Berita
Warga Lhoong Ikut Simulasi Tsunami
ACEH BESAR | ACEHKITA.COM — Kepanikan melanda warga Lhong kabupaten Aceh Besar menyusul gempa berkekuatan 8,6 skala richter yang terjadi, Sabtu (26/12), pukul 10.11 WIB. Warga berlarian menuju bukit untuk menyelamatkan diri sambil membawa barang berharga milik mereka.
Kepanikan dipicu setelah Tim Aksi berbasis Masyarakat (SIBAT) Lhong, memperoleh informasi dari Badan Metreologi dan Geofisikan Banda Aceh. Menurut BMG gempa yang mengguncang Lhong Sabtu pagi, ada di kedalaman 30 kilometer dasar laut arah barat daya Banda Aceh itu berpotensi tsunami. Warga yang tampak bingung usai gempa berhamburan keluar rumah setelah seorang nelayan berteriak bahwa air laut naik.
Tidak lama berselang gelombang tsunami menghantam pemukiman maupun areal persawahan warga. Selain korban jiwa ratusan warga Lhong juga menderita patah tulang akibat tertimpa reruntuhan banguan.
Adegan di atas merupakan rangkaian simulasi tsunami yang digelar Palang Merah Indonesia cabang Aceh Besar di Desa Umong Seuribee, Kecamatan Lhoong, Sabtu. Ini merupakan rangkaian peringatan lima tahun tsunami di daerah tersebut.
“Bukannya meminta itu kembali terjadi, tapi ini (simulasi) bertujuan agar masyarakat tahu tindakan yang diambil jika bencana terjadi. Sehingga risiko kerugian jiwa maupun harta dapat diperkecil,” kata Wakil Ketua PMI Aceh Besar Bunaiya Putra kepada acehkita.com.
Kegiatan tersebut melibatkan 2.000 warga dari 35 desa di empat kecamatan yakni Kecamatan Lhoong, Baitussalam, Pulo Aceh, dan Peukan Bada. Simulasi juga dihadiri kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta Perwakilan Palang Merah Amerika.
“Simulasi ini juga untuk menilai kesiapsiagaan masyarakat, komite desa dan SIBAT dalam mengantisipasi bencana,” tambah Bunaiya.
Meski hanya simulasi sebagian warga tampak menitikkan air mata saat simulasi digelar.
“Saya teringat kembali tsunami 5 tahun lalu. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi,” kata Ratnawati, peserta yang mengaku kehilangan 2 anaknya dalam musibah gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu.
“Keduanya tidak sempat saya bawa ke arah perbukitan Umong Seuribe karena air sangat kencang waktu itu,” kenang Ratna sambil mengusap air matanya. []
Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com
Tweet















