Connect with us

Bonus Demografi & Dana Otsus

Kolom Fakhrurradzie Gade

Bonus Demografi & Dana Otsus

Bonus Demografi & Dana Otsus

Saiful Mahdi*

Banda Aceh dan Aceh Barat adalah dua wilayah di Aceh yang telah memasuki periode “bonus demografi”. Aceh dan Indonesia secara umum akan memasuki periode ini pada 2025-2030. Bonus Demografi adalah keadaan dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) di suatu wilayah lebih besar dari penduduk usia 0-14 dan 65 tahun ke atas.

Karena adanya bonus demografi ini, banyak ahli yang memperkirakan Indonesia akan mempunyai “generasi emas” atau “golden generation” pada 2045, saat kita merayakan kemerdekaan yang ke-100 negeri kita ini. Salah satu dampak jika kita bisa mencetak generasi emas ini adalah masuknya Indonesia menjadi salah satu dari anggota G-8, saat ekonomi Indonesia diperkirakan menjadi salah satu dari 8 ekonomi terbesar di dunia.

Namun banyak kita yang terbuai dengan kata “bonus” itu, seolah usia produktif menjamin produktivitas. Bagaimana jika mereka yang dalam usia produktif itu rendah pendidikannya, buruk kesehatannya, belum mandiri ekonominya? Di Aceh, buaian itu lebih besar, lebih membuai, karena adanya dana otonomi khusus hingga 2025-2027.

Bonus Demografi

Prof. Em. Dr. Subroto, mantan menteri energi dan Ketua OPEC saat Indonesia masih kaya produksi minyak dan gas, dalam Rakernas Koalisi Indonesia untuk Pembangunan dan Kependudukan (Koalisi Kependudukan, KK) di Jakarta, 17-19 Mei 2017, menyatakan bahwa syarat Indonesia bisa masuk G-8 salah satunya adalah jika Indonesia dapat memanfaatkan “bonus demografi”. Itu artinya, jumlah manusia usia produktif di Indonesia bukan hanya besar dalam jumlah tapi juga tinggi dalam kualitas.

Jika SDM Indonesia yang berusia produktif berkualitas baik, maka kelompok ini akan menyumbang pada membesarnya jumlah dan membaiknya kualitas “kelas menengah” Indonesia. Kelas menengah yang berkualitas, menurut sejumlah ahli, adalah syarat maju dan berkembangnya sebuah bangsa, termasuk membaiknya iklim politik dan demokrasi.

Sebaliknya, jumlah pemuda usia produktif  yang besar tapi tidak disertai kualitas yang baik, justru dapat menjadi masalah dan beban pembangunan. Secara ekonomi mereka akan tergilas persaingan yang makin luas dengan berlakunya pasar bebas ASEAN, misalnya. Secara sosial, mereka bisa menjadi penyebab berbagai masalah sosial-kemasyarakat karena pengangguran yang meningkat, yang seringkali disertai meningkatnya penyebaran penyakit, kriminalitas, dan masalah susila.

Secara politis, barisan mereka dari usia produktif tapi miskin kualitas akan menjadikan dunia politik kita makin hiruk-pikuk tapi miskin substansi dan visi. Alih-alih menghasilkan politisi berkelas negarawan, dari kelompok ini akan terus lahir para politisi transaksional yang miskin imajinasi. Bagi mereka, politik yang seharusnya menjadi media untuk memperjuangkan dan memajukan etika justru sering menjadi ajang berbuat durjana: korupsi, kolusi, dan nepotisme hingga kasus asusila. Mereka bisa saja berkualifikasi pendidikan tinggi, tapi ijazah nya tidak mencerminkan keterdidikan apalagi kompetensi.

Data Otsus Aceh

Selain Banda Aceh dan Aceh Barat, seluruh Aceh juga akan mengalami “bonus demografi” pada periode 2025-2030 nanti. Namun belajar dari dua wilayah yang telah mengalami bonus demografi itu, masih banyak tantangan yang menghadang dalam usaha peningkatan kualitas SDM di Aceh.

