Connect with us

Bersuka Cita Ketika Puasa

KOLOM KUPI SANGER

Bersuka Cita Ketika Puasa

Salah satu tanda-tanda sederhana menjelang bulan puasa adalah makin maraknya iklan produk-produk konsumsi seperti makanan ringan, sirup, biskuit hingga obat-obatan pereda sakit perut atau masuk angin. Bahkan minuman bersoda yang sebenarnya tidak dianjurkan bagi perut orang berpuasa karena berkontribusi dalam menciptakan “angin” juga ikut meramaikan bulan suci umat muslim ini. Jauh-jauh hari perusahaan-perusahan besar tersebut telah merancang dalam dokumen agenda strategi pemasarannya.

Untuk jenis warung kopi seperti Warkop Cek Pan, bulan puasa artinya menyesuaikan jadwal operasional warung dengan kondisi pelanggan yang sedang berpuasa, ditambah adanya peraturan daerah yang melarang warkop, café, rumah makan atau usaha sejenis pada waktu pagi hingga sore. Namanya bisnis, show must go on, warkop Cek Pan tetap patuh aturan dengan modifikasi sana-sini. Menjelang buka Warkop Cek Pan mulai beroperasi dengan menyediakan berbagai panganan berbuka. Kemudian tutup untuk shalat Magrib dan Isya plus tarawih, lalu buka lagi hingga dini hari.

Saya sempat bertemu Cek Pan di pasar saat ia membeli keperluan warung yang harus juga disesuaikan. Salah satunya ia harus memperbanyak pengadaan sirup manis rasa raspberry berlogo patung seorang wanita hadiah pemerintah Perancis kepada Amerika Serikat di akhir abad 19. Entah kenapa sejak dulu orang Aceh sangat setia dengan sirup merah ini di tengah gempuran beragam jenis merk sirup lainnya yang warnanya cukup beragam, ada kuning, hijau, biru atau ungu. Menurut cerita, saat didirikan pada tahun 1969 perusahaan sirup ini awalnya berdomisili di Aceh, namun akhirnya hengkang memilih kota Medan sebagai tempat produksinya. Sambil memegang sebotol sirup Cek Pan bilang.

“Salah satu ciri-ciri rumah orang Aceh adalah di dapurnya tersedia sirup ini, apalagi di bulan puasa dan hari raya.”

Saya pikir, Cek Pan cocok menjadi pakar bidang kuliner Aceh dan layak menjadi narasumber tentang disiplin ilmu ini. Karena selain sudah “khatam” tentang kopi, ia juga tahu selera minuman orang Aceh.

Sebagai salah satu menu minuman buka puasa, sirup merah ini biasanya tidak berdiri sendiri. Sebagian orang suka menambah cincaw berwarna hitam yang telah dipotong kecil-kecil, atau mentimun. Boleh juga sebagai campuran air kelapa muda, jangan lupakan es batu, sesuai selera.

Gawat. Melihat Cek Pan membeli beberapa lusin sirup merah itu ingatan saya mengembara kemana-mana, terutama pada produk akhir yang bakal tersedia di warungnya padahal saya sedang berpuasa.

Saya kembali ke tujuan utama puasa yaitu untuk menahan hawa nafsu agar menjadi orang yang bertaqwa. Bukan hanya menahan diri dari nafsu makan, minum, atau berhubungan antara suami-istri di siang hari, namun hawa nafsu lain seperti sifat berlebih-lebihan dan serakah yang bukan berlaku sepanjang hari, bukan hanya di waktu siang.

Terkadang logika kita manusia berbanding lurus dengan logika perusahaan, unit bisnis atau korporasi. Perusahaan-perusahaan yang menjual produk massa yang marak diiklankan saat bulan Ramadhan melihat puasa dengan “nafsu besar.” Mereka juga sangat bersuka cita menyambut satu bulan ini karena ada peluang emas dalam meningkatkan omset dan keuntungan. Biasanya perilaku konsumen makin “agresif” yang ditandai dengan tingginya intensitas pembelian suatu barang dan jasa. Perusahaan sadar betul akan hal ini. Mereka melihat puasa dengan “nafsu besar,” yaitu nafsu untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Sementara kita seyogyanya menahan nafsu.

Kalau mau boleh jujur, sebagian besar produk-produk yang disajikan dalam iklan-iklan tersebut bukanlah kebutuhan (need) utama kita, yang tanpa membelinya bisa bikin kita sakit atau mati. Iklan-iklan tersebut sangat ahli mentransformasikan keinginan (want) menjadi kebutuhan (need). Iklan-iklan berhasil memprovokasi pikiran kita bahwa memakai suatu produk bisa menjadikan kita terlihat menjadi orang yang lebih hebat atau lebih percaya diri. Menjadi orang hebat atau lebih cantik yang dicitrakan oleh para pengiklan melalui representasi para selebriti dan tokoh sebagai bintang iklan. Bayangkan selama sebulan ini kita akan dicekoki informasi yang seakan-akan berkata.

“Kalau mau bagus, ya, beli produk ini.” Atau “Jika mau tampil cantik ketika berpuasa atau saat lebaran nanti, ya, belilah produk yang dia iklankan si selebriti.” Dan sebagainya, dan sebagainya.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, perkembangan produk dan layanan khusus muslim juga mengalami perkembangan sangat pesat. Dunia fashion, kuliner, travel, hingga buku dan film religi adalah industri yang melirik pasar umat muslim sebagai konsumen utamanya. Ada banyak contoh, Dian Pelangi mewakili dunia fashion adalah ikon busana muslimah trendi, buku dan film Ayat-Ayat Cinta, hingga layanan travel umrah yang semakin menjamur dan dinikmati pasar muslim kelas menengah. Umat muslim Indonesia sebagian besar adalah sasaran “tembak” yang menguntungkan bagi dunia bisnis. Perusahaan asing dan multinasional juga ikut masuk ke kancah ini, bahkan mereka sudah bergerak selangkah di depan. Salah satu buktinya, lihat saja ada produk shampo yang diperuntukkan kepada wanita berjilbab.

Sementara, Warkop Cek Pan yang jauh dari kategori bisnis berskala besar atau nasional harus pandai-pandai mencari celah di tengah hiruk-pikuk ini. Walau tak memiliki target yang muluk-muluk, karena targetnya hanya bisa tetap bertahan dan mencari profit ala kadarnya agar bisa merayakan lebaran pasca puasa. Ia hanya berniat supaya bisa membeli pakaian baru buat keluarganya.

Nyang penteng, na sep peng untuk bloe bajee baroe ke aneuk-aneuk lon. Juga bisa beli kue-kue untuk hari raya nanti.”

Cek Pan punya mimpi sederhana dalam bisnisnya. Ia tak pernah bermimpi meraup untung milyaran seperti perusahaan-perusahaan besar tempat ia membeli segala kebutuhan untuk kemudian diperdagangkan di warung kopinya.[]

Fahmi Yunus adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, peneliti pada ICAIOS dan CENTRIEFP, Banda Aceh. E-mail: fahmiyunus@gmail.com

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top