Connect with us

CITIZEN | Antara GBK dan Bukit Jalil

Berita

CITIZEN | Antara GBK dan Bukit Jalil

PERHELATAN pesta sepak bola terbesar se-Asia Tenggara bertajuk AFF Suzuki Cup kembali digelar tahun ini. Adalah Malaysia dan Thailand yang mendapat giliran menjadi co-host pada edisi ke sembilan ini.

Dua tahun lalu saya berkesempatan hadir di stadion GBK (Gelora Bung Karno) Jakarta untuk menyaksikan langsung pertandingan final antara Indonesia vs Malaysia. Walaupun ketika itu kita menang dengan skor 2 – 1, namun trofi kejuaraan ini harus rela diserahkan kepada negeri jiran Malaysia karena mereka unggul agregate 4 – 2.

Kali ini kesempatan itu datang lagi tatkala saya menyaksikan langsung pertarungan antara timnas Indonesia vs Laos pada pertandingan pembuka turnamen “AFF Suzuki Cup 2012” grup B di Stadion Bukit Jalil (SBJ), Kuala Lumpur yang berkesudahan 2 – 2.

Mendapat peluang menonton langsung pertandingan bola sepak di salah dua stadion terbesar di Asia, GBK dan Bukit Jalil, mau tidak mau membuat saya membanding – bandingkan ke dua football venue tersebut. hal pertama yang menjadi perhatian saya adalah akses menuju kedua stadion tersebut. selain dengan kendaraan pribadi, stadion GBK bisa ditempuh dengan alat transportasi umum seperti ojek, taksi dan bis umum dalam kota dan ini sangat rentan terjebak kemacetan lalu lintas ibu kota.

Sedangkan stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur, selain dengan kendaraan pribadi, taksi, dan bis umum, bisa juga diraih dengan mengunakan LRT Star dan kita bisa langsung turun di stasiun Bukit Jalil tepat di depan stadion. Sarana transportasi yang saya sebut terakhir, selain bisa menampung penumpang dalam jumlah yang banyak, juga tidak akan terganggu dengan keadaan macet.

Hal kedua yang saya perhatikan adalah tidak saya temukan satu calo pun berkeliaran di sekitaran stadion Bukit Jalil untuk menjual tiket. Semua karcis masuk di jual di loket resmi. Kondisi berbeda bisa kita temukan di stadion GBK dimana banyak calo berkeliaran menjual tiket masuk stadion. Hal ini tentu bisa saja digunakan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menaikkan harga tiket berkali – kali lipat dari harga normalnya. Khusus harga tiket, stadion Bukit Jalil menjual tiket dengan harga yang seragam yakni 30 Ringgit Malaysia (hampir 100 ribu rupiah) untuk semua jenis kategori tempat duduk. Berbeda halnya dengan stadion GBK dimana harga tiket bervariasi dari Rp 75 ribu hingga mencapai jutaan rupiah.

Selanjutnya adalah aspek kebersihan dan kerapian. Sejauh pemantauan saya, stadion Bukit Jalil lebih bersih dari GBK. Selain itu, tempat duduk di Bukit Jalil pun tampak lebih rapi dimana penonton duduk di single-seat atau kursi yang terpisah antara satu penonton dengan penonton lainnya bukan seperti di GBK yang tempat duduknya berupa bangku panjang yang terkadang membuat penonton duduk berdesak -desakan.

Hal terakhir dan yang paling penting menurut saya adalah ketersediaan tempat shalat atau mushalla di dalam kedua stadion tersebut. mushalla menjadi sangat penting karena waktu pertandingan sering kali di mulai mendekati waktu shalat. Misalnya seperti pertandingan antara Indonesia vs Laos beberapa waktu yang lalu yang dilangsungkan pukul enam sore waktu setempat. Tidak lama setelah babak pertama berakhir, masuklah waktu magrib. Waktu yang singkat ini bisa dimanfaatkan penonton untuk menunaikan shalat magrib.

Di dalam stadion GBK sangat sulit menemukan tempat shalat yang nyaman. Kalapun ada, sering kali shalat dilakukan di tempat yang berdekatan dengan toilet dengan hanya beralaskan koran ataupun kardus bekas. Kondisi ini tentunya sangat jauh dari kondisi sebuah tempat shalat yang ideal yang harusnya bersih, rapi dan nyaman. Keadaan berbeda kita temukan di dalam stadion Bukit Jalil. SBJ menyediakan mushalla tidak hanya untuk kaum laki-laki, tetapi juga untuk kaum perempuan. Lokasi mushalla dan toilet pun dipisahkan oleh lantai yang berbeda sehingga aroma tidak sedap dari toilet tidak sampai ke mushalla. Selain itu, kondisi mushalla pun cukup bersih, rapi berlantaikan keramik sehingga jama’ah merasa nyaman melaksanakan shalat.

Dari deskripsi ringkas kedua stadion tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kondisi SBJ masih lebih baik dari GBK, paling tidak sampai hari ini. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi pihak-pihak terkait agar di kemudian hari stadion kebanggaan Indonesia bisa lebih baik dari stadion milik negara tetangga. Semoga. [citizen]

TAUFIQ MAULANA, Alumni International Islamic University Malaysia

Continue Reading
Baca juga...
1 Comment

1 Comment

  1. Rully

    Jan 15, 2013 at 2:45 pm

    Memang yang utama kita harus bisa menghargai diri kita sendiri dahulu, kmdn baru kita bisa menghargai orang lain spt menghargai diri kita sendiri. Semoga kedepannya stadion GBK dpt lebih baik dr stadion bukit jalil, dgn upaya menpora yg baru utk merenovasi spy kita sbg rakyat Indonesia jg memp rasa bangga kl ada event internasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

To Top