Berita, Warga Menulis
RESENSI | #republiktwitter: Kita Cuma Baru Bisa Berkicau!
Film: #republiktwitter | 2012 | Sutradara: Kuntz Agus | Pemain: Abimana Arya, Laura Basuki, Ben Kasyafani, Tio Pakusadewo, Edi Oglek, Enzy Storia
BERDASARKAN data Semiocast.com dan AworldofTweet.com yang dikutip Kompas.com, jumlah pengguna Twitter di Indonesia hingga bulan Februari 2012 ini berjumlah 19,5 juta orang dan menempati posisi kelima dunia. Dalam hal kicauan, Indonesia merupakan negara dengan kicauan ketiga terbanyak di dunia, yaitu mencapai sekitar 12% dari total jumlah tweet di dunia dan menjadi nomor satu di Asia dengan persentase 54,6%. Berdasarkan data Salingsilang.com tercatat ada 1,3 juta kicauan asal Indonesia setiap harinya.
Jumlah pengguna Twitter di Indonesia diperkirakan semakin meningkat seiring semakin mudah dan luasnya akses internet. Diperkirakan ada puluhan ribu pengguna Twitter di yang berasal dari generasi muda kelas menengah dan berusia di bawah 35 tahun, serta daerah terbanyak pengguna Twitter di Indonesia adalah Jakarta. Fenomena masifnya penggunaan Twitter di Indonesia telah diangkat ke dunia musik oleh Saykoji dengan lagu Followback dan juga ke layar lebar. Sejak 16 Februari lalu telah mulai beredar film #republiktwitter, hasil kreasi sutradara Kuntz Agus dan penulis naskah E. S. Ito. Ini merupakan debut film layar lebar dari rumah produksi Rupa Kata Cinema dan Amalina Pictures. Ini adalah film kedua tentang Twitter/media sosial setelah sebelumnya WatchdoC, @internetsehat, dan ICT Watch membuat film berjudul “Linimas(s)a”.
Alur film bergerak cepat. Penonton disuguhkan tampilan dua orang yang saling berbalas kicauan yaitu Sukmo Wiyogo (Abimana Arya) dan Dyah Hanum Farani (Laura Basuki). Sukmo adalah seorang mahasiswa tingkat akhir dari sebuah universitas di Yogyakarta. Dia kadangkala bekerja sebagai hacker, dan piawai merangkai kicauan sebanyak 140 karakter. Dia ditantang untuk datang ke Jakarta oleh Dyah. Tanpa berpikir panjang Sukmo segera membujuk temannya Andre (Ben Kasyafani) untuk memberi tumpangan ke Jakarta. Sukmo juga ingin menegaskan sebuah komitmen dengan Dyah karena dia telah jatuh hati pada gadis itu.
Pertanyaannya: bagaimana mereka saling berkenalan? Via Twitter, baik, tapi bagaimana caranya? Mengetik di kolom search? Sukmo yang tinggal di Jogja bagaimana dapat berkenalan dengan Dyah yang di Jakarta? Misal akun Dyah itu terkenal sehingga tren di kalangan pengguna Twitter (tweeps), tapi terkenal sebagai apa? Di film Dyah ditampilkan bekerja sebagai wartawan, tapi juga jelas dapat dilihat saat adegan Papa Dyah meminta Dyah untuk segera meninggalkan dunia jurnalistik. Sang Papa berkata bahwa nama Dyah tidak pernah muncul di artikel berita. Jadi bagaimana Dyah dapat dikatakan terkenal sedangkan namanya tidak pernah muncul? Bagaimana Sukmo dapat memanggil Dyah jurnalis bawel sedangkan nama Dyah belum pernah sekali pun muncul di artikel berita?
Twitter dalam #republiktwitter
Film ini akan terasa jauh lebih bagus jika pola penceritaannya ala Janji Joni. Dalam film produksi tahun 2005 tersebut, Joko Anwar mendeskripsikan dunia perbioskopan secara mendetail, sehingga petualangan Joni sebagai tukang antar rol film jadi punya kekuatannya sendiri. Di #republiktwitter, Twitter tak lebih dari sekedar formalitas, belum substansinya. Publik yang masih awam dengan dunia Twitter akan sulit memahami utuh apa yang terjadi di film ini. Penonton baru melihat konsekuensi Twitter, tapi belum gambaran penyebabnya.
