Connect with us

Desain Museum Tsunami, Ridwan Kamil Kuras Air Mata

Aceh

Desain Museum Tsunami, Ridwan Kamil Kuras Air Mata

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Museum Tsunami Aceh merupakan salah satu bangunan yang didesain oleh Ridwan Kamil, arsitek kelas dunia yang kini menjadi walikota Bandung. Lalu, bagaimana cerita di balik desain Museum Tsunami Aceh itu?

Kang Emil, begitu Ridwan Kamil akrab disapa, awalnya tertarik mengikuti sayembara desain Museum Tsunami Aceh yang digelar Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias. Museum itu dimaksudkan sebagai sebuah situs sejarah yang akan digunakan untuk mengenang dan mengingat petaka Ahad pagi, 26 Desember 2004 silam.

Soal desain bangunan, Kang Emil memang jagonya. Di antara ratusan karya yang masuk, konsep yang ditawarkan Kang Emil dipilih penyelenggara. Atas karyanya, Kang Emil berhak memperoleh hadiah senilai Rp100 juta.

Kang Emil mengaku tidak mudah dalam mendesain Museum Tsunami. Saat proses desain itu, pria ini acap menguras air mata. Ia teringat bencana dahsyat yang baru saja menggulung Aceh dan masyarakatnya.

“Ini proyek paling sulit,” ujar Kang Emil saat berbicara di Seminar Pembangunan Berkejalanjutan Pascatsunami di Universita Syiah Kuala, Banda Aceh, Sabtu (26/12/2015).

Ridwan Kamil hadir di Banda Aceh untuk memperingati 11 tahun tsunami. Usai seminar, ia juga tampil di depan mahasiswa Politeknik Aceh. Ia juga mendatangi Museum Tsunami pada malam harinya, menghadiri peluncuran buku “Civilization of Lights” karya fotografer legendaris Bedu Saini. Buku ini berisikan kumpulan foto yang dijepret Bedu Saini saat tsunami menerjang Banda Aceh, pascatsunami hingga masa rekonstruksi.

Saat mendesain Museum Tsunami, Ridwan Kamil ingin gedung ini menjadi tempat bagi pengunjung untuk mengingat tsunami, mempelajari tsunami, dan mitigasinya. Ia juga ingin bangunan ini menjadi tempat penyelamatan kala bencana.

“Saya banyak menumpahkan air mata saat mendesainnya,” lanjutnya.

Mendesain Museum Tsunami butuh banyak waktu yang diperlukan. Ini berbeda dengan saat Ridwan Kamil mendesain gedung atau bangunan lain.

Hingga, Ridwan Kamil memilih konsep agar Museum Tsunami ini sebagai pengingat dan mendidik. Untuk mengingat (remembering), di bagian bawah ia mendesain gedung dilengkapi dengan lorong yang mengalir percikan air di kiri-kanannya. Sedangkan untuk mendidik, ada panel video yang menampilkan ilustrasi tsunami, lalu ruang pamer miniatur dan benda bekas tsunami.

“Lalu di bagian atap saya buat agar bisa dijadikan tempat evakuasi tsunami,” kata dia.

Kini, Museum Tsunami Aceh berdiri megah di dekat Lapangan Blang Padang dan kuburan massal serdadu Belanda. Ia menjadi landmark baru Banda Aceh, setelah Masjid Raya Baiturrahman.

Ridwan Kamil memadukan konsep rumah tradisional Aceh dengan bukit penyelamatan sehingga desain museum ia namakan dengan “Rumoh Aceh as Escape Hill”. Desain museum sarat dengan nilai kearifan lokal. Hal itu tercermin dari desain museum yang menyerupai Rumoh Aceh (rumah tradisional berupa rumah panggung) yang berpadu dengan konsep bukit penyelamatan. Museum juga didesain menyerupai gelombang raya yang mengingatkan kita pada tsunami.

Sementara dindingnya didesain dengan motif tari Saman (tari tradisional dari Gayo Lues). Di tengah-tengah museum ada satu cerobong berbentuk slinder yang menjulang ke langit. Melalui cerobong setinggi 33 meter ini nantinya akan memantulkan cahaya ke langit. Kamil menamakan cerobong ini dengan The Light of God, pertanda hubungan manusia dengan Tuhan.

Di museum juga ada terowongan yang menggambarkan suasana dukacita yang dinamakan dengan tunnel of sorrow, memorial hall, amphitheatre. Di ruang paling atas (atap) didesain berbentuk elips yang akan ditanami rumpung dan berfungsi sebagai escape hill. Dari atap ini, dapat melihat Kota Banda Aceh.

Museum tsunami ini merupakan proyek bersama antara BRR Aceh-Nias, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Aceh, dan Pemerintah Kota Banda Aceh. Pembangunan museum ini menelan biaya sebesar Rp 67,8 milyar.

Ia diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Februari 2009. []

GHAISAN | FOTO: Suparta Arz/ACEHKITA.COM

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

To Top