Connect with us

Dipukul Sewaktu Meliput, Sudah Biasa…

Nursafri (kanan) bersama Adi Warsidi pada salat Jumat perdana usai tsunami di Masjid Baiturrahman.

Kabar dari ACEHKITA

Dipukul Sewaktu Meliput, Sudah Biasa…

NAMANYA Nursafri. Dia memulai karier sebagai jurnalis radio ketika diberlakukannya Darurat Militer. Sebuah pelarian karena tak bisa menulis secara independen di media sendiri, dia memilih bergabung dengan Acehkita pada 2003.

Zaman itu media online baru-baru ngetop. Media online nasional pertama saat itu adalah detik.com. Ketika Aceh punya media sekelas detik.com hanya satu hal yang terpikir oleh Nursafri yaitu harus memperoleh kesempatan menulis di acehkita.com karean dia pasti akan terlihat keren. Bagi Nursafri acehkita.com layaknya wadah penyampaian aspirasi.

Awal Darurat Militer, Nursafri bersama Alif reporter Radio 68 H Jakarta, berangkat menuju Aceh Selatan. Tujuannya yaitu meliput daerah pedalaman Kluet Raya, Menggamat dengan harapan dapat bertemu langsung panglima GAM wilayah Selatan Aceh itu.

Jarak Banda Aceh ke Aceh selatan bisa menghabiskan waktu hampir 12 jam perjalanan. Belum lagi sampai ke tempat tujuan, di Blang Pidie (sekarang Aceh Barat Daya) malam itu mereka mendapat kabar bahwa ada penyerangan di Gunung Ketek. Dalam pertempuran itu seorang Marinir tewas.

Mereka tak mempertimbangkan bahwa mungkin pagi hari di kawasan itu belum dilakukan sterilisasi akibat kejadian semalam. Mobil wartawan itu terus melengang masuk ke lokasi kejadian dengan santainya. Mereka tak sadar sedang diikuti intelijen.

Saat hendak bergerak pulang, mobil mereka disetop. Mereka diminta turun dari mobil. Tanpa aba-aba Nursafri dan beberapa temannya dipukul tentara. Karena tak terima dipukul, akhirnya mereka diboyong ke Markas Kodim terdekat.

Mereka sempat diancam bunuh kalau berani menyiarkan kabar pemukulan tersebut. Nursafri ingat betul ucapan tentara itu kepadanya “Kami ini tentara, kalau sudah dibilang damai ya damai. Ke depan kalian banyak ngomong, risiko tanggung sendiri!”

Pada zaman Darurat Militer, merekalah yang pertama mengalami kekerasan terhadap wartawan. Bagi Nursafri saat itu, tak ada sikap mengalah jika itu kasus kekerasan pers. Sesampai di Banda Aceh mereka berniat melakukan konferensi pers, dan baru terlaksana di Jakarta.

“Anak muda kalau digertak sama tetara, ya balas gertaklah,” kata Nursafri mengenang masa itu sambil tesenyum.

Memasuki akhir 2003, Banda Aceh menggelar pameran di lapangan Blang Padang. Nursafri mengajak temannya pergi meliput pameran tersebut pada malam hari. Banyak tentara di sana. Berhubung Nursafri juga wartawan radio, dia membawa aksesoris berupa rekaman marant, mikrofon, dan lainnya.

Taat peraturan, itulah yang dilakukan Nursafri setiap kali liputan. Maklum saja, dia belum lama di dunia jurnalis, ketika Aceh berstatus Darurat Mliter.

Malam itu pun Nursafri membawa kedua ID card-nya; pemberian PDMD dan kantor tempatnya bekerja. Ia ingat betul kartu pers keluaran PDMD itu, yang ukurannya lebih besar dari ID card biasa. Nama dan pasfoto pun di cetak besar agar mudah dikenali.

Ketika sedang melihat-lihat stand di pameran tersebut, tentara datang dan menuduh Nursafri dan temannya sebagai intel karena tingkah mereka krasak-krusuk. Keluar masuk satu stand ke stand lain, tentara bingung melihatnya. Menyaksikan itu tentara mendekati Nursafri dan bertanya dengan nada tentaranya. Kesal mendengar pertanyaan setengah membentak itu, Nursafri pun menjawab dengan nada yang sama, mengatakan kalau dirinya wartawan.

