Berita

Stempel Kerajaan Samudra Pasai Ditemukan

Oleh: - 16/03/2009 - 13:04 WIB

LHOKSEUMAWE, acehkita.com. Stempel yang diduga milik Kerajaan Samudera Pasai ditemukan di pematang tambak di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Cap kerajaan itu diyakini milik Sultan Muhammad al Malik az Zhahir, yang wafat di tahun 726 Hijriyah (1326 Masehi).

Stempel Kerajaan Samudra Pasai yang digunakan pada awal abad IX Hijriah. Stempel berusia 683 tahun ditemukan warga di areal pertambakan di Desa Kuta Krueng. (Dok. Taqiyuddin Muhammad)

Stempel Kerajaan Samudra Pasai yang digunakan pada awal abad IX Hijriah. Stempel berusia 683 tahun ditemukan warga di areal pertambakan di Desa Kuta Krueng. (Dok. Taqiyuddin Muhammad)

Cap kerajaan itu ditemukan di tambak yang tak jauh dari kompleks makam Abdullah bin Muhammad, seorang keturunan Khalifah Abbasiah, al Mustanshir Billah. “Cap ini kita yakini milik Sultan Muhammad al Malik az Zhahir, raja Samudera Pasai setelah Malik ash Shahih,” kata Teungku Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah kebudayaan Islam dalam konferensi pers di Lhokseumawe, Senin (16/3).

Taqiyuddin memperkirakan stempel itu telah berusia 683 tahun. “Stempel kerajaan Islam tertua yang pernah ditemukan di nusantara,” kata dia.

Benda berukuran 2 x 1 cm dengan gagang yang telah patah itu ditemukan Erwin, 18 tahun, warga Kuta Krueng, belum lama ini. Stempel itu beratnya tak sampai satu miligram, terbuat dari bahan sejenis tanduk hewan. Taqiyuddin memperkirakan stempel itu dipergunakan sampai dengan pemerintahan Sultan Zainal Abidin bin Ahmad di awal abad IX H.

Di stempel terdapat kalimat “Mamlakah Muhammad” yaitu Kerajaan Muhammad. Ditulis dalam kaligrafi Khufi. “Lazim digunakan sejak abad I sampai V hijriah,” jelasnya.Tapi kaligrafi khufi, juga masih digunakan hingga abad VIII hijriah.

Taqiyuddin menghimbau pemerintah tidak mengusik kawasan heritage Samudra Pasai seperti membangun monumen di areal komplek pemakaman Al-Malik Ash-Shalih, di Desa Beuringen Kecamatan Samudra. Sebab, diyakini masih banyak cagar budaya. “Kita berkewajiban menyelamatkan apa yang masih tersisa dari Samudra Pasai,” katanya. [Darma]


Akses ACEHKITA.COM versi mobile melalui telepon selular, iPhone, BlackBerry, Android, dan tablet Anda di alamat: m.acehkita.com


Share on Tumblr

Slashdot! Netscape! Blinklist! Ma.gnolia! Squidoo! SphereIt! SpURL

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

  1. abi Hagu Teungoh - April 6th, 2009 - 20:23

    Masya Allah semoga Tgk. Taqiyuddin mendapatkan segala kemudahan dari Allah SWT untuk menguak sejarah Aceh sebenarnya…Aminn….

  2. dedy - February 7th, 2010 - 10:03

    amin…
    saya setuju, mudah2han banyk cagar budaya yg kt miliki slama ini dapat perhatian lebh,
    padahal kita tau bahwa sejarah merupakan jati dir bangsa yg tdk blh di musnahkan bahkan hanya sekedar mengabaikan……
    smg guru besar kt, Dok Taqiyuddin muhammad di mudahkan langkah’a oleh ALLAH SWT, dlm mengembangkan dan melestarikan sejarah kita..

Posting Komentar Anda

Nama
*)
eMail
*)
Website
Komentar


 
Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Kami berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.