Connect with us

Demam Juan Carlos di Setui

Feature

Demam Juan Carlos di Setui

MALAM kian usang, gerai makanan khas Italia di kawasan Setui, telah tutup. Namun riuh masih terdengar persis di belakang gerai. Di sana, puluhan pemuda larut bermain futsal.

Sejak sebulan silam, bekas terminal L 300 jurusan pantai barat dan selatan Aceh itu disulap Dedi Sartika, warga Geuce Komplek, Banda Aceh, menjadi lapangan sepak bola ala Amerika Latin. Jauh beda dari sepak bola biasa, lapangannya seluas 15 x 25 meter. Berat bola yang dimainkan pun hanya 400 gram.

Permainan juga tidak dilangsungkan di lapangan berumput, melainkan karpet sintetik dari tali rapia. Lebar gawang hanya tiga meter dengan tinggi dua meter. Sekeliling lapangan dibatasi jaring. Jumlah pemain satu tim hanya lima orang.

Walau arena bermain kecil, jangan kira futsal tidak bisa memeras keringat. Anda tak akan sempat berdiri seperti bermain sepak bola, futsal memaksa pemain terus bergerak. ”Pertama mikirnya nggak terlalu capek karena lapangannya kecil, ternyata lumayan capek main futsal,” kata Ronny Chandra, seorang eksekutif muda.

Tapi jangan khawatir, pergantian pemain dalam futsal tak terbatas. Kapan saja pemain dapat masuk dan meninggalkan lapangan. Khusus penjaga gawang, hanya boleh diganti bila bola sedang tidak digiring, itupun atas persetujuan wasit.

Hendri, seorang mahasiswa di Banda Aceh, hafal benar peraturan permainan ini. Menurutnya, jika bola keluar lapangan, maka bola harus ditendang, bukan malah dilempar.

Selain itu, pemain tak boleh membawa bola lebih dari empat detik tanpa dioper ke pemain lain. ”Bila tidak, si pemain akan dikenakan hukuman pelanggaran,” jelas Hendri. Waktu permainan dibagi dua babak, masing-masing 25 menit.

Masalah perlengkapan, selain kaos seragam agar dapat membedakan kawan dan lawan, futsal juga membutuhkan sepatu khusus. Tapi tidak seperti sepatu untuk permainan sepak bola yang memiliki grip. Sepatu untuk futsal terbuat dari karet. ”Harganya mulai 200 ribu sampai ada yang satu juta, tapi banyak juga yang pakai sepatu biasa, asal nyaman aja di kaki,” ungkap Hendri.

Melihat permainan itu mulai digandrungi, Dedi Sartika, setelah menamatkan pendidikan di Universitas Trisakti, Jakarta, dia kembali ke Aceh. Pemuda berusia 26 tahun inilah yang memperkenalkan futsal pertama di Aceh. Ia membangun dua lapangan. Modalnya, mencapai lima milyar. Gedung futsal miliknya sudah masuk kategori standar.

Selain lapangan, lokasi itu juga dilengkapi kafetaria dan kamar mandi khusus untuk para pemain. Ada juga loker, untuk para member. ”Saya ingin membuat arena ini benar-benar nyaman, rencananya saya juga akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan sepatu untuk memasok sepatu futsal,” ungkapnya.

Dedi serius menggarap usahanya. Ia merekrut sembilan orang karyawan untuk mengelola usaha yang dibuka dari pukul 10.00 pagi sampai 12.00 tengah malam. Laba yang diraih, mencapai Rp 3 juta saban hari. ”Kebanyakan mereka mainnya malam, apalagi kalau Sabtu dan Minggu, ya lumayanlah omsetnya” katanya.

Walau Dedi telah membuat dua lapangan, namun peminat tak langsung dapat main. Tak cukup sehari menunggu nama tim bisa tercantum di papan jadwal yang ditempel dekat ruang ganti. ”Saya pesan lapangan jauh-jauh hari, sebab peminatnya banyak,” kata Ronny.

Ronny memilih bermain futsal di malam hari, karena alasan jadwalnya terlalu padat dengan kerjaan. Apalagi setelah main futsal, dia mengaku bisa tidur pulas dan menghilangkan semua beban kerjannya selama sepekan.

”Setiap akhir pekan kami selalu datang dan main futsal bersama di sini. Habis main, kan capek tapi besok badan udah enakan, karena semua keringat keluar, Senin bisa kerja lagi,” akunya.

Tak hanya para eksekutif muda yang menggandrungi permainan ini. Para remaja usia sekolah maupun mahasiswa juga banyak mengantri untuk ikut mencoba kepiawaian dalam mengolah bola. Maklum di Banda Aceh sendiri baru di tempat ini sajalah permaian itu ditemukan.

”Untuk sewa lapangan, biasanya kami kumpul duit, karena harga sewanya Rp 150 ribu perjam. Tapi, kalau malam susah bisa main, karena udah banyak grup yang booking duluan, jadi kadang kami mainnya sore,” ungkap Hendri, seorang mahasiswa di Banda Aceh.

Dedi berencana menggelar turnamen dalam waktu dekat, untuk menambah peminat olahraga ini. Meski baru secara resmi dibuka pada akhir Oktober, sudah banyak klub yang menjamur dan mengantri di lapangan Dedi.

***

FUTSAL sendiri berasal dari bahasa Spanyol, yaitu Futbol (sepak bola) dan Sala (ruangan), yang jika digabung artinya menjadi sepak bola dalam ruangan. Futsal mulai dikenal sejak tahun 1930 di Montevideo, Uruguay.

Permainan ini diperkenalkan Juan Carlos Ceriani, seorang pelatih sepak bola asal Argentina. Hujan yang sering mengguyur Montevideo membuatnya kesal, karena rencana yang ia susun jadi berantakan akibat lapangan yang tergenang air.

Lalu, Ceriani memindahkan latihan ke dalam ruangan. Pertama ia tetap memakai jumlah pemain 11 orang, namun karena lapangan yang sempit, dia memutuskan untuk mengurangi jumlah pemain menjadi 5 orang tiap tim, termasuk penjaga gawang.

Ternyata latihan di dalam ruangan itu sangatlah efektif dan atraktif. Sehingga mampu menarik minat banyak masyarakat Montevideo. Lalu banyak penggemar bola di kota itu yang mencoba permainan baru ini, dan jadilah Futsal olahraga yang diminati masyarakat luas.

Di Indonesia sendiri, futsal baru menjamur sekitar tahun 1998 di beberapa kota besar, seperti Jakarta dan Bandung. Kalangan artislah yang lebih intens memperkenalkan olahraga itu. Bahkan Luna Maya, aktris kawakan Indonesia yang lagi naik daun, juga kepincut olahraga ini. [acehkini.co.id]

Continue Reading
Baca juga...
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: ACEHKITA.COM : Aceh News Agency » Futsal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Feature

To Top