<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ACEHKITA.COM : Aceh News Agency &#187; Berita</title>
	<atom:link href="http://www.acehkita.com/category/berita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.acehkita.com</link>
	<description>acehkita.com : Aceh News Agency</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 10:45:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Petani Nilam Tewas Diinjak Gajah</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/petani-nilam-tewas-diinjak-gajah/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/petani-nilam-tewas-diinjak-gajah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 10:45:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12519</guid>
		<description><![CDATA[BANDA ACEH &#124; ACEHKITA.COM &#8212; Seorang petani nilam di Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, tewas dengan tubuh mengenaskan, setelah diinjak gajah di kawasan Damar Buih, Desa Putoh, Jumat (30/7) sekitar pukul 3.00 WIB. Sementara seorang warga lainnya berhasil menyelamatkan diri dari amukan kawanan gajah tersebut.
Korban meninggal yaitu Salahuddin, warga Desa Alue Keujruen berusia 30 tahun. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDA ACEH | ACEHKITA.COM &#8212; Seorang petani nilam di Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, tewas dengan tubuh mengenaskan, setelah diinjak gajah di kawasan Damar Buih, Desa Putoh, Jumat (30/7) sekitar pukul 3.00 WIB. Sementara seorang warga lainnya berhasil menyelamatkan diri dari amukan kawanan gajah tersebut.<span id="more-12519"></span></p>
<p>Korban meninggal yaitu Salahuddin, warga Desa Alue Keujruen berusia 30 tahun. Malam naas itu, Salahuddin bersama Indra, temannya, berada di kebunnya di kawasan Damar Buih. Namun di sela-sela menjaga kebun dari gangguan babi-liar, Salahuddin dan Indra memancing ikan di sebuah sungai yang berjarak sekitar 50 meter dari kebun mereka.</p>
<p>Saat memancing itulah, Salahuddin dan Indra melihat kawanan gajah, yang berjumlah delapan ekor, mendekati mereka. Karena takut, dua warga ini lari tunggang-langgang. Naas, Salahuddin terjatuh, ketika seekor gajah mengejarnya. Dalam posisi terjatuh ini, gajah itu menginjak-injak tubuh Salahuddin.</p>
<p>&#8220;Badannya remuk-remuk. Pak Salahuddin meninggal di tempat,&#8221; kata Camat Kluet Tengah Muhammad Hasbi saat dihubungi melalui sambungan telepon selular, Jumat sore. </p>
<p>Hasbi menyebutkan, setelah insiden penyerangan gajah itu, warga tidak berani kembali ke kawasan Damar Buih untuk menggarap lahan perkebunan dan pertanian mereka. Sementara jasad Salahuddin baru dievakuasi warga pagi tadi.</p>
<p>&#8220;Kami mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati saat berada di kebun. Kami juga berharap agar pihak Badan Konservasi (Badan Konservasi Sumber Daya Alam Aceh) untuk bisa menghalau kawanan gajah ini,&#8221; ujar Hasbi.</p>
<p>Salahuddin, menurut Hasbi, merupakan korban meninggal pertama akibat konflik gajah dan manusia di Kecamatan Kluet Tengah. Pekan lalu, kawanan gajah sempat merusak rumah dan lahan pertanian milik warga di Desa Alue Keujreun. </p>
<p>&#8220;Masyarakat kita sering menerima gangguan gajah. Tapi baru Pak Salahuddin yang meninggal,&#8221; ujarnya. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/petani-nilam-tewas-diinjak-gajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengukur Komitmen Partai Politik terhadap Perdamaian: Survei</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/mengukur-komitmen-partai-politik-terhadap-perdamaian-survei/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/mengukur-komitmen-partai-politik-terhadap-perdamaian-survei/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 02:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12508</guid>
		<description><![CDATA[KESEPAKATAN damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), atau lebih dikenal sebagai MoU Helsinki, hampir berumur lima tahun, sejak kesepakatan itu ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Berakhirnya konflik di Aceh, bukan berarti menghapus total peluang terjadinya konflik kembali. Masih diperlukan komitmen semua pihak untuk proses penguatan perdamaian. Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)—sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KESEPAKATAN damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), atau lebih dikenal sebagai MoU Helsinki, hampir berumur lima tahun, sejak kesepakatan itu ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Berakhirnya konflik di Aceh, bukan berarti menghapus total peluang terjadinya konflik kembali. Masih diperlukan komitmen semua pihak untuk proses penguatan perdamaian. Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)—sebagai pilar penting dalam pemerintahan Aceh— yang terdiri dari partai politik (parpol) nasional dan lokal mempunyai tanggungjawab atas terwujudnya perdamaian Aceh yang berkelanjutan melalui kebijakan-kebijakan publik yang dihasilkan. Karena itu masyarakat perlu tahu komitmen parpol terhadap perdamaian, kesejahteraan dan keadilan di Aceh.</p>
