<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ACEHKITA.COM : Aceh News Agency &#187; Warga Menulis</title>
	<atom:link href="http://www.acehkita.com/category/warga-menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.acehkita.com</link>
	<description>acehkita.com : Aceh News Agency</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 10:45:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Negeriku Kadang Lebai</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/negeriku-kadang-lebai/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/negeriku-kadang-lebai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 09:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=10985</guid>
		<description><![CDATA[FENOMENA negeri ini yang terus diliputi isu dan wacana, bahkan sampai masalah serius pun, kadang tak urung rakyat bersikap pesimis terhadap bangsanya sendiri. Tidak pelak, fenomena lain juga timbul seiring waktu berjalan dengan umur kedewasaan bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya yang sudah lewat dari setengah abad ini &#8211;untuk membuktikan sebuah bangsa yang besar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FENOMENA negeri ini yang terus diliputi isu dan wacana, bahkan sampai masalah serius pun, kadang tak urung rakyat bersikap pesimis terhadap bangsanya sendiri. Tidak pelak, fenomena lain juga timbul seiring waktu berjalan dengan umur kedewasaan bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya yang sudah lewat dari setengah abad ini &#8211;untuk membuktikan sebuah bangsa yang besar dan bermartabat serta terbebas dari atas segalan penindasan dan penjajahan bangsa luar.<span id="more-10985"></span></p>
<p>Kembali pada sebuah kosakata yang belum terakreditasi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni kata &#8220;lebai&#8221;. Mungkin ada banyak orang mengenal kata tersebut dengan tulisan lebai, namun ketika kata kunci (keyword) ini dicari pada mesin pencari akan dirujuk pada sebuah kata yang bertuliskan lebay. Yang penting dari kata tersebut adalah dari artinya yang mencoba tetap merujuk pada satu hal yang sama, yakni bermakna berlebihan atau membuat sesuatu/hal untuk dibesar-besarkan apa pun itu konteksnya.</p>
<p>Mengaitkan dua hubungan antara negeri dan kata lebai memang bukan sesuatu yang tidak mungkin, dengan berbagai realitas yang ada disekitar kita. Saya mengira kata itu cocok dengan kondisi yang ada saat ini. Lebih rinci kita bisa melihat lebih dalam, dan tidak mungkin mengeneralisir kata-kata pada semua aspek kehidupan. Satu hal yang mungkin akan tercermin adalah pada rasa nasionalisme.</p>
<p>Kebanggaan yang telah terpupuk sejak dulu, sejak Indonesia menjadi negara yang diakui oleh negara-negara dari bagian benua Asia tidak pernah begitu ’diremehkan’ seperti saat ini, hutang negara, kasus korupsi, sampai kasus yang makin menjadi-jadi, seakan raungan ’macan Asia’ yang dulu ada dan dibanggakan kini telah mulai pupus sudah. Walaupun tidak semua hilang, namun semangat rakyatnya kian terlihat dan menjurus diberbagai penjuru negeri ini berdiri, dari sikap inilah kelihatan lebai-nya negeri ini. Tidak selalu harus merasa terpojok pada aturan yang terus terkekang pada pemangku kepentingan, tidak selalu harus mengkritik para petinggi negara, namun bisa menjadi rakyat yang tahu akan mindset untuk berpikir solutif selain kritis.</p>
<p>Mencoba mengingat kembali, apa yang pernah dikatakan oleh seorang patriot bangsa yang mencoba untuk terus menjaga bangsa ini yang diakui memiliki kekayaan laut yang begitu luas, sebenarnya bisa jadi tolak ukur untuk kita bisa menjadi orang yang peduli dengan nasib bangsa ini. </p>
<p>&#8220;..jika kau tanya apa jasaku, akan aku jawab tidak ada. Jika kau tanya apa baktiku, akan aku jawab tidak ada. Aku hanya melaksanakan kewajiban, tidak lebih tidak kurang. Bahkan bendera Viktory yang kukibarkan bukan pula bendera pahlawan, tetapi hanya bendera kewajiban yang akan tetap kunaikkan..” Itulah sepenggal kata dari Komodor Yos Sudarso. </p>
<p>Jika sekilas kita melihat semangat yang telah dikatakan oleh Yos Sudarso, memang berada dalam konteks menjaga tanah air dari pengaruh luar, namun jika seksama merujuk pada satu prinsip yang ada yakni kewajiban menjaga negeri ini dari pengaruh yang berdampak merosot.</p>
<p>Mengutip apa yang pernah ditulis oleh Moch. Tohir dalam tulisannya ”Terkikisnya Jiwa-jiwa Nasionalisme”, ada satu paragraf yang disandangnya sebagai pijakan negeri ini untuk mengerti dengan kondisi yang dialami saat ini, yakni ”Di saat kondisi bangsa Indonesia yang seperti ini, seharusnya bangsa Indonesia tidak perlu jauh-jauh mencari kambing hitam ke sana ke mari tanpa ada solusi yang jelas. (Kabar Indonesia, 8 Januari 2010). </p>
<p>Tidak begitu lebai jika kata-kata demikian mampu membuat kita, bangun dari zaman globalisasi seperti ini. Atau mungkin kita hanya bisa menjadi generasi 3F <i>(fashion, food, fun)</i> seperti yang pernah diutarakan oleh Sumbo Tinarbuko dalam tulisan ”Menjadi 100% Indonesia”.</p>
<p>Semoga tulisan ini jadi sebuah pengingat massal untuk negeri ku ini, jika anda tahu arti dari ungkapan 3F, sungguh kenyataan itu telah merongrong negeri ini jatuh kedalamnya. Mari mulai dari diri kita, dengan hal yang kecil bisa kita lakukan pada lingkungan yang ada disekitar, tidak selalu mengeluh dan hadapi perubahan global untuk bisa lebih cinta pada negeri ini. Sehingga generasi yang lahir pun tidak ikut lebai searah perubahan yang akan datang nantinya.[]</p>
<p>*) Aulia Fitri, <i>Mahasiswa Universitas Indonesia. Pengasuh blog http://samanui.wordpress.com.</i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/negeriku-kadang-lebai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tarif  Murah Akses Mudah</title>
		<link>http://www.acehkita.com/warga-menulis/tarif-murah-akses-mudah/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/warga-menulis/tarif-murah-akses-mudah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 07:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=9037</guid>
		<description><![CDATA[“Eh, ada artis&#8230;. ada artis, ” teriak beberapa murid sebuah SD di Banda Aceh pada suatu hari. Sejumlah murid dan guru pun serentak memandang keluar jendela seraya menyaksikan beberapa remaja cantik berlalu-lalang. Ternyata mereka bukan artis seperti yang terlintas di benak anak sekolah tadi. 
