Berita
Ruas Tangse-Geumpang Rawan Longsor
GEUMPANG, PIDIE, acehkita.com. Akibat perluasan badan jalan, lintasan Geumpang-Tangse kini rawan longsor. Hal ini terjadi karena dinding tebing yang baru dibuat tidak mempunyai kemiringan, sehingga semua benda dari atas tebing mudah jatuh menutupi badan jalan.
Muktar Raban, seorang masyarakat Geumpang, menyebutkan, sebelum ada perluasan badan jalan, lintasan tersebut sangat jarang longsor. “Bila pun terjadi itu karena hujan yang sangat lebat, itu pun hanya terjadi di titik tertentu,” kata dia ketika dihubungi acehkita.com, Ahad siang.
Pantauan acehkita.com, longsor yang terjadi di Desa Krueng Meuriam, Kecamatan Tangse menyebabkan puluhan kendaraan terjebak macet. Batu dan tanah gunung tumpah ke badan jalan. Namun kondisi ini tak berlangsung lama karena langsung dibersihkan oleh alat berat yang ada di sana.
Namun semenjak perluasan, lanjut Muktar, sepanjang lintasan tersebut yang melewati tebing kini rawan longsor, “Tidak semua tebing dilintaskan tersebut batu atau karang, tapi juga terdapat tanah lapuk,” ujarnya.
Dalam pekan terakhir, arus lalulintas yang melintasi jalur tersebut sering tersendat, akibat terjadinya longsor. Tak hanya mengganggu arus transportasi, longsor menyebabkan suplai arus listrik tersendat. “Sering menumbangkan tiang listrik, sehingga Kecamatan Mane dan Geumpang sering gelap,” kata Mukhtar. [Ucok Parta]
Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com
Tweet
















Perluasan badan jalan merupakan kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi jumlah kendaraan yang setiap tahun mengalami pertambahan begitu cepat, di samping itu perluasan badan jalan adalah untuk memperlancar arus lalu lintas dan menekan angka kejadian kecelakaan lalu – lintas di lintasan Beureunuen – Meulaboh, namun yang di sayangkan adalah proyek pengerjaan perluasan badan jalan tidak di kerjakan oleh mereka yang pakar dan ahli dalam bidang itu, akan tetapi pemerintah mempercayakannya pada rekanan yang memenang tender, dengan di bubuhi unsur politis, akibatnya hasil yang di dapat dari sebuah pekerjaan besar itu tidak sesuai dengan jumlah anggaran yang d kuras pemerintah untuk membayar pengerjaan perluasan badan jalan tersebut, tentu saja tidak heran jika sedikit saja hujan jalan tersebut langsung amblas dan longsor, karena pemenang tender mengerjakan proyek asal jadi, sebenarnya tidak adil juga jika semua kesalahan d timpakan pada rekanan karena sudah jadi rahasia umum sich di pidie ini ( aceh umumnya) kalau pemenang tender sebelum mengerjakan proyek sudah harus lebih dulu memberikan “uang senyum” pada panitia tender sebagai syarat untuk memenangkan tender, ya beginilah akibatnya, bangsa aceh d jajah oleh bangsa Aceh sendiri. Dulu kita mudah saja menyalahkan orang lain, sekarang bagaimana ?