<p>Melalui dukungan USAID dan IRD-SERASI Project, Social Institute for Community Development (SICD) Aceh bekerjasama dengan Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI) melakukan sebuah survei untuk mengetahui komitmen parpol-parpol di DPRA terhadap ketiadaan konflik dengan berbagai bentuk kekerasan. Survei ini juga mengidentifikasi komitmen parpol-parpol tersebut atas terwujudnya kesejahteraan dan keadilan di Aceh melalui lembaga DPRA yang tereformasi, transparan, dan mendorong adanya partisipasi publik.</p>
<p><strong>METODOLOGI SURVEI</strong><br />
Survei ini menggunakan pendekatan institusional terhadap 11 (sebelas) parpol di DPRA. Model pendekatan ini menjadikan hasil survei sebagai sikap resmi dari parpol yang bersangkutan. Sebelas responden—terdiri atas sebelas pemimpin parpol atau orang yang dimandatkan mewakili parpolnya—telah berpartisipasi penuh dalam survei yang dilakukan sepanjang bulan Maret – April 2010. Proses survei dilakukan secara langsung dengan interview (tatap muka) serta pengisian kuesioner oleh responden didampingi anggota tim peneliti untuk menjamin pemahaman yang tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Keabsahan sikap parpol ditunjukkan dari tandatangan responden dan pembubuhan stempel (cap) parpol pada lembar kuesioner.</p>
<p><strong>HASIL</strong><br />
• Komitmen parpol terhadap ketiadaan konflik dengan berbagai bentuk kekerasan di Aceh</p>
<p>Kesebelas parpol memiliki komitmen penuh atau 100 persen menjaga dan mendukung perdamaian dalam arti ketiadaan konflik dengan berbagai bentuk kekerasan. Seluruh parpol menyatakan menolak pihak manapun yang mengganggu perdamaian termasuk memberikan sanksi yang tegas terhadap anggota partai yang mengganggu perdamaian.</p>
<p>Komitmen ini dipertegas dengan keinginan parpol yang bersedia menyelesaikan setiap konflik secara damai bila muncul di kemudian hari. Selanjutnya, parpol juga berkomitmen penuh untuk melakukan kampanye perdamaian secara aktif, mengingat menjaga perdamaian bukan hanya tugas dari pihak keamanan dan eksekutif, tetapi juga kewajiban seluruh masyarakat Aceh guna menghadirkan perdamaian yang abadi. Komitmen penuh ini menjadi modal awal penguatan perdamaian di Aceh.</p>
<p>Untuk mengetahui hasil survei secara lengkap, silakan unduh dokumen ini: <a href='http://www.acehkita.com/wp-content/uploads/2010/07/Advetorial-SICD-Kamis-27-Juli.pdf'><strong>Advetorial SICD (Kamis 27 Juli)</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/mengukur-komitmen-partai-politik-terhadap-perdamaian-survei/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hotspot Internet Gratis di Taman Sari</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/hotspot-internet-gratis-di-taman-sari/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/hotspot-internet-gratis-di-taman-sari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 13:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12505</guid>
		<description><![CDATA[BANDA ACEH &#124; ACEHKITA.COM &#8212; Pemerintah Kota Banda Aceh bekerjasama dengan PT Telkom memasang hotspot gratis di Taman Sari, sehingga warga kota bisa tetap terhubung dengan dunia kendati sedang berlibur bersama keluarga atau kolega. 
Taman Sari disulap menjadi taman digital dilakukan berbarengan dengan peluncuran produk PT Telkom yang baru, yaitu Speedy Multispeed, Kamis (29/7) siang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDA ACEH | ACEHKITA.COM &#8212; Pemerintah Kota Banda Aceh bekerjasama dengan PT Telkom memasang hotspot gratis di Taman Sari, sehingga warga kota bisa tetap terhubung dengan dunia kendati sedang berlibur bersama keluarga atau kolega. <span id="more-12505"></span></p>
<p>Taman Sari disulap menjadi taman digital dilakukan berbarengan dengan peluncuran produk PT Telkom yang baru, yaitu Speedy Multispeed, Kamis (29/7) siang. Di taman yang terletak di tengah kota ini, PT Telkom memasang satu hotspot yang bisa diakses di areal itu.</p>
<p>Wakil Walikota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal mengatakan, pemasangan hotspot internet gratis di Taman Sari dilakukan untuk memberikan kemudahan warga Kota Banda Aceh dalam mengakses internet, selain untuk mengampanyekan internet sehat di Banda Aceh.</p>
<p>General Manajer Divisi Costumer Service Regional 1 Sumatera, Overlis mengatakan, masyarakat tidak perlu takut dalam mengakses internet di Taman Sari digital ini. &#8220;Ini bagian dari kampanye kami tentang internet sehat. Jadi, konten di sini sudah sehat dan aman,&#8221; kata Overlis. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/hotspot-internet-gratis-di-taman-sari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unsyiah Buka Prodi Teknik Informatika</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/unsyiah-buka-prodi-teknik-informatika/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/unsyiah-buka-prodi-teknik-informatika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 07:23:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12500</guid>
		<description><![CDATA[BANDA ACEH &#124; ACEHKITA.COM – Program studi di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh bertambah tahun ini. Rektor Unsyiah Darni M Daud mengungkapkan prodi strata 1 Teknik Informatika segera dibuka di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) mulai Juli 2010, dengan angkatan pertama dibatasi 50 orang.