Tingkat pengangguran di Banda Aceh dan Aceh Barat masih memprihatinkan dan terus meningkat. Lapangan kerja masih sangat terbatas. Mereka yang berpendidikan tinggi bisa jadi gengsi untuk pulang kampung setelah menyelesaikan pendidikan tingginya, tapi juga banyak yang belum siap untuk berkompetisi ke luar negeri. Akibatnya, wilayah urban di Aceh akan terus menanggung beban beragam masalah kependudukan: kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kemacetan, kekumuhan, dan layanan publik yang makin mahal dan memburuk.

Masalah kependudukan yang terlihat berserakan dan sering kita abaikan dapat menjadi masalah besar hingga menentukan eksistensi bangsa jika tidak ditangani secara serius. Fenomena yang terjadi pada masyarakat Indonesia belakangan ini adalah bukti. Masalah ketidakadilan ekonomi dengan mudah membuka kotak pandora perbedaan SARA, suku-agama-ras-dan-antar-golongan. Distribusi manfaat ekonomi dan pembangunan yang bertumpuk tidak merata begitu mudah disulut menjadi masalah SARA.

Aceh bisa saja terlihat “tidak punya masalah kependudukan” selama ini. Dengan perdamaian pasca MoU Helsinki yang masih bertahan, kita memang pantas mensyukuri keadaan di Aceh saat ini. Tapi bisa jadi ini hanya sementara, bahkan bukan berarti tidak ada masalah. Masalah kependudukan memang umumnya seperti bom waktu. Dia tak muncul serta-merta, tapi berproses cukup lama dalam senyap untuk sewaktu-waktu bisa meledak di masa depan.

Bisa juga masalah kependudukan Aceh tidak terlihat karena keadaan yang ditopang oleh Dana Otsus yang melimpah. Namun ini juga bisa berarti bahwa kita sedang duduk di atas “bom waktu” yang jauh lebih besar dari wilayah lain. Bom waktu yang diperkirakan akan meledak pasca habisnya Dana Otsus dan dana bagi hasil minyak gas khusus untuk Aceh.

Sangking besarnya, sehingga “bom waktu” itu  bisa mengubah jalan masa depan Aceh dan Bangsa Indonesia, termasuk ancaman konflik dan disintegrasi seperti yang mengemuka selama ini.

Karena itulah, penduduk secara umum dan kualitas SDM khususnya adalah kunci!

*Saiful Mahdi, S.Si., M.Sc., Ph.D., Ketua Koalisi Kependudukan (KK) Aceh; Ketua Program Studi Statistika, FMIPA Unsyiah; Isi tulisan adalah pandangan pribadi; Menulis untuk “Kolom Fakhrurradzie Gade” di AcehKita.Com setiap Kamis. Email: saiful.mahdi@fmipa.unsyiah.ac.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Sepatu Pribumi

    By

    Sepatu Pribumi Saiful Mahdi* Berada di lingkungan PNS, baik di kampus tempat saya bekerja maupun di...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Pembangunan sektoral yang memiskinkan

    By

    Pembangunan sektoral yang memiskinkan Saiful Mahdi* Banyak ahli, terutama ekonom, bicara tentang angka-angka kemiskinan. Tapi masalah...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Merokok Haram! Titik!

    By

    Merokok Haram! Titik! Saiful Mahdi* Saya termasuk yan paling senang dengan perhatian pada masalah rokok dan...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Matematika & Pendidikan Karakter

    By

    Matematika & Pendidikan Karakter Saiful Mahdi*   Seorang professor bidang Fisika yang cukup terkenal menyampaikan kegeramannya...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Iqra dan Media Sosial

    By

    Iqra dan Media Sosial Saiful Mahdi* Belakangan, makin banyak teman yang memutuskan untuk berhenti membuka aplikasi...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Singklet Gaki

    By

    Singklet Gaki Saiful Mahdi* Sejak menjelang pelantikan Gubernur/Kepala Pemerintahan  Aceh yang baru, beredar luas di berbagai...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (3)

    By

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (3) Saiful Mahdi* Tahun kedua di US, Ramadhan dan Idul Fitri...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (2)

    By

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (2) Saiful Mahdi* Hingga saat ini kami masih suka terharu dalam...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (1)

    By

    Setiap menjelang Idul Fitri, kita sering terkenang dengan Idul Fitri-Idul Fitri terindah dalam hidup kita. Selain...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Jak Meudagang

    By

    Jak Meudagang Saiful Mahdi* Sikap inklusif dan terbuka atau eksklusif dan tertutup adalah cara kita memandang...

To Top