Connect with us

CERPEN | Wisuda

Berita

CERPEN | Wisuda

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sontak aku terkejut dan menjerit. Teman-teman yang dari tadi asyik bercanda dan tertawa pun mendadak diam. Pandangan mereka beralih kepadaku. Berpaling sejenak dari keriuhan kedai kopi.

“Siapa, Din?” Andi bertanya. Tangannya kini berada di bahuku.

Aku terpaku. Tidak menjawab sepatah kata pun.

“Bukan Mamak, kan?” Reza bertanya takut-takut. Tangannya pun kini berada di bahuku.

Aku menggeleng.

“Jangan bilang yang meninggal si Yusniar! Dia aktris favorit aku!” Hasbi bertanya setengah berteriak. Kedua tangannya ikut menempel di bahuku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, menggeleng dua kali, bersiap-siap mengabarkan kematian terbesar tahun ini.

“Pembimbing skripsi aku.”

“Apa?!” Teriak ketiga sahabatku serentak.

“Beliau meninggal barusan.”
***

Siapa yang tidak kenal Pak Rahmat. Beliau dosen favorit di kampus kami. Walau sudah bolak-balik dari luar negeri, beliau tidak pernah meninggalkan adat ketimuran: ramah dan selalu memikirkan orang lain. Jika bertemu dengan kami di kedai kopi, beliau duluan yang menyapa. Tak jarang semua pesanan kami dibayarnya. Padahal kami tak pernah meminta. Beberapa mahasiswa lain bahkan suka memanfaatkan kebaikan Pak Rahmat. Mereka sengaja pergi ke kedai kopi favorit beliau di kawasan Ulee Kareng. Melintasi mejanya lalu sengaja menegur. Tujuannya tentu saja agar mendapatkan kopi gratis. Pak Rahmat akan dengan senang hati mengeluarkan dompetnya.

Dalam hal akademik, Pak Rahmat juga tidak keberatan dihubungi di akhir pekan. Tidak ada nada marah dalam suaranya. Malah beliau sangat senang jika ada mahasiswa yang bertanya saran. Katanya, jarang-jarang mahasiswa sekarang peduli dengan pelajaran. Mereka cenderung cuek. Hanya peduli dengan nilai semata.

Namun yang membuat kami menghormati Pak Rahmat setengah mati adalah keadilan beliau. Walau dekat dengan mahasiswa, tapi beliau tidak pernah memberikan nilai karena unsur ‘kedekatan’. Joni misalnya, dia selalu membantu Pak Rahmat mengangkat proyektor ke kelas, memfotokopi tugas, bahkan saat acara akikah di rumah Pak Rahmat, Joni-lah yang paling rajin bekerja. Saat semua orang menyangka bahwa dia akan mendapatkan nilai ‘A’, ternyata dia hanya mendapatkan ‘B’. Pak Rahmat memberikan nilai tersebut karena Joni alpa mengumpulkan sebuah tugas.

Dengan segala kebaikan itu, banyak mahasiswa berdoa dan bahkan melakukan tahajud agar Pak Rahmat menjadi penasehat akademik, pembimbing skripsi, atau sekedar dosen mata kuliah yang sedang mereka ambil.
***

Barusan Mamak meneleponku lagi. Belakangan beliau lebih sering menghubungiku untuk bertanya kapan wisuda. Jelas saja Mamak gusar. Adikku, Raisa, yang usianya dua tahun lebih muda, bulan lalu sudah memakai toga. Aku, abangnya, yang kuliah dua tahun lebih cepat, hanya menjadi tukang pegang kamera saat adikku itu diwisuda. Dan tadi sebelum menutup telepon, Mamak tak lupa memberikan ultimatum: jika tidak lulus semester ini, subsidi SPP dicabut!

Sekarang aku sudah semester sepuluh. Walau masih dua tahun lagi menuju drop-out, tapi aku sudah sah menjadi legenda di kampus. Legenda adalah sebutan kami untuk mahasiswa leting tua yang belum kunjung menyelesaikan kuliah. Dulu aku yang menggoda seniorku dengan sebutan itu, sekarang malah sebaliknya.