“Pendaftarannya dibuka melalui jalur mandiri, rencananya kita ikut sertakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Program studi di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh bertambah tahun ini. Rektor Unsyiah Darni M Daud mengungkapkan prodi strata 1 Teknik Informatika segera dibuka di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) mulai Juli 2010, dengan angkatan pertama dibatasi 50 orang.<span id="more-12500"></span></p>
<p>“Pendaftarannya dibuka melalui jalur mandiri, rencananya kita ikut sertakan dalam SNMPTN, tapi izin baru keluar saat SNMPT digelar, makanya harus kita buka lewat jalur mandiri,” sebutnya kepada wartawan usai membuka Aceh IT Expo 2010 di Gedung AAC Dayan Dawood Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (17/7).</p>
<p>“Teknis dan tanggal pendaftarannya sedang dimatangkan, nanti akan diumumkan di media.”</p>
<p>Pihaknya juga masih mengkaji kemungkinan prodi baru itu dipindahkan ke Fakultas Teknik atau dipertahankan di FMIPA, bersama saudara tuanya, Prodi Diploma III Teknik Informatika.</p>
<p>Prodi ini dibuka karena kebutuhan sarjana Teknik Informatika ke depan dinilai pesat, seiring terus berkembangnya teknologi informasi.</p>
<p>Menurut Darni, ilmu berkaitan dengan teknologi informasi sangat dibutuhkan pasar sekarang dan akan datang, mengingat pesatnya perkembangan teknologi selama ini. “Orang selama ini hanya cenderung melihat Kedokteran yang paling potensial, padahal pengetahuan IT juga tidak kalah.”[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/unsyiah-buka-prodi-teknik-informatika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wow, 50 Ton Sampah Dijual ke Medan Tiap Hari</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/wow-50-ton-sampah-dijual-ke-medan-tiap-hari/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/wow-50-ton-sampah-dijual-ke-medan-tiap-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 17:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12495</guid>
		<description><![CDATA[BANDA ACEH &#124; ACEHKITA.COM – Banda Aceh memproduksi 150 ton sampah tiap hari dan sekitar 50 ton di antaranya saban hari diangkut ke Medan, Sumatera Utara, kata pejabat Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Banda Aceh, Jumat (16/7).
T. Iwan Kesuma, Kepala DKP Banda Aceh menyebutkan rata-rata sehari 650 meter kubik sampah atau setara 150 ton diproduksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Banda Aceh memproduksi 150 ton sampah tiap hari dan sekitar 50 ton di antaranya saban hari diangkut ke Medan, Sumatera Utara, kata pejabat Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Banda Aceh, Jumat (16/7).</p>
<p>T. Iwan Kesuma, Kepala DKP Banda Aceh menyebutkan rata-rata sehari 650 meter kubik sampah atau setara 150 ton diproduksi warga Ibukota Provinsi Aceh ini.</p>
<p>Dari jumlah itu, hanya sekitar 450 meter kubik yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kampung Jawa, selebihnya dimanfaatkan kembali oleh warga, termasuk 50 ton di antaranya dijual ke Medan.</p>
<p>“Sampah dibawa ke Medan itu seperti kardus, kaleng bekas,” urai Iwan.</p>
<p>Sampah diproduksi warga Banda Aceh selama ini kebanyakan jenis organis, sekitar 70 persen, selebihnya anorganik.</p>
<p>Sampah organik, kata Iwan, sangat besar manfaat kalau didaur ulang. “Dijadikan kompos, manfaatnya tidak hanya bias menyuburkan tanaman tapi juga bisa kita jual,” tuturnya.</p>
<p>Dia mengajak warga memanfaatkan sampah organik untuk kompos. Bahkan, pihaknya mengaku siap membelinya untuk digunakan pada tanaman di taman-taman kota. </p>
<p>Iwan juga mengimbau agar warga tak buang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan kantong plastik yang diakui sulit membusuk. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/wow-50-ton-sampah-dijual-ke-medan-tiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2001 Peserta SNMPTN Unsyiah Lulus</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/2001-peserta-snmptn-unsyiah-lulus/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/2001-peserta-snmptn-unsyiah-lulus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 16:57:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12493</guid>
		<description><![CDATA[BANDA ACEH &#124; ACEHKITA.COM – Dari 10.456 peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPT) 2010 di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, 2.001 di antaranya resmi dinyatakan lulus. 
“Peserta SNMPTN lulus sebanyak 2.001 orang,” kata Samsul Rizal, Ketua Penyelenggara SNMPTN 2010 Unsyiah kepada wartawan di Biro Rektorat Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Jumat (16/7).
Peserta lulus itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Dari 10.456 peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPT) 2010 di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, 2.001 di antaranya resmi dinyatakan lulus. </p>
<p>“Peserta SNMPTN lulus sebanyak 2.001 orang,” kata Samsul Rizal, Ketua Penyelenggara SNMPTN 2010 Unsyiah kepada wartawan di Biro Rektorat Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Jumat (16/7).</p>
<p>Peserta lulus itu diwajibkan mendaftar ulang pada 26-30 Juli nanti. </p>
<p>Peserta lulus akan mengisi bangku tersebar di Fakultas Teknik, Ekonomi, Hukum, Pertanian, Kedokteran, Fisipol, Kedokteran Hewan dan FKIP.</p>
<p>Samsul mengungkapkan dari jumlah peserta SNMPTN 2010 Unsyiah, sekitar 20 persen di antaranya dinyatakan salah mengisi biodata, sehingga lembaran jawaban mereka gugur dalam pemeriksaan.</p>
<p>Dari 367.909 peserta SNMPTN 2010 di seluruh Indonesia, hanya 88.401 orang dinyatakan lulus. Pengumuman kelulusan secara resmi dilansir secara serantak di 57 Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia 17 Juli, pukul 00.00, kata Samsul.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/2001-peserta-snmptn-unsyiah-lulus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemuda Aceh Barat Tewas Gantung Diri</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/pemuda-aceh-barat-tewas-gantung-diri/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/pemuda-aceh-barat-tewas-gantung-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 16:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12491</guid>
		<description><![CDATA[BANDA ACEH &#124; ACEHKITA.COM – Malangnya nasib Marsudi (26). Warga Seunagan, Aceh Barat itu ditemukan tewas tergantung di sebuah bengkel mobil di Jalan panglima Nyak Makam, Banda Aceh, Jumat (16/7) jelang magrib.
