Connect with us

Lebaran Tanpa Timphan

Berita

Lebaran Tanpa Timphan

INI lebaran Idul Adha kedua saya di Taiwan. Di hari yang suci ini, rasa kangen terhadap kampung halaman tak terbendung. Saya membayangkan bisa merayakan lebaran bersama suami, anak, orang tua terkasih, dan teman-teman dekat yang penuh canda. Tak Ada yang cukup tepat untuk menggambarkan betapa indahnya lebaran di kampung bersama keluarga dan sanak saudara. Apalagi, sehari atau dua hari menjelang hari raya, di kampung ada tradisi makmeugang, sebutan untuk pesta daging yang dilakoni masyarakat Aceh.

Bayangan lebaran di Tanah Seulanga terus menari-nari di kepala: makan lontong, sirup manis aneka rasa dan warna disajikan kala berkunjung ke rumah tetangga atau saudara, kue loyang, grieng, bhoi, kacang tojin, dan yang paling mengangenkan adalah timphan.

Ya, ini kali kedua saya berlebaran Idul Adha tanpa makanan itu, tanpa timphan, mengingat saya sedang di perantauan, di Negeri Farmosa (Taiwan) untuk mengembang tugas menuntut ilmu, demi meraih gelar magister. Walau lebaran di Taiwan tak seindah di kampung halaman, tetapi ada hal-hal yang patut disyukuri mengingat saya tidak sendiri dan teman-teman seiman dari belahan dunia lain menjadi pelengkap kehangatan dan kebahagian di hari yang spesial untuk kaum muslim.

Saya sendiri menetap di Kota Taichung, lebih kurang 2 sampai 3 jam perjalanan dari Taipe, ibu kotanya Taiwan. Di pagi Idul Adha, kami menuju masjid dengan jarak tempuh 15 menit dari kampus menggunakan bus dalam kota. Sesampai di masjid, jumlah jemaah yang hadir juga lumayan mengingat banyaknya pekerja muslim dari Indonesia ikut hadir, ditambah lagi dengan pelajar-pelajar muslim dari dari negara lainnya seperti Afrika, India, Turki, Timur Tengah, dan lainnya.

Hal yang menarik adalah dengan adanya bazar kelengkapan muslim dan muslimah yang dikoordinir oleh pekerja Indonesia. Tak jarang banyaknya pekerja wanita yang datang pagi-pagi untuk membeli baju baru dan kemudian langsung menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian yang mereka pakai dengan yang baru dibeli.

Sedikit iseng saya bertanya pada seorang pekerja asal Jawa Timur. “Kok diganti, Mbak bajunya.”

“Kan mau pakai baju yang baru,” si Mbak itu menjawab, sambil tersipu, “soalnya kan lebaran, masa pake baju lama, malu dong.” Kali ini ia tersenyum sembari membetulkan bajunya. “Cantik, ngga?” tanyanya.

Hen piaoliang,” saya spontan menjawabnya. Ini adalah ungkapan untuk menyebutkan “sangat cantik”.

Sambil tersipu, si Mbak tadi bilang, “Tolong potoin dong, Mbak.”

Ingin tertawa, tapi saya tahan, sambil menjepret si Mbak dengan baju baru di Idul Adha ini.

Usai salat Idul Adha, jatah kue gratis pun dibagikan untuk mengganjal perut yang masih kosong, lalu dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban massal, yang dimotori oleh dua kelompok yaitu perkumpulan muslim Taichung dan ikatan pekerja Indonesia. Bagi semua warga Indonesia yang ada di sana akan mendapatkan jatah daging kurban yang bias dibawa pulang ke rumah masing-masing. Tapi, tentu, harus mendaftarkan diri dulu ke panitia kurban.

Ritual Idul Adha ditutup dengan makan siang bersama. Bagian ini merupakan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu, mengingat menu makan yang disediakan pasti lebih spesial dibandingkan dengan hari Jumat biasanya. Ya, itung-itung sebagai pengganti lontong atau timphan di kampung sendiri. [citizen]

ZIKRA YANTI, mahasiswa asal Aceh yang tengah menempuh pendidikan Magister di Taichung, Taiwan.

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

To Top