Sekelompok remaja itu adalah para Sales Promotion Girl atau tenaga pemasaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Eh, ada artis&#8230;. ada artis, ” teriak beberapa murid sebuah SD di Banda Aceh pada suatu hari. Sejumlah murid dan guru pun serentak memandang keluar jendela seraya menyaksikan beberapa remaja cantik berlalu-lalang. Ternyata mereka bukan artis seperti yang terlintas di benak anak sekolah tadi. <span id="more-9037"></span></p>
<p>Sekelompok remaja itu adalah para Sales Promotion Girl atau tenaga pemasaran lapangan yang tengah mempromosikan produk selular. Di seragamnya jelas terlihat tulisan XL. Tapi anak sekolah itu masih saja mengamati sambil menanti kalau-kalau mereka akan menghampiri kelas mereka.  Kedatangan beberapa SPG ini memecahkan konsentrasi belajar murid sekolah itu.</p>
<p>Rombongan ”tamu istimewa”  masih sibuk menjumpai beberapa warga yang kebetulan tengah melintas. Namun, beberapa saat kemudian, waktu istirahat  belajar pun tiba. Anak-anak kemudian berlarian menghampiri kakak SPG dan sekejap sebuah lingkaran kecil sudah terbentuk mengurung para dara Aceh itu. Dengan mengumbar senyum mereka pun menanyakan ada apa gerangan yang ada di tangan kakak-kakaknya. ”Kak, bawa apa, boleh dong kasih kita,” goda beberapa murid serempak. </p>
<p>Sejenak para SPG terdiam lalu menawarkan kartu perdana yang ada di tangannya. Kartu perdana XL yang dibawa mereka adalah nominal Rp 2000 yang bisa aktif selama sebulan. Gratis 60 SMS setiap hari sangat  merangsang murid SD ini ingin terus menggunakannya. </p>
<p>Rahmah, murid kelas V SD 62 Banda Aceh beruntung bisa mendapatkan kartu perdana gratis. Kartu itu Rahmah bawa pulang dan langsung memasang ke telepon genggam milik orang tuanya. Sejenak Rahmah senang mendapatkan kartu perdana XL gratis dan bisa menggunakan SMS gratis selama masa akif. </p>
<p>Rahmah pun kini makin mudah mengirim pesan untuk temannya, sekadar say hello atau untuk menanyakan masalah PR alias pekerjaan rumah dari gurunya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini pun bisa terbantu dengan menggunakan SMS untuk berinteraksi dengan teman sekolahnya. ”Saya belum boleh pakai HP, tapi pinjam punya Ayah boleh saja sekadar ngirim SMS kepada teman,” timpal Rahmah.</p>
<p>Nomor kartu perdana XL gratis yang dihadiahi kakak SPG membuat dirinya terbiasa berkomunikasi dengan telepon selular. Apalagi, pulsa isi ulang nominal yang murah tidak membuatnya terlalu sulit mengaktifkan nomor tersebut. Kini Rahmah pun bisa  terbantu dengan fasitas SMS gratis dan isi ulang yang terjangkau. </p>
<p>Cerita berbeda dialami kakaknya,  Rauzatul. Rauzatul juga mengenal XL lewat beberapa SPG yang kebetulan masuk sekolah. Kiat XL menawarkan perdana termurah ke sekolah memang jitu. Paling tidak jumlah pemakai XL perdana bisa meningkat. Paling tidak untuk beberapa bulan, pemakai kartu perdana XL akan terus memanfaatkan SMS gratis ke semua operator. Rauzatul pun memanfaatkan fasilitas gratis SMS dari XL untuk menghubungi orang tuanya. ” Sekarang, uang jajan saya bisa lebih hemat buat isi pulsa, karena ada gratis SMS,” ujar Rauzatul senang. </p>
<p>Rauzatul juga makin sering melakukan browsing atau mencari bahan pelajaran dari internet melalui telepon genggamnya. Paling tidak tarif koneksi internet melalui selular telah mempermudah Rauzatul dan Rahman juga teman sekolahnya untuk berkomunikasi dan menambah ilmu pengetahuan. </p>
<p>Terobosan baru</p>
<p>Di tengah persaingan ketat sejumlah operator selular, memang saatnya membuat berbagai terobosan. Operator selular XL yang kini  mengusung nama baru menjadi PT XL Axiata Tbk termasuk di dalamnya.  XL yang sebelumnya bernama PT Excelcomindo Pratama Tbk, mulai 23 Desember 2009  telah  mendapat persetujuan dari Kementerian Hukum dan HAM. XL diharap bisa terdorong untuk lebih ekpansif memperluas jangkauan dan kualitas layanan, serta basis pelanggannya di Indonesia. Saat ini XL telah memiliki 27 juta pelanggan. ” Pergantian nama ini tak akan mempengaruhi, atau mengubah merek XL yang sudah dikenal luas, tegas Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi seperti dikutip detik.com (23/12/09). </p>
<p>Perusahaan ini didukung oleh sembilan operator lainnya di Asia yang tergabung dalam Axiata Group Berhad. Sampai akhir 2008 XL memiliki 16.729 BTS (menara pemancar) generasi kedua atau ketiga (2G &#038; 3G). XL juga sebagai pionir dalam meluncurkan akses internet unlimited harian pertama di Indonesia dengan hanya Rp 5000 sehari dan terus memberikan inovasi yang inovatif. ”Kini XL lebih siap memasuki medan persaingan bisnis telekomunikasi antar operator yang semakin ketat,&#8221; tandas Hasnul.</p>
<p>Forum Wartawan Telekomunikasi Indonesia FWTI)  menobatkan PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) sebagai operator terbaik dalam penghargaan &#8220;Indonesia Golden Ring Award 2009&#8243;. Selain itu mereka juga mendapat penghargaan kategori Best Customer Service dan Best Operator Product untuk XL bebas. </p>
<p>. &#8220;Jangkauan luas XL telah menjangkau 90 persen populasi penduduk Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Angka ini memang lebih kecil dibandingkan  Telkomsel yang mengklaim telah menjangkau seluruh kecamatan di Indonesia” aku   Direktur Jaringan XL Dian Siswarini sebelumnya (tempointeraktif.com/ 19/03/09). </p>
<p>Kemudahan komunikasi yang diperoleh Rahmah dan Rauzatul tak lantas menyebabkan XL berhenti berinovasi. Demikian juga keberhasilan XL meraih penghargaan dari FWTI juga tak me-ninabobo-kan XL. Operator selular ini masih perlu memperluas jaringan termasuk jaringan internet. Soal harga tarif juga masih kalah murah dibandingkan pendahulunya yang berani banting harga. Dan yang pasti, image mudah dan murah yang disandang Telkomsel harus bisa direbut XL jika tak ingin digilas persaingan global. []</p>
<p>*) Jamaluddin, <em>jurnalis ACEHKITA. Berdomisili di Banda Aceh.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/warga-menulis/tarif-murah-akses-mudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menembus Batas Informasi Lewat Refleksi 5 Tahun Tsunami</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/menembus-batas-informasi-lewat-refleksi-5-tahun-tsunami/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/menembus-batas-informasi-lewat-refleksi-5-tahun-tsunami/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 16:22:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=8890</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 26 Desember 2009 ini, lima tahun peristiwa maha dahsyat, tsunami berlalu. Tragedi terbesar sepanjang 100 tahun sejarah kehidupan manusia nyaris tak bisa dilupakan. Namun, perubahan sosial dan ekonomi ternyata mampu menggerakkan semangat rakyat Aceh  untuk bangkit dari musibah ini.  
Perubahan besar yang terjadi saat ini nyaris mengikis  kesan bahwa peristiwa itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 26 Desember 2009 ini, lima tahun peristiwa maha dahsyat, tsunami berlalu. Tragedi terbesar sepanjang 100 tahun sejarah kehidupan manusia nyaris tak bisa dilupakan. Namun, perubahan sosial dan ekonomi ternyata mampu menggerakkan semangat rakyat Aceh  untuk bangkit dari musibah ini.  <span id="more-8890"></span></p>
<p>Perubahan besar yang terjadi saat ini nyaris mengikis  kesan bahwa peristiwa itu pernah dialami rakyat Aceh. Tak ada yang bisa menyangka, jika kondisi Banda Aceh dan Aceh Besar serta daerah yang terkena tsunami lainnya telah pulih kembali. Reruntuhan berubah wujud menjadi bangunan mewah dan tumbuh di mana-mana.  </p>
<p>Bangunan tua yang sebelumnya masih berupa gubuk reot menjela menjadi tempat layak huni. Berbagai fasilitas yang sebelumnya sulit ditemui kini menjamur menghiasi berbagai sudut kota dan desa. Warung waralaba tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Bagi korban lima tahun bagaikan sehari kendati trauma ini perlahan mulai sirna. Namun, siapa sangka bahwa uluran tangan berbagai pihak telah mampu mengembalikan semangat hidup masyarakat Serambi Mekkah menggapai kembali kondisi normal seperti sedia kala.  </p>
<p>Berbagai infrastruktur pun dibangun kembali, termasuk sektor komunikasi. Bagaikan terhipnotis, nyaris tak ada pihak mana pun yang tak terpancing untuk turut berkiprah meringankan beban rakyat Aceh. PT Telekomunikasi Indonesia bergerak cepat memulihkan jalur komunikasi untuk memudahkan bantuan korban tsunami saat itu. Vendor milik pemerintah dengan produk Flexi  mengambil langkah cepat menyambung jaringan hingga korban bisa berhubungan dengan sanak keluarga, pemerintah bisa koordinasi membantu korban, dan para pekerja kemanusiaan bisa nyaman menjalankan misinya di Aceh.  Diakui atau tidak sebuah kontribusi yang luar biasa telah menyulap perubahan sosial di propinsi ujung Sumatera menjadi daerah yang bergerak maju.  </p>
<p>Telkom cabang Aceh juga bagian dari musibah memilukan itu. Bahkan Pusat data dan Analisa Tempo (PDAT), 2005, ini memuat kisah seorang karyawati Telkom Banda Aceh, bernama Ita. Wanita selamat setelah tergulung ombak dan terdampar di sebuah gedung bank, sementara suaminya hilang ditelan bencana. Ada lagi kisah lebih mengharukan tentang seorang istri karyawan Telkom yang melahirkan di tengah luluh lantaknya Aceh pada hari paling hitam dalam sejarah negeri ini; sementara anaknya yang lain tewas terhempas gelombang. Bayi yang baru dilahirkan itu beberapa lama sempat “hilang” setelah dititipkan ayahnya kepada seorang mahasiswi. Untunglah sang ayah, setelah beberapa bulan mencari, akhirnya menemukan bayi itu di Kerawang, Jawa Barat.</p>
<p>Bahkan pada saat tsunami melanda kota, beberapa teknisi Telkom Banda Aceh berjuang menyelamatkan aset sementara keluarganya berjuang antar hidup dan mati untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami. Hasilnya Flexi masih bisa dioperasikan sementara semua sarana telekomunikasi lain praktis tak berfungsi. Lalu dalam menangani korban, segera posko-posko didirikan, bantuan dari Medan dikirim, serta konseling bagi korban selamat.</p>
<p>Para teknisi jaringan&#8211;yang dikenal dengan Jawara&#8211;diberangkatkan dari berbagai kota. Mereka dengan sigap menarik-narik kabel di tengah luluh lantaknya kota, memperbaiki STO (Sentral Telepon Otomat) di antara mayat-mayat membusuk., agar fasilitas vital segera tersambung telepon. Kemudian sampailah pada tahap-tahap memulihkan telekomunikasi setelah fasilitas vital seperti Pendopo Gubernuran, rumah sakit, posko-posko, tersambung telepon.</p>
