Berita

by -
0 275

KUALA LANGSA | ACEHKITA.COM — Pemerintah Indonesia mengalokasikan dana sebesar Rp2,3 miliar untuk menangani 1.700 imigran Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di Aceh dalam sebulan terakhir ini.

Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa menyatakan, penangangan imigran Bangladesh dan Rohingya tak hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah Aceh. Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial mengalokasikan Rp2,3 miliar untuk menangani para imigran.

by -
0 401
KUALA LANGSA | ACEHKITA.COM — Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya memberikan penghargaan kepada nelayan Aceh yang telah menyelamatkan ribuan imigran Rohingya dan Bangladesh.

Penghargaan itu diserahkan Aliansi bersama Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa kepada perwakilan nelayan di penampungan imigran Kuala Langsa, Ahad (24/5/2015).

by -
0 640
Reza Juanda/ACEHKITA.COM
LANGSA | ACEHKITA.COM — Polisi mengklaim terlibat baku tembak dengan kelompok Din Minimi di Desa Blang Malu, Kecamatan Mutiara Timur, Ahad (24/5/2015) dinihari. Selain menangkap dua orang, seorang lainnya tewas.

Informasi yang dihimpun acehkita.com, tim gabungan Polda Aceh, Brimob, dan Polres Pidie mengejar sebuah angkutan umum jenis labi-labi dengan nomor polisi BL 1100 PB. Angkot itu melaju dari arah Keumala menuju Beureunuen.

by -
0 298
Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa bersama Manu Abudussalam membaca Al-Quran di Kuala Langsa, Ahad (24/5/2015) | FOTO: Radzie/ACEHKITA.COM
KUALA LANGSA | ACEHKITA.COM — Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa mengunjungi kamp penampungan sementara imigran Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di Aceh.

Penampungan Kuala Langsa menjadi lokasi pertama yang dikunjungi Menteri Khofifah dalam lawatannya ke Langsa dan Aceh Timur. Tak hanya Khofifah, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan sejumlah anggota DPR juga mengunjungi etnis Rohingya dan Bangladesh di Kuala Langsa.

by -
0 370
Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa berdialog dengan imigran Rohingya di Kuala Langsa, Ahad (24/5/2015). | FOTO: Radzie/ACEHKITA.COM
KUALA LANGSA | ACEHKITA.COM — Pemerintah Indonesia akan segera memulangkan ratusan imigran asal Bangladesh yang terdampar di Aceh dalam sebulan terakhir ini. Sementara Pemerintah akan melakukan resettlement untuk imigran etnis Rohingya, Myanmar.

Hal itu ditegaskan Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa di sela-sela mengunjungi kamp penampungan sementara ratusan imigran Bangladesh dan Rohingya di Kuala Langsa, Kota Langsa, Ahad (24/5/2015).

by -
0 277
Radzie/ACEHKITA.COM
LANGSA | ACEHKITA.COM — Lebih 20-an imigran masih mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Langsa akibat didera pelbagai penyakit.

Informasi yang diperoleh acehkita.com, penyakit yang diderita imigran berupa lambung akut, diare, demam, infeksi, dehidrasi, kekurangan cairan.

by -
0 606
Radzie/ACEHKITA.COM
BAYEUN | ACEHKITA.COM — Sebanyak 433 imigran Rohingya dan Bangladesh menempati penampungan sementara di bekas pabrik kertas di Desa Bayeun, Kecamatan Ranto Seulamat, Aceh Timur. Pada hari pertama di sana, imigran mendatangi posko kesehatan dan mengeluhkan pelbagai penyakit yang dideritanya.

Pantauan acehkita.com, puluhan imigran mendatangi tenda posko kesehatan. Mereka menyampaikan keluhan sakit perut, nyeri, tegang otot, hingga diare.

by -
0 2299
Reza Juanda/ACEHKITA.COM

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Tiga pria yang diklaim sebagai anggota kelompok Din Minimi tewas dalam baku tembak dengan pasukan TNI/Polri di Kabupaten Pidie, Rabu tengah malam.

Kapolres Pidie AKBP Muhajir mengatakan baku tembak antara TNI/Polri dan belasan kelompok bersenjata terjadi di Desa Gintong, Kecamatan Grong-grong, Rabu tengah malam sekitar pukul 23:30 Wib.

“TNI/Polri masih melakukan pengejaran sisa-sisa anggota kelompok bersenjata yang kabur saat baku tembak. Jumlah mereka diperkirakan belasan orang,” katanya, saat dihubungi melalui telepon dari Banda Aceh, Kamis pagi.

Dari para korban tewas, aparat menyita sepucuk AK-56 popor lipat dan lebih 100 butir amunisi AK dan peluru GLM.

Jenazah ketiga korban tewas telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Tgk Chik di Tiro di Sigli. Identitas para korban adalah Ibrahim Yusuf, 42, Subki, 32 dan Yusliadi alias Mae Pong, 27.

