Berita, Feature
Setelah Gagal Meminang Arun?
Setelah perlawanan Daud Beureueh mereda pada 1963, diam-diam, masih banyak pemuda Aceh yang kecewa. Pemberian status sebagai daerah istimewa dianggap simbol belaka. Hasil bumi dikeruk, sementara rakyat dibiarkan miskin. Situasi inilah yang menggelisahkan seorang pemuda asal Desa Tiro yang berani menyatakan perang melawan pemerintah. Dialah Hasan Muhammad Di Tiro alias Hasan Tiro.
Hasan Tiro adalah keturunan Teungku Tjhik Di Tiro Muhammad Saman, pejuang Aceh yang terkenal gigih masa kesultanan Aceh. Hasan Tiro muda dikenal sebagai anak yang cerdas. Lelaki kelahiran 4 September 1930 ini pernah belajar agama di Madrasah Blang Paseh yang didirikan Teungku Daud Beureueh.Pada 1946 ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Selama di Yogya, Tiro telah melahirkan pemikiran cerdas soal bentuk negara federasi. Ia mengkritik demokrasi yang dibangun Soekarno karena lebih mengutamakan orang Jawa.
Kecerdasan Hasan Tiro sangat memikat hati Daud Beureueh. Berkat rekomendasinya pula, Hasan Tiro diperkenalkan kepada Wakil Perdana Menteri Syafruddin Prawiranegara. Tak disangka, Syafruddin juga terkesan dengannya. Alhasil, pada 1950, Syafruddin merekomendasikan Hasan Tiro mengikuti pendidikan di Columbia University, Amerika, sambil bekerja paruh waktu sebagai staf Perwakilan Indonesia di PBB.
Ketika pecah perlawanan Daud Beureueh, Hasan Tiro membuat kejutan. Pada 9 September 1954, ia mengirim surat kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjoyo yang isinya mengutuk tindakan TNI yang melakukan pembantaian di Aceh. Tak hanya itu, ia juga memproklamasikan diri sebagai Duta Besar Negara Islam Aceh untuk PBB.
Setelah pemberontakan DI/TII, manuver Hasan Tiro di Amerika ikut melunak. Ia pulang ke Aceh pada pertengahan 1974 dan bertemu dengan Muzakir Walad, Gubernur Aceh saat itu. Hasan Tiro meminta agar perusahaanya bisa menjadi kontraktor pembangunan tambang gas Arun.
Tapi permintaan itu tak bisa dipenuhi Muzakir Walad. Alasannya, seluruh kontraktor Arun ditentukan oleh Jakarta. Lagi pula, sudah ada perusahaan lain yang menjadi kontraktor di Arun, yakni Bechtel Inc, dari California, Amerika Serikat.
Penolakan itu disebut-sebut sebagai pemicu awal kemarahan Hasan Tiro kepada pemerintah karena menganggap orang lokal tidak diutamakan. Padahal di Amerika sendiri, dalam bukunya The Price of Freedom: The Unfinished Diary, Hasan Tiro mengaku sukses memperluas bisnis di berbagai sektor. Ia juga mengaku punya relasi bisnis di Eropa dan Afrika yang bergerak di bidang petrokimia, pengapalan, penerbangan, dan manufaktur.
Penolakan itu dianggap sebagai bukti bahwa otonomi daerah seperti yang dijanjikan pemerintah pusat untuk Aceh, ternyata cuma bualan.
Apalagi, peminggiran orang Aceh terjadi dalam hal hasil hutan, tambang, dan hasil industri. Kebencian Hasan Tiro makin menguat dan menemukan momentum setelah ternyata syariat Islam sama sekali tidak berjalan, sebagaimana dijanjikan dalam konsep Prinsipil Bijaksana untuk membujuk Daud Beureueh turun gunung.
Sejak itu, ia mulai mengusung perlawanan. Hasan Tiro menghubungi beberapa tokoh eks DI/TII, antara lain Teungku Ilyas Leube, pengikut setia Daud Beureueh. Juga ada nama Daud Paneuk. Dua tokoh ini kemudian menggalang dukungan kepada pemuda-pemuda Aceh. Tujuan mereka, mendirikan negara Aceh yang terlepas dari Indonesia.
“Lihat Sejarah. Aceh adalah bangsa merdeka sejak dulu. Indonesia tidak berhak mengklaim Aceh sebagai wilayahnya,†demikian doktrin Hasan Tiro kepada pengikutnya. Karena yang berbicara seorang ahli hukum dan keturunan Tiro, banyak pemuda Aceh terpukau dan memutuskan ikut bergabung.