<p>Adapun empat tahap pemulihan itu adalah pertama membuka isolasi NAD dan sebagian Sumatera Utara dengan mendatangkan telepon satelit Byru dan Pasti. Tahap II: menyediakan telepon setelit dan link satelit VSAT untuk kepentingan public, serta mendatangkan genset dan menghidupkan sentral. Pemulihan tahap III: mengoperasikan kembali STO yang masih dapat dioperasikan serta mengimplementasikan Flexi. Tahap IV: rekonstruksi fasilitas telekomunikasi di NAD, termasuk perbaikan gedung, lokasi kantor dan penempatan alat-alat telekomunikasi yang dipergunakan, yang ditargetkan selesai seluruhnya pada Agustus 2006.</p>
<p>Menurut Direktur Telkom saat itu, Kristiono, tahapan memulihkan telekomunikasi dilakukan dengan cepat, baik rehabilitasi maupun rekonstruksi. Pengadaan dan pendistribusian telepon satelit dan peralatan lain ke daerah-daerah yang terparah dihajar bencana, seperti Calang, Lamno, Meulaboh, dan Pulau Simeuleu, merupakan perjuangan heroik. Mendapatkan helikopter guna mengangkut VSAT dan peralatan lain, tidak mudah.</p>
<p>Bagaimanapun telekomunikasi merupakan sarana vital, yang harus segera dipulihkan guna mendukung evakuasi korban, penyaluran bantuan, dan sebagainya. Kita memang tidak berharap bencana akan terulang, tapi di negeri seribu bencana ini, gempa terus saja terjadi. Namun sayang, kadang pelajaran dari bencana sebelumnya tak sungguh-sungguh diindahkan ketika menangani bencana berikutnya. Masih saja terjadi ketidaksiapan, kesemrawutan penyaluran bantuan dan penanganan korban.  </p>
<p>Bahkan pemulihan jaringan telekomunikasi selular di Provinsi NAD tidak sampai setahun. Sembilan bulan pascatsunami dari Telkom dan Telkomsel hampir rampung dikerjakan dengan kemajuan sangat pesat. BTS (Base transceiver station) sebagai patokan cakupan penyebaran (spread spectrum) transmisi, makin meluas dibandingkan sebelum tsunami.</p>
<p>Deputy General Manager PT Telkom NAD, Andang Ashari Sabtu (24/9/05) menyatakan pembangunan BTS Flexi (CDMA/Code Division Multi Access) di Aceh makin meningkat dibandingkan sebelum tsunami. “Saat ini, sudah ada 23 BTS yang menyebar di berbagai daerah terutama kawasan yang dihantam tsunami.  </p>
<p>Sebelum tsunami, Telkom NAD hanya memiliki dua BTS, di Sentrum Telkom NAD dan Lambaro Aceh Besar yang tidak bertambah sampai akhir tahun 2004. Namun, hanya dua bulan pascatsunami (27 Februari 2005) Telkom telah berhasil membangun 21 BTS jaringan selular FWA (Fixed Wireless Access) dimasukkan dalam paket recovery telekomunikasi pascatsunami Aceh ARF Community).  </p>
<p>Jaringan yang dibangun bentuknya melingkar, mulai dari Kuala Simpang sampai ke Blangpidie akan memudahkan dalam perluasan jaringan Flexi (pembangunan BTS) pada 2006 mendatang. Dia menyatakan, Telkom NAD tidak akan menambah BTS lagi sampai akhir tahun ini. Namun, kapasitas BTS yang dibangun pada pascatsunami lebih kecil dibandingkan dua BTS sebelumnya, masing-masing 4.400 SSF. Sedangkan 21 BTS tersebut memiliki kapasitas 1.400 sampai 2.300 SSF (Satuan Sambungan Flexi).</p>
<p>Andang melanjutkan penetrasi jaringan Flexi akan terus diperbaharui untuk mempercepat akses telekomunikasi seiiring perkembangan teknologi maju sangat pesat. “Kami akan terus memperbaiki berbagai kekurangan yang terjadi di lapangan dengan mencari solusi terbaik melalui teknologi terkini,” katanya. Dia menyebutkan penambahan repeater (penghubung sinyal) juga terus dilakukan untuk memperkuat jaringan seperti di kawasan Jeuram, Nagan Raya.  </p>
<p>Peningkatan kualitas Flexi, butuh investasi besar, terutama dari sisi transmisi. Sebuah sumber menyebutkan, sedikitnya menghabiskan dana lebih dari Rp 2 milyar untuk membangun 1 BTS. Selain itu, ungkapnya, BTS Sentrum Telkom NAD berhasil meraih predikat terbaik kelima di Sumatera atas maksimalnya penggunaan BTS oleh pelanggan sesudah Medan, Riau, Palembang dan Lampung. “Hal ini membuktikan, animo masyarakat untuk memanfaatkan Flexi di Banda Aceh semakin tinggi,” kata Andang.  </p>
<p>Telkom sejak dalam beberapa bulan terakhir sampai akhir tahun ini terus meluncurkan program &#8216;bombardir bonus&#8217; berupa bonus dalam setiap pengisian pulsa. Pulsa Rp 50.000 bertambah 10 persen, Rp 100.000 bertambah 20 persen dan Rp 150.000 berambah 35 persen. Andang menyatakan seluruh karyawan PT Telkom juga telah ditunjuk sebagai penjual voucher elektronik. Sementara itu, PT Telkomsel juga tak kalah seriusnya dalam membangun jaringan selular GSM (Global System for Mobile Communication). Sampai September 2005 telah memiliki 105 BTS atau lebih banyak dibandingkan sebelum tsunami.  </p>
<p>Manajer Grapari Telkomsel NAD, Asnam mengakui pihaknya harus bekerja keras untuk membangun kembali sejumlah BTS yang hancur dihantam gempa kuat dan tsunami, 26 Desember 2004 lalu, terutama MSC di Sentrum Telkom NAD. Jaringan Telkomsel sempat terhenti total dalam dua pekan pertama pascatsunami. Pada dua pekan pertama tsunami, masuk dalam kategori darurat karena hanya sekitar 30-40 persen yang dapat digunakan dan sangat terbatas jaringan trasmisinya. Apalagi, sentralnya di Telkom NAD hancur dihantam gempa kuat dan butuh beberapa pekan untuk memperbaikinya.  </p>
<p>Link antartransmisi segera dibenahi kembali karena kapasitas jaringan sudah melebihi daya pakai. Hal ini dapat dibuktikan dengan hanya sekitar 42 persen yang digunakan dari total kapasitas jaringan Telkomsel.</p>
<p>Saat ini telah  perkembangan dunia telekomunikasi di Aceh berlangsung pesat. Berbagai vendor dan provider muncul menjalankan bisnis telekomunikasi di Tanah Rencong. Kendati belum tergolong kota besar, kemajuan Banda Aceh mulai diperhitungkan para pelaku bisnis. Paling tidak hikmah tsunami telah membuka mata banyak orang di luar Aceh untuk meraup lucky  sekaligus melayani konsumen sebagai salah satu misi penyedia jasa di dunia bisnis telekomunikasi. Lima tahun tsunami, saatnya berbagi sesama. []</p>
<p>*) <i>Penulis adalah Jufrizal reporter Aceh TV di Banda Aceh </i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/menembus-batas-informasi-lewat-refleksi-5-tahun-tsunami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waspadai Penipuan Berkedok Undian Berhadiah</title>
		<link>http://www.acehkita.com/warga-menulis/waspadai-penipuan-berkedok-undian-berhadiah/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/warga-menulis/waspadai-penipuan-berkedok-undian-berhadiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 01:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=8623</guid>
		<description><![CDATA[ACEHKITA.COM &#124; WARGA MENULIS &#8212; Banyak kita temui berbagai kasus penipuan yang marak di kalangan masyarakat, terutama dengan mengiming-imingi hadiah berupa uang tunai dari hasil undian atau dengan cara kupon berhadiah yang diselipkan dalam sebuah kemasan produk tertentu. 
Jika sudah begitu canggih dan mahirnya para pelaku yang melakoni kegiatan tersebut, sudah sepatutnya kita mewaspadai berbagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ACEHKITA.COM | WARGA MENULIS &#8212; Banyak kita temui berbagai kasus penipuan yang marak di kalangan masyarakat, terutama dengan mengiming-imingi hadiah berupa uang tunai dari hasil undian atau dengan cara kupon berhadiah yang diselipkan dalam sebuah kemasan produk tertentu. </p>
<p>Jika sudah begitu canggih dan mahirnya para pelaku yang melakoni kegiatan tersebut, sudah sepatutnya kita mewaspadai berbagai bentuk kejahatan yang mereka lakukan. Hadirnya tren teknologi yang ada sekarang ini juga membuat para pelaku terus berusaha untuk mencari korban. </p>
<p>Penipuan yang saat ini sedang marak dan khusus beredar di daerah Sumatera terutama Aceh cukup membuat heboh, walaupun tidak berlangsung lama untuk satu target, modus operandi seperti ini tetap mengincar orang-orang yang kurang informasi tentang teknik yang mereka (pelaku, -pen) gunakan untuk menjebak korban. </p>
<p>Aksi yang Dilancarkan</p>
<p>Sebagai salah satu cara, pelaku yang beraksi ini selalu memanfaatkan pihak ketiga, seperti penyedia layanan telekomunikasi dengan mengatasnamakan operator banyak beredar disebuah wilayah tertentu. </p>
<p>Alasan utama yang mereka gunakan adalah undian berhadiah, dan juga mengumbar informasi bahwa korban telah mendapatkan kesempatan memenangkan hadiah baik berupa uang tunai, mobil atau hadiah lainnya yang ditayangkan pada sebuah stasiun televisi. Teknik seperti ini biasanya dijadikan sebagai tahap awal, saat korban memberikan respon bahwa tidak menyaksikan acara undian tersebut yang berlangsung di televisi yang disebutkan tadi, maka kesempatan mereka selanjutnya terbuka lebar. </p>
<p>Setelah proses itu berlangsung, korban akan diminta nomor rekening sebagai syarat bagi mereka untuk nantinya hadiah tersebut akan dikirim langsung ke rekening korban. Tidak itu saja, mereka juga akan menanyakan tentang keberadaan kartu ATM yang dimiliki oleh calon korban. </p>
<p>Dalam kesempatan yang sama, pelaku akan mengaku kepada korban bahwa dia adalah orang dari pihak yang bersangkutan (operator telekomunikasi, -pen) yang berada di kantor pusat yakni Jakarta, tidak luput dari itu gaya dan kecakapan bahasa yang mereka bawakan layaknya seorang yang profesional dan ini sering membuat para korban percaya dengan omongan mereka. </p>
<p>Setelah semua itu berlangsung mulus, korban biasanya akan memberikan instruksi untuk melakukan konfirmasi pembayaran dengan menuju ke lokasi loket anjungan tunai (ATM), dari setiap instruksi yang diberikan mereka meminta sejumlah uang untuk pertama kali di transfer ke nomor rekening yang mereka berikan. Dari sinilah kedok mereka akan terbongkar. </p>
<p>Tips Mencegah Penipuan</p>
<p>Ada beberapa langkah yang bisa anda lakukan jika mendengar kabar &#8216;gembira&#8217; seperti yang sudah diuraikan di atas. Berikut tips untuk mencegah penipuan itu tidak terjadi pada anda:</p>
<li>
lakukan ricek ulang nomor dan juga nama si penelpon dengan menghubungi call center dari operator anda;</li>
<li>
tanyakan apakah pihak operator pernah melakukan undian pada waktu dan jam yang telah disebut oleh si penelpon</li>
<li>jangan langsung percaya dengan ucapan dan hadiah yang ditawarkan oleh si pelaku
</li>
<li>sebaiknya jika pelaku meminta anda untuk langsung melakukan instruksi di loket ATM, tolaklah ajakan tersebut.
