Feature
Sosok Algojo di Balik Jubah [3]
Oleh: Nurdin Hasan - 26/05/2011 - 22:47 WIB
BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Tak semua anggota WH diberi kesempatan jadi algojo. Mereka dipilih sesuai kriteria yang telah ditetapkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh Nomor 10/2005 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Hukuman Cambuk. Sosok Algojo di Balik Jubah [2]
Oleh: Nurdin Hasan - 26/05/2011 - 15:24 WIB
BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Sama halnya dengan M, A yang seorang algojo juga tak punya rasa kasihan ketika melesatkan rotan ke punggung terhukum cambuk. Pria berusia 41 tahun ini pernah sekali waktu mendaratkan cambuk di punggung perempuan yang berkhalwat (mesum). Tiga kali sudah A bertindak sebagai eksekutor hukuman cambuk di berbagai daerah di Aceh. Sosok Algojo di Balik Jubah [1]
Oleh: Nurdin Hasan - 26/05/2011 - 12:54 WIB
BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Baju gamis longgar menjulur hingga lutut. Seluruh bagian kepala diselimuti jubah. Di bagian mata dan telinga ada kain terikat ke belakang. Hanya di matanya kain berlubang, sehingga sosok di balik jubah itu bisa melihat. Sepotong rotan yang panjangnya satu meter terhunus di tangan bersarung. Berbagi Kurma di Masjid Nabi [1]
Oleh: Yuswardi A. Suud [Madinah, Arab Saudi] - 23/08/2010 - 16:37 WIB
SAYA sedang berjalan di dalam Masjid Nabawi ketika tiba-tiba ditarik oleh dua pria jangkung dengan wajah bertabur berewok. Yang satu menarik ke kiri, satu lagi mengajak ke kanan. Ya, saya diperebutkan dua pria Arab. Untung saja, bahu saya tak lepas. Eits, jangan salah sangka. Mereka bukan penyuka sesama jenis, bukan pula perampok padang pasir yang [...] Berbagi Kurma di Masjid Nabi [2]
Oleh: Yuswardi A. Suud - Madinah (Arab Saudi) - 23/08/2010 - 16:17 WIB
KINI, di Masjid Nabawi, suasana kembali normal. Tepat pukul 19.00, azan berkumandang, pertanda waktu berbuka telah datang. Tak ada pukulan beduk atau sirene meraung-raung seperti kebiasaan berbuka puasa di Aceh. Pria Tunisia di hadapan saya memulai berbuka dengan melahap beberapa butir kurma. Berikut, giliran yogurt masuk mulut. Melihat si Tunisia tampak menikmati menunya, saya pun [...] Petaka Usai Pembalakan
Oleh: Suparta - Ulu Masen - 15/07/2010 - 16:21 WIB
PENGANTAR: “Petaka Usai Pembalakan” merupakan tulisan yang dihasilkan Suparta setelah meraih beasiswa peliputan (fellowship) yang didanai The Society of Indonesian Environmental Journalists, lembaga yang berbasis di Jakarta, akhir 2009 lalu. Redaksi acehkita.com tidak mengedit lagi tulisan ini, karena sudah melalui mekanisme penilaian oleh juri yang terdiri atas Harry Surjadi, IGG Maha Adi, dan Oren Murphy. Setelah Gagal Meminang Arun?
Oleh: AHMADY (MAJALAH ACEHKITA, AGUSTUS 2005] - 04/06/2010 - 11:01 WIB
Setelah perlawanan Daud Beureueh mereda pada 1963, diam-diam, masih banyak pemuda Aceh yang kecewa. Pemberian status sebagai daerah istimewa dianggap simbol belaka. Hasil bumi dikeruk, sementara rakyat dibiarkan miskin. Situasi inilah yang menggelisahkan seorang pemuda asal Desa Tiro yang berani menyatakan perang melawan pemerintah. Dialah Hasan Muhammad Di Tiro alias Hasan Tiro. Akhir Diari Sang ‘Wali’
Oleh: Yuswardi A. Suud - 03/06/2010 - 18:26 WIB
PENGANTAR REDAKSI: Berikut kami tayangkan kembali tulisan mengenai Hasan Muhammad di Tiro, deklarator Aceh Merdeka, yang meninggal siang tadi, Kamis (3/6), akibat komplikasi penyakit yang dideritanya. Tulisan ini pernah dipublikasikan di ACEHKINI. Selamat membaca! Pendekar Jihad Sekitar Exxon
Oleh: Imran MA [Lhokseumawe] - 10/03/2010 - 17:08 WIB
PENGANTAR REDAKSI: Tulisan ini pernah dimuat di Majalah ACEHKINI edisi April 2009. [Redaksi] “Allah Akbar… Allahu Akbar!” pekik sejumlah pria lantang. Berhamburan melompat dari mobil pick up. Wajah mereka ditutup kain, hanya mata yang terlihat, persis gerilyawan Hamas, Palestina. “Kami baru pulang jihad,” ujar seorang di antaranya. Jihad yang dimaksud pria itu tak sungguhan, tapi [...] Menyingkap Nostalgia Perang
Oleh: Salman Mardira - 06/03/2010 - 01:06 WIB
PERTEMPURAN antara pasukan Brimob dengan kelompok bersenjata yang diduga teroris di hutan Bayu, Lamkabeu, Seulimum, Kamis (4/3), cukup membuat Bit Ali tenggelam ke suatu masa; saat Aceh masih konflik.