Di pertengahan awal film, Twitter berperan ironis dalam dunia percintaan. Kepribadian yang nampak di linimasa tidak selalu sesuai dengan di dunia nyata. Dyah korbannya. Ketika akhirnya bertemu Sukmo, ia mendapati teman Twitternya bergaya layaknya anak muda Jakarta, berbeda dengan citra slengean yang ia tangkap di Twitter. Gaya ini tidak disukai Dyah sehingga Dyah langsung meninggalkan Sukmo sendiri di kafe itu. Konflik serupa terjadi pada Andre, yang sering merasa diabaikan oleh pacarnya. Alih-alih bertatap muka, pacar Andre lebih sering memandangi telepon pintarnya. Pembicaraan Andre jarang ditanggapi dan dia sering dianggap hanya sebagai supir. Getir rasanya: yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat.
Di pertengahan akhir film, Twitter menjadi alat kapital yang digunakan untuk mengeruk kepentingan ekonomi-politik. Lakonnya adalah Kemal Pambudi (Tio Pakusadewo) dan Belo Harahap (Edi Oglek). Ketika Sukmo tidak jadi bertemu dengan Dyah, ia mendadak mendapat tawaran pekerjaan dari Belo, kenalannya di Twitter. Belo memiliki usaha warnet yang berfokus pada pengelolaan akun Twitter milik orang-orang penting seperti politisi, artis, pejabat daerah, serta orang sibuk dan kaya yang punya banyak uang dan memiliki segalanya kecuali akun Twitter. Sukmo ditawari untuk bekerja di tempat itu karena sebuah proyek dari Kemal Pambudi. Tugas mereka: membuat nama seorang pengusaha sukses di Jakarta yaitu Arif Cahyadi (Leroy Osmani) menjadi topik yang tren (trending topics) di Twitter.
Misi pertama ini berhasil dan dilanjutkan dengan misi selanjutnya: menjadikan nama Arif Cahyadi topik yang tren sebagai kandidat calon gubernur DKI Jakarta dengan sandi #ArifCahyadi4DKI1. Anak Arif Cahyadi bingung melihat nama papanya menjadi trending topics dan bertanya apa yang sedang direncanakan ayahnya. Arif Cahyadi yang tidak mengetahui apa-apa tentang hal ini langsung menghubungi Kemal, dan di sinilah Kemal memunculkan kata-kata yang menjadi kata kunci film ini, “Sekarang ini, suara rakyat itu suara Twitter.” Dalam perkembangannya diketahui rupanya Kemal sengaja memanipulasi isu ini seolah-olah publik akan memberi dukungan terhadap Arief Cahyadi sebagaimana adanya di Twitter dan mencoba mengeruk keuntungan pribadi dari isu ini.
Cuma Berkicau
Apakah pernyataan Kemal dalam salah satu bagian film #republiktwitter, “Sekarang ini, suara rakyat itu suara Twitter” relevan dengan kenyataan sosial di Indonesia? Apakah sesuatu yang menjadi kehebohan dan trending topics di Twitter akan berpengaruh terhadap dunia nyata? Kembali #republiktwitter gagal dalam mengangkat twitter sebagai elemen ceritanya. Pembuat film seperti lupa dengan gambaran besar di balik twitter, sehingga pengaruh Twitter yang ditampilkan dalam film terasa salah kaprah.
Benar memang bahwa ada beberapa kejadian penting di dunia ini berawal dan didukung dari penggunaan media sosial. Di Indonesia bahkan tercatat ada dua peristiwa yang sering disebut sebagai aksi yang timbul dari media sosial yaitu Gerakan Satu Juta Facebookers Dukung Chandra dan Bibit pada Oktober 2009 dan Koin Keadilan untuk Prita pada akhir 2009. Tapi hal ini pada perkembangannya tidak dikawal secara konsisten dan penuh komitmen dari penggagas dan pendukung aksi ini, serta aksi ini tidak banyak menularkan virus gerakan sosial maupun politik yang baru pada tahun-tahun terakhir ini. Saat ini, publik mungkin tidak menyadari dan alpa bahwa Prita yang pada tahun 2009 dulu mereka dukung sedang menunggu keputusan peninjauan kembali di Mahkamah Agung setelah sebelumnya pada Juli 2011, MA menjatuhkan vonis bersalah untuk Prita dan dihukum enam bulan penjara dan masa percobaan satu tahun.