Korban yang pengelola bengkel itu ditemukan tewas tergantung di pintu kamar lantai dua bengkelnya dengan leher terlilit tali, lidah terjulur dan pergelangan tangan berluka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Malangnya nasib Marsudi (26). Warga Seunagan, Aceh Barat itu ditemukan tewas tergantung di sebuah bengkel mobil di Jalan panglima Nyak Makam, Banda Aceh, Jumat (16/7) jelang magrib.</p>
<p>Korban yang pengelola bengkel itu ditemukan tewas tergantung di pintu kamar lantai dua bengkelnya dengan leher terlilit tali, lidah terjulur dan pergelangan tangan berluka sayat diduga kuat karena bunuh diri.</p>
<p>Saksi mata menuturkan, saat kejadian bengkel milik seorang pengusaha asal Aceh di Medan itu kondisinya terbuka.</p>
<p>Korban mulanya ditemukan seorang warga yang hendak mengisi angin mobil di bengkel Sumatera Express itu. </p>
<p>“Dia kemudian memanggil-manggil orang di situ nggak ada yang jawab, akhirnya dia masuk kebelakang dan melihat korban udah tergantung. Kemudian dia keluar kasih tahu warga di sini,” kata Surya seorang saksi mata.</p>
<p>Sesaat kemudian polisi tiba di lokasi dan mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh untuk divisum.</p>
<p>Polisi masih menyelidiki motif dibalik meninggalnya korban.</p>
<p>Beberapa tetangga korban ditanyai acehkita.com menyebutkan, sehari-hari korban berlaku ramah dan tak terlihat seperti ada masalah. “Saya juga heran kenapa senekad itu dia,” kata seorang perempuan menolak menyebut namanya.</p>
<p>Peristiwa itu sempat menjadi perhatian sejumlah warga yang berbondong-bondong dating ke lokasi.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/pemuda-aceh-barat-tewas-gantung-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>725 Atlet Berlaga di Porda XI</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/725-atlet-berlaga-di-porda-xi/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/725-atlet-berlaga-di-porda-xi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 03:02:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12483</guid>
		<description><![CDATA[BIREUEN &#124; ACEHKITA.COM &#8212; Gubernur Aceh Irwandi Yusuf secara resmi membuka Pekan Olahraga Daerah ke-11 yang berlangsung selama sembilan hari di Stadion Cot Gapu, Bireuen, Kamis (15/7). Tak kurang dari 725 atlet dari 23 kabupaten/kota akan unjuk kebolehan di ajang olahraga daerah yang mempertandingkan 29 cabang ini.
Gubernur Irwandi Yusuf meminta agar para atlet yang berlaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BIREUEN | ACEHKITA.COM &#8212; Gubernur Aceh Irwandi Yusuf secara resmi membuka Pekan Olahraga Daerah ke-11 yang berlangsung selama sembilan hari di Stadion Cot Gapu, Bireuen, Kamis (15/7). Tak kurang dari 725 atlet dari 23 kabupaten/kota akan unjuk kebolehan di ajang olahraga daerah yang mempertandingkan 29 cabang ini.<span id="more-12483"></span></p>
<p>Gubernur Irwandi Yusuf meminta agar para atlet yang berlaga dalam 29 cabang olahraga bisa mengedepankan semangat fairplay dan sportivitas. Begitu juga dengan para dewan juri atau wasit, harus mampu bertindak adil dan tidak memihak dalam mengambil keputusannya, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. </p>
<p>“Yang paling penting, pelaksanaan Pekan Olahraga Daerah (Provinsi) ke-11 ini bisa menjaring dan melahirkan atlet-atlet berbakat yang nantinya bisa mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional dan bahkan internasional,” harap Irwandi Yusuf.</p>
<p>Pembukaan pekan olahraga ini dihelat di tengah sejumlah masalah yang masih melilit persiapan ajang ini. Bupati Bireuen Nurdin Abdurrahman mengakui adanya kekurangan dalam persiapan penyelenggaraan pekan olahraga ini. Hingga hari pembukaan, sejumlah lokasi pertandingan yang berada di Gedung Olahraga Desa Geuleumpang Payong, Kecamatan Jeumpa dan sirkuit balapan di Desa Beunyot, Kecamatan Juli, masih belum rampung. Ada lima cabang olahraga yang dihelat di luar Bireuen karena keterbatasan arena.</p>
<p>Menurut Ketua Pelaksana Harian Porprov XI, Ridwan Khalid, ada lima cabor yang dipindahkan ke luar Bireuen, seperti cabang olahraga menembak ke Banda Aceh. Begitu juga dengan cabang atletik, golf, renang dan selam dipindahkan ke Lhokseumawe. “Pemindahan kelima cabang olahraga ini, karena belum ada sarana yang memadai di Bireuen,” kata Ridwan Khalid kepada acehkita.com. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/725-atlet-berlaga-di-porda-xi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gubernur Gagal Bujuk Pendemo Arun</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/gubernur-gagal-bujuk-pendemo-arun/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/gubernur-gagal-bujuk-pendemo-arun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 02:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12481</guid>
		<description><![CDATA[LHOKSEUMAWE &#124; ACEHKITA.COM &#8212; Gubernur Aceh Irwandi Yusuf meminta puluhan warga Desa Blang Lancang dan Rancung yang tengah berdemo sejak pertengahan bulan lalu di pintu masuk PT Arun agar segera menyudahi demo dan kembali ke kampung masing-masing. Namun, bujukan Gubernur Irwandi itu sia-sia saja. Sebab, warga memilih untuk melanjutkan aksi hingga tuntutan relokasi dipenuhi perusahaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LHOKSEUMAWE | ACEHKITA.COM &#8212; Gubernur Aceh Irwandi Yusuf meminta puluhan warga Desa Blang Lancang dan Rancung yang tengah berdemo sejak pertengahan bulan lalu di pintu masuk PT Arun agar segera menyudahi demo dan kembali ke kampung masing-masing. <span id="more-12481"></span>Namun, bujukan Gubernur Irwandi itu sia-sia saja. Sebab, warga memilih untuk melanjutkan aksi hingga tuntutan relokasi dipenuhi perusahaan tersebut.</p>
<p>”Bapak-ibu semuanya sudah bisa kembali ke rumah masing-masing, soal tuntutan ibu-bapak biar saya yang pikirkan,&#8221; bujuk Irwandi saat menemui pengunjukrasa di pintu utama masuk ke PT Arun, Kamis (15/7). &#8220;Pegang janji saya.&#8221;</p>
<p>Namun, warga tidak menerima tawaran Gubernur. &#8220;Kita tidak bisa pegang janji. Kita sudah lelah dengan janji-janji pejabat,&#8221; kata seorang pengunjukrasa yang ogah dituliskan namanya. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/gubernur-gagal-bujuk-pendemo-arun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petaka Usai Pembalakan</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/petaka-usai-pembalakan/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/petaka-usai-pembalakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 09:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=12478</guid>
		<description><![CDATA[PENGANTAR: &#8220;Petaka Usai Pembalakan&#8221; merupakan tulisan yang dihasilkan Suparta setelah meraih beasiswa peliputan (fellowship) yang didanai The Society of Indonesian Environmental Journalists, lembaga yang berbasis di Jakarta, akhir 2009 lalu. Redaksi acehkita.com tidak mengedit lagi tulisan ini, karena sudah melalui mekanisme penilaian oleh juri yang terdiri atas Harry Surjadi, IGG Maha Adi, dan Oren Murphy.
