Berita

Petani Protes Pabrik Sawit

Oleh: Ihsan - 25/06/2009 - 00:01 WIB

SUBULUSSALAM | ACEHKITA.COM – Sejumlah petani sawit mengeluhkan sikap manajemen pabrik pengolahan kelapa sawit milik PT. Lestari Tunggal Pratama di Desa Penanggalan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Warga kesal karena puluhan truk tak diizinkan memasuki areal perkebunan untuk mengangkut sawit.

Irwanto, salah seorang supir truk, mengatakan, antrean di pintu masuk pabrik sudah terjadi sejak dua hari lalu, sehingga mengakibatkan ratusan ton sawit milik warga terancam membusuk.

Dia menambahkan, perusahaan lebih mementingkan sawit milik perusahaan-perusaan besar, sedangkan milik masyarakat baru bisa diangkut kalau mau membayar uang masuk terlebih dahulu.

“Kalau kita mau masuk kita harus bayar uang sekitar 10 sampai 20 ribu,” aku Irwanto.

Ketika wartawan hendak melakukan konfirmasi ke pihak pabrik, satpam pabrik tersebut tidak membenarkan wartawan untuk menjumpai pihak manajemen pabrik.

“Satpam berdalih harus mendapatkan surat izin dari polisi terlebih dahulu,” kata R. Dian JK, wartawan di Subulussalam. []

IKLAN:
Space di bawah berita ini disewakan. Silakan hubungi Account Executive kami melalui email iklan@acehkita.com.


Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com


Share on Tumblr

Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada Satu Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. surachman - January 24th, 2012 - 10:00

    yah>>ini semua kesalahan sistim di pabrik>kutipan@ liar ini harus dihilangkan karena ini semua akan menjadi beban angkutan>tentunya pihak managemen bisa peka terhadap situasi sprt ini>solusi nya adalah diatur jadwal panen agar tdk terjadi booming dan jg kapasitas pabrik hrs ditingkatkan>kalau ini sdh baik pasti tdk ada lagi mobil yang antri

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar


 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.