Untuk kesekian kali, aku mengkambing-hitamkan skripsi atas keterlambatanku wisuda. Tapi jika kupikir dengan pikiran yang jernih, kenapa ya aku bisa terkendala dengan skripsi? Dosen pembimbingku tak ada masalah. Dia terkenal ramah. Punya waktu luang yang luas untuk mahasiswa. Malahan dia kelihatan lebih serius memikirkan tentang skripsiku daripada diriku sendiri.

Mengenai bahan skripsi. Memang terbilang cukup sulit dicari. Aku kuliah di Fakultas Keguruan. Namun judul skripsiku membahas mengenai aspek psikologi mahasiswa. Jadilah aku sibuk mencari referensi tentang psikologi. Sesuatu yang tidak kupahami sama sekali. Tapi bukankah sekarang zamannya informasi menggantung seperti jaring laba-laba. Segala macam berita, pengetahuan, bahkan hal-hal tak penting sekalipun cukup mudah digapai.

Mungkin memang kesalahannya terletak pada diriku sendiri. Aku tak pernah mampu menolak ajakan teman-teman bertanding play station. Pernah aku bermain hingga Subuh. Belum lagi tentang kegemaranku cang panah di kedai kopi. Tak terhitung berapa kali aku ke sana dalam sehari. Karena aku lalai, skripsiku terbengkalai. Kurasa fakta ini yang masih sulit kuterima.
***

Setelah mendengar kabar kematian dosen pembimbingku, dengan terburu-buru kami tancap gas ke rumah duka. Jam menunjukkan pukul 2 siang. Matahari bersinar terik. Abu-abu di jalanan beterbangan disapu angin.

Reza yang memboncengi aku, melajukan sepeda motornya dengan kencang. Hasbi dan Andi membuntuti di belakang. Perjalanan kami sedikit melambat di Jembatan Lamnyong. Kami berpapasan dengan rombongan wisudawan bersama iringan sanak-saudara mereka. Memang hari ini universitas kami mengadakan wisuda, namun kami kompak tak pergi. Maklum, yang diwisuda adalah adik letting semua.

Lima belas menit berlalu, kami tiba di rumah duka. Deretan motor dan mobil terlihat memenuhi jalan di depan rumah almarhum. Pelayat kebanyakan mahasiswa dan dosen. Beberapa dari mereka kukenal.

Tanpa buang waktu, kami melangkah masuk ke dalam rumah. Jenazah terbujur di lantai ruang tamu. Sejenak aku terbayang dengan almarhum dosen pembimbingku itu. Baru saja kemarin kami bertemu. Aku teringat bagaimana belakangan ini dia terus menyemangatiku menulis skripsi. Mengenalkanku dengan teman-temannya yang berprofesi sebagai dosen di jurusan psikologi. Bahkan kemarin dia turut membantuku merancang kuesioner. Aku merasa sangat terbantu. Tak terasa air mataku menetes.
***

Seminggu berlalu sejak kematian Pak Fadhil. Sekarang aku sedang berada di kampus. Bersiap bertemu pembimbing baruku.

“Dua puluh hari lagi. Kamu pasti bisa. Tugas dari bapak saja kamu selesaikan dalam semalam, bukan?” Bapak itu berkata ramah. Benar kata teman-teman. Dia memang baik. Aku pun hanya mengangguk saja.

“Baiklah. Siang ini, kamu langsung sebar kuesionernya. Lusa kamu temui saya. Saya bantu kamu mengolah data. Oke?”

Aku mengangguk lagi dan menyalami dosen pembimbing baruku. Lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan.

“Tunggu, Din!”

Aku mendadak menghentikan langkah.

“Fadhil bangga sama kamu. Dia selalu bilang sama saya kalau kamu itu pintar. Hanya terkadang kamu suka malas-malasan. Sudah, pokoknya bulan November ini kamu harus sidang! Kamu harus buat Fadhil bangga!”

“Baik, Pak Rahmat! Saya yakin Insya Allah bulan depan saya wisuda! Terima kasih sudah mau menjadi dosen pembimbing baru saya.”

Aku meninggalkan ruangan dengan senyuman dan harapan baru.[]

MUHAMMAD HAEKAL, Mahasiswa IAIN Ar-Raniry Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Pemilik akun twitter @haekalism

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

To Top