Connect with us

Dipersoalkan Gubernur Jateng, Ini Kata Sutradara Samin vs Semen

Aceh

Dipersoalkan Gubernur Jateng, Ini Kata Sutradara Samin vs Semen

[vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_column_text]

Ekspedisi Indonesia Biru

Ekspedisi Indonesia Biru

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Gubernur Jawa Tengah mempersoalkan kehadiran film dokumenter Samin vs Semen yang mengangkat mengenai penolakan warga Samin terhadap pembangunan pabrik semen di Pati dan Rembang. Lalu, apa kata sutradara film Samin vs Semen?

Sutradara Samin vs Semen, Dandhy Dwi Laksono, menyebutkan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo gagal dalam memahami substansi dari film itu. “Sebagai pejabat publik yang memiliki otoritas mengeluarkan izin Amdal yang terbukti banyak masalah, Bung Ganjar gagal memilih substansi yang harus dikomentari,” ujar Dandhy kepada situs ini, Jumat (19/9/2015).

Menurut Dandhy, seharusnya Ganjar memberikan dukungan terhadap para petani yang berada di sekitar lokasi pembangunan pabrik semen. Malah, ia menilai Ganjar sebagai kader PDIP gagal menerjemahkan ajaran Marhaenisme warisan Bung Karno.

“Marhaen adalah simbol para petani yang mengolah tanahnya sendiri,” lanjutnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ganjar menilai materi dan judul film ini tidak fair. Kata bekas anggota DPR-RI dari Fraksi PDIP, ini harusnya film dibuat secara fair agar bisa enak dalam mendudukkan persoalan polemik proyek pabrik semen.

Ganjar mengonfirmasikan mengenai film ini ke Gunretno. Namun, Gun Retno menyatakan film itu sebenarnya bukan dibuat seperti yang ditayangkan.

“Itu profil saja. Saya gak ada maksud seperti itu, Mas Ganjar,” kata Ganjar menirukan Gunretno seperti dikutip dari Tempo.co, Rabu (16/9/2015). “Bahkan Gunretno kaget. Film bukan untuk Samin melawan semen.”

Meski begitu, Ganjar mengakui bahwa tidak ada yang salah dengan film besutan dua jurnalis yang tengah melakukan Ekspedisi Indonesia Biru keliling Indonesia. [][/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

To Top