Baihaqi, mantan Kepala Staf Resimen 5 DI/TII termasuk yang diajak bergabung. Namun ia menolak. “Saya tidak menemukan ada sosok pemimpin di jiwa Hasan Tiro seperti halnya Daud Beureueh,†kata Baihaqi kepada acehkita. Meski demikian, ia mengakui kalau Hasan Tiro sangat memukau dalam berbicara.
Tak mengejutkan jika banyak cendekiawan yang ikut bergabung dalam barisan itu. Di antaranya dokter, mahasiswa, dan sarjana lainnya. Pertemuan awal kerap dilangsungkan di Desa Meureu, Aceh Besar, dekat makam Tjhik Di Tiro, kakek buyut Hasan Tiro.
Aksi Hasan Tiro itu ternyata tercium TNI. Operasi pengejaran terhadap mereka pun dikumandangkan. Hasan Tiro dan pendukungnya terpaksa menyelamatkan diri. Ia kemudian kembali ke Amerika, tapi berjanji akan datang ke Aceh dengan kekuatan baru.
Janji itu benar-benar ditepatinya. Awal September 1976, Hasan Tiro melakukan perjalanan rahasia ke Aceh. Misinya kali ini, ‘membebaskan Aceh dari penjajahan’. Pun begitu, kisah kedatangan Hasan Tiro terbagi dalam beberapa versi (lihat Perjalanan Rahasia Demi Setetes Air Kelapa)
Ia berangkat dari pantai Malaysia pada 30 Oktober 1976 dan berhasil menyusup ke Aceh dengan bantuan beberapa orang nelayan tradisional. Ia mendarat dengan selamat di Pasi Lhok, Kembang Tanjong, Pidie. Di sana ada beberapa temannya yang menanti. Sebelum ke Aceh, Hasan Tiro memang sudah melakukan kontak dengan pendukungnya. Dari pantai itu, mereka langsung menuju hutan di wilayah Pidie dan mendirikan markas.
Selama di hutan, Hasan Tiro kerap berpindah-pindah tempat untuk menghilangkan jejak. Beberapa kali ia menyempatkan diri bertemu dengan tokoh masyarat desa.
Setelah berpindah-pindah markas, terakhir Hasan Tiro bertahan di Bukit Tjokkan. Di sini, ia memproklamirkan Gerakan Aceh Merdeka, tepatnya 4 Desember 1976. Ia meyakinkan pengikutnya, bahwa perjuangan GAM bukan semata-mata karena tuntutan ekonomi atau ketidakadilan belaka. “Ini perjuangan ideologi. Hanya rakyat Aceh yang bisa menentukan nasib Aceh,†ujarnya.
Sejak proklamasi itu, mereka terus bergerilya. Bisik-bisik tentang GAM terus menyebar kepada warga di kalangan terbatas. Saat itu Hasan Tiro lebih menyukai menamai organisasinya sebagai ASNLF (Aceh Sumatra Liberation Front), alias Front Pembebasan Aceh Sumatra. Ini tentu tak lepas dari pengaruh munculnya gerakan serupa di Mindanao, Filipina. Saat itu, Nur Misuari juga mendirikan MNLF (Moro National Liberation Front) sebelum akhirnya pecah dan melahirkan MILF (Moro Islamic Liberation Front).
Upaya untuk mendatangkan senjata dari Malaysia pun mulai dilakukan. Tak berselang lama, jumlah pendukung gerakan itu semakin banyak. Aparat yang mendengar desas-desus gerakan Hasan Tiro, kembali melakukan pemburuan. Hasan Tiro yang selalu siaga dengan pistol di pinggang, mendapat pengawalan ketat.
Kemiskinan yang meradang serta kekecewaan terhadap pemerintah, membuat dukungan rakyat kepada GAM menguat. Awal 1977 mulai terjadi kekerasan di Aceh. Penangkapan dan penganiayaan oleh militer terjadi di mana-mana.
Foto para dedengkot GAM disebar ke segala penjuru. Tokoh yang paling dicari, selain Hasan Tiro adalah dr Muchtar Hasbi, Daud Paneuek, Ir Asnawi Ali, Ilyas Leube, dr Zaini Abdullah, Malik Mahmud, dr Husaini Hasan, Amir Ishak, dan dr Zubir Mahmud.
