Berita, Warga Menulis

Pilkada Aceh dalam Timbangan Resolusi Konflik

Oleh: Risman A. Rachman - 24/07/2011 - 15:04 WIB

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Aceh belum lagi sampai pada tahapan-tahapan paling menentukan seperti kampanye, pencoblosan dan penghitungan suara, namun berbagai pihak sudah gerah dengan ragam fakta seputar Pilkada Aceh 2011. Anehnya, dari hari ke hari kegerahan itu semakin membuat orang terbelah dalam bentuk kelompok yang bersifat pro dan kontra yang semakin menajam.

Terbentuknya kelompok dalam musim Pilkada tentu sangat wajar khususnya jika semua kelompok diasyikkan dengan usaha membangun basis dukungan untuk kandidat. Namun, di musim Pilkada Aceh 2011 ini sangat terasa adanya gesekan dan “percikan api” antarkelompok-kelompok yang terbentuk.

Terakhir, meski pihak ketertiban masih “berkelit” dengan menyatakan bahwa beragam aksi pengrusakan dan penembakan masih sebatas aksi kriminal biasa namun sulit untuk ditepis adanya keterkaitannya dengan musim Pilkada.

Bagi orang Aceh yang masih mau jujur dan masih bersedia berpikir bebas dalam situasi tarik menarik ini pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa dua atau lebih pihak di Aceh memang sudah sangat terasa adanya perbedaan tujuan, harapan, dan kepentingan serta cara pandang yang terus saling mempengaruhi hubungan. Lebih dari itu, berbagai kelompok atau pihak semakin keras usahanya untuk mencapai tujuan-tujuan secara bertentangan baik pada tingkatan pemikiran, emosi, dan tindakan.

Sungguh, itu semua sudah cukup untuk mengatakan bahwa Aceh sudah berada pada tingkatan konflik. Memang, konflik tidak selalu jelek khususnya manakala lewat konflik Pilkada ini bisa mendorong semua pihak untuk memperbaiki regulasi agar lebih bisa menjamin bagi terpilihnya pemimpin harapan semua.

Namun, sejauh ini pihak penyelenggara Pilkada tampaknya sama sekali tidak memiliki kemampuan manajemen konflik sehingga Pilkada justru menjadi sesuatu yang dikhawatirkan karena sudah dipandang sebatas jalan untuk mempertahankan ketidakstabilan atau memperkuat kekuasaan atas kelompok lainnya.

Meski sebatas kekhawatiran namun dalam timbangan resolusi konflik kekhawatiran itu tidak berdiri sendiri dan tidak muncul begitu saja. Minimal ia bertolak dari prasangka, salah persepsi, atau bertolak dari sesuatu yang lebih dalam seperti konflik informasi, konflik kepentingan, konflik struktural, konflik nilai, dan relasi. Inilah faktor-faktor pemicu konflik yang dalam musim Pilkada 2011 ini semakin bisa dideteksi perkembangannya, dari hari ke hari.

Tujuh bentuk perkembangan konflik berikut ini semakin bisa dirasa dan ditemukan dalam relasi kelompok-kelompok di Aceh saat ini, terkait Pilkada 2011, yakni: (1) semakin berkurang sikap kompromi, (2) stereotype semakin menguat, (3) komunikasi antarkelompok semakin berkurang dan cenderung “panas”, (4) menipis kepercayaan, (5) semakin tumbuh sikap asobiyah dan pemimpin sdh tidak kenal kompromi pada perubahan, (6) tidak berusaha untuk mencari titik temu, dan (7) semakin berkurang inisiatif untuk membangun komunikasi untuk berdamai.

