Connect with us
cermin

Kolom

Cermin

Gara-gara wartawan, Fortuner, dan Novanto, saya teringat momen dalam potongan foto ini. Jurnalis majalah Der Spiegel, Nils Klawitter, sedang mewawancarai Gunarti tentang penolakan petani Kendeng terhadap perusahaan semen Jerman (HeidelbergCement – Indocement) di Pati.

Majalah beroplah 700 ribu dengan reputasi internasional yang dibaca 6 juta orang ini mengirim Nils dari Hamburg untuk menemui Gunarti di kota Leipziq.

Kawan-kawan aktivis Jerman yang menemani Gunarti lalu mengatur wawancara di sebuah rumah makan. Saya hanya menonton. Sesekali membantu menerjemahkan dari Jawa ke Inggris.
Kami semua memesan makanan dan minuman, kecuali Nils. Ia menampik tawaran bahkan untuk secangkir kopi atau teh panas pengusir dingin. Ah, mungkin ia ingin fokus wawancara dulu, batin saya.

Tapi setelah wawancara usai, dan dilanjutkan dengan obrolan informal, ia pun tetap menolak memilih makanan dan minuman yang kami tawarkan.

Saya mulai berhenti membujuk karena menduga memang itulah standar aturan dalam interaksi antara wartawan dan narasumber di Spiegel. Kalaupun sama-sama makan, mungkin harus bayar sendiri-sendiri.

“Keren, tapi kaku dan dingin. Khas disiplin orang Jerman,” batin saya menguatkan anggapan umum.

Saya tak sempat bertanya ihwal ini, karena ia segera pergi dan kembai ke Hamburg petang itu juga untuk mengejar tenggat tulisan. Sementara kami harus bergegas ke bioskop untuk pemutaran “Samin vs Semen”.

Setelah wawancara ini, beberapa kali Nils mengemail saya untuk mengonfirmasi beberapa detil dalam wawancara dan mencocokkan data.

Sepekan kemudian, dalam perjalanan pulang di bandara, kami membeli Der Spiegel yang bertepatan dengan hari terbit. Ia menurunkan laporan satu halaman dengan judul “Ketegangan di Timur Jauh”.

“Produksi semen adalah bisnis yang kotor, karena itu HeidelbergCement senang berproduksi di daerah yang kurang ada perlawanan,” tulis Nils, tajam.

“Gunarti yang keluarganya bisa hidup dengan 140 Euro per bulan, bertanya pada CEO Bernd Scheifele yang gajinya 10 juta Euro per tahun, ‘Kapan Anda pergi dari daerah kami?” sambungnya.

Der Spiegel yang artinya “Cermin” tampaknya sedang menjalankan fungsinya, yakni tempat masyarakat Jerman berkaca, benarkah kemakmuran yang didapat bukan dari hasil mengeksploitasi dan merusak kampung orang lain.

Kisah perjalanan Gunarti dan orang-orang yang membantu menggalang solidaritas internasional akan kami filmkan. Saya dibantu videografer lokal dari Pati, Nopet sedang menggarapnya.
Semoga akhir atau awal tahun nanti sudah dapat ditonton.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Kolom

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top