sibuk mengembala lembu milik orang dan mengurus rambutan di kebun milik orang. Tak lagi was-was.
Bersama keluarga cukup sederhana, ia masih menumpang di rumah panggung pemberian Burhanuddin, seorang pejabat di jajaran Pemkab Aceh Besar.
Meski belum pernah mendapat bantuan baik rumah dhuafa atau pemberian lain dari pemerintah, namun ia sudah cukup nyaman dengan hikmah damai. “Bisa hidup tenang, tidak takut lagi,” sebut Ali.
***
Kini, aroma tujuh tahun silam menyingkap lagi di Lamkabeu, setidaknya Bayu. Rabu malam lalu hingga Kamis kemarin, rentetan salak senjata berkecamuk di sana. Aparat bersenjata lengkap berwara-wiri dengan truk dan jalan kaki.
Ini cukup membuat Ali trauma. Saat pagi Kamis tiba, tanpa ada perintah, ia mengajak keluarganya mengungsi ke rumah kerabat di desa tetangga, Meunasah Tunong, sekitar 2 kilometer dari rumahnya. “Belum tau kapan harus kembali, kalau begini terus saya ga berani.”
Tertembaknya Nurbahri, warga Meunasah Tunong, Rabu malam lalu dalam kontak senjata itu, semakin membuat Ali ciut.
Ali adalah satu dari sekian banyak rakyat Aceh yang bosan dengan perang. Pengalaman buruk masa silam dengan isak tangis warga dan bau amis darah, sudah cukup membuat mereka menderita. Mereka hanya ingin hidup damai, tenang, meski hanya tinggal digubuk sederhana.
“Saya hanya bisa berharap dunia ini damai, Aceh aman,” sebut Ali.
Baginya, perang hanya membawa permusuhan. Ia ingin menghabiskan hari tuanya dalam damai dan mewarisinya kepada anak cucu bangsa ini kelak.
“Kami ingin tidak ada lagi warga yang ditembak. Ini semua harus selesai. Kami yang kecil-kecil ini hanya ingin hidup damai.”[]
Sent from
It's time for a better tablet!
Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com
Tweet
















kasian si ali pak tgk agam wandi ketakutan dia…suruh menyerah yang diatas kita harus berdamai…kasihlah sedikit harapan…minimal modal bt usaha…pak tengku kalu bisa jual salah satu mobil alpard n wangler unlimited bantu si ali…buatkan dia tidur nyenyak tengku..tolong harapan ali buat rakyatku aceh yang tertindas….
Dalam waktu dekat ini KPK mw datang ke Aceh..polisi&jaksa siapkan berkas…telusuri segera korupsi di Aceh…cepat yang punya Alpard,wangler terbaru,dijual..sale murah,masak pajak mobil lebih besar daripada gaji PNS golongan satu…hebat…mw kayak bg Abdulputih…siap2 aja pak tgk agam wandi…di prodeo
Bukan abua ali saja yg di kasarin aparat, bnyak sekali yg lbih parah dri abua ali. Jadi meunyö tanyoë na rasa simpati mari sama2 geu-tanyoë saléng bantu. Jeuet ku gubernur kon beurari harus menafkahi smua rakya, mandum nyan na aturan, dan pin tanyoë beu-taturi mobil pribadi ngo dinas, meunyö terbukti korupsi malaikat pih wajéb hukôm.
Aceh nye hana prang lage pajoh bu hana campli… nye siuroo hana urueng aceh yg mate karena di tembak.. sang hana pas… semoga yg meninggai karena ditembak tapi hana salah.. beumerumpok pahala syuhada
pak Ali saba pak, beurayek saba tanjoe awak Aceh ..dua bak rukok teuk insaAllah kajeut neu balek u rumoh, POLRI hanya menjlankan tugasnya manteng ntuk menangkap komplotan yg disanyalir erat kaitan dengna teroris, dum tam tum akhee njoe merupakan langkah menuju perdamaian yg abadi, insaAllah Smoga ..
Dua bak rukok menyo hana tateut pajan man ek abeh.
Pue man ek meumada tapreh gop yang teut. Menyo ken tanyoe pane na abeh2.
Mubak yue saba gop beurangkasoe jeut hai ‘lambak’.
sigoe-goe hawa cit ta deungo beuso batok nyan…! tapi bek keubit2 tat…! timbak u ateuh langet mantong…!keu hayeu2 mantong!
^
^
^
adakah petinggi POLRI/TNI prihatin atas masalah2 yang mereka timbulkan tersebut??