Untuk lebih menyakinkan kita semua bahwa Pilkada Aceh 2011 sudah berada pada titik yang “berbahaya” karena sudah mulai condong pada tindakan kekerasan. Di mana-mana konflik masih dipandang sebagai sesuatu yang positif apalagi jika ia mendorong transformasi namun untuk tindak kekerasan sangat sedikit yang setuju. Sekarang cobalah simak dan cermati musim Pilkada ini. Jawab dengan jujur apakah semuanya terbebas dari kekerasan? Kekerasan bukan hanya tindakan fisik yang bisa melukai dan mematikan saja tapi ucapan yang kasar dan tidak pantas adalah juga tindakan kekerasan yang “melukai” jiwa-jiwa.

Timbangan resolusi konflik ini tentu sangat tidak asing bagi Aceh. Berbagai elemen masyarakat Aceh sudah sangat akrab dengan analisis konflik. Jadi sangat wajar manakala berbagai LSM di Aceh sejak dini sudah mewacanakan pentingnya “jeda” atau “moratorium” Pilkada. Mereka tentu tidak ingin ditertawakan oleh masyarakat karena sistem peringatan dini yang sudah tertanam pada diri mereka ternyata tidak berfungsi sehingga baru meradang kala sudah jatuh banyak korban.

Masihkah akan ada usaha untuk menyatakan bahwa Pilkada Aceh 2011 sebagai hajatan yang menggembirakan bagi semua? Tentu saja akan tetap ada. Bila perlu ragam logika dirangkai termasuk menyandarkan diri pada “kesuksesan” Pemilu 2004 yang sangat tinggi angka partisipasinya, yakni 94 persen. Jika ini terjadi dan akan diseriusi maka jangan salahkan jika ada yang berkata “belanda talet peurangoi ta cok.” Jangan marah juga jika muncul humor politik kalau Aceh (saboh) 3 sagoe sama dengan setengah yahudi (dua segitiga).

Berbuatlah sesuka hati asal bersiap jiwa dengan risiko yang kerap dialami oleh banyak mantan pemimpin Aceh: tidak dipeduli lagi oleh kawan sendiri yang dulu memuja-muji sampai berbusa. Selamat berhari libur di hari Minggu. []

Risman A. Rachman, Analis, berdomisili di Banda Aceh


Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com


Share on Tumblr

Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 11 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. saybonrah - July 24th, 2011 - 18:03

    bersatu untuk mengapai impian.

  2. apa lambak - July 24th, 2011 - 19:34

    Analisis sempit yg tdk ikhlas
    kenapa…?
    tak kebagian kursi…..

  3. Jasuli Ahmad - July 24th, 2011 - 23:23

    He he, paken komen hantrok meusaboh bareh kawanb. Peue siraplueng neutuleh, he he. Njoe ken komen keu peunulehnjan. Kahek bak takomen meuseubab. Ohnoeka umu nanggroe Acheh hana meusidroelom watee djimat kuasa, peuduli keu ekonomi rakyat Acheh. Dari GAM memang baro Irwandi tapi keudroedjih manteng alias “peurangoe Tjatok”. Bek takheun keun rakyat Acheh, meukeu teuntra Acheh manteng hana djipoadoli le awaknjeng kamat kuasa. Makadjih tatji kjalen djimat le GAM kalinjoe, meunjena djipadoli keu rakyat njeng gasien dan utamadjih TNA njeng hana djipakoe le Irwandi cs, ka puasteuh batjut bahpih hanalom lheueh dari “geutiek” musoh. Apabila ekonomni rakyat kaget, pikeran rakyatpih akan djroh dan perdjuanganpih akan meusambong. Sibalekdjih meunje rakyat rame deuektroe, padjan djidjak pakoe perdjuangan, teungeh berdjuang keu singeh, peue tapadjoh.