Tapi tak mudah menangkap Hasan Tiro dan pengikutnya. Aksi gerilya mereka di dalam hutan sulit dilacak TNI. Malah di lokasi persembunyian itu, Hasan Tiro terus menerus menyampaikan doktrin soal sejarah Aceh dan status Aceh di mata hukum internasional. Aksi itu mirip seorang dosen yang memberi kuliah kepada mahasiswa.
Sesekali kelompok Hasan Tiro dengan senjata seadanya melakukan show of force ke kota. Pada 19 Oktober 1977 misalnya, mereka berhasil menghancurkan pembangkit tenaga listrik dekat Lhokseumawe dan Arun. Pengibaran bendera GAM pertama kali dilakukan saat pelantikan kabinet itu 30 Oktober 1977. Bendera bulan sabit dan bintang yang menjadi simbol perjuangan GAM, merupakan bendera kerajaan Aceh masa lalu.
Hasan Tiro meninggalkan Aceh pada 28 Maret 1979. Dengan menggunakan kapal nelayan, ia berangkat ke Malaysia dari Batee Iliek. Saat naik ke perahu, ia berpesan kepada pengikutnya “Saya sudah mengibarkan bendera leluhur kalian. Jangan pernah kalian membiarkan ia turun!” [Majalah ACEHKITA edisi Agustus 2005]
Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com
Tweet

















Ternyata bendera leluhur turun juga, dan wali jadi WNI. Siapakah pengkhianat nya?..How sad
Perjuangan beliau sangat saya hargai,karena beliau memperjuangkan kepentingan rakyat aceh untuk lebih sejahtera.
sebenarnya bukan wali aja sampai sekarang pun orang aceh sendiri belom ada yg jadi direktur utama arun pasti orang dari luar aceh , kita lihat di eropa atau di negara2 maju sangat jarang bukan orang tempatan yang jadi direktur utama istilahnya beras sendiri masak sendiri tapi yang menikmati tetangga jgnkan wali saya saja sgt marah
I love you full Wali Nanggroe
tgk.hasan di tiro kamoe kenang.walau tlh pergi selama2 nya
Kami tdk akan melupakan jasa mu wahai waly nanggr0e kam0e
bukan wali saja gagal hampir semuang orang aceh gagal lihat saja mana da direktur umum proyek vital orang aceh pribumi semua orang dari aceh non aceh gimn aceh g membrontak jangankan manusia kambing pun tau itu cuma orang idiot aja yang g tau
Terlepas dari apa yang tertulis dalam artikel diatas, saya ingin menuliskan satu pelejaran yanga saya dapati dari diri tgk Hasan Di Tiro, yakni berkaitan denga cita-cita beliau memerdekakan Aceh, setelah sekian lama perjuangan yang ia lakukan, akhirnya berakhir dengan sebuah status Aceh yang mendapat perlakuan kusus dari Jakarta (RI), itu menggambarkan bahwa apa yang kita citi-citakan tidak akan sepenuhnya diberikan Tuhan. Imum Syafi’i dalam sejarahnya Ia bercita-cita kealimannya itu sama dengan Nabi Muhammad S A W. tapi Tuhan Memberikan sesuai dengan apa yang kita lihat sekarang tentang Imum Syafi’i.
Kepada kita semua hendaknya menanamkan dalam diri kita masing-masing cita-cita yang tinggi bahkan setinggi langit sekalipun, tujuannya agar dengan adanya cita-cita tinggi hidup kita akan terdorong oleh sebuah semangat yang tinggi pula untuk mencapai cita-cita itu. Peu nye meunan?????????
HOAX.. bikin muntah..!! berjuang karena ngambek ga dapat proyek dulu ternyata.. pake hancur2in Gardu Listrik. bikin orang susah aja. sampe sekarang “pelajaran” itu juga yang masih nyisa di “anak didik” nya.
semua kita akan mendoakan agar segala yang beliau niatkan yang baik semoga diterima allah..dan aceh menjadi semakin bersatu dan menatap masa depan yang masih panjang..
mari sama-sama kita persiapkan diri untuk memajukan aceh….
saya bangga dengan kesungguhan warga aceh di bumi Malaysia…mereka tdk pernah melupakan leluhur budaya mereka…
hidup semangat wali…?????
bayangkan jika perjuangan MEREKA berhasil.
inspirasi