Connect with us

Berpacu Dalam Mutasi

KOLOM KUPI SANGER

Berpacu Dalam Mutasi

Kemajemukan suatu warung kopi (Warkop) dinilai dari siapa pembeli atau pengunjungnya. Warkop sederhana milik Cek Pan boleh dikatakan sebagai warkop yang memiliki indikasi itu dan juga mengglobal.

Bukan pemandangan aneh melihat orang asing alias bule, baik expat atau pekerja kemanusiaan di Aceh maupun turis asing dari berbagai negara dan benua. Pagi itu, dua orang bule yang sudah mahir berbahasa Indonesia mengawali paginya dengan menikmati kopi Cek Pan.

Mike (bacanya Maik) warga negara Amerika Serikat dan John (bacanya Jon juga) berkebangsaan Inggris adalah dua staf NGO internasional yang sudah lima tahun lebih bekerja di Indonesia dan dalam kurun waktu satu tahun ini bertugas di Aceh.

Sama seperti orang Aceh yang memiliki hobi ngobrol di keudee kupi, mereka juga membahas hal remeh-temeh hingga membanggakan kehebatan negaranya masing-masing.

Saya yang kenal baik keduanya, karena pernah bekerja di kantor yang sama. Saya ikut nimbrung, duduk bersama satu meja. Cek Pan sebagai pemilik warkop yang ramah, sering menyapa pelanggannya bahkan terlibat dalam percakapan, juga ikut dalam forum cang panah itu sejenak.

Dengan logat Inggris masih kental, si Mike yang juga seorang dokter mulai sesumbar.

“Pemerintah di tempat saya tuh hebat. Baru satu bulan saya jalan-jalan ke luar negeri, begitu pulang ke Amerika, eeh.. di depan apartemen saya sudah ada rumah sakit baru, belasan tingkat. Luar biasa pembangunannya.”

John tak mau kalah, setelah meneguk kopi, ia juga mencoba pegang kendali diskusi.

“Wah, itu belum seberapa dibandingkan pemerintah di tempat saya. Saya, seminggu aja keluar dari Inggris, begitu pulang, udah ada jalan tol baru. Cuma seminggu lho.”

Nyan cap… Hebaaat.” Walaupun agak mustahil, tapi saya tetap memberikan jempol kepada kedua orang itu.

Cek Pan, sebagai salah seorang warga dari bansa teuleubeh ban sigom donya, tak mau kalah. “Nasionalismenya” terusik.

“Orang kami jauuuh lebih hebat. Hari Kamis kemarin, pemerintah kami baru saja melantik pejabat baru di pemerintahan, eeh… hari Jumatnya, puluhan pejabat diganti lagi. Tiap hari gonta-ganti pejabat, kayak minum obat.”

Kedua bule itu heran, bengong, terlihat seperti orang-orang bego.

How come, kok bisa?”

Sudah menjadi pengetahuan umum, administrasi pemerintahan ala gubernur Zaini Abdullah doyan melakukan gonta-ganti pejabat setingkat kepala badan atau kepala dinas. Baru beberapa bulan menjabat satu posisi, aparatur negara itu harus pasrah dirotasi atau dimutasi.

Masalahnya adalah publik tidak tahu pasti apa alasan pemimpin yang kerap disapa Aby Doto itu doyan gonta-ganti posisi. Indikator dan pengukuran kinerjanya tidak jelas. Kita tidak tahu mengapa, misalnya pejabat A, menjabat posisi B, belum lagi latar belakang pendidikan dan pengalaman yang tidak berkorelasi, tidak nyambung.

“Saya heran dan cuma mau nanya, pemimpin kita itu ‘sekolah’ dimana ya?”

Karena sering dimutasi, pejabat tak sempat lagi berfikir panjang dan serius untuk kepentingan rakyat. Alhasil, yang dilakukannya adalah bagaimana cara bisa menyelamatkan diri, jika perlu dengan cara jilat sana jilat sini. Jikapun tak selamat, setidaknya sempat menikmati fasilitas dan ‘meraup’ uang rakyat. Mungkin sama seperti terpidana hukuman mati, yang menanti eksekusi. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa, menunggu kapan saatnya tiba.

Sementara itu, paska-pilkada di Aceh ada banyak calon pemimpin daerah yang berhasil mengalahkan petahana, termasuk di level provinsi, gubernur. Masalahnya adalah pemimpin yang kalah itu terlihat semakin panik menyikapi kekalahannya dan terlihat semakin asal dan “ugal-ugalan”. Kabar tentang mutasi juga sempat dikomentari sebagai kabar angin atau isu yang tidak benar.

“Kemarin katanya kabar angin, kok sekarang terbukti. Udah masuk angin mungkin, ya.”

Saya tergelak mendengar statement Cek Pan, sementara dua bule itu geleng-geleng kepala.

“Saat ini pemerintah kita tidak lagi berpacu dalam prestasi. Tak terdengar lagi realisasi visi dan misi yang dulu diumbar dalam bentuk janji. Yang terlihat hanya berpacu dalam mutasi.”

Seharusnya kita bisa membedakan mana yang patut diganti, apakah aparatur pelaksananya atau pemimpinnya.

Contoh yang dapat menjadi pembelajaran adalah dalam dunia sepak bola. Jika seorang pelatih terlalu sering melakukan rotasi dan gonta-ganti pemain, sementara klub tetap kalah, maka yang menjadi masalah bisa jadi bukan pemainnya, namun pelatih itu sendiri. Biasanya pelatih yang klub asuhannya sering menderita kalah, oleh karena tekanan fans atau secara gentleman, langsung ambil sikap mundur diri. Atau, siap-siap dipecat.

“Artinya, seharusnya dari dulu-dulu kita sudah pecat “pelatih klub Aceh” ya?”

Saya cuma tersenyum.

“Seharusnya, gubernur sekarang serius bekerja dalam mempersiapkan proses peralihan pemerintahan dengan baik dan mulus. Beberapa bulan lagi beliau tidak lagi gubernur. Seharusnya beliau berfikir untuk bisa husnul khatimah dalam pemerintahan Aceh periode ini.”

Mike dan John sedari tadi lebih sering mengambil posisi sebagai penyimak. Namun, Mike masih ingat dengan diskusi awal tadi tentang kehebatan masing-masing negara, masih ada ganjalan di benaknya. Ia menutup diskusi warkop dengan pernyataan menarik.

“Sehebat-hebatnya orang Inggris, tapi jauh lebih hebat orang Amerika. Buktinya, semua orang Amerika bisa berbahasa Inggris, sedangkan orang Inggris belum tentu bisa bahasa Amerika.”

Kami tergelak bersama, lalu menyeruput kopi yang makin nikmat pada tetes-tetes terakhir.

*Banda Aceh, 11 Maret 2017

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top