</li>
<li>jangan pernah menggunakan ATM yang berisi dengan tabungan yang banyak
</li>
<li>selebihnya anda bisa mengambil tindakan tersendiri</li>
<p>Jadi, waspadai segala tindak tanduk pihak yang tidak bertanggung jawab dengan memanfaatkan dalih undian dan sebagainya. Jika merasa hal ini mengganggu anda, laporkan pada pihak yang berwajib. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/warga-menulis/waspadai-penipuan-berkedok-undian-berhadiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Jinayah di Aceh</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/hukum-jinayah-di-aceh/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/hukum-jinayah-di-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 15:43:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=8326</guid>
		<description><![CDATA[Pengesahan qanun hukum Jinayah oleh DPR Aceh pada 15 September 2009 lalu menghidupkan kembali perdebatan tentang formalisasi syariat (hukum) Islam. Qanun ini sebenarnya hanya salah satu dari serangkaian upaya formalisasi itu di lokal Aceh yang terjadi sejak keluarnya Undang-Undang (UU) No. 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh. 
Tulisan ini memuat pandangan bahwa upaya formalisasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengesahan qanun hukum Jinayah oleh DPR Aceh pada 15 September 2009 lalu menghidupkan kembali perdebatan tentang formalisasi syariat (hukum) Islam.<span id="more-8326"></span> Qanun ini sebenarnya hanya salah satu dari serangkaian upaya formalisasi itu di lokal Aceh yang terjadi sejak keluarnya Undang-Undang (UU) No. 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh. </p>
<p>Tulisan ini memuat pandangan bahwa upaya formalisasi syariat (hukum) Islam di Aceh memiliki sekurang-kurangnya dua (2) kesesatan berpikir. Pertama, sejak masa lalu dalam sejarah Aceh, nilai-nilai dan syariat Islam selalu merupakan cara hidup dan nilai yang dihayati (<em>a way of life, a living value</em>) yang terutama digerakkan oleh para ulama. Islam telah menjadi nafas hidup yang tidak perlu diformalkan lagi sebagai aturan negara. Formalisasi akan berarti “mematikan” nafas itu dengan mematrinya dalam kitab baku.</p>
<p>Sesat pikir kedua terletak pada anggapan bahwa formalisasi syariat Islam adalah inti perjuangan rakyat Aceh selama konflik berkepanjangan sejak Orde Baru hingga dicapainya perdamaian dengan MoU (<em>Memorandum of Understanding</em>) Helsinki 2005. Syariat Islam dianggap sebagai “konsesi” untuk mempertahankan Aceh. Ini terbukti keliru karena MoU Helsinki, pilar perdamaian Aceh, tidak menuntut formalisasi syariat Islam.</p>
<p><strong>Dua sisi mata uang</strong><br />
Jika kita menelurusi sejarah Aceh akan terlihat bahwa dalam pandangan dunia orang Aceh, hukum syariat dan hukum adat tidak dapat dipisahkan, ibarat antara Tuhan dan sifat-sifatnya. Adat dan agama telah menjadi dua unsur yang dominan dan mengendalikan gerak hidup rakyat Aceh di masa lalu. </p>
<p>Menurut Dr. Taufik Abdullah, sebagaimana dikutip oleh Teuku Ibrahim Alfian dalam buku Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah [1999: 243-250] ada empat tonggak sejarah penting yang membentuk kesadaran masyarakat Aceh dan kecenderungan kulturalnya, yaitu: (1) proses Islamisasi; (2) jaman keemasan Sultan Iskandar Muda; (3) Perang melawan Belanda, 1873-1912; dan (4) Revolusi National, 1945-1949.</p>
<p>Mengenai proses Islamisasi, peninggalan-peninggalan kerajaan Islam pertama di Indonesia ditemukan di Aceh. Salah satunya adalah makam Sultan Malikulsaleh, pendiri Kerajaan Samudera Pasai yang meninggal tahun 1297. Dikatakan bahwa peran Kerajaan ini dalam penyebaran Islam di Malaka dan Nusantara teramat besar. Bahkan Sunan Ampel dan Sunan Giri yang sangat dihormati di Jawa berasal usul dari Kerajaan Pasai ini.</p>
<p>Masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dianggap sebagai contoh terbaik dimana ajaran-ajaran Islam sungguh melandasi praktek-praktek kehidupan. Ungkapan, “<em>adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Teungku Syiah Kuala</em>” memperlihatkan adanya dua pilar penting dalam kehidupan rakyat Aceh, yaitu Sultan Iskandar Muda dan Teungku Syiah Kuala (ulama) sebagai kepaduan antara adat (praktek hidup) dan hukum (syariat). </p>
<p>Dalam seluruh riwayat kesultanan di Aceh, prinsip dalam ungkapan di atas selalu berusaha diwujudkan, dengan raja/sultan sebagai rujukan untuk adat dan ulama untuk agama (syariat).</p>
<p>Masa perlawanan terhadap Belanda sekali lagi memperlihatkan bagaimana Islam sungguh merasuk dalam tindakan rakyat Aceh secara keseluruhan. Perang yang berlangsung hampir 40 tahun ini merupakan perang paling lama dan paling merugikan Belanda. Hal ini terjadi karena semangat para pejuang dan rakyat Aceh dibangkitkan dan digelorakan oleh nilai-nilai Islam yang sudah menjadi “<em>living values</em>”. Pada periode inilah terkenal Hikayat Perang Sabil yang membuat orang Aceh rela mati syahid untuk mengusir Belanda.</p>
<p>Periode Revolusi Nasional (1945-1949) menegaskan bahwa rakyat Aceh berhasil mengatasi sentimen “ke-Aceh-an” dan menjadi pendukung paling hebat berdirinya Republik Indonesia. Teungku Daud Beureueh pada tahun 1949 menyatakan, “Kesetiaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah RI bukan dibuat-buat serta diada-adakan, tetapi kesetiaan yang tulus dan iklas yang keluar dari lubuk hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti”.</p>
<p>Tonggak-tonggak penting sejarah Aceh  dengan jelas memperlihatkan Islam sebagai kekuatan spiritual rakyat Aceh. Kekuatan itu telah mewarnai perkembangan, kemajuan dan tindakan-tindakan yang diambil oleh rakyat Aceh. Secara ekstrem orang kadang mengatakan, “Islam adalah Aceh, dan Aceh adalah Islam, bagai dua zat yang tak terpisahkan”. Islam menjadi tidak butuh diformalkan (sebagai aturan baku negara) karena dia sudah menjadi “nafas hidup”.</p>
<p><strong>Inkonsistensi</strong><br />
Aturan awal tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Aceh, UU No. 24/1956, tidak sekalipun memakai istilah syariat Islam. Dalam UU No. 44/1999 lah pertama kali muncul istilah syariat Islam sebagai salah satu kewenangan otonom Provinsi Aceh dalam bentuk pelaksanaan syariat Islam. Darimana datangnya gagasan formalisasi syariat Islam ini?</p>
<p>Rodd McGibbon cukup jeli menunjuk sesat pikir pemerintah pusat dalam upaya menyelesaikan konflik Aceh . Tulisannya dalam buku Verandah of Violence.The Background to the Aceh Problem [2006:315-351] memuat kritik yang menuduh hukum (syariat) Islam untuk Aceh sebagai produk deal politik antara pemerintah pusat (Jakarta) dengan elit-elit lokal Aceh. Islam dijadikan “komoditas politik”.</p>
<p>Menurut McGibbon, pemerintah pusat (Jakarta) selalu menganggap bahwa inti konflik panjang di Aceh sejak berdirinya GAM (Gerakan Aceh Merdeka) adalah konflik berdimensi agama dengan tuntutan utama penerapan syariat Islam. Bahkan ada politisi di DPR Pusat yang menganggap bahwa konflik Aceh masih ada kaitan dengan penolakan Pemerintah Indonesia atas tuntutan DI (Darul Islam) Aceh tahun 1959. </p>
<p>Ketika menyelesaikan konflik Aceh dan melumpuhkan GAM melalui kekerasan tidak berhasil, pandangan dominan di Jakarta saat itu adalah bagaimana melemahkan pengaruh GAM di masyarakat dengan memulihkan kedudukan penting yang dimiliki para ulama yang sejak lama memang merupakan ciri khas masyarakat Aceh. Inilah alasan yang mendasari keputusan mengijinkan Aceh “melaksanakan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan”.  </p>
<p>Teuku Kamaruzzaman, salah satu perunding GAM, saat diwawancara oleh McGibbon mengatakan, “Ulama memang punya peran dalam bidang keagamaan, tetapi dalam konsep orang Aceh, ulama tidak memegang peran politis”. GAM dan SIRA (Sentral Informasi Rakyat Aceh) menilai sikap Jakarta yang menekankan syariat sebagai upaya membangun stereotip orang Aceh sebagai “extremis dan fundamentalis” Islam.</p>
<p>Motif berdirinya GAM sangat berbeda dengan motif pendirian Negara Islam Indonesia oleh DI (Darul Islam). GAM bersama organisasi-organisasi mahasiswa yang memperjuangkan kemerdekaan Aceh memang memakai simbol-simbol Islam, bahkan mengumandangkan Hikayat Perang Sabil dalam upaya mereka mendapatkan dukungan rakyat Aceh. Akan tetapi, “Mereka tidak mengejar tujuan yang bersifat keagamaan dalam bentuk negara Islam,” kata McGibbon. </p>