Tempo (20-26/2/2012) mengutip hasil riset Merlyana Lim yang berjudul “In Curhat We Unite” menemukan bahwa di Indonesia media sosial bukanlah alat demokratisasi dan perubahan sosial. Hampir 99% gerakan yang mencoba meniru Bibit-Chandra dan Prita gagal. Hal ini dikarenakan para pengguna media sosial baru tertarik berpartisipasi dalam sebuah gerakan politik jika risikonya kecil atau disebut click activism. Publik lebih memilih untuk mengeluh dan menumpahkan opininya via media sosial tanpa berupaya menyatukan diri untuk sebuah perubahan sosial yang nyata. Senada dengan pendapat ini, Enda Nasution—pendiri Salingsilang.com—menuturkan bahwa sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia masih apatis untuk soal-soal politik dan masih terjebak dengan kegalauan pribadinya. Pada Seminar New Media yang dilaksanakan Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM pada 29 Oktober 2011 lalu, dari beberapa pembicara juga mengatakan bahwa komitmen para pengguna media sosial sangat rendah. Hal ini hingga memunculkan istilah NATO (No Action Tweet Only). Untuk menepis pandangan ini, beberapa pengguna Twitter yang peduli akhirnya menginisiasi beberapa varian gerakan dan aksi yang ada di Twitter tapi juga dibarengi aksi nyata langsung di lapangan, contohnya adalah @IDberkebun, @BloodforlifeID, @ProtesPublik, dan akun lainnya di Indonesia serta dunia.
Saat #republiktwitter mulai beredar di bioskop, ada dua isu politik yang sempat heboh tapi tidak sampai menjadi topik yang tren di Twitter, yaitu #IndonesiaTanpaFPI dan #IndonesiaTanpaJIL. Beberapa akun saling memberi pendapatnya mengenai ini sehingga terjadi twitwar. Para pendukung #IndonesiaTanpaFPI juga tidak sekedar beropini di Twitter karena mereka juga telah melakukan aksinya di bundaran HI, Jakarta, pada Selasa (14/2) lalu. Kedua isu ini hingga hari ini masih berkembang secara dinamis. Naif rasanya jika kita masih berekspektasi terlalu besar bahwa Twitter akan mampu memicu revolusi politik maupun sosial di Indonesia. Walaupun beberapa aktivis dan politisi aktif di Twitter seperti @tifsembiring, @FaisalBiem, @fadjroel, @gm_gm, @EepSFatah, @budimandjatmiko, @febridiansyah, @TodungLubis, @tamrintomagola, dan banyak pengguna lainnya, namun persentasenya masih rendah dan kalah jauh dibandingkan dengan para pemilik Twitter yang NATO (No Action Tweet Only). Kita cuma baru bisa berkicau! [pernah dipublikasi di http://cinemapoetica.com]
BIODATA PENULIS
Rizki Alfi Syahril beraktivitas di Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan. Saat ini sedang melanjutkan pendidikan di Magister Akuntansi Universitas Gadjah Mada.
Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com
Tweet
















Pembantaian Warga Jawa Di Aceh Tumbal Politik Partai Aceh
20 April 2012 21:11
TERTANGKAPNYA Ayah Banta oleh Densus 88 yang diduga sebagai algojo pembantaian warga asal Jawa di Aceh yang mengakibatkan 8 orang meninggal dan 13 orang luka tembak dipenghujung tahun 2011 dan awal tahun 2012, menguak bukti adanya keterlibatan elite GAM/Partai Aceh serta membuka tabir korelasi dengan kepentingan politik GAM/Partai Aceh pada Pemilukada Aceh 2012.
Ironinya Pemerintah Indonesia mengambil sikap politik sangat kooperatif menghadapi political pressure dengan cara-cara terorisme, bahkan mencoba menutupi dengan pernyataan kejadian tersebut kriminal murni. Ada satu mata rantai yang terlepas dari tragedi pembantaian warga asal Jawa di Aceh, sehingga mengaburkan korelasi kasus tersebut dengan manuver Partai Aceh untuk memperoleh peluang ikut dalam Pemilukada Aceh 2012.
Malam itu tanggal 4 Desember 2011 sekitar pukul 23.00 WIB, di Pasee – pedalaman Aceh Utara daerah basis tradisional GAM yang paling panas saat konflik, para buruh perkebunan asal Jawa seperti biasa melewati malam di kedai kopi di areal perkebunan PT Satia Agung milik konglomerat Ibrahim Risyad.