Selamat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>PENGANTAR: &#8220;Petaka Usai Pembalakan&#8221; merupakan tulisan yang dihasilkan Suparta setelah meraih beasiswa peliputan (fellowship) yang didanai The Society of Indonesian Environmental Journalists, lembaga yang berbasis di Jakarta, akhir 2009 lalu. Redaksi acehkita.com tidak mengedit lagi tulisan ini, karena sudah melalui mekanisme penilaian oleh juri yang terdiri atas Harry Surjadi, IGG Maha Adi, dan Oren Murphy.<span id="more-12478"></span></p>
<p>Selamat membaca!</p>
<p>Redaksi</i></p>
<p>DIPAYUNGI duan pisang, Idris bergegas ke balai desa, mengikuti rapat rutin yang dilaksanakan saban Jumat pekan ke empat. Usai menunaikan Asar, 50 kepala keluarga berkumpul di balai desa, membahas berbagai persoalan di kampung mereka.</p>
<p>Sore itu, hujan deras yang mengguyur desa tak menyurutkan niat warga bertandang ke balai untuk bermusyawarah. Dalam perjalanan, Idris bertemu Geusyik Jafar, yang baru saja keluar dari warung Jaleman. Belum sampai ke balai desa, mereka dikejutkan suara gemuruh yang datang dari arah gunung. Dari kejauhan, air dari bukit tumpah ke perkampungan.</p>
<p>Air keruh yang datang tiba-tiba itu ikut menyeret ratusan batang kayu bulat (log) bekas tebangan di bukit itu. Air bah melumat apa saja yang ada di lintasannya. Seketika, perkempungan yang tadinya adem ayem saja, berubah gaduh. “Warga yang sudah berkumpul di balai panik,” kata Idris menceritakan awal petaka di kampungnya.</p>
<p>Tak menghiraukan hujan deras, warga yang tengah berkumpul di balai desa, berhamburan. Mereka segera pulang untuk menyelamatkan keluarga yang ditinggalkan di rumah. Perkampungan itu menjadi lautan yang dipenuhi gelondongan kayu beragam ukuran dan jenis. Sejumlah rumah warga rusak diterjang bah. Kalaupun ada yang berdiri kokoh, kondisinya rusak berat.</p>
<p>Peristiwa 13 tahun lalu itu belum lekang dari ingatan lelaki berusia 32 tahun itu. Pada Jumat di tahun 1997, Kampung Teupin Hasan, Kecamatan Sampoiniet, yang berjarak 38 kilometer sebelah timur Aceh Jaya, itu tenggelam diamuk air ‘bah’.</p>
<p>Walau tidak ada korban jiwa namun harta, ternak, tanaman palawija penduduk dikuras bandang. “Selama sepekan kami bermalam di bukit, dalam tenda beratap dedaunan. Sedangkan rumah kami semua terendam,” jelasnya.</p>
<p>Pascabanjir warga kembali berbenah, rumah yang hancur dibangun kembali. Belum sebulan ‘bah’ datang lagi, memporak-porandakan kampung. Tak tahan dengan kondisi ini, warga yang rumahnya di dataran rendah, dipindahkan secara gotong royong ke tempat yang lebih tinggi.</p>
<p>Banjir juga menyeret lumpur ke kebun kopi yang merupakan lapak warga menyambung hidup. Aceh Jaya dulu terkenal dengan produksi kopi Arabica. Desa Teupin Hasan salah satu lumbungnya. Kopi produksi mereka bahkan diekspor ke mancanegara. Kopi Ulee Kareng yang kesohor juga berasal dari Aceh Jaya. </p>
<p>Pada 1998 banjir kembali melanda Teupin Hasan: pada pada Juli, Agustus, November, dan Desember. Ini artinya, banjir menjadi langganan warga di sini saban musim penghujan. Setahun kemudian banjir kembali menyapa warga. “Lahan-lahan kami sudah digenangi lumpur dan sebagian menjadi rawa,” kenang Idris.</p>
<p>Banjir yang datang saban tahun membuat Teupin Hasan bukan lagi hunian asri di balik pegunungan Ulu Masen. Puncak kegelisahan warga terjadi pada 2001. Di tahun ini, banjir bandang yang mengangkut kayu-kayu log ke perkampungan merusak perkampungan. </p>
<p>Usai banjir ini, Teupin Hasan perlahan-lahan dijauhi penduduknya. Ia dibiarkan tak terurus lagi. Perkebunan kopi yang menjanjikan rupiah dibiarkan begitu saja, tak terurus. Ladang tempat bercocok tanam palawija, juga diabaikan. Teupin Hasan berubah menjadi rawa-rawa yang menakutkan.</p>
<p>“Warga kehilangan rumah dan lahan pekerjaan. Pohon kopi banyak yang mati. Tidak ada harapan lagi bermukim di Teupin Hasan,” kata Idris, menunjuk  beberapa alasan warga memilih menjauh dari perkampungan, untuk selamanya. </p>
<p>Konflik bersenjata antara pasukan pemerintah dengan orang GAM memperburuk keadaan.</p>