<p>Mc Gibbon menegaskan bahwa “pemberian” syariat Islam adalah bukti ketidaksediaan Pemerintah Pusat untuk mengakui bahwa inti dari konflik Aceh adalah ketidakseimbangan pusat-daerah (kerakusan pusat menyedot kekayaan Aceh) dan pelanggaran hak asasi manusia yang parah. </p>
<p>MoU Helsinki yang telah mendapat banyak pujian sebagai tonggak perdamaian Aceh juga tidak menuntut syariat Islam. Isinya lebih fokus pada partisipasi politik dan ekonomi. Bahkan MoU Helsinki yang menetapkan syarat perlunya UU baru tentang Pemerintahan Aceh menegaskan bahwa hal kebebasan beragama tetap menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Hal kebebasan beragama tidak dituntut oleh GAM. </p>
<p>Akan tetapi UU No. 11/2006 menetapkan pelaksaaan syariat Islam (kebebasan beragama) sebagai kewenangan Pemerintah Aceh. Inkonsistensi ini “bagai mengirim api dalam sekam” yang berpeluang menyulut konflik baru sesama orang Aceh. Titik-titik apinya sudah jelas.</p>
<p>Dengarlah, misalnya, ancaman (peringatan) dari Muadz Munawar, koordinator aksi Forum Komunikasi untuk Syariah (FOKUS) waktu mendatangi gedung DPRA untuk mendukung pengesahan Qanun Jinayah (Senin, 14/9/09), “Masih ada agen-agen asing yang berusaha menggagalkan Qanun ini. Siapapun yang berusaha menolak Qanun Jinayah adalah musuh Islam”. Tinggal selangkah lagi untuk mengatakan, para musuh Islam adalah kafir dan mati melawan para kafir adalah shahid. </p>
<p>Janganlah memberi kepada Aceh apa yang sudah dimilikinya sejak dahulu kala: syariat Islam. Tetapi berilah apa yang masih rakyat Aceh butuhkan dan minta: keadilan dan kesejahteraan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/hukum-jinayah-di-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takengon; Nama Warisan Hurgronje yang Dibanggakan Orang Gayo</title>
		<link>http://www.acehkita.com/warga-menulis/takengon-nama-warisan-hurgronje-yang-dibanggakan-orang-gayo/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/warga-menulis/takengon-nama-warisan-hurgronje-yang-dibanggakan-orang-gayo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 11:58:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=8053</guid>
		<description><![CDATA[Takengon, saat ini adalah nama resmi untuk menyebut ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang juga kota terbesar di dataran tinggi Gayo. Nama ini dipakai secara resmi entah itu di peta atau untuk menyebut setiap instansi yang ada di kota ini.
Entah darimana asal muasalnya dan entah siapa yang memulai membuat teori ini, di Gayo sendiri banyak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Takengon, saat ini adalah nama resmi untuk menyebut ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang juga kota terbesar di dataran tinggi Gayo. Nama ini dipakai secara resmi entah itu di peta atau untuk menyebut setiap instansi yang ada di kota ini.<span id="more-8053"></span></p>
<p>Entah darimana asal muasalnya dan entah siapa yang memulai membuat teori ini, di Gayo sendiri banyak yang percaya kalau asal-usul nama Takengon adalah berasal dari kata bahasa Gayo &#8220;Beta ku engon&#8221; yang artinya begitu saya lihat.</p>
<p>Sekilas nama ini memang masuk akal, apalagi kalau asal-usul nama itu ditambah dengan cerita sejarah berbau spekulatif yang mengatakan kalau itu adalah ekspresi dari Genali (orang pertama yang dipercaya menemukan kota ini) saat pertama kali melihat danau yang menjadi ciri khgas lansekap kota ini dari salah satu bukit yang mengelilinginya.</p>
<p>Ketika berbicara dengan orang dari luar kota ini dan menanyakan asal, orang asal Kota ini memperkenalkan kota asalnya sebagai kota Takengon. Bahkan di kalangan suku-suku Aceh non-Gayo, nama Takengon secara de facto dipakai untuk menggantikan nama Gayo. Di Banda Aceh misalnya, oleh suku-suku Aceh lainnya darimana pun asalnya, &#8220;orang Gayo&#8221; lebih umum dipanggil sebagai &#8220;orang Takengon&#8221;. Tidak peduli darimanapun asalnya, entah dari Tingkem, Ponok Baru, Ketol, Timang Gajah bahkan Isaq daN Lumut.</p>
<p>Berpedoman pada nama Takengon ini pula, di kalangan suku Aceh pesisir berkembang cerita tentang asal usul nama Kota ini, dengan sumber yang lebih tidak jelas lagi juntrungannya. Menurut beberapa orang Aceh pesisir, nama Kota Takengon itu berasal dari kata &#8220;Taki Ngon&#8221;, kata-kata bahasa Aceh yang berarti &#8220;menipu teman&#8221;. Lebih kacau lagi ada juga orang Aceh pesisir yang bilang nama Takengon berasal dari &#8220;Tak Ngon&#8221;, artinya membacok teman. Keduanya sama sekali tidak berkonotasi positif.</p>
<p>Tapi anehnya meskipun cerita tentang asal usul nama Kota Takengon versi orang Gayo di atas cukup masuk akal. Tapi orang Gayo sendiri, jika sedang berbicara dalam bahasa Gayo, sama sekali tidak pernah menyebut nama ini dengan nama Takengon. Ketika berbicara dalam bahasa Gayo orang gayo menyebut nama Kota ini dengan nama &#8220;Takengen&#8221; (huruf &#8220;e&#8221; pertama dibaca seperti &#8220;e&#8221; dalam kata &#8220;tempe&#8221; dan huruf e kedua dibaca seperti &#8220;e&#8221; dalam kata &#8220;sendu&#8221;). Pengucapan ini misalnya dapat kita dengar dalam lirik sebuah lagu Gayo legendaris karangan seniman besar almarhum AR Moese &#8221; Kin Takengen aku denem&#8221;, bukan &#8220;Kin Takengon aku denem&#8221;.</p>
<p>Berdasarkan fakta inilah saya berpendapat bahwa nama asli kota kelahiran saya ini adalah TAKENGEN bukan TAKENGON. Nama Takengen sendiri saya yakin berasal dari kata dalam bahasa Gayo yang dibentuk dari kata dasar &#8220;Takeng&#8221; dan akhiran &#8220;en&#8221;. Kemungkinan ini adalah bahasa Gayo lama yang karena seperti banyak bahasa daerah lainnya bukanlah bahasa tertulis, kata-kata lama tersebut sudah banyak yang hilang digantikan kata-kata serapan baru dan tidak diketahui lagi artinya. Apalagi dalam berbahasa orang Gayo cepat sekali terpengaruh terhadap ungkapan-ungkapan baru. Baca : http://winwannur.blogspot.com/2008/12/takengen-setelah-10-tahun.html</p>
<p>Dalam bahasa Gayo akhiran &#8220;en&#8221; digunakan untuk menjelaskan tempat dilakukannya sebuah aktifitas. Misalnya &#8220;perempusen&#8221; yang berarti tempat berempus (berkebun), pelipenen yang berarti tempat berlipe (menyeberang sungai), peruweren yang berarti tempat beruwer (mengandangkan kerbau), Didisen yang tempat melakukan aktifitas Berdidis (menangkap ikan depik yang memijah di pinggir danau). Begitulah, dengan mengikuti pola yang sama seperti pembentukan kata-kata di atas, maka Takengen maksudnya adalah tempat melakukan aktifitas &#8220;bertakeng&#8221; yang entah apa artinya.</p>
<p>Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas bahwa di kota kelahiran atau di tempat lain di dataran tinggi Gayo, orang Gayo hanya menyebut nama Takengon ketika mereka sedang berbicara dalam bahasa melayu, baik itu ketika berbicara dengan suku-suku Non-Gayo atau sesama orang Gayo sendiri.</p>
<p>Kebiasaan penyebutan nama Takengon ini bermula nama ini telah dilekatkan pada kota ini oleh pemerintah kolonial Belanda. Di samping itu saya pikir, penyebutan nama Takengon menjadi semakin kuat dan melekat dan dijadikan nama resmi kota ini oleh orang Gayo sendiri tidak lain karena masalah prestise. Dibanding nama Takengen (Nama kota ini ketika diucapkan dalam bahasa Gayo), di telinga orang Gayo nama Takengon (Nama Kota ini ketika diucapkan dalam bahasa Melayu) terdengar lebih keren.</p>
<p>Terbentuknya pola prestise seperti ini dalam masyarakat Gayo tidak bisa dilepaskan dari peristiwa merebaknya euforia modernisme di kota kecil kelahiran saya ini pada masa awal kemerdekaan dulu.</p>
<p>Pada masa itu, di negeri saya, modernisme kurang lebih dipahami sebagai segala sesuatu yang berbau &#8216;luar&#8217;. Entah itu cara beragama, cara bersikap, bentuk rumah tinggal, cara berpakaian sampai penggunaan bahasa saat berbicara.</p>
<p>Praktek keagamaan misalnya, praktek lama yang banyak mengamodasi praktek-praktek religius lokal (kaum tue) diangap tidak modern dan kuno, karenanya praktek keagamaan ala &#8220;kaum tue&#8221; ini tidak begitu populer di kota ini.</p>