Ibrahim adalah warga Kecamatan Delima, Pidie. Sedangkan, Subki merupakan penduduk Aceh Utara. Sementara itu, Yusliadi adalah warga Julok, Aceh Timur. Menurut informasi, keluarga sudah dihubungi untuk mengambil jenazah mereka.

Jenazah Ibrahim dan Subki yang mengenakan baju loreng dan kaus hitam tergeletak di lokasi beberapa saat setelah baku tembak. Sedangkan, mayat Mae ditemukan dalam penyisiran lokasi, Kamis pagi.

Menurut sumber intelijen, baku senjata itu berawal dari informasi masyarakat yang melaporkan tentang kehadiran sekitar 15 orang kelompok bersenjata di Gintung, Rabu malam. Mereka berpakaian loreng dan hitam.

Pasukan TNI/Polri berkekuatan 25 personel segera menuju lokasi untuk menghadang jalur yang diperkirakan dilintasi kelompok bersenjata.

“Begitu tiba di kawasan rawa-rawa persimpangan Desa Gintung, aparat TNI/Polri melakukan pengendapan di lokasi,” jelas sumber intelijen yang menolak disebutkan namanya.

Sekitar pukul 23:30 Wib, kelompok bersenjata berkekuatan 15 pria melintasi jalan yang telah dikepung. Tiga pria berjalan di depan memakai senter sebagai penerang jalan sehingga terjadi baku tembak dengan TNI/Polri.[]

NH

by -
0 613

Sebanyak 433 manusia perahu yang terkatung-katung di  Selat Malaka, Rabu dinihari (20/5/2015), diselamatkan nelayan Aceh Timur. Para migran Rohingya, Myanmar, dan Bangladesh dibawa ke Kuala Geulumpang, Kecamatan Julok, Aceh Timur, dengan menggunakan sejumlah boat nelayan. Mereka terdampar di arah Utara, 37 mil dari bibir pantai Kuala Geulumpang.

by -
1 633
Jpeg

KEUDE BIREM | ACEHKITA.COM – Sebanyak 433 pengungsi asal Rohingya dan Bangladesh yang diselamatkan nelayan Julok dari perairan Selat Malaka tertahan di perbatasan antara Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa. Hingga berita ini diturunkan, mereka masih berada di Desa Keude Birem, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur.

Jurnalis acehkita.com di lokasi melaporkan bahwa rencananya Pemkab Aceh Timur akan menempatkan manusia perahu di Gedung SKB milik Aceh Timur yang terletak di Kota Langsa, tetapi iring-iringan kendaraan dilarang masuk ke Langsa.

Akibat dilarang masuk, belasan truk dan bus milik Pemkab dan polisi memumpuk di Keude Bireum, Beberapa mobil pengiring migran milik pejabat Aceh Timur juga tidak bisa melintas.

Tertahannya manusia perahu di Keude Birem menjadi tontonan warga sekitar. Ratusan warga, termasuk perempuan dan anak-anak berdiri di pinggir jalan. Beberapa dari warga ikut membantu memberikan makanan dan minuman kepada warga Rohingya dan Bangladesh.

Menurut sumber polisi, manusia perahu akan dibawa ke Gedung SKB Aceh Timur di Langsa padahal Pemkab Aceh Timur telah berjanji akan mengurus dan menyediakan semua kebutuhan para pengungsi.

Tetapi, pejabat Kota Langsa tetap melarang masih ke Langsa. Belum diketahui alasan Pemko Langsa melarang para pengungsi itu masuk ke kota itu. Sebelumnya sejak hari Jumat (15/5/2015), 700 lebih pengungsi Rohingya dan Bangladesh telah ditampung di Kuala Langsa.

Sumber polisi menyebutkan bahwa mereka sudah tertahan di perbatasan itu selama tiga jam lebih. Akibatnya terjadi kemacetan di jalan nasional tersebut.

Para pengungsi yang telah kelelahan saat diselamatkan terlihat kepanasan. Puluhan dari mereka turun dan truk dan bus. Mereka terlihat kebingungan karena tidak tahu apa terjadi sampai mereka tertahan di perbatasan Aceh Timur dan Langsa.

Beberapa petugas dari Pemkab Aceh Timur tampak mendata pengungsi di lokasi tersebut. Mereka mencatat nama pengungsi itu satu persatu, menanyakan umur dan asal negara. Kemudian, para pengungsi itu difoto.

Hingga berita ini diturunkan belum diketahui secara pasti kemana para pengungsi itu akan dibawa. Apakah dizinkan masuk ke Langsa atau kembali ke Aceh Timur. Proses negosiasi masih berlangsung.

Sebelumnya setelah mereka diselamatkan, para migran dibawa ke Polres Aceh Timur di ibukota Idi Rayeuk. Sekitar pukul 2:30 Wib, mereka diangkut dengan truk dan bus dari Polres Aceh Timur sampai akhirnya tertahan di perbatasan antara kedua daerah itu.[]

FG