<p>Sebelum petaka itu datang, biji kopi membuat roda ekonomi Teupin Hasan berputar kencang. Simak saja pengakuan Mahdi, seorang pedagang cum penampung kopi warga. Dalam sehari, Mahdi harus menyediakan sedikitnya Rp12 juta untuk membeli kopi warga. Saat itu, harga tebus kopi mencapai Rp12.000 per kilogram. Bisa dibilang, warga di lembah Ulu Masen itu tergolong makmur. </p>
<p>Menurut Mahdi, awal 80-an, warga Aceh Jaya sempat menikmati tingginya harga kopi. Walau banyak kampung terisolasi, namun penduduknya mempunyai banyak uang dan perhiasan. “Rata-rata perempuan di kampung-kampung saat itu memakai emas di leher dan tangan,” kenang lelaki yang lahir 45 tahun lalu itu.</p>
<p>“Sekarang beginilah bekas kampung kami,” kata Mahdi saat menemani ACEHKITA.COM bertandang ke perkampungan Teupin Hasan yang telah berubah menjadi rawa. Rawa-rawa itu dijubeli dengan tumbuhan liar, tanaman rambat, hingga ilalang. </p>
<p>“Di sini dulunya perumahan penduduk,” tunjuk Mahdi. Tanah yang ditunjuk itu sama sekali tak menunjukkan bahwa di sana, warga Teupin Hasan pernah merajut hidup, bertetangga dengan hutan nan tentram. </p>
<p>“Di sekitar sana kebun warga,” tunjuk Mahdi ke arah selatan. Tanaman liar menguasai tempat berair itu.</p>
<p>Untuk mencapai Teupin Hasan tidaklah mudah. Di kiri-kanan jalan telah dijalari belukar. Di beberapa titik longsor juga mempersempit badan jalan. “Sangat jarang ada orang yang melintasi jalan ini, kecuali para pencari rotan dan pencari ikan. Dulu kendaraan hilir mudik di jalanan ini,” jelas Idris.</p>
<p>Menurut Idris, jalan ke Teupin Hasan dibangun oleh perusahaan HPH. Sejak tahun 1975, PT. Aceh Inti Timber mendapatkan hak untuk merambah hutan Aceh Jaya. Banyak akses jalan dan jembatan ke pedesaan mereka bangun, terutama jalan yang mempunyai akses jalan langsung ke kawasan hutan. “Dulunya jalan ini setapak,”  jelasnya.</p>
<p>Masyarakat saat itu menerima dengan baik kehadiran HPH tersebut, bahkan pada tahun 1992, PT. Lamuri Timber yang mendapatkan hak konsesi yang sama di penggunungan Ulu Masen.</p>
<p>Fadli Syah, geuchik Gampong Masen, mengungkap, kampungnya kini juga turut menerima banjir kiriman. Sebelum tahun 1995, banjir tak pernah singah di Masen.</p>
<p>Sejak sejumlah HPH beropersi, hutan di pedalaman Ulu Masen gundul. “Desa kami yang langsung berbatasan dengan hutan, menerima dampak, selain banjir, gajah juga sering turun kampung, dua bulan lalu, seorang warga saya tewas diamuk gajah,”  kata dia.</p>
<p>***</p>
<p>Fauna dan Flora Internasional (FFI) mencatat pada 1980, hutan Aceh masih memiliki luas sekitar 4,2 juta hektar. Pada tahun 2006 ditaksir hanya tinggal 3,3 juta hektar saja. Pengurangan luas hutan terbesar terjadi di kawasan Hutan Ulu Masen. Sekitar 30 sampai 40 persen dari luas hutan di Kabupaten tersebut hancur antara tahun 1980 sampai 2006.</p>
<p>”Dalam kurun waktu 26 tahun tersebut, 910 ribu hektar hutan Aceh terdegradasi akibat konsesi yang bersifat komersil ini,” kata Dewa Gumay, manager komunikasi FFI Aceh.</p>
<p>Saat ini Ulu Masen masih mempunyai luas tutupan hutan mencapai 738.856 hektar, setara dengan luas kepulauan Riau, atau  setara 0,67 persen dari total luas kawasan hutan Indonesia. Kerusakan hutan Ulu Masen juga telah merusak sekitar 41 persen wilayah habitat gajah. “Konflik antara satwa dan manusia akan terus meningkat,” kata Dewa.</p>
<p>Ulu Masen merupakan sumber air bagi lebih dari  2 juta penduduk di 5 kabupaten di Aceh: Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Barat, dan Aceh Jaya. Penduduknya bergantung dari 17 daerah aliran sungai (DAS) dari Ulu Masen.</p>
<p>“Hutan ini tergolong unik, yang mengkombinasi hutan dataran rendah dan hutan dataran tinggi, “di dalamnya terdapat berbagai tumbuhan dan sejumlah spesies hewan yang dilindungi,” jelasnya</p>
<p>Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mencatat dalam sepuluh tahun terakhir (1998-2008), luas hutan di Aceh berkurang hingga 914.222 hektare. “Dalam setahun hutan di Aceh berkurang rata-rata sekitar 32.657 hektare,” ujar Direktur Eksekutif Walhi Aceh Teuku Muhammad Zulfikar.</p>
<p>Berkurangnya luas kawasan hutan di Aceh, Menurut Zulfikar berdampak pada bencana alam seperti banjir dan tanah longsor meningkat. Pada 2007 peristiwa banjir dalam setahun baru sekitar 46 kejadian, tahun 2008 naik menjadi 100 kejadian, dan naik lagi menjadi 134 kejadian pada 2009.</p>
