Connect with us

Dipindahkan ke Lhokseumawe, Imigran: Saya Masih Mau ke Australia

Sudha mengenakan daster hijau. | Radzie/ACEHKITA.COM

Aceh

Dipindahkan ke Lhokseumawe, Imigran: Saya Masih Mau ke Australia

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Hari ini Pemerintah Aceh memindahkan 43 migran Tamil, Srilanka, ke penampungan sementara di Lhokseumawe. Lalu, bagaimana komentar para migran?

Pemindahan migran dari Lhoknga dilakukan dengan bus milik Pemerintah Aceh. Sebelum benar-benar berangkat ke Lhokseumawe, mereka dilepas Gubernur Zaini di Meuligoe.

Para migran terlihat berwajah ceria –meski juga terlihat kebingungan.

Pemerintah Aceh memutuskan untuk mengizinkan migran tinggal sementara di Aceh sembari dijemput oleh Kedutaan Besar Srilanka.

Artika, salah seorang migran, mengaku senang dipindahkan ke tempat baru. “Terimakasih kepada pemerintah Indonesia,” kata perempuan berusia 22 tahun itu.

Lain halnya dengan Sudha. Perempuan berusia 25 tahun itu mengaku tidak begitu gembira. “Saya tidak benar-benar senang,” kata Sudha kepada acehkita.com. “Saya masih ingin melanjutkan perjalanan ke Chrismas Island, Australia.”

Sudha mengaku keberatan jika dipulangkan ke Srilanka. Pasalnya, sejak 26 tahun lalu keluarganya telah bermigrasi ke India, terpatnya di negara bagian Tamil Nadu.

Pemerintah Tamil Nadu mengeluarkan status pengungsi kepada Sudha dan keluarganya. Saat ini, dia tinggal di Bhavanisagar Refugee Camp, Distrik Erode.

“Saya tidak mau kembali ke India atau Srilanka. Tidak ada jaminan keamanan bagi kehidupan kami di sana,” ujar Sudha.

Sudha menempuh perjalanan berbahaya bersama suami dan putrinya berusia 4 tahun. Saat ini, ia sendiri tengah mengandung anak keduanya.

Sudha bukannya tidak tahu risiko yang bakal dihadapi dalam pelayaran itu, termasuk soal penolakan dari pemerintah Australia terhadap migran gelap.

“Saya tahu, tapi saya mau mengambil risiko itu. Saya masih mau melanjutkan perjalanan ke Australia,” kata dia.

Untuk menuju tanah harapan di Chrismas Island, per migran harus merogoh kocek seribu lakh yang dibayarkan kepada agen perjalanan. “Itu uang yang banyak. Setiap hari saya mengumpulkan uang itu agar bisa menyusul abang saya di Chrismas Island,” sebut Sudha. “Per orang harus membayar seribu lakh agar bisa berangkat.”

Sayangnya, setelah membayar uang itu, kapten kapal melarikan diri di perbatasan laut India. Jadilah, mereka ditinggalkan di laut, sehingga terdampar di perairan Lhoknga pada Sabtu, 11 Juni lalu.

“Saya melihat daratan, ada di antara kami yang menyangka sudah tiba di Australia,” sebut Sudha. “Tapi akhirnya ada yang mengenali bahwa ini Indonesia.”

Keinginan menuju Chrismas Island lebih didorong untuk memperbaiki kualitas hidup. “Saya mau hidup lebih baik,” kata Sudha.

Selama di kamp pengungsian, ia tidak bisa bekerja. “Kami bahkan tidak bisa memiliki rumah sendiri,” ujarnya. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Aceh

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

cermin

Kolom

Cermin

By Nov 22, 2017

Kuliner

Facebook

To Top