Emang kenapa kalau kalian wartawan?” kata Nursafri menirukan gaya tentara saat itu. Entah merasa tersinggung, tentara itu sudah tidak mendengarkan penjelasan Nursafri yang mengatakan bahwa mereka wartawan dan sedang liputan. Tentara itu tak menghiraukan Nursafri meski ia sudah menunjukkan dua kartu persnya. Sebuah bogem mentah tetap saja mendarat di tubuh kurus Nursafri.

Nursafri tak terima dipukul begitu saja, dia meyakinkan tentara itu untuk bertemu di kantor esok hari. Tentara mengelak dan menjawab “Kenapa harus di kantor? Kita selesaikan saja di sini.”

“Tentara saat itu beraninya cuma di tempat, di luar nggak berani! Jadi ada tentara lain yang merasa perkataan saya itu tidak main-main. Dia datang membujuk agar saya tidak membesarkan masalah ini. Temannya minta maaf dan mengatakan tentara yang memukul tadi sedang mabok dan capek. Saya bilang, mana bisa sudah dipukul ajak damai,” katanya.

Sepulang dari Blang Padang Nursafri melaporkan kasus pemukulan itu ke pimpinannya. Besok paginya bersama AJI Banda Aceh mereka melakukan konferensi pers menentang kekerasan pers. Dan Nursafri yang melaporkan kejadian itu sementara diusulkan pindah ke Jakarta selama dua minggu

Betapa kerasnya kehidupan wartawan dalam mendokumentasikan perang Aceh demi sebuah kebenaran informasi. Begitu juga Nursafri, pemukulan yang dialaminya karena sebuah berita hanya dianggap secuil kisah sedih yang mudah dilupakan.

Radio Prima, tempat Nursafri bekerja saat itu berperan penting dalam pendistribusian majalah acehkita. Kerjasama tak tertulis itu dilakukan dalam bentuk mengiklankan acehkita lewat udara. Mejelang setiap terbit Majalah Acehkita, radio Prima ikut membahas isu-isu di majalah tersebut.

Tak tanggung-tanggung mereka mendatangkan langsung narasumbernya dari Jakarta via telepon. Biasanya perbincangan mereka seputar topik apa saja yang ada di Majalah Acehkita edisi bulan itu.

“Jadi pendengar yang lagi nunggu majalah Acehkita saat itu udah tahu kisi-kisinya. Usai talk show kalau ada yang tanya dimana bisa membeli majalah Acehkita, kami biasa mengarahkan mereka ke tempat majalah tersebut dijual,” ungkap Nursafri.

Tak jarang Pemimpin Redaksi Acehkita, Dandhy Dwi Laksono menjadi rujukan untuk Radio Prima, sebagai narasumber.

Dia mengaku sedikit trauma karena memilih profesi wartawan pada saat yang kurang tepat. Namun dia menganggap itu adalah tantangan terkeren dalam hidupnya ketimbang menjadi wartawan pada masa kini.

Saat status Darurat Militer masih berlaku di Aceh, setiap hari Kamis pukul 16.00 WIB, PDMD selalu mangadakan konferensi pers sekaligus membagikan rilis mengenai kondisi Aceh dan informasi-irmasi tentang kontak senjata dan jumlah korban.

Setiap kali mereka melakukan itu, Militer selalu bertanya siapa wartawan acehkita saat itu. Kerena militer selalu print out berita acehkita dan menunjukkan kepada semua yang ada dalam konferensi pers itu. “Rilis keluaran PDMD selalu berbeda dengan website acehkita.com,” kata Nursafri. []

ADI WARSIDI | DESI BADRINA | TEUKU ARDIANSYAH (KAKI LANGIT)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kabar dari ACEHKITA

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

cermin

Kolom

Cermin

By Nov 22, 2017

Kuliner

Facebook

CREW AK

To Top