<p>Sejak masa awal kemerdekaan para pemeluk Islam yang tinggal di kota kelahiran saya lebih banyak menganut faham yang dipengaruhi oleh pemikiran Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh yang dibawa ke kota ini oleh anggota Muhammadiyah yang belajar di Minang dan orang Gayo yang belajar Islam di perguruan Al Irsyad Surabaya . Di banding &#8220;kaum tue&#8221;, paham yang disebut &#8220;kaum mude&#8221; ini lebih tegas membatasi praktek-praktek keagamaan yang diadopsi dari kebiasaan pra Islam. Paham ini disebut &#8216;Kaum Mude&#8221;.</p>
<p>Untuk rumah tinggal, pada masa itu, semua &#8220;Umah pitu ruang&#8221; (rumah adat Gayo) di kota kelahiran saya ini dihancurkan untuk diganti dengan rumah-rumah kayu modern, berbentuk ruko yang bertingkat dua. Di beberapa tempat, seperti daerah pasar pagi dan Bebesen, &#8220;rumah-rumah modern&#8221; yang menggantikan &#8220;Umah pitu ruang&#8221; ini masih bisa kita saksikan sampai hari ini.</p>
<p>Dalam hal berpakaian, demi modernitas, pakaian adat lama juga ditinggalkan dan diganti dengan pakaian modern, untuk mempertegas ditinggalkannya cara hidup lama itu, di Blang Kejeren, para perempuan membakar pakaian adat gayo di depan umum (Bowen 1991: 112).</p>
<p>Perilaku berbahasa juga demikian, bahasa melayu yang menjadi bahasa nasional di negara ini pun naik kasta menjadi bahasa yang memiliki status lebih tinggi dibanding bahasa Gayo yang merupakan bahasa sehari-hari orang-orang yang tinggal di daerah ini.</p>
<p>Sebagaimana paham &#8216;kaum mude&#8221;, rumah berbentuk ruko dan pakaian ala barat. Oleh masyarakat yang tinggal di kota kelahiran saya ini, penguasaan bahasa Melayu dianggap sebagai cermin modernitas. Secara umum masyarakat memandang status keluarga yang dalam keseharian berbicara dalam bahasa Melayu lebih tinggi dibanding orang yang dalam keluarganya berbicara dalam bahasa Gayo. Dalam pandangan masyarakat kota ini, orang yang dalam keseharian berbicara dalam bahasa melayu terkesan lebih terpelajar.</p>
<p>Cara pandang seperti inilah yang membuat penyebutan nama Takengon terdengar lebih keren dibanding nama Takengen.</p>
<p>Begitulah yang terjadi di Gayo pasca hengkangnya penjajah kolonial, tapi itu semua tidak menjawab asal usul nama Takengon.</p>
<p>Tapi, asal-usul nama TAKENGON akan terlihat sangat jelas jika kita membaca &#8220;Het Gajoland en Zijne Bewoners&#8221; (Tanah Gayo dan penduduknya) sebuah karya antropologis dari Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dari Universitas Leiden yang menulis tesis tentang Haji yang memulai pendidikannya di bidang Teologi dan kemudian mengalihkan studinya kepada studi bahasa Arab dan Islam.</p>
<p>C.Snouck Hurgronje sempat belajar di Mekkah selama 5 bulan, mengganti agamanya menjadi Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul al Ghaffar (Waardenburg 1962:19).</p>
<p>Tahun 1889 Hurgronje meninggalkan Belanda menuju Batavia dan 2 tahun kemudian dia diminta oleh pemerintah Belanda untuk menjadi penasehat politik dan militer Belanda di Aceh.</p>
<p>Atas nasehat Hurgronje inilah Gubernur Belanda J. Van Heutz, merekrut Ulee Balang (priyayi Aceh) untuk berkoalisi melawan Ulama yang oleh belanda dianggap sebagai pusat kekuatan perlawanan Aceh (van&#8217; t Veer 1980).</p>
<p>Pada tahun 1900 Hurgronje mulai mengumpulkan informasi tentang Gayo dari orang-orang Gayo yang dia temui di pantai barat Aceh. Hurgronje yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menginjakkan kaki di Tanoh Gayo, mendapatkan kebanyakan informasinya tentang Gayo dari seorang pemuda cerdas asal Isaq bernama Njaq Putih yang saat itu sedang belajar agama di Aceh Barat dan pada tahun 1902, Hurgronje mendapat satu lagi nara sumber tentang Gayo yang bernama Aman Ratus yang berasal dari Gayo Lues.</p>
<p>Pada tahun 1903, Hurgronje yang dianggap Penghianat Besar Islam oleh orang Aceh dan Orang Gayo tapi dianggap pahlawan oleh pemerintah Belanda ini menyelesaikan Het Gajoland en Zijne Bewoners. Dalam buku ini Hurgronje memaparkan permasalahan perpolitikan dan militer di Gayo, jalan-jalan yang mlintasi daerah Gayo, lokasi desa dan dusun serta kekuasaan yang dimiliki setiap pemimpin kelompok di Gayo. Dalam buku ini Hurgronje juga memaparkan banyak informasi tentanga nama -nama tempat, benda yang kita lihat sehari-hari, praktek keagamaan dan budaya sehari-hari orang Gayo.</p>
<p>Dalam menjelaskan nama-nama ini, sepertinya lidah eropa Hurgronje kesulitan menyebut nama-nama yang mengandung bunyi &#8220;e&#8221; seperti bunyi &#8220;e&#8221; dalam kata &#8220;sendu&#8221; . Dalam buku Het Gajoland en Zijne Bewoners, semua kata yang mengandung bunyi &#8220;e&#8221; ini oleh Hurgronje diganti dengan &#8220;O&#8221;.</p>
<p>Mengenai ini bisa dilihat di buku Het Gajoland en Zijne Bewoners yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tanah Gayo dan Penduduknya yang diterbitkan oleh Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) pada tahun 1996.</p>
<p>Dalam buku ini kita bisa membaca di halaman 66 misalnya, oleh Hurgronje, kata &#8220;reje&#8221; disebut Hurgronje &#8220;rojo&#8221;, &#8220;edet&#8221; menjadi &#8220;odot&#8221;, &#8220;Tue&#8221; menjadi &#8220;Tuo&#8221;, &#8220;saudere&#8221; menjadi &#8220;saudoro&#8221;, &#8220;bedel&#8221; menjadi &#8220;bodol&#8221;, &#8220;imem&#8221; menjadi &#8220;imom&#8221; dan &#8220;kerje&#8221; menjadi &#8220;kerjo&#8221;.</p>
<p>Demikian juga dengan nama tempat sebagaimana nama TAKENGEN. Dalam buku ini Hurgronje mengubah nama itu menjadi TAKENGON.</p>
<p>Bukan hanya TAKENGON, tapi semua nama tempat lain yang mengandung bunyi &#8220;e&#8221; seperti bunyi &#8220;e&#8221; dalam kata &#8220;sendu&#8221; juga bernasib sama. Sebut saja misalnya Bebesen yang oleh Hurgronje diubah menjadi Bobasan (hal 17), Serbejadi menjadi Serbojadi (hal 10), Gayo Lues menjadi Gayo Luos (hal 9), Arul Ramasen menjadi Arul Ramason (hal 13), Kute Glime menjadi Kuto Glimo (hal 17), Oneng Niken menjadi Oneng Nikon (hal 21), Peruweren Tulen menjadi Peruworon Tulon (hal 29), Linge menjadi Linggo (hal 29), Ise-ise menjadi Iso-iso (hal 34), Blang Gele menjadi Blang Golo (hal 132), Reje Buket menjadi Rojo Buket (hal 141), Teungku Uyem menjadi Teungku (Uyom 144), Tami Delem menjadi Tami Dolom (hal 144), Paya Reje menjadi Paya Rojo (hal 144), Serule menjadi Serulo (hal 144), Menye menjadi Monyo (hal 152), Tingkem menjadi Tingkom (hal 154) dan banyak lagi.</p>
<p>Begitulah, soal nama-nama tempat di Gayo yang dimodifikasi oleh Hurgronje ini.</p>
<p>Belakangan ini saya melihat banyak orang Gayo yang begitu gencar untuk menunjukkan kembali identitas diri dan menggali kembali akar asal-usulnya. Sampai-sampai ada ide untuk membuat provinsi sendiri segala.</p>
<p>Tapi Ironisnya orang Gayo yang katanya sangat mencintai budayanya ini, yang katanya sangat Islami ini justru bangga memakai nama hasil modifikasi seorang pengkhianat besar Islam sebagai nama kota kebanggaannya.</p>
<p>Sejauh ini, saya sama sekali tidak melihat tokoh-tokoh Gayo, baik yang muda apalagi yang tua yang merasa terganggu dengan asal-usul nama TAKENGON yang sampai hari ini melekat menjadi nama kota kebanggaan orang Gayo ini. Sepanjang yang saya tahu, SAMPAI HARI INI hanya sayalah satu-satunya orang Gayo yang merasa terganggu dengan nama yang &#8216;dihadiahkan&#8217; oleh Hurgronje kepada Kota Kelahiran saya tersebut.</p>
<p>Karena merasa terganggu, makanya dalam setiap tulisan saya yang menceritakan kota ini, saya selalu menyebut kota ini dengan nama TAKENGEN yang merupakan nama pemberian muyang datu saya, bukan TAKENGON yang merupakan &#8216;hadiah&#8217; dari Hurgronje. []</p>
<p>Win Wan Nur, <i>orang Gayo yang lahir di Takengen. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di www.winwannur.blog.com dan www.winwannur.blogspot.com. </i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/warga-menulis/takengon-nama-warisan-hurgronje-yang-dibanggakan-orang-gayo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penembak Rumah Warga Amerika Profesional</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/penembak-rumah-warga-amerika-profesional/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/penembak-rumah-warga-amerika-profesional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 11:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=7883</guid>
		<description><![CDATA[BANDA ACEH &#124; ACEHKITA.COM &#8212; Pihak Kepolisian Aceh menyatakan bahwa penembakan terhadap rumah yang ditempati dua warga Amerika Serikat di kompleks perumahan dosen Universitas Syiah Kuala dilakukan oleh orang-orang profesional dan terlatih.
