Connect with us

Cerita Mantan Walikota Sabang Selamat dari Teror Granat Mobil

Aceh

Cerita Mantan Walikota Sabang Selamat dari Teror Granat Mobil

HARI itu Ahad, 1 Februari 2009

Selepas salat subuh terasa kurang enak badan. Rasa kantuk langsung menyerang hebat. Namun karena sudah berjanji untuk membolehkan anak-anak ikut dalam perjalanan ke Alue Jaba dan Paya Karieng, akhirnya saya mandi dan memberitahukan istri untuk mempersiapkan anak-anak.

Alue Jaba adalah sebuah tempat yang dingin di Sabang. Dalam administrasi, setingkat lorong. Di sana mengalir sebuah alur air jernih dan banyak ikan air tawar. Penduduk setempat sangat rajin. Mereka bertani menanam coklat, dan di depan rumah ada berbagai jenis tumbuhan buah-buahan. Ada yang menanam rambutan, durian, jeruk, dan kedondong yang buahnya besar-besar.

Paya Karieng lorong tak jauh dari sana, juga sering kami singgahi, di sana tinggal ibu angkat kami. Suami ibu ditangkap ketika konflik dan disiksa sampai syahid. Mak Paya Karieng, demikian kami memanggil beliau, tinggal di depan sebuah danau kecil yang hanya berair ketika musim hujan bernama Paya Karieng yang menjadi nama lorong tersebut.

Pagi itu, rencananya mau membawa anak-anak ke sana.

Sekitar pukul 9, saya masuk kamar belakang dan memberitahu mereka segera bersiap untuk berangkat pukul 10. Saya merebahkan diri, dan tertidur lagi di kamar anak-anak.

Pukul 10, anak-anak membangunkan, tapi saya masih belum bangun. Badan digoyang-goyang, tidak terbangun. Saya tertidur pulas, sebab terasa seperti lelah sekali.

Setelah dibangunkan beberapa kali dan tidak bangun, akhirnya anak-anak main-main di kamar.

Kira-kira pukul 12, Safrizal, pengemudi kendaraan kami, mengetuk pintu, dan berteriak, “Pak ada bom,” berulang kali. Saya terbangun, langsung keluar dari rumah. Sampai di luar rumah, terlihat mobil dinas kami berplat BL 1 M, terparkir di halaman rumah dinas. Di sebelahnya ada sebuah plastik putih, di dalamnya sebuah benda berwarna hitam.

Saya bertanya, “di mana bom Zal?”, dan Safrizal menunjuk plastik itu. Saya kaget, setelah melihat dari jarak cukup dekat, ternyata granat. “Zal itu granat, laporkan ke polisi”.

Tidak lama kemudian, datang Kapolres Sabang, Imam Thobroni. Disusul kemudian Kasat Intelkam, Prasetyo, kebetulan dari brimob yang pernah bertugas di satuan penjinak bahan peledak.

Dengan menggunakan sebatang kayu, Kasat Intelkam mencoba membalikkan plastik tersebut, dan pin pengaman granat sudah dilepas. Terlihat ada gelang karet mengikat strike lever-nya. Beberapa karet pengikat sudah mulai putus.

Setelah granat diamankan ke kantor Polres, saya mendatangi kantor tersebut untuk membuat laporan resmi sebab menyangkut keselamatan diri dan keluarga. Sesampai di sana, polisi menginformasikan bahwa granat tersebut cuman tertahan oleh gelang karet yang sudah dilumuri minyak, akan meledak kalau karetnya putus.

Menurut cerita pengemudi kami, sekitar pukul 9.30 dia mengeluarkan mobil dari garasi untuk dibersihkan. Ketika melewati undakan, ada suara plastik jatuh. Dia pikir plastik kosong biasa yang dibawa angin. Rupanya di dalamnya ada plastik lain, plastik putih yang berisi benda cukup berat.

***

Barusan saya mendengar ada musibah di Bener Meriah, ada sebuah ledakan diperkirakan dari granat, meledak di dalam mobil, menewaskan satu orang anak dan melukai beberapa orang lainnya. Belum diketahui kejadian yang sebenarnya dan masih dalam penyelidikan polisi. Kita pun tidak perlu berprasangka macam-macam, kita serahkan kepada pihak polri untuk melaksanakan tugas-tugas mereka.

Baca: Ledakan Menimpa Mobil Dinas, Satu Tewas

Semoga Aceh tetap damai dan jauh dari segala bala. Semoga semua kejadian bisa terungkap, dan Allah menjauhkan segala kekerasan yang merugikan kita. []

MUNAWAR LIZA ZAINAL, Walikota Sabang periode 2007-2012

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

To Top