<p>Selain banjir, peristiwa tanah longsor juga meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2007 masih delapan kejadian namun pada 2008 naik drastis menjadi 37 kejadian, dan 2009 40 kejadian. “Bencana alam itu menjadi bukti bahwa pengurangan luas kawasan hutan setiap tahun telah berdampak lingkungan dan manusia,”</p>
<p>***</p>
<p>Sejak 6 Juni 2007 Pemerintah Aceh menerapkan program jeda tebang Hutan (Moratorium Logging). Tujuannya menekan angka kerusakan hutan di Aceh, termasuk mengevaluasi praktik HPH dan menginventarisasi ulang semua perijinan hak konsesi lain seperti pertambangan dan perkebunan yang bermasalah secara ekologis.</p>
<p>Kenyataannya, kebijakan Irwandi Yusuf, sang Gubernur Aceh itu, belum juga mampu mencegah aksi pembalakan liar. Penebangan hutan masih terus berlangsung. Alasanya masyarakat yang selama ini bergantung pada hutan tidak punya ketrampilan serta modal untuk beralih profesi.</p>
<p>“Program pemerintah itu hanya lips service belaka, karena tidak didukung dengan pengawasan yang serius di lapangan,” kata aktivis lingkungan M Oki Kurniawan.</p>
<p>Menurut dia, disejumlah kabupaten di Aceh masih saja terjadi pembalakan. Parahnya lagi, pemerintah juga mendanai pembukaan sejumlah ruas jalan baru, yang melintasi hutan lindung.</p>
<p>“Saya melihat ada kepentingan lain dari pembukaan jalan-jalan baru itu. Jika untuk kepentingan penduduk kita bisa memaklumi, tapi seperti di Jantho (Aceh Besar) tidak ada pemukiman di sana. Bahkan jalan tersebut digunakan pihak tertentu untuk mengangkut kayu,” kata Oki memberi contoh pembukaan jalan sepanajang 30 KM yang melintasi Penggunungan Jantho (Aceh Besar)- Lamno (Aceh Jaya).</p>
<p>Di kawasan yang dikatakan Oki tersebut, sejumlah truk pengangkut kayu hilir mudik mengangkut balok-balok kayu yang baru saja dibelah. Balok-balok kayu serupa juga terlihat ditumpuk disejumlah persimpangan jalan baru tersebut.</p>
<p>Udin, cukong kayu di Aceh Besar, menyatakan, tidak mudah mengeluarkan kayu dari hutan untuk diangkut ke panglong (kilang kayu) yang berada di kota. Untuk menghindari pemeriksaan, mereka mengangkut kayu tersebut pada dini hari.</p>
<p>”Kalau kena tangkap saat membawa, cukup dengan membayar komisi, langsung dilepas di tempat, jumlah komisi tergantung negosiasi,” jelas pria 40 tahun tersebut.</p>
<p>Walau Polisi Hutan (Polhut) sering merazia pembalakan liar sampai ke hutan, namun tidak pernah menyentuh dirinya juga toke (cukong) besar lainnya. Udin mengaku memasang ’kaki’ di instansi tersebut,</p>
<p>”Ketika menjelang razia, kami sudah dapat informasi, jadi kayu duluan kami pindahkan ke tempat aman, aktivitas penebangan juga kami hentikan sementara,” akunya.</p>
<p>Jalil, seorang penebang di pedalaman Pidie mengaku, hanya menerima upah dari para cukong. Sekubik, dia hanya mendapatkan 500 ribu rupiah saja.</p>
<p>Profesi penebang telah dia geluti sejak 17 tahun lalu. Jalil sadar kerjanya itu akan berdampak terhadap lingkungan. Namun tak ada pilihan lain, hanya menebang keahlian yang dia miliki. Dari sini, asap dapurnya bisa terus mengepul untuk menghidupi istri dan empat anaknya. </p>
<p>“Menebang pekerjaan yang berat dan berisiko, kalau ketahuan aparat pasti ditangkap dan tebusannya tidak sepadan setahun menebang,” ungkap pria 40 tahun itu. “Saya ingin beralih profesi, seandainya ada pekerjaan lain.”</p>
<p>Dia mengaku tak sembarang menebang. Ia membabat hutan hanya bila ada pesanan. Paling banter, dalam sehari, “hanya” mengolah sekubik kayu jadi. Dari satu kubik kayu yang berhasil ditebang, ia hanya kebagian Rp 300.000. Jali juga mempekerjakan 3 tenaga pengakut dengan imbalan Rp 200.000 perkubik. </p>
<p>Data yang dilansir Greenomics Indonesia, sedikitnya 200.329 hektar hutan di Aceh telah rusak sejak 2005 dengan alasan untuk kebutuhan rekosntruksi pascatsunami. Padahal, Pemerintah Aceh sedang giat-giatnya mengampanyekan pelestarian hutan. Sebab, Aceh telah menandatangani pakta penjualan karbon ke sejumlah negara penghasil emisi.</p>