&#8220;Saya melihat, ini pekerjaan orang-orang profesional, dan pintar. Bukan orang bodoh. Mereka tahu kekuatan lawan dan kawan. Sehingga mereka tahu kapan kami lengah,&#8221; kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDA ACEH | ACEHKITA.COM &#8212; Pihak Kepolisian Aceh menyatakan bahwa penembakan terhadap rumah yang ditempati dua warga Amerika Serikat di kompleks perumahan dosen Universitas Syiah Kuala dilakukan oleh orang-orang profesional dan terlatih.<span id="more-7883"></span></p>
<p>&#8220;Saya melihat, ini pekerjaan orang-orang profesional, dan pintar. Bukan orang bodoh. Mereka tahu kekuatan lawan dan kawan. Sehingga mereka tahu kapan kami lengah,&#8221; kata Kepala Humas Polda Aceh Komisaris Besar Polisi Farid Ahmad Saleh saat dihubungi acehkita.com, Senin sore.</p>
<p>Seperti dilaporkan situs ini, sebuah rumah yang ditempati dua warga Amerika Serikat –Michelle Ahmad dan Sarah Willis, Senin sekitar pukul 05.45 WIB, ditembak oleh orang yang belum diketahui identitasnya. Keduanya adalah staf pengajar pada program studi Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. </p>
<p>Sarah dan Michelle selama ini menempati rumah dosen di Gang Meulu, Sektor Timur Darussalam.</p>
<p>Penembakan itu dilakukan oleh dua pria yang menggunakan sepeda motor jenis RX King. Tetangga Michelle yang enggan disebutkan namanya mengaku mendengar empat kali tembakan yang disertai dengan deru kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi.</p>
<p>Kepada polisi, Michelle mengaku mendengar enam kali tembakan, yang mengakibatkan pintu, kosen jendela, dan dinding rumahnya ditembusi peluru. Polisi menemukan tiga proyektil peluru di lokasi kejadian.</p>
<p>Namun, polisi mengaku belum mengetahui jenis senjata yang digunakan. &#8220;Saya belum tahu. Ada tim forensik yang diturunkan ke lapangan,&#8221; kata Farid saat dihubungi melalui sambungan telepon. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/penembak-rumah-warga-amerika-profesional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Kontroversi Film 2012</title>
		<link>http://www.acehkita.com/warga-menulis/di-balik-kontroversi-film-2012/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/warga-menulis/di-balik-kontroversi-film-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 06:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=7779</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA &#124; ACEHKITA.COM &#8211; Film &#8216;2012&#8242;, yang disutradarai Roland Emmerich, pria asal Jerman, ini memang tidak lepas dari kontroversi, khususnya di Indonesia. 
Film 2012 yang mendapat sorotan khusus dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malang dan Front Pembela Islam (FPI) ternyata tidak menyurutkan minat penonton untuk menyaksikan film ini.  
Kamis (19/11) kemarin, Ketua MUI Pusat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA | ACEHKITA.COM &#8211; Film &#8216;2012&#8242;, yang disutradarai Roland Emmerich, pria asal Jerman, ini memang tidak lepas dari kontroversi, khususnya di Indonesia. <span id="more-7779"></span></p>
<p>Film 2012 yang mendapat sorotan khusus dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malang dan Front Pembela Islam (FPI) ternyata tidak menyurutkan minat penonton untuk menyaksikan film ini.  </p>
<p>Kamis (19/11) kemarin, Ketua MUI Pusat, Amidan juga telah menjelaskan kepada sejumlah wartawan bahwa MUI Pusat tidak mengharamkan film 2012, sejauh film tersebut tidak sepenuhnya meresahkan masyarakat. </p>
<p>Seperti di Jakarta, dari amatan <i>acehkita.com</i> tidak pernah habis-habisnya para penonton yang mengantre untuk mendapat tiket masuk. Padahal untuk setiap harinya, khusus film 2012 rata-rata dibuka 2 studio oleh pengelola bioskop. </p>
<p>Antusiasme masyarakat dalam menonton film ini, sangat terlihat dari keingintahuan mereka untuk melihat sang sutradara dalam mengarap film fiksi ilmiah ini menjadi sebuah film dimana kondisi global bumi nantinya tahun 2012 akan mengalami sebuah bencana alam. </p>
<p>Jauh dari sangkaan prediksi suku Maya tentang hari kiamat, jika ditelusuri lebih lanjut film yang berdurasi 1,5 jam ini terlihat jauh dari film yang bergenre agama. Seperti yang dilansir oleh movie.yahoo.com, &#8220;Emmerich telah mempertimbangkan terkait kehancuran sejumlah bangunan budaya dan bersejarah terkenal di seluruh dunia termasuk di dalamnya kota Mekkah &#8211;dengan Kakbahnya&#8211; yang tidak dimasukkan dalam adegan tersebut.&#8221; </p>
<p>Film yang menghabiskan biaya sekitar US $260 juta ini dalam 3 hari langsung menguasai daftar film box office. </p>
<p>Tidak hanya itu, Emmerich juga telah merencakan akan mengeluarkan sekuel baru serial televisi untuk kelanjutan dari film 2012, film berikutnya itu direncanakan bercerita tentang orang-orang yang selamat dan korban dari bencana alam tersebut di tahun 2013 nantinya.[] </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/warga-menulis/di-balik-kontroversi-film-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>20 Tahun Robohnya Tembok Berlin</title>
		<link>http://www.acehkita.com/warga-menulis/20-tahun-robohnya-tembok-berlin/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/warga-menulis/20-tahun-robohnya-tembok-berlin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 05:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=7508</guid>
		<description><![CDATA[BERLIN &#8212; Rakyat Jerman melakukan satu perayaan besar memperingati 20 tahun robohnya tembok Berlin. Tahapan acara yang sudah berlangsung selama beberapa hari yang berakhir pada Senin (9/11/2009). Klimak dari peringatan itu adalah dirobohkannya 1.000 miniatur tembok Berlin, yang disusun seperti deretan kartu domino. 
