BMKG: Curah Hujan Meningkat, Waspada Banjir Bandang

0
809
Ibnu GP/ACEHKITA.COM

JAKARTA | ACEHKITA.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi terjadinya banjir bandang di sejumlah wilayah di Indonesia menyusul semakin meningkatnya curah hujan. Wilayah rawan banjir bandang untuk periode satu minggu ke depan termasuk Aceh, kemudian Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

“Wilayah tersebut rentan karena berada di sekitar zona tektonik aktif yaitu di kaki perbukitan struktural yang curam dn berbentuk memanjang,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawari dalam keterangan pers tertulis, Senin (15/10).

Dwikorita menerangkan, secara keilmuan banjir bandang dikontrol oleh tiga kondisi utama. Pertama, kondisi geologi yang terjadi pada daerah hulu dari sungai-sungai yang mengalir di zona pegunungan dengan tektonik aktif, berkaitan dengan kondisi patahan aktif dan kekar-kekar yang membentuk pegunungan dan lembah-lembah sungai.

Kedua, kondisi seismisitas atau kegempaan dengan kekuatan mulai dari Magnitudo 2.5 hingga 4. Ketiga adalah adanya curah hujan ekstrem yg memicu terjadinya banjir bandang.

“Ketiga kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya longsor-longsor atau runtuhan batuan pada lereng dan lembah sungai pegunungan atau perbukitan tektonik aktif di bagian hulu,” imbuhnya.

Endapan longsor tersebut, tambah Dwikorita, terakumulasi di dalam lembah-lembah sungai yang akhirnya membendung aliran sungai dari arah hulu. Pada saat terjadi hujan ekstrem, kata dia, endapan longsor tersebut akan terdesak atau tertekan sehingga jebol dan membentuk aliran tanah pekat bercampur air sungai yang meluncur dengan kecepatan tinggi.

“Aliran inilah yang disebut dengan banjir bandang. Jangkauan aliran banjir bandang dapat mencapai beberapa kilometer dari arah hulu,” tuturnya.

Terkait hal tersebut, BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir bandang. Terutama mereka yang bertempat tinggal di sepanjang aliran sungai.

Menurut Dwikorita, material yang dibawa oleh banjir bandang bukan hanya berupa tanah dan bebatuan namun juga pepohonan.

Sejumlah tanda-tanda, lanjut Dwikorit, bisa menjadi alarm peringatan dini terjadinya banjir bandang. Di antaranya pertama, air sungai yang tiba-tiba berwarna keruh atau mengalir bersama lumpur, pasir, dan bahkan disertai ranting-ranting kayu. Kedua, kadang disertai kenaikan muka air sungai sekitar 10-20 centimeter.

Dan ketiga, cuaca di pegunungan atau perbukitan hulu sungai terlihat mendung atau berawan tebal.

Lebih lanjut dia menyebutkan apa yang harus dilakukan untuk antisipasi terjadinya banjir bandang: pertama, segera tinggalkan lembah atau bantaran sungai bila terlihat tanda-tanda/gejala seperti tiga poin di atas.

Kedua, perlu dilakukan inspeksi di hulu sungai, untuk melacak adanya endapan-emdapat longsor di hulu sungai.

“Endapan tersebut perlu segera ditangani agar tidak terakumulasi membendung sungai dan akhirnya jebol meluncur ke bawah saat hujan ekstrem terjadi,” demikian Dwikorita.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.