Sesaat kemudian datang 6 orang berseragam mirip Satpol PP menggunakan sebo dengan 6 pucuk senjata laras panjang menghampiri kedai kopi dan langsung memerintah para buruh perkebunan tiarap, sambil menanyakan asal suku mereka, seketika itu rentetan senjata laras panjang menerjang 8 orang pekerja perkebunan setelah beberapa orang mengatakan berasal dari Jawa. Katno, Sugeng, Heryanto terkapar tak bernyawa dan 5 orang lainnya luka tembak serius akibat 60 peluru yang dihamburkan para pembunuh .
Teror berdarah selanjutnya terjadi di Kab Bireuen, 10 orang pekerja galian kabel telepon secara tak berprikemanusiaan dibantai sekelompok orang bersenjata, tiga orang meninggal ditempat dan 7 orang luka tembak. Aksi berdarah tidak berhenti, di wilayah Aceh Utara, Banda Aceh dan Aceh Besar terjadi lagi yang kemudian terjadi eksodus besar2an warga jawa keluar Aceh.
Berawal dari fakta pembantaian di PT Satya Agung yang awalnya disewa kelola oleh para elite GAM diantaranya M.Isa, Ayah Kuari dan Ayah Banta dengan modal yang diberikan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Dalam perjalanannya, Ayah Banta yang selama ini menjadi donatur Tgk Ni (Panglima Wilayah Pasee/Ketua KPA Aceh Utara) didepak keluar karena persoalan keuangan, namun akumulasi persoalan bermuara ketika M.Isa menyatakan dukungan kepada Irwandi Yusuf dalam Pemilukada 2012. Dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk melakukan pressure politik kepada Pemerintah Pusat dalam rangka menimbulkan image “aceh tidak aman” dengan sasaran memundurkan jadwal Pemilukada, maka pilihan target teror diarahkan kepada PT Satya Agung, dimana Ayah banta juga memiliki dendam pribadi dengan M.Isa. Kemudian Teror bersenjata ditebar Ayah Banta di Bireuen, Aceh Besar dan Banda Aceh yang mengakibatkan terjadinya eksodus warga asal Jawa keluar Aceh.
Pertanyaan yang muncul sekarang dibenak masyarakat Aceh, apakah kemenangan Partai Aceh pada Pemilukada 2012 yang ternyata terbukti berlumuran darah rakyat tidak berdosa, dapat dikatakan sebagai kemenangan yang demokratis. Apakah hukum dinegeri ini melegitimasi sebuah proses politik dengan menggunakan cara-cara teror bersenjata yang mengakibatkan terenggutnya nyawa rakyat sebagai pemilik negeri ini. Apakan Pemerintah yang berkuasa saat ini menjadi pecundang karena takut menghadapi konfrontasi politik Partai Aceh dengan gaya premanisme.
Jawabannya adalah “Ya”, jika kemenangan Partai Aceh tidak dianulir. Fenomena kemenangan Partai Aceh dengan menghalalkan darah rakyat tak berdosa, akan menjadi preseden buruk bagi pembangunan iklim demokrasi di Republik ini. Akhirnya kita semakin disadarkan oleh sebuah realita hidup, bahwa rakyat Indonesia sejatinya hanya dijadikan objek oleh pemangku kepentingan di negeri ini.
Jangan lagi ada retorika politik “demi kelangsungan perdamaian Aceh” yang menyebabkan pengusutan kasus Ayah Banta berhenti pada persoalan kriminalitas, mengingat kasus Ayah Banta memiliki benang merah untuk mengangkat kepermukaan ancaman laten separatisme di Aceh di era damai. Tujuh tahun perjalanan damai Aceh, kini sudah selayaknya Aceh diperlakukan sama seperti Provinsi lain di Indonesia. Aceh harus tunduk pada konstitusi Indonesia, karena UUPA bukan semata-mata Aceh telah memiliki kedaulatan hukum yang sejajar dengan konstitusi RI.
Densus 88 sepertinya membiarkan pilkada agar dimenangkan PA, baru kemudian pada Sabtu, 14 April 2012 atau lima hari pascapilkada, tim gabungan Densus 88 Mabes Polri, Polda Aceh, dan Polres Aceh Utara, menangkap dua tersangka utama penembakan warga pendatang asal Jawa di Aceh pada akhir 2011 dan awal 2012. Kedua pria yang ditangkap terpisah di Aceh Utara adalah Vikram alias Ayah Banta dan M Joni.
Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Gustav Leo mengatakan, penangkapan kedua tersangka juga berdasarkan pengembangan dari tersangka sebelumnya yang juga terkait serangkaian penembakan para pendatang di Aceh. Termasuk enam di antaranya yang kini sedang diperiksa lebih intensif di Mabes Polri, yaitu Jam alias Dugok dan kawan-kawan. Sedangkan empat lagi masih dikejar.