1.000 tembok tiruan bermaterialkan triplek ini dijejerkan persis di jalur bekas tembok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BERLIN &#8212; Rakyat Jerman melakukan satu perayaan besar memperingati 20 tahun robohnya tembok Berlin. Tahapan acara yang sudah berlangsung selama beberapa hari yang berakhir pada Senin (9/11/2009). Klimak dari peringatan itu adalah dirobohkannya 1.000 miniatur tembok Berlin, yang disusun seperti deretan kartu domino. <span id="more-7508"></span></p>
<p>1.000 tembok tiruan bermaterialkan triplek ini dijejerkan persis di jalur bekas tembok Berlin sepanjang 1,5 kilometer, dimulai dari kawasan perdagangan Postdamerplatz, menuju gerbang bergaya Yunani Brandenburger Tor dan berakhir pada bagian belakang gedung Reichstag/ Bundestag (DPR Jerman). </p>
<p>Yang menarik dari tembok-tembok yang dijejer seperti kartu domino raksasa ini ialah terdapat karya seni hebat dari berbagai elemen masyarakat dunia berupa lukisan dan tulisan yang menghiasi semua sisi tembok berukuran 2&#215;1 meter tersebut.</p>
<p>Perayaan tahunan yang selalu diperingati setiap tanggal 9 November oleh  rakyat Jerman tersebut merupakan sebuah simbol bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur &#8211;yang ditandai runtuhnya Tembok Berlin pada tanggal 9 November 1989. Ini sekaligus menjadi saksi bisu Perang Dingin. </p>
<p>Tampak hadir sejumlah pimpinan dunia dalam acara ini, antara lain Kanseler Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Presiden Rusia Dmitry Medvedev  dan Menlu AS Hillary Clinton. Bahkan ditayangkan pula pada layar raksasa rekaman pidato sambutan Presiden AS Barack Obama yang berhalangan hadir. </p>
<p>Beberapa penyanyi papan atas dunia juga tampil di depan Brandenburger Tor. Mereka menyanyikan lagu hit, seperi halnya Bon Jovi. Adalah pelepasan berbagai macam kembang api pada pukul 22.00 bertanda perayaan tahunan tersebut berakhir.</p>
<p>Acara yang berlangsung dalam guyuran hujan sejak sore hari itu tidak mengurangi minat ribuan pengunjung yang memadati pusat kota Berlin. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia untuk menghadiri moment sejarah kebebasan bagi rakyat Jerman, tidak terkecuali perwakilan World Achehnese Association perwakilan Jerman.</p>
<p>’Perayaan tahun ini sangat spesial karena Tembok Berlin sudah runtuh  20 tahun yang lalu, dan semua rakyat Jerman sangat lah senang. Karena sejak tahun 1961 sampai dengan 1989, rakyat Jerman Timur hidup bagaikan dalam penjara alam yang hanya akan di bunuh apabila mencoba melarikan diri ke Jerman Barat’ jelas Catharina Weule yang sempat WAA Jerman wawancarai.</p>
<p><b>Tembok Berlin</b></p>
<p>Batasan yang membedakan antara Jerman Barat dan Jerman Timur itu, semula berupa bentangan kawat berduri yang kemudian secara bertahap menjadi tembok beton cetak permanent dengan ukuran 3,6 x 1,2 x 0,3 meter setiap segmen nya, dibangun sepanjang 140 km pada tanggal 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan komunis Jerman Timur yang menganut system Sosialis di bawah pimpinan Walter Ulbricht.</p>
<p>Antara tahun 1949 sampai tahun 1961 sudah lebih dari 2 juta penduduk Jerman Timur melarikan diri lewat Berlin. Hal ini membuat ekonomi Jerman Timur menjadi kedodoran, karena kebanyakan orang-orang yang masih muda yang melarikan diri. Maka secara rahasia dan tiba-tiba tembok ini dibangun. </p>
<p>Pada 9 November 1989, Tembok Berlin diruntuhkan dan mengawali bersatunya Jerman.</p>
<p>Pusat aksi massa saat tembok Berlin diruntuhkan saat itu adalah di depan gerbang Brandenburger Tor. </p>
<p>Hingga saat ini masih tersisa sekitar 1.3 kilometer Tembok Berlin asli yang berada pada posisi aslinya yang menjadi daya tarik paling kuat bagi wisatawan mancanegara.</p>
<p>Runtuhnya Tembok Berlin menjadi penentu kebebasan dan bersatunya Jerman, semoga dengan moment ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua segenap Bangsa Aceh untuk lebih lagi bekerja keras dan jujur  bersama- sama dalam upaya meruntuhkan korupsi berjamaah yang sudah merajajela dan juga berbagai persoalan ketidakadilan yang masih berlangsung di Aceh walaupun usia Perdamaian sudah memasuki tahun kelima. []</p>
<p><b>Khairul Fajri Yahya</b> <i>adalah aktivis World Achehnese Association berdomisili di Jerman (E-mail: cekloe@yahoo.com)</i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/warga-menulis/20-tahun-robohnya-tembok-berlin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Husnul Terbaring di Ruang Isolasi</title>
		<link>http://www.acehkita.com/berita/husnul-terbaring-di-ruang-isolasi/</link>
		<comments>http://www.acehkita.com/berita/husnul-terbaring-di-ruang-isolasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 06:16:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aceh Kita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.acehkita.com/?p=7154</guid>
		<description><![CDATA[TANGAN kecil itu tak henti-hentinya menggaruk kepalanya yang luka. Darah bercampur nanah keluar tanpa henti. Malah, beberapa belatung kecil seukuran ujung korek api ikut keluar dari tempurung kepala dan telinga gadis kecil yang malang itu.
usnul Zafirah, bocah warga Gampong Bangkeh, Kecamatan Geumpang, Pidie, sejak sepekan terakhir menderita penyakit aneh. Berawal dari demam yang sangat tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TANGAN kecil itu tak henti-hentinya menggaruk kepalanya yang luka. Darah bercampur nanah keluar tanpa henti. Malah, beberapa belatung kecil seukuran ujung korek api ikut keluar dari tempurung kepala dan telinga gadis kecil yang malang itu.<span id="more-7154"></span></p>
<div id="attachment_7156" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.acehkita.com/wp-content/uploads/2009/10/husnul-300x225.jpg"><img src="http://www.acehkita.com/wp-content/uploads/2009/10/husnul-300x225.jpg" alt="fadli.web.id" title="husnul-300x225" width="300" height="225" class="size-full wp-image-7156" /></a><p class="wp-caption-text">fadli.web.id</p></div>Husnul Zafirah, bocah warga Gampong Bangkeh, Kecamatan Geumpang, Pidie, sejak sepekan terakhir menderita penyakit aneh. Berawal dari demam yang sangat tinggi kemudian muncul benjolan-benjolan hitam disekujur tubuhnya yang mengeluarkan darah dan nanah jika digaruk.</p>
<p>Jarang sekali putri ke empat Nurlela ini suhu badannya panas. Kalau pun demam, seperti setahun yang lalu, Husnul masih mampu ke sekolah</p>
<p>“Sekarang demamnya tinggi sekali dan tumbuh benjolan hitam,” ungkap wanita yang harus menjadi penopang hidup keluarganya sejak sang suami hilang pada masa konflik delapan tahun silam. </p>
<p>Melihat kondisi buah hatinya yang semakin kritis, sang bunda, Nurlela, langsung membawanya ke Puskesmas Geumpang. “Sehari Husnul dirawat disana, setelah itu dirujuk ke Rumah Sakit Sigli,” ungkapnya. </p>
<p>Berbekal kartu Askeskin, wanita itu langsung membawa anaknya ke RSU Sigli pada Selasa (20/10).“Kami orang tak punya dan korban konflik. Semua biaya Husnul saya yang tanggung sendiri.” Jelas Nurlela. Karena itulah, ia sangat mengharapkan uluran tangan dari berbagai pihak meringankan beban hidup anaknya.</p>
<p>Namun, akibat fasilitas RSU Sigli yang kurang memadai membuat tim dokter merujuk bocah kecil itu ke RSU Zainal Abidin, Banda Aceh.</p>
<p>“Luka-luka di tubuhnya telah menimbulkan belatung yang telah menjalar ke bagian kepala, telinga, serta mata. Untuk persoalan ini harus mendapat penanganan yang lebih serius, yaitu pasien perlu dirujuk ke Banda Aceh guna mendapat penanganan secepatnya apalagi kondisinya sangat kritis,” urai Suryadi Umar, dokter spesialis anak yang menangani kasus Husnul.</p>
<p>“Atas kebijakan Direktur RSU Sigli, pasien ini segera dirujuk ke RSUZA Banda Aceh, mengingat kondisi Husnul Zafira, sangat memprihatinkan, apalagi mereka ini tergolong keluarga yang belum beruntung (miskin),” tambahnya.</p>
<p>“Husnul menderita Varisela atau lebih dikenal dengan cacar air,” begitu diagnosis Suryadi untuk penyakit bocah sembilan tahun itu. “Semua penyebab nantinya akan terdeteksi baik asal muasal riwayat penyakit tersebut hingga cara penangananya apalagi nantinya di RSUZA Banda Aceh peralatannya jauh lebih canggih dibandingkan dengan kita,”urainya.</p>
<p>Kini Husnul Zafirah sedang terbaring tak berdaya pada ruang isolasi di kamar Seureune Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh. Dia dan keluarganya sangat mengharapkan bantuan dari kita semua untuk membantu proses penyembuhannya.</p>
<p>Adakah di antara kita yang ingin membantu HUSNUL?</p>
<p>Bagi yang ingin membantu lgsg, bisa menghubungi keluarga di ruang isolasi Seureune I RSUZA.</p>
<p>HP anggota keluarga : 0813.6015.1580</p>
<p>Bagi yang tidak berkesempatan bisa melalui rekening saya, akan saya berikan langsung kepada keluarga di RSUZA, saya akan laporkan dgn mentracking nama2 donatur di internet banking msg2, kec. BPD Aceh.<br />
(SMS konfirmasi 0651-7112685).</p>
<p>Rek Donasi tsb :<br />
BCA : 286.121.1993, An.Zulkarnain Ali<br />
BNI : 011.2650.918, An.Zulkarnain Ali<br />
Mandiri : 127-00-0507252-3, An.Zulkarnain Ali<br />
BPD Aceh : 010.02.03.591683-5, An.Zulkarnain Ali</p>
<p>Atau juga bisa melalui rekening Komunitas Aceh Blogger<br />
Account Name: Perkumpulan Aceh Blogger<br />
Account Number : 1312-01-000082-53-9<br />
Bank Name/Address: Bank BRI KK. Unsyiah Banda Aceh</p>
<p>(Konfirmasi donasi khusus Rekening Komunitas Aceh Blogger ke: 08126970717). [fadli.web.id]
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.acehkita.com/berita/husnul-terbaring-di-ruang-isolasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