<p>Nyatanya, hutan Aceh terus tergerus saban hari. Greenomics Indonesia juga mendata, kerusakan hutan paling parah terjadi di kawasan barat Aceh seluas 56.539 hektar, disusul wilayah selatan (48.906 hektar), pantai timur (30.893 hektar), dan kawasan tengah (19.516 hektar). Akibatnya, 47 daerah aliran sungai (DAS) mengalami kerusakan karena berada di areal illegal logging. “Kerusakan ini mengancam fungsi ekologi,” kata Vanda Mutia Dewi, Koordinator Program Nasional Greenomics Indonesia.</p>
<p>Belakangan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menyatakan program moratorium logging (jeda tebang) yang dicanangkannya pada 2007 lalu, bukan untuk mencegah pelaku illegal logging, namun untuk mencegah legal logging oleh pemegang HPH yang mengantongi izin dari pemerintah sebelumnya.</p>
<p>”Ada anggapan program jeda tebang gagal, padahal yang saya cegah itu legal logging bukan illegal logging. Pemberlakuan jeda tebang, berhasil menghentikan perambahan hutan dilakukan oleh pengusaha secara legal. Halusnya mereka disebut pengusaha padahal mereka perambah hutan.”</p>
<p>Menurutnya, saat itu Meteri Kehutanan bermaksud memperbarui izin baru bagi lima HPH untuk beropresi di Aceh, ”Itu yang ingin kita cegah, melalui jeda tebang.”. Jika tidak dicegah, kata dia, ada 500 ribu hektar hutan Aceh yang akan rusak akibat pemberian izinnya.”Kalau sekarang ada hutan Aceh yang sompel-sompel (dirambah), itu punya rakyat.”</p>
<p>Jelas Irwadi, lebih 1,6 juta hektar hutan Aceh hancur akibat dirambah oleh para pengusaha di masa lalu, yang mengantongi izin dari pemerintah Orde Baru. Ulah mereka juga merusak 715 ribu hektar Daerah Aliran Sungai (DAS) di provinsi ini. </p>
<p>Aceh, kata Irwandi, memiliki kawasan hutan terbesar di Sumatera. “80 persen hutan di Pulau Sumatera berada di Aceh,” katanya. Menurutnya, luas hutan Aceh mencapai 3,3 juta hektar. 2,7 juta hektar di antaranya merupakan kawasan hutan konservasi, 640 ribu hektar lagi kawasan hutan budidaya.</p>
<p>Namun, kerusakannya yang kian mengkhawatir dalam 30 tahun terakhir, mengancam kehidupan ekosistem bumi dan hutan diambang kepunahan. “Bencana demi bencana mulai kita rasakan sekarang,” ujar Irwandi. Seluas 715 ribu hektar DAS di Aceh juga sudah rusak, karena seringnya terjadi banjir dan longsor akibat dari dampak hancurnya hutan. ”Selama 2009 saja Aceh telah mengalami banjir sebanyak 40 kali banjir,” tukasnya</p>
<p>Data kepolisian daerah Aceh meyebutkan, pascapenerapan Moratorium Logging, terjadi penurunan secara drastis intensitas penabangan liar di Aceh. Dimana sebelum pembeelakuan jeda tebang polisi menangani 500-600 kasus illegal logging dalam setahun.</p>
<p>”Pada 2008 terjadi 160 kasus,  dan pada 2009 hanya 120 kasus illegal logging, yang ditangani polisi,” ungkap kepala Kepolisian Aceh Irjen Pol Adityawarman.</p>
<p>***<br />
Atas jasanya menjaga kawasan hutan, Aceh disebut-sebut akan menerima kuncuran dana dari negara-negara penghasil emisi melalui mekanisme karbon credit atau REDD (Reduction Emision Deforestrasi dan Degradasi), dengan Skema Voluentary Market.</p>
<p>Salah satu kesepakatan Protokol Kyoto 1997, Negara-negara industrilalisasi penghasil emisi terbesar diwajibkan untuk menurunkan emisi gas karbon penyebab utama pemanasan global.</p>
<p>Bila tidak mempu menurunkan emisinya, negara-negara tersebut harus menebus dosa dengan membayar kompensasi pada negera-negara yang masih menjaga hutannya malalui sistem perdagangan karbon.</p>
<p>Baru-baru ini Merrill Lynch International, salah satu bank di Inggris berkomitmen membeli karbon hutan Ulu Masen senilai 10 juta dollar AS dengan catatan Aceh mampu mempertahankan hutannya. Merrill Lynch baru akan membayar jika kawasan hutan Ulu Masen sudah memiliki sertifikat kredit. ”Hal itu juga masih komitmen, pembelian karbon baru akan berlaku pada 2012 setelah kesepakatan Protokol Kyoto berkahir,” kata aktivis FFI Aceh Dewa Gumay.</p>
<p>Menurutnya, Aceh yang masih memiliki tutupan hutan yang cukup baik, akan sangat menarik bagi pembeli karbon, karena sangat memungkinkan untuk diberikan pendanaan. agar tutupan hutan yang diclaim kepasar karbon dapat terus dipertahankan, pemerintah Aceh harus mempertahankan wilayah tutupan hutan dari kerusakan, juga harus menanam kembali hutan yang telah gundul, agar petaka Teupin Hasan tak menimpa penduduk di kawasan lain. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/petaka-usai-pembalakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
