Connect with us

Cara Kami Mendorong Perdamaian Aceh

Tulisan tangan harapan perdamaian dari Hamid Awaluddin. | Radzie/ACEHKITA.COM

Kabar dari ACEHKITA

Cara Kami Mendorong Perdamaian Aceh

19 JULI 2005, Acehkita genap berusia dua tahun. Mereka memperingati milad Yayasan Acehkita di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada 26 Juli 2005. Acehkita menggunakan momentum itu sebagai tafakur mengenang Aceh yang lama larut dalam kepedihan.

Dalam perayaan ulang tahun tersebut, acehkita menyandingkanya dengan misi perdamaian. Klimaks acara itu justru belangsung di Aceh, dengan menampilkan pergelaran marathon seni Rapa-i Pase, 7 sampai 8 Agustus 2005. Pergelaran ini mengambil rute Banda Aceh hingga Peureulak, Aceh Timur. (Surat Redaksi majalah Acehkita edisi September 2005).

Pasca tsunami, pemerintah Indonesia dan GAM kembali melakukan perundingan yang berjalan lima ronde, antara Januari hingga Agustus 2005. Dalam masa perundingan itu, acehkita gencar menyuarakan perdamaian.

Upaya Acehkita berkontribusi agar kekerasan konflik di Aceh sirna telah dilakukan baik lewat informasi teks maupun foto. Namun, menurut Risman, seperti masih ada yang kurang. Perlu adanya strategi ekstra untuk mendorong nyatanya sebuah perdamaian. Dan gagasan itu muncul dan baru terwujud menjelang tahun ke dua acehkita berdiri.

Risman tak ingat kapan tepatnya bertemu dengan Ayah Panton, Syamsudin A djalil. Mereka berbicara panjang lebar mengenai kondisi Aceh. Pesan perdamaian lewat teknik-teknik lain, menjadi wacana hari itu.

Bertolak dari sanalah, muncul sebuah ide mengelar kegiatan kebudayaan di Aceh. Ini dimaksudkan agar pesan perdamaian tetap tersalurkan lewat kesenian. Tema besarnya “Peace message of Rapa-i.”

rapai-pasee1

Dok. acehkita.com

Risman membayangkan aksi kebudayaan itu bak film khungfu China dengan alat musik tradisional seperti gitar. Hanya dengan mendengar petikan dawainya saja orang dapat terbunuh seketika. Tapi berbeda dengan Rapa-i. Tabuhan gendangnya ditujukan untuk menyentuh hati setiap pendengar.

Mengapa rapa-i pasee? Seni tabuhan gendang besar itu, kaya pesan sejak lama. “Nyoe ka di meusu rapai uroh, lagem ji piyoh ji meusu bede (kalau rapa-i uroh sudah berbunyi, suara senjata sudahlah berhenti)” begitulah petuahnya.

Pergelaran rapa-i pasee pun digelar secara meraton dari Banda Aceh hingga Paureulak, seminggu menjelang penanda-tanganan damia. Tabuhan gendang bertalu-talu membahana di sepanjang jalan Banda Aceh hingga Peureulak. Ratusan ribu pasang mata menyaksikan adegan kolosal yang tidak pernah terjadi di Aceh sebelumnya. Sedikitnya 288 seniman ambil bagian, 14 truk, 20 bus, dan belasan mobil turut menyemarakkan adegan itu. Mereka adalah iring-iringan kendaraan yang mengangkut para seniman. Dari punggung truk, suara gendang saling bersahutan meneriakkan perdamaian. Inilah seni kolosal sebagai simbol kebahagiaan rakyat lama hidup penuh kepedihan.

Farid_Gaban_2

Farid Gaban ditangkap Polsek Menteng saat demo antiperang. | Yuswardi/Dok. ACEHKITA.COM

Ketua MPR kala itu, Hidayat Nurwahid tampil sebagai pembuka acara, bersama Gubernur Aceh, Azwar Abubakar. Damai kemudian hadir tepat pada 15 Agustus 2005. Pemerintah Indonesia dan Gerekan Aceh Merdeka (GAM) menanda-tangani nota kesepahaman yang kerap disebut Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, Filandia.

Majalah Acehkita menurunkan laporan tentang itu dengan judul berita ‘Genderang Damai dengan Rapa-i’ Acehkita edisi September 2005. []

ADI WARSIDI | DESI BADRINA | TEUKU ARDIANSYAH (KAKI LANGIT)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Kabar dari ACEHKITA

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top