Connect with us

Cita Rasa Aceh di Tanah Kupang

Laporan Khusus

Cita Rasa Aceh di Tanah Kupang

[vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_column_text]ENTAH terlewatkan, atau memang tidak ada, hampir enam bulan perjalanan ke arah Timur Indonesia. Baru di Kupang, bisa melahap masakan khas Aceh.

Sejak keluar Jakarta 1 Januari silam, menyusuri Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, juga tidak pernah menjumpai warung orang Aceh.

Menyeberang ke Bali, Lombok, Sumbawa (NTB). Flores, Sumba (NTT), justru yang paling banyak warung Padang disusul Jawa. Selain di Bali, hampir tidak pernah mencicipi kuliner khas lokal.

“Kecuali menu babi, di Timur yang paling banyak penjual makanan, ya orang Padang dan Jawa. Kalau ada orang Timur yang jualan, kurang laku,” begitu kata seorang teman di Larantuka.

Selama di jalan, kami nyaris lebih banyak singgah di warung Jawa atau Padang. Jika sendiri, pilihan saya tetap warung Padang, karena saya doyan sambal, terutama balado ijo-nya.

Soal makanan, saya berusaha tidak selektif, yang penting mengandung karbohidrat dan protein. Tapi ketika di kota, tidak bisa menahan untuk memanjakan lidah.

Buktinya, ketika hampir sepekan bermukim dengan keluarga Baduy (Baduy Dalam dan Baduy Luar), saya bisa makan kenyang dan nikmat. Padahal lauknya, tiap hari mie instan direndam air hangat sama ikan asin. Tak jarang cuma mie instan atau ikan asin saja.

Hal berbeda ketika singgah di sebuah warung di Lumajang, setelah seharian kuyup di guyur hujan. Dalam kondisi sangat lapar, mencium aroma mie yang sedang digoreng, sangat menggugah selera.

Saya melongok, bumbu dan cara masak mirip mie Aceh. Bagitu juga penyajiannya, hanya minus bawang acar. Tapi hanya beberapa sendok sanggup saya telan, karena rasa manis yang belum terbiasa di lidah.

Setiba di Kupang, seorang karib di Jambi (dr Bella), memasang foto profil sepiring mie goreng. Setelah saya kasih stiker ngiler. Dia malah mengirim foto mie Aceh, dengan provokasi benar-banar bikin ngiler.

Puji Syukur, Tuhan Maha Penyayang. Akhirnya di Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), saya dapat memanjakan lidah dan mata. Hampir semua menu racikan dari ‘tanah indatu’ ada di sini.

Ada mie Aceh, nasi goreng, sate kambing, kari kambing, ikan kuah asam, martabak Aceh, roti canai dan beragam lainnya. Sementara minuman, ada kopi saring, telur kocok, kopi sanger, bandrek dan aneka juice.

Semua jenis makanan ini, ada di warung milik Zulkifli, warga Gampoeng Pineung, Beureunuen, Pidie. Dia memanfaatkan teras dan beberapa bagian rumah untuk tempat usaha, di salah satu jalan protokol di Kupang.

KUPANG“Cabe, asam sunti dan beberapa bumbu lain, termasuk bubuk kopi saya suruh kirim dari Aceh,” begitu kata Zulkifli.

Lelaki paruh baya ini, sejak delapan puluhan sudah merantau keluar Aceh, Kupang baru dia singgahi di awal 1998. Mulanya dia memulai usaha kelontong, lumanyan laris. Tapi terpaksa tutup, setelah gagal menjadi anggota dewan di Kupang, tahun 2009.

Untuk bertahan hidup, Zulkifli memilih melaut. Usaha tekunnya berbuah, tak lama dia sudah mampu memiliki perahu sendiri. Kini dia memiliki empat perahu, dengan belasan pekerja. “Titipan Tuhan sementara pada saya,” ungkap Zulkifli.

Hampir dua tahun lalu, dia bersama istrinya yang juga orang Beureunuen, merintis usaha kuliner tradisional Aceh, di Kupang. Dia menyewa sebuah rumah seharga 55 juta Rupiah per tahun.

Peracik juga didatangkan dari Aceh, yang bertanggung jawab terhadap mie. Namanya Zainal Abidin, orang Nisam Antara, Aceh Utara. Dia hampir setahun bekerja di Kupang. Sebelumnya merantau ke Batam. Di sana, dia sempat menjadi guru mengaji.

Sementara di bagian goreng menggoreng nasi, ada Muliadi, juga warga Aceh Utara. Sepulang mangadu nasib di Malaysia, dia langsung terbang ke Kupang.
Yang menyaring kopi, selain Zulkifli sendiri, ada Amri, asal Pidie Jaya. Setelah tidak beruntung jadi penambang emas di Geumpang, dia mengadu nasib di Kupang.

Kali ini, giliran saya yang beruntung. Selama beberapa pekan di kota ini, tiap hari berusaha singgah di warung itu. Sambil ‘poh cakra’ menikmati menu-menu yang berbeda. Sebelum kembali ke geladak yang mengangkut kami ke paling timur Indonesia, Merauke. []

SUPARTA ARZ[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top