Ada delapan tempat kejadian perkara (TKP) terkait perbuatan mereka, masing-masing satu penembakan di Aceh Besar, Banda Aceh, serta masing-masing dua TKP di Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Bireuen. Akibatnya, sepuluh orang meninggal dunia. Sedangkan barang buktinya berupa lima bom rakitan siap ledak, dua pucuk senpi AK-56, satu pucuk M-16, ratusan amunisi, dan lain-lain. Sudah sepuluh tersangka terkait serangkaian penembakan itu ditangkap.
Ayah Banta ternyata memang penebar teror yang paling dicari pihak keamanan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Sebab, menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai, Ayah Banta selalu sukses dalam banyak aksi terornya. Serangkaian aksi yang dilakukan adalah teror bom di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Wisma Bhayangkari, Gedung DPR-MPR, dan Kantor UNDP (United Nasional Development Program) di Jakarta. “Saat di Perwakilan PBB, dia luncurkan semacam roket dari belakang kantor itu, namun tidak berhasil,” kata Ansyaad
• Teuku Isya • Stanford University
Cobalah belajar berkata benar kalau hal tersebut benar tidak usah tutupi dan cobalah berkata seseuai Fakta dan berjanji sesuai BUkti apakah Tradisi Buruk ini yang harus dicontoh bagi generasi Indonesia khususnya generasi aceh dan terus memberikan pelajaran tidak baik untuk generasi dalam hal hal yang prinsip 2 kotor ini, berarti DEMOKRASI tidak berjalan di negeri ini BUKTINYA REFORMASI Hukum, EKONOMI belum berjalan di negeri ini.Apakah semua ini hanya untuk kepentingan negeri atau kepentingan para elite2 nya aja?jawab aja sendiri menurut Hati nurani para elite2 negeri ini????????
•
Tgk Tanoh Aceh • Komentator Teratas • CET CET LANGET
Tulisan ini ada yg tidak sehat, dan untuk menyehatkan-a harus didukung bukti yang relevan…
1) Berawal dari fakta pembantaian di PT Satya Agung yang awalnya disewa kelola oleh para elite GAM diantaranya M.Isa, Ayah Kuari dan Ayah Banta dengan modal yang diberikan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Dalam perjalanannya, Ayah Banta yang selama ini menjadi donatur Tgk Ni (Panglima Wilayah Pasee/Ketua KPA Aceh Utara) didepak keluar karena persoalan keuangan, namun akumulasi persoalan bermuara ketika M.Isa menyatakan dukungan kepada Irwandi Yusuf dalam Pemilukada 2012. Dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk melakukan pressure politik kepada Pemerintah Pusat dalam rangka menimbulkan image “aceh tidak aman” dengan sasaran memundurkan jadwal Pemilukada, maka pilihan target teror diarahkan kepada PT Satya Agung, dimana Ayah banta juga memiliki dendam pribadi dengan M.Isa. Kemudian Teror bersenjata ditebar Ayah Banta di Bireuen, Aceh Besar dan Banda Aceh yang mengakibatkan terjadinya eksodus warga asal Jawa keluar Aceh. >>>Paragraf ini kayak-a terlalu disampaikan secara dendam dan tidak jujur<<>> Paragraf ini kayak-a karena irihati-a penulis trhadp Aceh shg penulis ingin Aceh bersimbah darah kembali dgn mengharapkan Konflik Baru antara Aceh dan Jakarta;
3) Ayah Banta ternyata memang penebar teror yang paling dicari pihak keamanan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Sebab, menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai, Ayah Banta selalu sukses dalam banyak aksi terornya. Serangkaian aksi yang dilakukan adalah teror bom di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Wisma Bhayangkari, Gedung DPR-MPR, dan Kantor UNDP (United Nasional Development Program) di Jakarta. “Saat di Perwakilan PBB, dia luncurkan semacam roket dari belakang kantor itu, namun tidak berhasil,” kata Ansyaad. >>> Penulis ini tidak jujur dalam menulis sebuah berita<<<
4) Kita sepakat bahwa pelaku gangguan keamanan pasca MOU Helsinki harus dihukum namun kita tidak sepakat melebih2kan kesalahan orang dan mengeneralisasi kasus kriminal at bisa jadi politis PA menjadi kesalahan Aceh secara keseluruhan sprti butir 2 di atas…. Tulislah berita apa ada-a, jangan mengarang berita ttg Aceh menurut emosi dan kebencian…