Di Depan Menkes, Plt Gubernur Sebut Kesehatan Jadi Program Prioritas Pemerintah Aceh

0
567
Di Depan Menkes, Plt Gubernur Sebut Kesehatan Jadi Program Prioritas Pemerintah Aceh
Menteri Kesehatan RI hadir Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) di Banda Aceh, Senin (4/3). Foto: Humas Setda Aceh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengatakan isu kesehatan merupakan isu yang sangat penting dan mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh. Oleh sebab itu, program kesehatan menjadi program utama dan berada di atas program pendidikan dan lingkungan hidup.

“Karena apa pun tidak dapat dilakukan tanpa adanya kesehatan,” kata Plt Gubernur Aceh saat membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) di Banda Aceh, Senin (4/3) yang turut dihadiri Menteri Kesehatan RI. Rakerkesda tersebut mengusung tema “Kolaborasi Pemerintah Aceh, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Menuju Aceh Sejahtera.”

Menurut Nova kualitas kesehatan di Aceh belum memuaskan, ada lima isu tentang kesehatan yang saat ini ditangani Pemerintah Aceh. Di antaranya, kata Nova, pencegahan stunting, penanganan Penyakit Tidak Menular ( PTM), Tuberculosis (TBC), peningkatan cakupan dan mutu imunisasi serta Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Neonatal (AKI-AKN).

“Untuk memperbaiki lima isu tersebut, langkah yang kami lakukan tidak hanya melalui pengobatan, tapi juga melakukan pencegahan,” sebut Nova.

Selain itu, menurut Nova, Pemerintah Aceh saat ini telah memberikan sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pelayanan tersebut, sambung Nova, tidak hanya di hadirkan di Provinsi saja tapi juga sampai ke pelosok desa.

Plt Gubernur mengatakan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) Plus merupakan tekad pihaknya untuk memberikan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang berkualitas dan masif. Meski demikian, dalam peningkatan kualitas kesehatan, Aceh masih kerap menghadapi berbagai tantangan seperti kekurangan tenaga dokter, utamanya di Rumah Sakit Daerah serta belum adanya tenaga medis yang memadai di puskesmas.

“Di tambah lagi, masih banyak kekurangan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan. Selain stunting, Aceh juga rentang terkena penyakit jantung dan stroke,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila Djuwita Farid Moeloek mengatakan, pihaknya tidak hanya ingin meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia. Lebih lanjut, ia ingin usia kehidupan masyarakat Indonesia berkualitas.

Umur harapan hidup Indonesia dari tahun 1990 sampai 2017 mengalami peningkatan yakni 71,5 persen. Namun untuk Aceh, tutur Nila, usia harapan hidup masih memperhatikan karena di bawah persentase nasional, yakni 67,8 persen.

“Insya Allah Pak Plt Gubernur sangat mementingkan isu kesehatan, sehingga out come yang kita dapat adalah kesehatan yang berkualitas,” ujar Nila.

Menurut Nila, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi dibandingkan Filipina, Vietnam dan Singapura. Selain angka kematian ibu, tren status kekurangan gizi balita di Aceh masih cukup tinggi. Menurutnya, semua pemangku kepentingan kesehatan harus banyak melakukan konsultasi agar anak Aceh tidak menderita stunting.

“Selain itu, kita juga perlu memotivasi pencegahan terhadap penyakit diabetes,” tutur Nila.

Nila mengajak seluruh pemangku kepentingan dalam pembangunan kesehatan untuk menggaungkan gerakan masyarakat sehat (germas) serta penguatan layanan kesehatan. Selain itu, untuk menguatkan mutu kesehatan di Aceh, pihaknya telah mengirim tenaga medis serta berusaha untuk mengembalikan dokter spesialis ke setiap kabupaten/kota.[RILIS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.