    Irwandi handjeuetle takira ureueng GAM meuseubab hana djitusoe nandroedjih watee djimat kuasa. Realitadjih pimpinan djinoe na bak PM dan meuntroe. Payah tasaba kiban oh geumat le ureueng njan. Djadi handjeut tatjok keusimpulan saban ngen Irwandi, hana pakoe keu ureueng gasien dan TNA njeng hek lamgle baroedjehken. Keupada oposisi, neusaba dilee watee kalheueh geupeutimang, baro djeuet takritik, meunje hana bida ngen Irwandi.Meuah meunje na salah naritlon…

  4. Ureung Awam - July 25th, 2011 - 09:39

    Saya sependapat dgn Jasuli Ahmad, kasih kesempatan kepada PA untuk bekerja dan jgn samakan dgn Razim Irwandi yg terbukti tdk mampu berbuat banyak untuk mengundankan / menjalankan perintah poin2 MoU Helsinki…

  5. awak awai - July 25th, 2011 - 12:43

    Mari getanyoe pikir bersama , poe jalan keluar supaya Aceh nyoe be di peuremeh le awak Jakarta. Baik yg sedang berkuasa sekarang dan yg akan maju, mita cara bek karu lei hai aceh nyoe. Kamoe uroeng gamponeg susah hudep nyoe.
    Kalau yg sudah naik sekali gubernur jangan ngotot lagi, ikuti aja apa kehendak orang banyak. Bertarung boleh aja…tapi jangan ngotot harus menang. Kalau ngotot terus getanyoe akhir jieh Ka meuprang sabe ke droe droe teuh. Hana payah DOM leeiii.. kacukup untuk tapoeh bijieh aceh sabei ke droe droe teuh.
    Ayooo….. cukup lah..yg penting aceh aman. dan yg pimpin aceh juet ke guburnur awak aceh. koen awak jawa.
    saleum damai dari kamoe apa gampoeng yg bagai

  6. john - July 25th, 2011 - 15:34

    Alah hai apa bangai!! di Malek murmud hana dikheun lee bak atee jih TNA. Pu tjit dikheun oh tee ka meunang PA (Pancuri Aceh) TNI. Cuma jinoe dipeugah TNA, nak mangat dipileeh lee ureung2 BANGAI….. Ci neupeuyum peunyum hai apa Gampong.

  7. awak awai - July 26th, 2011 - 15:37

    pakibang teuma hai ulee balang. poe lampoeh blang koen juet ta peugala untuk ikut pilkada.

  8. awaktanyoe - July 30th, 2011 - 12:40

    hai adoe aduen,teunku mandum,aci sama sama tanyo buka mata takolen,dan tapike so yang patoe,dan soe yg han,yg bek karu,male teu d kalen le jwa.menyo get gam pileh gam,tpi menyo perle ke teungeh2,ataupun mandua boh pihak,yang patot tapileh teunku M NAZAR,krn nyan ureng careng,dan kaleuh takolen kiban getnyan geuba masyarakat aceh yoh masa referendum.nyan pulang pike bak droneuh maseng2.

  9. tkg nyak - August 1st, 2011 - 15:25

    hai awak tanyo, referendum kon nazar yg berjasa inan, nazar cuma nupang tenar mantong inan.

  10. john - August 2nd, 2011 - 16:26

    Nak Nazar hana jpin bangai ngen awak PA, Nazarpun jadi bangai. Bayangkan KIPON Mak meugang sesudah di bagi ke penerima. Lalu dikata ke publik, sebenarnya sy tak tau menahu soal kupon itu. Saya di ani anya o;eh lawan. Saya rasa pamor Nazar sdah jatuh dimata rakyat/pendukungnya. Thanks.

  11. aneuk pasee - February 23rd, 2012 - 01:20

    Krue semagat bangsa long atjeh nanngro meutuwah pusaka kaya ni bak siuero long duk dilua long kalon cahya lempak mirah ho lampang pusaka kaya
    kana harga
    bintang bulen lambang kamo pujuang /dalam miden prang lawan indonesia jawa /udep beusare mate beusajan sikre gafan saboh kurunda /dikamoe tentara konpangkat ngen jabatan yang kamoe mita pesenang bangsa bek lee dijajah buet bangsa jawa ,long lakee banbandum bangsa aceh bangsa yang mutuowa yang lambang PA yang tabela adak hase jipajoh keudro hana rogoo lage nya kaka.

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar


 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.