Connect with us

Dilema Pemilik Warkop

KOLOM KUPI SANGER

Dilema Pemilik Warkop

Memasuki minggu kedua Ramadhan, terjadi migrasi dalam jumlah yang signifikan para jamaah masjid menjadi “jamaah” warung kopi. Sudah menjadi tren, jamaah yang sebelumnya kerap meramaikan shalat isya dan tarawih, kini mengisi “saf-saf” warkop yang dipenuhi aroma kopi, plus rokok tentunya.

Hal ini juga berlaku di warung Cek Pan. Selepas tarawih saya menyempatkan diri mengunjungi warkop sang sahabat. Dalam hitungan kasar, saya berani bertaruh terjadi kenaikan jumlah pengunjung mencapai 60 sampai 70 persen diibanding malam-malam selain bulan puasa. Saya bahkan hampir tak mendapat kursi. Si toke untung besar pikir saya.

Dari kejauhan saya menatap Cek Pan yang sibuk melayani pengunjung. Ia tak kunjung menghampiri meja saya. Mata kami sempat beradu, dan ia tahu akan keberadaan saya. Saya perhatikan, alih-alih tenggelam dalam keramaian penikmat kopi, Cek Pan justru terlihat murung. Sepuluh menit menanti, baru ia menghampiri saya dengan membawa secangkir kopi. Cek Pan seakan tak berani menatap mata saya, tapi ia beranikan diri duduk di samping saya setelah menarik sebuah kursi biru berbahan pelastik, yang kami sebut kursi tempel.

Cek Pan adalah teman saya sejak kecil, jadi saya paham dan sudah hapal perilakunya. Malam ini, ia berbeda. Tanpa ragu saya langsung tanya.

“Pakon? Kenapa kok gak semangat malam ini, Cek?

Dia mengalihkan pandangan, tak mau menjawab. Saya penasaran, setengah memaksa saya ulangi pertanyaan tadi dengan redaksi berbeda.

Akhirnya ia menjawab dengan singkat, “Karena ceramah di masjid tadi.”

Lho, apa sebab ceramah di masjid bikin Cek Pan tak enak hati? Ia mulai bercerita.

Bunoe penceramah di meunasah peugah, katanya sekarang ini orang-orang, khususnya kaum pria lebih suka meramaikan warung kopi daripada menghidupkan malam-malam di masjid.

“Rumah Allah” kini sepi, warkop makin ramai, kayak warung saya ini.”

Oh itu pasalnya. Cek Pan merasa ia dan warkopnya dituduh ikut berkontribusi dalam “menyesatkan” umat. Orang-orang lebih memilih meramaikan warkopnya daripada tempat ibadah. Walaupun si penceramah tidak secara eksplisit menyalahkan Cek Pan, tapi ia merasa tuduhan “persaingan” warkop dan masjid di malam puasa semuanya dialamatkan padanya. Ia menjadi terlalu baper, bawa perasaan.

“Saya juga bingung, saat orang-orang beri’tikaf di masjid, saya terpaksa harus ikut dalam keramaian warung ini. Ingin rasanya menghabiskan malam di masjid seperti saat kita masih kecil dulu” ujarnya mengenang saat melewati malam Ramadhan hingga menjelang saur di masjid.

Saya mulai paham penyebab kesedihan Cek Pan.

“Tapi, kalau saya tidak buka warung malam-malam seperti ini kapan lagi saya bisa mencari nafkah?

Aceh dikenal sebagai daerah yang melarang para penjual makanan dan minuman berjualan pada siang hari selama bulan puasa. Warung kopi salah satu jenis usaha yang masuk dalam kategori tersebut.

Mata Cek Pan terlihat mulai berkaca-kaca. Ia berusaha membendung alirannya dengan menengadahkan wajah ke arah langit-langit warung. Saya menduga ia juga sedang memikirkan nasib istri dan ketiga orang anaknya, belum lagi dua orang karyawan yang setia menemaninya meracik dan menyajikan kopi terbaik. Ditambah seorang ibu, yang kini hidup bersama mereka, sepeninggal Cek Pon — sang ayah.

Saya paham, Cek Pan berada dalam posisi dilematis. Di antara membuka warung untuk mencari nafkah atau mencari pahala.

“Setelah mendengar ceramah itu, terus terang saya merasa berdosa. Namun apa daya.”

Saya tersenyum mendengar keluh-kesahnya. Walau tersenyum, saya juga diliputi rasa malu. Sebagai seorang pegawai, bekerja di kampus, dengan pendapatan yang pasti tiap bulannya baik dalam keadaan rajin atau malas, maka apa yang dipikirkan oleh Cek Pan sungguh di luar dugaan.

Hampir tak ada bedanya dengan malam-malam di bulan lain. Setelah shalat saya kembali tenggelam ke urusan kampus yang rasanya tak kunjung punya titik ujung. Mempersiapkan bahan perkuliahan, membaca tugas dan laporan kerja mahasiswa, membuat proposal penelitian, baca buku, hingga urusan administrasi yang terkadang bikin frustasi. Namun, saya berusaha menikmati dan menjalani itu semua. Sesekali saya menyempatkan diri bertemu kawan-kawan yang biasanya mudik saat bulan puasa atau mencari secangkir kopi atau sanger, atau hanya sekadar poh cakra dengan sesama penggemar kuliner malam.

Betul kata Cek Pan, jika membayangkan Nabi Muhammad SAW atau para sahabat yang menjalani bulan puasa dengan segala macam ibadah, saya merasa malu. Kali ini, rasa malu saya berada di titik tertinggi melihat seorang sahabat yang gelisah dengan puasa yang sudah mencapai paruh waktu sementara amal ibadahnya masih tertinggal jauh.

Dengan sok bijak dan penuh rasa jaim saya berikan nasihat kepada Cek Pan. Sebagai orang yang memiliki pendidikan formal lebih tinggi darinya, saya mencoba memberikan motivasi.

“Bro, yang ke (ke = kamu/anda-red) lakukan malam ini kan juga ibadah. Bekerja untuk memberi nafkah anak, istri dan keluarga adalah ibadah. Bayangkan kalo ke ngak buka warung, mau makan apa anak-anak dan mamak ke, apalagi gak lama lagi akan hari raya. Kiban nyan?

Cek Pan menyimak apa yang saya utarakan, namun sepertinya kalimat itu sudah sering didengarnya. Ia masih belum puas dengan jawaban saya.

Okelah, kalo gitu, gini aja. Mulai besok, warkop ini gak usah ke buka lagi sampe lebaran. Mulai besok malam Warkop Cek Pan tutup.”

Cek Pan tersentak mendengar pernyataan saya.

“Ya, gak gitu juga lah, Pak Dos. Mau kukasih makan apa keluargaku. Gimana aku beli baju lebaran untuk anak-anak. Gimana si Leman dan si Wadi pulang kampung nanti?”

“Kalo gitu, manfaatkan waktu pagi dan siang untuk beribadah atau i’tikaf di masjid. Malam hari warkop tetap beroperasi. Kiban?”

Sepertinya Cek Pan mulai setuju. Ia terlihat tersenyum, sambil menawarkan saya secangkir lagi kopi pahit racikannya.[]

Fahmi Yunus adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, peneliti pada ICAIOS dan CENTRIEFP, Banda Aceh. E-mail: fahmiyunus@gmail.com

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top